Showing posts with label Kab. Buleleng. Show all posts

/

Pura Meduwe Karang

Secara harfiah, kata “Pura Meduwe Karang” dapat diterjemahkan dengan “Pura Pemilik Lahan”. Pura ini terletak di Desa Kubutambahan, sekitar 12 kilometer dari kota Singaraja, lebih kurang satu kilometer dari pertigaan Singaraja, Kubutambahan dan Kintamani. Sesuai dengan namanya, pura ini merupakan tempat memohon kesuburan agar tanaman di tegalan berhasil baik. Lahan di kawasan Kubutambahan memang didominasi oleh tegalan untuk bertanam kelapa, kopi, atau jeruk. Tanaman semusim yang biasa dibudidayakan di sana adalah ubi kayu dan jagung.

Tata letak dan arsitektural pura ini khas Bali Utara. Gugusan tangga, areal yang luas dan lapang, detil ornamen serta deretan patung-patungnya, sulit ditemukan pada pura-pura di Bali Selatan. Jumlah patung di pura ini tak kurang dari 34 buah. Semuanya merupakan karakter yang diambil epos Ramayana.

Pura ini terdiri dari tiga bagian yang semakin ke dalam semakin meninggi. Areal teringgi merupakan areal tersuci di mana terdapat sebuah bangunan padmasana dari padas yang diapit oleh sepasang bangunan beratap limas. Di situlah persembahyangan di lakukan. Jika diperhatikan dari kejauhan, susunan bati padas dari dasar hingga puncak padmasana, tampak seperti susunan piramid.

Ada lagi hal lain yang unik di pura ini. Pada dindning sebelah utara terdapat ukiran setinggi satu meter yang melukiskan seorang pegawai Pemerintah Belanda tengah mengendarai sepeda dari tumbuhan. Beberapa catatan mengatakan bahwa ukiran ini merupakan hasil reproduksi dari ukiran yang dibuat pada tahun 1904 yang sempat hancur akibat gempa bumi. Konon pengendara sepeda dalam ukiran tersebut adalah W.O.J. Nieuwenkamp, pelukis Belanda yang terkenal pada saat itu yang berkeliling Bali dengan mengendarai sepeda pada awal tahun 1900 an. Nieuwenkamp selalu melukiskan tempat-tempat yang sempat ia kunjungi. Pada saat restorasi, bentuk sepeda diubah menjadi sepeda dengan roda berbentuk bunga teratai, Nieuwenkamp diubah menjadi mengenakan sarung dan ditambahkan dengan pattern tumbuhan dan bunga-bunga sebagai latar belakang. Di antara kaki dan roda sepeda terdapat sosok anjing dan tikus, kumis tebal Nieuwenkamp dan inisialnya tidak terdapat lagi.

Ingin mengunjungi pura ini? Karena kawasan bali Utara terletak cukup jauh dari Kuta, agar waktumu efektif buatlah pejalanan satu hari atau lebih untuk mengunjungi Bali Utara. (abe/"Bali Handbook" Bill Dalton)

Hide

/

Maulid Nabi di Pegayaman: Ekspresi Bali, Hati Islami

Pegayaman adalah nama sebuah desa tua di pedalaman Bali utara. Letaknya sekitar 75 kilometer dari Kuta.Sebagian besar penduduknya adalah Muslim. Mereka instens menerapkan budaya Bali dalam kehidupan sehari-hari sembari tetap menjaga kemurnian ajaran agamanya: Islam. Penduduk desa ini sekitar 3 ribu jiwa. Sebagian besar penduduk bertani dan berkebun (kopi dan cengkeh).

Memahami masyarakat Desa Pegayaman sebaiknya dimulai dengan menyaksikan perayaan Maulid Nabi di kampung itu. Perayaan maulid di sana merupakan pesta budaya. Sepekan penuh masyarakat di sana bergembira menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dimulai dengan membuat tape, membuat jaje uli (penganan dari ketan), lalu mempersiapkan sokok base dan sokok taluh, mengarak sokok dan pawai keliling desa, dilanjutkan dengan pegelaran pencak silat setiap sore.

Perayaan Maulid di Pegayaman di awali dengan Muludan Base (Maulid Sirih) pada 12 Rabiul Awal, tepat hari kelahiran Nabi Muhammad. Perayaan ini dilakukan dengan membuat sokok base, yaitu rangkaian dauh sirih, kembang, dan buah-buahan.

Kata sokok diduga berasal dari Bahasa Jawa, soko, yang berarti tiang. Memang rangkaian ini terdiri dari tiang utama yang terbuat dari batang pisang yang didirikan di atas sebuah dulang. Pada tiang tersebut ditancapkan beberapa batang bilah bambu. Pada bilah bambu itulah sirih, kembang, dan buah-buahan dirangkai. Sokok base sangat mirip dengan pajegan yang dibuat masyarakat Hindu di Bali saat berupacara di pura pada hari-hari tertentu.

Puluhan sokok base yang dibuat masyarakat itu dibawa ke masjid, dideretkan di tengah-tengah lingkaran orang yang akan membacakan barzanji (karya sastra Arab klasik yang berisi riwayat dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad).

Usai membaca barzanji, rangkaian sokok base dibongkar. Kembang dan daun sirih dibawa pulang, diletakkan di dinding rumah atau di sawah. Konon rangkaian daun sirih dan kembang bekas sokok base itu dapat mendatangkan berkah untuk rumah atau sawah.

Pada hari kedua, Desa Pegayaman benar-benar berada dalam pesta besar. Seluruh masyarakat sibuk dengan kegiatan maulid itu. Laki-perempuan, besar-kecil bersuka ria dalam perayaan yang mereka sebut dengan Muludan Taluh (Maulid Telur). Pada hari itu puluhan sokok taluh, yaitu rangkaian serupa sokok base namun dilengkapi dengan telur, diusung ke masjid. Di sepanjang jalan, masyarakat berjejal menyaksikan iring-iringan sokok keliling desa. Iring-iringan itu dimeriahkan oleh tabuhan rebana dari sekehe (kelompok) Hadrah yang begitu meriah. Tabuhan burde (sebangsa rebana besar yang terbuat dari bungkil pokok pohon kelapa) yang ditabuh sejak pagi hingga sore, membuat suasana perayaan semakin gempita.

Ketut Syahruardi Abbas (50), putra Pegayaman yang kini menetap di Denpasar dan berprofesi sebagai penulis, sangat bangga dengan tradisi ini. "Dalam konteks kebudayaan dan ibadah ini, tradisi ini pantas diacungi jempol. Pendiri desa Pegayaman mampu memasukkan berbagai unsur kebudayaan tanpa mengingkari esensi keberagamaan,” ucapnya.

Menurut Abbas, yang pernah memimpin berbagai media di Bali, masyarakat Pegayaman sama sekali tidak merasa risih mengarak sokok base dengan mengenakan pakaian khas Bali. Bagi mereka perayaan ini hanyalah sebuah ekspresi budaya. Ini sangat berbeda dengan perayaan Idul Fitri dan Idul Adha. Pada kedua hari raya itu masyarakat Pegayaman, hanya datang ke Masjid menyelenggarakan shalat Ied, sama dengan masyarakat Muslim lainnya. Memang mereka menambahkan rangkaian hari-hari menjelang hari-H, yakni penapean (hari membuat tape pada hari H-3), penyajaan (hari membuat jajan pada hari H-2), penampahan (hari memotong hewan pada hari H-1), dan manis lebaran (sehari setelah hari H), sama seperti yang dilakukan umat Hindu menjelang hari Galungan. ”Tapi, semua itu sama sekali tidak masuk ke masjid, tidak merupakan bentuk ibadah,” tandas Abbas.

Hide

/

Sudang Lepet, Ikan yang Sial?

Pernah dengar kata “sudang lepet”? Kedua kata itu adalah kata dalam bahasa Bali. Secara harfiah, kata “sudang” berarti ikan asin, sedangkan “lepet” berarti sial. Jadi kalau digabungkan, “sudang lepet’ berarti ikan asing yang sial. Kasiaaaaaaaan deh lo, ikan…

Entah kenapa ikan asin khas Singaraja ini dinamakan demikian. Barangkali karena berkaitan dengan proses pembuatannya. Untuk membuat sudang lepet yang menurut penggemarnya gurihnya nggak ketulungan ini, mula-mula ikan harus dibersihkan. Setelah itu ikan tersebut dipanggang di atas kayu yang membara sambil terus dipukul-pukuli dengan alat khusus. Dipukulinya bukan di bagian atas saja, bagian bawahnya juga. Proses pembuatan yang demikian itulah yang membuat ikan menjadi pipih dan renyah seperti krupuk.

Di Bali, kecuali di Singaraja, sudang lepet tidak terlalu mudah di dapat. Di Denpasar, warung yang menyediakan sudang lepet dapat dihitung dengan jari sebelah tangan.

Meski banyak diminati, pasokan sudang lepet ini masih begitu terbatas. Hal ini lantaran pasokan bahan bakunya kerap seret. Maklum, ikan yang digunakan untuk membuat sudang lepet adalah ikan khusus (?) yang didapat di perairan Madura.

Sejauh ini, harga hasil olahan ikan ini relatif murah. Satu kemasan dibandrol dengan harga Rp 10 ribu saja. Kemasan tersebut berisi enam sudang lepet berukuran sebesar telapak tangan orang dewasa, atau sepuluh sudang lepet berukuran kecil
Pasangan yang kompak untuk menikmati sudang lepet ini adalah jukut undis dan plecing kangkung. Jukut undis adalah sayur kuah yang terbuat dari undis (kara hitam). Sedangkan plecing kangkung adalah kangkung yang diurap dengan bumbu khusus.
Ingin menyicipi sudang lepet? Pergilah ke Singaraja, kalian akan menemukan banyak warung yang menyediakan makanan tersebut. Kalau tak sempat, coba datang ke Warung Mira di jalan Katrangan No. 41 Denpasar -- sekitar empat kilometer dari pantai Sanur. Di warung tersebut kamu akan menemukan sudang lepet dengan cita rasa yang tak kalah dengan sudang lepet yang tersedia di Singaraja. (ae/jjb).

Hide

/

Pantai Lovina

Namanya seperti nama artis sinetron, ya? Entah bagaimana asal-usulnya, pantai di sisi utara pulau Bali ini memiliki nama yang jauh dari kesan Bali. Konon, nama Lovina diberi oleh Anak Agung Panji Tisna, sastrawan modern Bali yang terkenal itu. Nama Lovina diambil oleh Panji Tisna dari nama hotel kecil di India yaitu Lafeina yang pernah diinapinya saat menulis buku dengan judul Ni Ketut Widhi.

Versi lain mengatakan bahwa nama Lovina ini diambil dari adanya dua pohon banten yang kemudian tumbuh saling berpelukan. Dalam bahasa latin nama ini memiliki arti saling mengasihi.

Pantai Lovina terletak di desa Kalibukbuk, sekitar sembilan kilometer sebelah barat kota Singaraja –ibukota Kabupaten Buleleng. Singaraja sendiri jauhnya sekitar 88 kilometer dari Kuta. So, kalau kamu berangkat dari Kuta menju Lovina, kamu harus menempuh jarak sekurang-kurangnya 99 kilometer saja, atau sekitar 3,5 jam perjalanan.

Pantai Lovina merupakan satu dari sekian obyek wisata yang menawan di Bali Utara. Suasananya yang alami dan udaranya yang segar membuat para pelancong tertarik untuk mengunjunginya. Seperti halnya Kuta, pantai Lovina juga merupakan tempat yang menarik untuk menyaksikan sunset.

Keindahan suasana alam tersebut diimbuhi dengan atraksi lumba-lumba yang hidup bebas di lepas pantai ini. Dengan menyewa perahu dengan tarif sewa Rp 50 ribu per orang, kamu dapat menyaksikan dari dekat atraksi lumba-lumba di tengah laut. Kamu akan merasakan betapa asyiknya berada di alam bebas dikerubuti puluhan lumba-lumba dengan gayanya yang jenaka. Biasanya, gerombolan ikan berwarna hitam-putih itu hanya muncul sekitar pukul 06.00 hingga 08.00 waktu setempat. Jika kamu terlambat berangkat dan tak menemukan lumba-lumba di tengah laut, jangan sewot. Kerusakan bukan pada pesawat televisi anda!

Selain atraksi lumba-lumba, pantai Lovina juga asyik untuk mandi dan berjemur. Pantai ini pun menyenangkan untuk snorkeling, diving dan aktivitas dalam air lainnya, karena terumbu karangnya yang indah. Sayangnya, pantai ini berpasir hitam. Jadi kurang menarik bagi pelancong yang menggemari pasir putih.

Akomodasi
Sebagai sebuah kawasan wisata, fasilitas yang tersedia boleh dikata cukup lengkap. Penginapan, toko, dan tempat makan dapat kamu temukan dengan mudah, dan tersedia hingga larut malam. Memang, jika dibandingkan dengan Kuta, legian dan Seminyak, kawasan wisata ini tampak jauh lebih lengang. Mungkin karena kurangnya fasilitas hiburan. Namun, bagi banyak pelancong, justru pada keheningan itulah daya pikat Lovina. Di kawasan Lovina kamu dapat menikmati liburan tanpa harus berdesak-desakan atau terganggu kebisingan.

Tarif sewa hotel di kawasan Lovina beragam. Kisarannya antara Rp 75 ribu hingga Rp 500 per malam. Beberapa penginapan, harganya masih bisa ditawar.

Akses
Untuk mencapai pantai Lovina, kamu bisa datang dengan menumpang angkutan umum, taksi, atau membawa kendaraan sendiri.



Hide

/

Pura Ponjok Batu

Kawasan Pura Ponjok Batu merupakan sebuah tanjung yang terdiri atas bebatuan. Dari celah–celah batu tersebut tumbuh pohon Kamboja dan semak belukar. Meski semak, ia tampak indah berpadu dengan batu karang yang hitam. Beberapa sumber air bertebaran di sekitar lokasi pura. Penduduk setempat memanfaatkannya untuk keperluan sehari-hari.

Dalam bahasa Bali ponjok batu berarti Tanjung Batu. Lingkungan Pura yang terletak sekitar 24 kilometer di sebelah timur Singaraja ini merupakan lingkungan pura tempat pemujaan umum untuk mohon keselamatan. Pura ini berada persis di pinggir jalan raya menuju Amlapura. Di seberang jalan tersebut terlihat pemandangan Laut Jawa yang terbentang luas.

Di samping keindahan alamnya, lagi-lagi daya tarik pura ini adalah keindahan arsitekturnya yang gaya khas yakni seluruh bangunan terbuat dari susunan batu batu alam yang terdapat di sekitar lokasi.


Hide

/

Pura Beji

Lingkungan Pura Beji merupakan sebuah lingkungan pura untuk memuja Dewi Sri, sebagai dewi kesuburan. Lingkungan pura ini juga dikenal sebagai lingkungan pura Subak untuk desa adat Sangsit, di mana seluruh bagian lingkungan pura dihiasi ukiran bergaya Buleleng (Bali Utara). Ornamen tersebut didominasi oleh bentuk tumbuh-tumbuhan yang merambat dan motif bunga. Inilah cirri khas Bali Utara.

Lingkungan pura ini diperkirakan didirikan pada abad ke-15, pada zaman keemasan Majapahit. Pada pintu gerbang lingkungan pura dihiasi dua patung naga sebagai penjaga pura.

Daya tarik yang unik dari lingkungan pura ini adalah ukiran yang memenuhi semua bagian pura seakan-akan tidak ada satu tempat pura pun yang lupt dari ukiran. Ukiran ini dicat warna-warni sehingga lingkungan pura tampak meriah, berbeda dengan yang terlihat di semua pura yang ada di Bali.

Akses

Jalan menuju lingkungan Pura Beji yang berlokasi di Desa Sangsitini cukup bagus. Kamu dapat menjangkaunya dengan kendaraan apa saja. Dari Kuta, diperlukan waktu perjalanan sekitar tiga jam.

Hide

/

Danau Buyan dan Tamblingan

Danau Buyan dan Danau Tamblingan seolah danau kembar yang memiliki daya tarik yang sangat memesona. Keaslian alam di dua danau itu masih terasa kuat. Tak ada perahu bermotor di sini. Masyarakat setempat menggunakan perahu-perahu kecil untuk memancing.

Danau ini sangat ideal untuk rekreasi air seperti mendayung dan memancing. Adanya kera-kera yang tidak jauh dari kedua danau ini, menambah daya tarik kawasan ini sebagai obyek wisata.

Kedua danau ini berlokasi di Kecamatan Sukasada, 21 kilometerm sebelah Selatan Kota Singaraja, terletak di pinggir jalan Denpasar-Singaraja. Letaknya yang cukup tinggi yaitu kurang lebih 1.000 meter dari permukaan laut menyebabkan udaranya agak sejuk dan dingin pada malam hari. Danau Tamblingan dapat dicapai melalui pertigaan ke arah Desa Munduk, desa Gobleg dan tembus di Lovina. Mobil dapat mencapai pinggir danau yang masih asri, dengan kawasan hutannya yang belum tersentuh.

Fasilitas yang tersedia adalah tempat parkir untuk mobil di tepi danau. Ada juga penyewaan perahu untuk keperluan memancing atau sekadar berekreasi.

Hide

/

Brahmavihara-Arama

Brahmavihara-Arama lebih dikenal dengan nama Wihara Buddha Banjar. Wihara ini merupakan tempat ibadah umat Buddha terbesar di Bali. Letaknya di daerah perbukitan di Desa Banjar Tegeha, 22 kilometer sebelah barat Singaraja dan 11 kilometer dari kawasan wisata Lovina. Suasananya yang sepi dan tenang serta pemandangan langsung ke pantai Lovina menyebabkan wihara Buddha ini menjadi daya tarik yang kuat bagi wisatawan.

wihara ini terdiri atas lima kompleks penting, yaitu:
1. Uposatha Gara, terletak di puncak sebelah Barat. Ini adalah sebuah ruangan yang nyaman dan tenang. Pada dinding-dindingnya terpahat panel kelahiran Sang Buddha, dan di tengah-tengah terdapat patung Sang Buddha dalam keadaan mencapai Nirwana. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat penasbihan para bhiku samanera (calon bhiku) untuk mengikuti latihan tahap berikutnya.

2. Dharmasala, semacam ruang kuliah terletak di sebelah timur. Di tempat ini para bhiku melakukan kebaktian dan membabarkan ajaran suci. Tempat ini juga dimanfaatkan sebagai tempat untuk melakukan segala aktivitas spiritual.

3. Stupa, sebuah bangunan yang bentuknya menyerupai lonceng raksasa yang terletak di sudut barat Laut, yang seluruh sisi-sisinya terbuat dari beton dengan relief yang sangat mengagumkan.

4. Pohon Bodi, terdapat di sudut barat daya bangunan. Di sekitar pohon tersebut dihias dengan relief. Tempat ini melambangkan kemenangan Sang Buddha saat mencapai Sammia Sang Buddha (kesempurnaan yang abadi).

5. Kuti, merupakan tempat tinggal para bhiku maupun para siswa yang sedang menuntut ilmu. Kadang kala tempat ini juga dipergunakan sebagai tempat latihan para bhiku.

Di komplek Vihara terdapat beberapa patung Buddha yang menghiasi setiap sudut taman maupun ruangan. Di antaranya terdapat dua buah patung Budha yang sangat menarik yaitu patung Parinirwana dan patung Buddha sebagai Sang Buddha sedang mencapai sama (nirwana).

Hide

/

Air Terjun Singsing

Pesona obyek wisata ini tentu saja pemandangan alam indah dan keteduhannya. Air terjun yang deras dan bergemuruh membawa suasana yang romantis. Apalagi sambil diiringi suara alunan flute atau nyanyian yang dengan petikan gitar. Hmm….

Tak selalu air terjun ini menyurahkan airnya dengan deras. Pada musim panas, volume air terjun relatif menurun. Namun, tetap saja air terjun ini menebarkan pesonanya yang luar biasa.

Jalan menuju air terjun yang sedikit mendaki merupakan jalur yang mengasyikkan untuk trekking. Letaknya yang tidak jauh dari kawasan Lovina, membuat obyek ini menjadi semacam bonus bagi pelancong yang datang jauh-jauh ke pantai Lovina.

Tidak jauh dari air terjun Singsing ini, terdapat monumen Belanda. Monumen ini dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk memperingati tewasnya seorang Perwira Belanda dalam Perang Banjar tahun 1868. Tahun 1956 monumen ini sempat dihancurkan karena dianggap menghormati penjajah. Tetapi tahun 1992 monumen ini dibangun kembali oleh Pemerintah dengan alasan bahwa sejarah tidak bisa dihapus begitu saja.

Akses
Air Terjun Singsing terletak di Desa Temukus, tiga kilometer dari Lovina. Jadi sekitar 104 kilometer dari Kuta. Untuk menuju obyek wisata ini kamu dapat mengendarai kendaraan bermotor sampai ke jurusan desa Tigawarsa. Sebuah penunjuk arah akan memandu kamu menapaki jalan setapak sepanjang lebih-kurang 600 meter. Di situlah air terjun pertama. Kamu harus mendaki lagi melewati jalan yang terjal untuk sampai ke air terjun kedua.

Fasilitas parkir yang dibangun masyarakat cukup luas dan bagus. Warung di sekitar kawasan ini pun telah tersedia.

Hide

/

Kabupaten Buleleng

Inilah kabupaten terluas di Bali. Wilayahnya menyakup hampir seluruh Bali bagian utara. Karenanya, Buleleng adalah wilayah yang lengkap memiliki gunung, daratan, dan laut yang ada di bagian utara pulau Bali. Sebagian besar wilayah Buleleng merupakan daerah perkebunan. Di Bulelenglah sebagian besar jeruk, cengkeh, kopi, anggur dan tembakau berasal.

Sebagaimana dengan daerah-daerah Bali Selatan, Buleleng pun menyimpan peran masa lalu saat masa perkembangan ekspedisi Palapa Wira Gajah Mada merangkul Bali. Desa-desa kuno Sembiran, Julah, dan desa lain di sekitarnya membuktikan bahwa wilayah Bali utara turut mewarnai perjalanan sejarah Bali. Kekuasaan Ki Gusti Panji Sakti bahkan sempat menyakup sebagian wilayah Jawa Timur.

Ketika hendak menguasai Bali, wilayah stategis pertama yang dimasuki Belanda adalah Buleleng. Bagi Belanda, menguasai daerah ini sama dengan menguasai sebagian dari Bali. Maka tahun 1846 kabupaten inilah yang pertama kali digempur oleh Belanda. Setelah jatuh dalam perang sengit yang dikenal dengan Perang Buleleng, Belanda terus memastikan cengkramannya terhadap Buleleng dengan mengobarkan Perang Jagaraga pada tahun 1849. Begitu Buleleng takluk, kerajaan-kerajaan Bali yang berserikat dalam kesepakatan Paswara Asta Negara pun goyah.

Pada awal kemerdekaan, kota Singaraja yang merupakan ibukota Buleleng, ditetapkan sebagai ibukota provinsi Sunda Kecil yang menyakup wilayah Bali dan Nusa Tenggara.

Hide