Blog Archive
Categories
- Acara Budaya (5)
- Air terjun Dusun Kuning (1)
- Air Terjun Singsing (1)
- Alas Kedaton (1)
- Amed (2)
- Arak Bali (1)
- Arsitektur Bali (1)
- ATV Driving (1)
- Bali Art Centre (2)
- Bali Bird Park dan Reptile Park (1)
- Bali Eye Balloon (1)
- Bali Kuno (1)
- Bali Safari and Marine Park (BSMP) (2)
- Bali Timur (1)
- Banana Boat (1)
- Barong (1)
- Batik (1)
- Batik Bali (1)
- Batu Abah (1)
- Batu Beling (1)
- Batu Lumbung (1)
- Batubulan (1)
- Bebek Bengil (1)
- Bedugul (7)
- Belanja (4)
- Belanja Murah di Bali (2)
- Belanja Oleh-oleh (4)
- Berita (3)
- Bersepeda (1)
- Bersihkan Hati (1)
- Betutu (1)
- Bikin Tato (1)
- Brahmavihara-Arama (1)
- Bunga Citra Lestari (1)
- Bunut Bolong (1)
- Bunute (1)
- Candi Dasa (1)
- Celuk (1)
- Ceningan (1)
- cuaca bali (2)
- Cupak Grantang (1)
- Danau Batur (1)
- Danau Beratan (6)
- Danau Buyan dan Tamblingan (3)
- Desa Kamasan (2)
- Desa Taro (2)
- Desa Wisata (2)
- Directori Spa (1)
- Direktori Warung Bali (1)
- Diving (4)
- Drama Gong (2)
- Dugem (1)
- duka (1)
- Fauna Bali (4)
- Fesyen (1)
- Flora Bali (1)
- Flu Babi (3)
- Flying Fish (1)
- Garuda Wisnu Kencana (GWK) (1)
- Gempa (2)
- Gunung Agung (4)
- Gunung Batur (2)
- GWK (1)
- Hipnotis (4)
- Hotel (13)
- Hotel di Canggu (1)
- Hotel di Denpasar (1)
- Hotel di Kuta (2)
- Hotel di Sanur (1)
- Hotel Murah di Bali (8)
- hotel murah di Kuta (1)
- Hotel Murah di Legian (3)
- Hotel Murah di Petitenget (1)
- Hotel Murah di Tuban (1)
- HUT Kemerdekaan (1)
- Imlek (1)
- Industri Kreatif Bali (3)
- Info (1)
- Inspirasi Bali (1)
- Jadwal Acara Hiburan (2)
- Jadwal Pementasan Tari Bali (5)
- Jati Luwih (1)
- Jet Ski (1)
- Joged (1)
- Joged Bumbung (3)
- Jogging (1)
- Jungut Batu (1)
- Kab. Badung (21)
- Kab. Bangli (7)
- Kab. Buleleng (10)
- Kab. Gianyar (16)
- Kab. Karangasem (18)
- Kab. Klungkung (10)
- Kab. Tabanan (10)
- Kabupaten Jembrana (6)
- Kalendar Festival Tahunan (3)
- Kapal Selam (1)
- Kawasan Batur (5)
- Kawasan Nusa Penida (2)
- Kawasan Tukad Unda (1)
- Kayaking (1)
- Kebun Raya Ekakarya (1)
- Kerajinan Kayu (1)
- kerajinan keris (1)
- Kerajinan Perak (1)
- keris bali (1)
- Kerta Gosa dan Taman Gili (1)
- Kiadan (1)
- Kongco Dwipayana (1)
- Kopi Bali (1)
- Korupsi (1)
- Kota Denpasar (24)
- Kunjungan Wisata (5)
- Kuta Carnival (1)
- Lawar (2)
- Layang-layang (2)
- Le Mayeur (1)
- Lebaran di Bali (3)
- Legian (1)
- Lembongan (1)
- Lingkungan (1)
- Lovina (3)
- Luna Maya (1)
- Makanan Jepang (1)
- Makanan Khas Bali (6)
- Meami-amian (1)
- Meditasi (1)
- Melasti (1)
- Monumen Bajra Sandhi (2)
- Monumen Maya (1)
- Monumen Ngurah Rai (1)
- Monumen Puputan Badung (1)
- Monumen Puputan Klungkung (2)
- Museum (2)
- Museum Bali (5)
- Musik Bali (4)
- Musik di Bali (5)
- Nasi Jinggo (1)
- Nasi Séla (1)
- Ngaben (1)
- Ngopi di Bali (1)
- Nusa Penida (1)
- Nyepi (6)
- Ogoh-ogoh (1)
- Olahraga Air (13)
- Omed-omedan (1)
- Padang Bai (1)
- Paint Ball (1)
- Paket Wisata (2)
- Pameran (3)
- Panca Bali Krama (2)
- Pantai Amed (2)
- Pantai Balangan (1)
- Pantai Dreamland (1)
- Pantai Jimbaran (1)
- Pantai Kedonganan (1)
- Pantai Kuta (12)
- Pantai Legian (3)
- Pantai Lepang (1)
- Pantai Lovina (3)
- Pantai Medewi (1)
- Pantai Mertasari-Sanur (1)
- Pantai Nusa Dua (2)
- Pantai Padang-padang (1)
- Pantai Sanur (8)
- Pantai Seminyak (1)
- Pantai Suluban (2)
- Pantai Tanjung Benoa (6)
- Pantai Tulamben (4)
- Parade Budaya (1)
- Parasailing (1)
- Pasar Seni Sukawati dan Guwang (1)
- Pecha Kucha (1)
- Pegayaman (1)
- Pelabuhan (1)
- Pembobolan ATM (1)
- Pembuatan Garam (1)
- Pemuteran (1)
- penginapan murah (1)
- Penglipuran (1)
- Penjor (1)
- Pentas Hiburan (5)
- Pentas Seni (1)
- Penyewaan Mobil (2)
- Perairan Pulau Menjangan (1)
- Perang Pandan (1)
- Pertunjukan Tari (4)
- Pesta Kesenian Bali (14)
- Petualangan (20)
- Pia Legong (1)
- Piala Dunia (1)
- Pojok Ngopi (1)
- Pulau Menjangan (1)
- Pulau Penyu (2)
- Puncak Malibu (1)
- Puncak Mangu (1)
- Puncak Manta (1)
- Pura Beji (1)
- Pura Besakih (11)
- Pura Bukit Sari di Sangeh (1)
- Pura Candi Gunung Kawi (1)
- Pura Goa Gajah (1)
- Pura Goa Lawah (1)
- Pura Gunung Raung (1)
- Pura Lempuyang (1)
- Pura Luhur Uluwatu (1)
- Pura Mangening (1)
- Pura Meduwe Karang (1)
- Pura Penataran Sasih (1)
- Pura Ponjok Batu (1)
- Pura Purancak (1)
- Pura Pusering Jagat (1)
- Pura Rambut Siwi (1)
- Pura Samuan Tiga (1)
- Pura Taman Ayun (1)
- Pura Tirta Empul Tampaksiring (1)
- Puri Agung Karangasem (1)
- Puting Beliung (1)
- Putung (1)
- Rabies (2)
- Rafing (1)
- Rafting (2)
- Ramadhan (1)
- Rujak kuah pindang (1)
- Safari Gajah (1)
- Salak (1)
- Salsa (2)
- Sambal Matah (1)
- Sampah (1)
- Sanghyang (1)
- Sanur (4)
- Sate Lilit (1)
- Sea Walker (1)
- Seni Suara (1)
- Seputar Bali (1)
- Siwa Ratri (1)
- Snorkeling (2)
- Spa (1)
- Spiritual Event (1)
- Sri Tanjung (1)
- Srombotan (1)
- Subak (2)
- Sungai Ayung (1)
- Surfing (4)
- Taman Kupu-kupu (1)
- Taman Margarana (1)
- Taman Nasional Bali Barat (1)
- Taman Rosani (1)
- Taman Tirta Gangga (1)
- Taman Ujung (1)
- Tamblingan (1)
- Tanah Lot (1)
- Tango (1)
- Tanjung Benoa (10)
- Tari Bali (9)
- Telaga Waja (1)
- Tempat Makan Halal (10)
- Tenganan (2)
- Tip Berwisata di Kawasan Batur (1)
- Topeng Sidakarya (1)
- Toyabungkah (1)
- Toyapakeh (1)
- tragedi (1)
- tranportasi (1)
- Travel (2)
- Treckking (1)
- Trekking (1)
- Trik Liburan di Bali (3)
- Tumpek Landep (1)
- Tunadaksa (1)
- TV Lokal Bali (1)
- Uang Kepeng (1)
- Ubud (1)
- Unikum Bali (2)
- Upacara (9)
- UWRF (1)
- Valentine Day di Bali (3)
- Warung Be Sanur (1)
- Warung Italia (1)
- Waterbom (1)
- Wisata Alam (2)
- Wisata Hujan (1)
- Wisata Lidah (38)
- Wisata Lidah di Bali (22)
- Wisata Masjid (1)
- Wisata-Sosial (1)
- World’s Best Island (1)
Showing posts with label Kab. Badung. Show all posts
Ini adalah pantai yang ketenarannya melebihi ketenaran artis mana pun di Indonesia! Kemahsyuran pantai Kuta bukan hanya di Indonesia, tapi meluas hingga ke seantero jagat sebagai pantai dengan pemandangan alam memesona. Hampir semua pelancong yang datang ke Bali merasa belum lengkap jika belum sempat mengunjungi pantai ini.Sebelum muncul sebagai obyek wisata terkemuka, Kuta adalah sebuah pelabuhan dagang. Di sinilah hasil-hasil bumi masyarakat pedalaman dipasarkan kepada para pembeli dari luar Bali. Pada abad ke-19, Mads Lange, seorang pedagang asal Denmark, datang ke Bali dan mendirikan markas dagang di Kuta. Kepiawaiannya bernegosiasi, menjadikan Mads Lange sebagai makelar perdagangan antara raja-raja Bali dengan Belanda.
Belakangan, Hugh Mahbett menerbitkan buku berjudul Pujian untuk Kuta yang berisi ajakan kepada masyarakat setempat untuk menyiapkan fasilitas wisata untuk mengantisipasi perkembangan kunjungan wisata ke Bali. Buku itu kemudian memberi inspirasi banyak orang untuk membangun fasilitas wisata seperti penginapan, restoran, dan tempat-tempat hiburan.
Daya Tarik
Pesona utama pantai Kuta adalah kawasannya yang lebar dan landai serta pasirnya yang putih bersih. Letaknya yang berada di sisi barat menjadikan pantai ini sebagai tempat yang pas untuk menikmati pemandangan indah saat matahari terbenam. Namun, popularitasnya yang melambung tinggi membuat denyut pantai Kuta tidak hanya pada waktu-waktu itu saja. Kawasan ini berdenyut hampir selama 24 jam setiap harinya!
Pada pagi hari, pantai Kuta dikunjungi oleh wisatawan yang ingin menghirup udara segar atau sekadar berjalan-jalan. Siang hari, para pelancong biasa menikmati panorama alam sembari berjemur (sun bathing) di pinggir pantai. Sementara, para penggemar surfing menghabiskan waktu dengan meliuk-liuk di atas ombaknya sembari menikmati kehangatan air laut.
Pada sore hari, selain pelancong, banyak penduduk lokal membawa keluarganya untuk bermain pasir atau berenang sambil menanti saat-saat matahari terbenam. Keramaian kemudian berlanjut pada malam hari oleh para pelancong yang mengunjungi tempat-tempat hiburan atau hendak menikmati makan malam di kafe atau restoran.
Untuk menjaga keselamatan pelancong yang berenang, pantai Kuta dijaga ketat oleh sedikitnya 40 orang balawista. Mereka tersebar di tiga pos dan dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama berjaga sejak pukul 07.00 hingga pukul 14.00 WITA, sedangkan kelompok berikutnya sejak pukul 12.00 hingga pukul 19.00.
Penjagaan para balawista beratribut merah ini lebih difokuskan pada kantong-kantong arus yang dianggap rawan. Para pria berbadan kekar ini selalu siaga dengan tiga buah jet ski dan enam buah perahu karet.
Akses
Dari Bandara Internasional Ngurah Rai, kamu hanya membutuhkan waktu 10 menit menuju pantai Kuta. Kamu bisa masuk ke kawasan pantai ini kapan saja dengan menggunakan taksi, mobil jemputan atau kendaraan pribadi. Tak ada angkot yang melintasi pantai ini.
Tiket Masuk
Free!
Akomodasi dan berbagai fasilitas
Sebagai pusat kunjungan wisata Bali, Kuta memiliki fasilitas pendukung yang lengkap. Di kawasan ini kamu akan dengan mudah menemukan penginapan dari hotel bintang lima, wisma hingga hotel melati. Kamu juga bisa dengan mudah menemukan tempat hiburan, kafe, bar, pub, diskotek, karaoke, hingga pusat pelatihan dan penyewaan peralatan surfing.
Bagi penggemar belanja, di kawasan Kuta terdapat banyak toko souvenir yang menjual barang kerajinan dan aksesori dalam berbagai bentuk serta model, toko pakaian yang menjual busana pantai dan tropis. Di kawasan ini juga terdapat banyak supermarket dan warung makan maupun restoran yang menyuguhkan berbagai masakan dengan beragam cita rasa.
Untuk urusan cadangan uang tunai, fasilitas ATM dapat kamu temukan dengan mudah. Hampir semua bank menyediakan layanan ATM di lokasi-lokasi strategis di kawasan ini.
Mau sekadar relaksasi? Di pinggiran pantai ada banyak pemijat profesional yang bisa langsung melenturkan otot-otot dengan biaya jasa sekitar Rp 20 ribu untuk setengah jam dan Rp 40 ribu untuk satu jam. Ada juga penjual jasa mempercantik penampilanmu seperti membuat tatto temporer, mewarnai kuku, dan mengepang rambut.
Pada musim liburan panjang, tingkat hunian hotel dapat mencapai 90 hingga 100 persen. Waktu liburan tersebut yakni pada Juli-Agustus (dipadati oleh wisatawan domestik, Australia, Eropa); akhir November - pertengahan Januari (Indonesia, Australia); Maret – April (Rusia, Jepang). Jadi, kalau kamu ingin stay di kawasan Kuta pada saat berlibur di musim liburan tersebut, kamu harus sudah memesan tempat sebulan sebelumnya!
Penyewaan Kendaraan
Di Kuta terdapat banyak tempat penyewaan kendaraan dari mobil, motor hingga sepeda.
Tarif sewa mobil bervariasi tergantung jenis kendaraannya. Yang termurah, Rp 300 ribu per 24 jam. Yang termahal, Rp 575 ribu per 24 jam, sudah termasuk sopir dan BBM atau Rp 220 ribu per 24 jam tanpa sopir dan BBM.
Surfing di Kuta
Ombak pantai Kuta yang cukup tinggi sangat asyik buat surfing. Cobalah nikmati olahraga air yang seru ini. Kalau kamu tidak mempunyai atau membawa peralatannya, kamu bisa menyewa papan surfing di banyak tempat penyewaan yang tersebar di sepanjang pantai. Dengan membayar sewa sebesar Rp 50 ribu - Rp150 ribu per jam, selain papan kamu juga akan mendapat pelatihan singkat dari instruktur surfing dari tempat penyewaan tersebut. Di bawah arahan mereka, hanya butuh waktu 30 menit untuk kamu bisa meliuk-liuk membelah ombak di atas papan surfing itu.
Waterbom
Waterbom Bali salah satu objek wisata yang banyak diminati dengan luas 3.800 meter persegi. Untuk bisa berekreasi di tempat ini, kamu harus membayar karcis masuk seharga Rp 140 ribu per orang atau Rp 90 ribu untuk anak-anak. Biaya tersebut sudah mencakup biaya tiket masuk dan menikmati semua fasilitas kecuali: sewa loker dan handuk, wall climbing, gazebo dan eurobungy. Tiket berlaku sehari penuh dan diperbolehkan keluar area dan masuk kembali di hari yang sama.
Bila ingin mendapatkan harga yang hemat, kamu bisa mendapatkannya hanya dengan menunjukkan kartu pelajar. Dengan kartu ‘sakti’ tersebut, kamu hanya perlu membayar Rp 65 ribu per orang. Ketika kamu membeli karcis, langsung saja beli kartu belanja yang dapat diisi ulang. Kartu ini berguna ketika kamu hendak berbelanja di dalam arena, seperti membeli makanan, minuman, menyewa loker atau gazebo.
Dengan tiket masuk itu bisa langsung menikmati sesuka hati berbagai macam permainan air, dari kolam arus hingga kolam luncur. Kamu bisa memilih kolam luncur yang medium, high atau extreme. Beberapa permainan di antaranya:
Smashdown yakni meluncur dari ketinggian sekitar 21,79 meter, dengan kecuraman hampir 45 derajat dan berkecepatan 70 km/jam! Boomerang permainan seluncur berketinggian 14, 4 meter dengan kemiringan 60 derajat ini akan membuatmu merasa ‘terlempar’ ke udara. Seru! Macaroni Tube yang akan membawamu ke petualangan dalam kegelapan pipa sepanjang 150 meter. Banyak tikungan tajam, cukup mendebarkan, tapi asyik gitu, loh! Dan salah satu yang paling digemari pengunjung adalah Raft River. Kamu akan meluncur di pipa sepanjang 174 meter dari ketinggian 16 meter selama 50 detik. Dengan durasi yang cukup lama ini kamu dapat menikmati panorama sekitar yang indah.
Saat pulang, jika ternyata masih ada sisa uang dalam kartu belanjamu, maka kamu dapat menguangkannya kembali di loket yang berada di pintu keluar. Berikan kartu belanja itu kepada petugas jaga. Kartu itu akan di-scan. Sisa uangmu akan dikembalikan sesuai dengan nilai yang ditunjukkan oleh scanner.
Untuk menempatkan pakaian dan barang-barang lainnya selama kamu berkecibung di dalam air, sewalah loker. Biaya sewanya sekitar Rp 20 ribu. Itu yang berukuran biasa, yang hanya pas untuk menempatkan propertimu sendiri saja. Untuk loker keluarga, biaya sewanya Rp 30 ribu.
Waterbom buka mulai pukul 09.00 hingga 18.00 WITA. Suasananya yang teduh oleh pepohonan rindang, tengah hari bolong sekalipun sehingga kamu nggak perlu khawatir terhadap sengatan matahari.
Sling Shot
Ini adalah wahana untuk uji nyali. Adrenalinmu pasti akan terpacu kencang begitu kamu menjajalnya. Wahana ini adalah ketapel raksasa yang terbuat dari sepasang menara setinggi 35 meter. Pada kedua menara tersebut dikaitkan dua utas kawat baja yang disambung lagi tali elastis. Di ujung tali-tali elastis tersebut terdapat sebuah rangka bola berisi dua buah jok dengan sandaran punggung yang tinggi. Pada salah satu jok itulah kamu duduk dan diikat kuat-kuat dengan tali-tali pengaman.
Dalam waktu kurang lebih tiga detik, jantung kamu akan serasa berhenti berdetak karena tiba-tiba saja rangka bola yang kamu duduki, melesat ke udara setinggi 52 meter dengan kecepatan yang sangat tinggi. Begitu mencapai puncak lontaran, dengan kecepatan yang sangat tinggi pula rangka bola tersebut meluncur kembali ke bumi. Begitu seterusnya hingga mereda dengan sendirinya.
Saat terlontar ke atas dan kembali lagi ke bumi, rangka bola juga berputar 360 derajat ke segala arah beberapa kali sebelum akhirnya kembali ke posisi stabil.
Hingga saat ini hanya ada satu wahana slingshot di Bali yakni di Jalan Kartika Plaza, Kuta. Mereka buka dari pukul 09.00 hingga pukul 20.00.
Ekowisata Kiadan, Berwisata Sembari Mengakrabi Alam
0 Comments | Posted by Dewa in Kab. Badung, Kiadan, Wisata Alam


Ini adalah satu di antara sedikit wahana Ekowisata (Ecotourism) yang ada di Bali. Wahana ini berupa perkebunan kopi yang dikelola oleh masyarakat setempat. Lokasinya di Banjar Kiadan, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Di banjar terebut, masyarakat mengelola kebun kopi dan memproduksi bubuk kopi dengan merek dagang “Ijo Bang”. Pada areal perkebunan kopi seluas 243 hektar tersebutlah ekowisata ini dilaksanakan. Bentuknya adalah wisata trekking menyusuri areal perkebunan dan beberapa tempat menarik antara lain air terjun Nungnung.
Ada dua jalur trekking yang ditawarkan, yakni “Jalur Panjang” yang menghabiskan waktu sekitar tiga jam, dan “Jalur Pendek” yang memutuhkan waktu hanya satu jam saja. Dalam perjalanan tersebut, kamu akan dipandu oleh seorang atau beberapa orang pemandu yang akan menjelaskan secara mendetil tentang berbagai macam tumbuhan, perdu, semak dan pohon yang ada di sepanjang perjalanan, lengkap dengan kegunaannya masing-masing.
Ketika Jalan-jalan Bali bertandang ke sana, kami disambut dengan hangat oleh pengelola di Balai Subak Sari Boga, Br. Kiadan, Pelaga, Badung Utara. Balai Subak tersebut adalah sebuah wantilan (aula) yang tampak unik karena plafonnya yang terbuat dari bambu batangan. Hampir semua mebel dan perabotannya pun terbuat dari bambu.
Di wantilan tersebut, kami disuguhi kopi Kiadan yang rasanya begitu khas. Sebelum disuguhkan, kopi itu yang direbus dengan kuali yang terbuat dari tanah di tungku dengan bara api yang terukur sedemikian rupa. Sebagai teman kopi, kami mendapat suguhan penganan yang terbuat dari ketan dan ketela rambat yang di kukus. Keduanya diurap dengan parutan kelapa dan, bila suka, disirami cairan gula merah.
Setelah itu, barulah kami berkeliling menelusuri perkebunan kopi sembari mengenal lebih dekat tanaman bambu, tanaman-tanaman obat, serta kehidupan masyarakat yang ada di wilayah itu. Seorang pemandu yang berpengalaman sejak 1999 mengantarkan kami untuk mengenal banyak hal yang tadinya tampak biasa-biasa saja menjadi terasa luar biasa. Di Kiadan, selain pemandu tadi, ada 11 pemandu lain yang bisa melakukan hal yang sama.
Untuk rombongan trekking yang besar dan berniat menginap di kawasan ini, tersedia sarana akomodasi berupa home stay yang mampu menampung sebanyak 30 orang tamu.
Ini adalah tradisi warga Desa Adat Kapal, Kabupaten Badung. Sebuah “perang” yang setiap tahun digelar di desa tersebut, yakni prani tipat alias perang ketupat. Pesertanya, ya masyarakat desa itu sendiri. Yang laki-laki, tentunya. Mereka membentuk dua kelompok yang berhadap-hadapan. Mereka kemudian saling melempar ketupat ke arah kelompok di hadapannya. Menurut tradisi, perang tersebut dilakukan sehari setelah purnama ke empat.
Tradisi sejak 1970-an ini merupakan ritual yang elibatkan dua kelompok laki-laki bertelanjang dada. Masing-masing mempersenjatai diri mereka dengan sejumlah ketupat dan kue bantal nasi. Begitu perang dinyatakan mulai, kedua kelompok tersebut saling menyerang kubu lawan dengan melemparkan ketupat atau kue bantal itu ke arah “lawan”. Tidak ada aturan khusus terkait perang ketupat ini. Semua pemain bebas melempar ke arah mana pun di kubu lawan.
Bagi masyarakat desa Kapal tradisi ini dipercayai bisa mendatangkan kesejahteraan. Menurut Bendesa Adat Kapal Gde Dharmayasa, perang tipat merupakan simbol kemakmuran. ''Ritual ini juga sebagai bentuk rasa sukur kami terhadap kelimpahan yang sudah diberikan Tuhan pada kami," paparnya. Ia memaparkan bahwa saling lempar ketupat tersebut hanyalah bentuk ekspresi semata. Intinya, ketupat dan nasi tersebut dipersembahkan kepada Semesta Raya. Setelah itu, dinikmati bersama-sama oleh masyarakat.
Jika tak menjalankan tradisi ini, kami khawatir sawah-sawah akan mengalami paceklik," imbuh Dharmayasa. (abe/jjb)
Foto: repro Miftahuddin- Radar Bali
Balangan, Pantai Indah di Cekungan Karang
0 Comments | Posted by Dewa in Kab. Badung, Pantai Balangan
Mau mandi cahaya matahari di pantai Bali? Pastilah di benakmu langsung terbayang pantai Kuta, Seminyak, Legian, Sanur, atau Nusa Dua. Tak salah,tentu. Pantai-pantai itu memang sangat terkenal bagi pelancong yang berkunjung ke Bali. Sekalipun sesungguhnya ada banyak pantai lain yang tak kalah indah dan menariknya. Sebut saja satu di antaranya yaitu Pantai Balangan, sebuah pantai eksotik denga suasana yang nyaman dan tenang karena tak disesaki oleh pelancong.
Ingin ke sana? Gampang! Dari Kuta, menujulah ke arah Selatan yakni ke kawasan Uluwatu. Ikuti saja jalan raya yang menuju obyek Wisata Garuda Wisnu Kencana (GWK). Begitu tiba di depan kawasan GWK, terus saja hingga kamu menemukan perempatan di mana jalan ke kiri menuju Bali Cliff, jalan lurus menuju Uluwatu, dan yang ke kanan menuju Pantai Balangan. Ikuti saja jalan itu. Begitu mentok, sekitar lima kilometer dari perempatan, kamu sudah sampai di pantai tujuan.
Untuk mencapai bibir pantai, kamu harus menuruni jalan setapak yang sedikit curam. Santai saja, sebab setelah itu kamu akan menjumpai hamparan pantai dengan pasir putih bersih yang sangat indah. Dan, ketika kamu tiba di sana, bisa jadi hanya kamu dan beberapa turis bule yang sedang menikmati keindahan itu. Tidak ada pedagang acung, tukang pijat, atau pedagang lain yang mengganggu.
Pantai Balangan memang tersembunyi. Ia dibatasi oleh tebing setinggi sekitar tujuh meter yang bagian melesak ke dalam karena terkikis air pasang. Di bagian barat, pantai ini dibatasi oleh tebing yang lebih tinggi. Tebihng ini tampak hijau arena ditumbuhi oleh pepohonan karang. Di tengah-tengah cekungan tebing timur dan tebing barat inilah pantai Balangan terhampar.
Di situ, tak ada café yang gemerlap macam yang terlihat di Kuta, Legian atau Seminyak. Yang ada, cuma enam kafe sederhana yang berjajar di antara pohon-pohon kelapa sepanjang pantai. Café-café itu sekaligus berfungsi sebagai penginapan dengan tarif sekitar Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu per malam.
Karena letaknya berdekatan dengan pantai Dreamland, pada saat ombak surut, kamu bisa berjalan kaki menyusuri pantai menuju kawasan tersebut. Sungguh mengasyikkan. Tapi berhati-hatilah dengan karang-karang tajam yang terdapat di beberapa lokasi.
Ratusan pelancong pantai Kuta dari berbagai daerah dan negara Selasa (30/7/2009) lalu berbaur untuk melepas-bebas 137 tukik (anak penyu) ke laut. Tukik-tukik yang dilepas tersebut adalah anak-anak penyu yang menetas di bak penampungan milik Konservasi Penyu Kuta (KPK). Telur-telur penyu tersebut adalah telur-telur yang ditemukan di pesisir pantai Kuta dan pantai lain di Bali selatan sekitar sebulan yang lalu, dan ditampung di bak milik KPK.
Sudah menjadi tradisi KPK untuk menampung telur-telur penyu yang ditemukan di pantai mana saja di Bali dan mengupayakan agar telur-telur tersebut menetas dengan baik. Setelah menetas, dalam waktu tak lebih dari 24 jam tukik-tukik tersebut langsung dilepas ke laut bebas untuk menemukan habitatnya yang tepat. Biasanya, tukik-tukik tersebut dilepas ke laut pada saat menjelang matahari terbenam. Alasannya, untuk menghindari serangan burung dan predator lain yang memangsa tukik.
“Soalnya, sebab tukik-tukik itu belum bisa berenang di bawah permukaan air. Pada umur sehari, tukik-tkik itu baru berenang di atas permukaan,” papar I Gst Ngurah Tresna, sesepuh Unit Pengelola Pantai Desa Adat Kuta yang memayungi kegiatan KPK.
Selain pertimbangan itu, pelepasan tukik juga memperkirakan kuatnya arus.
“Jika arus terlalu kuat, pelepasan ditunda,” imbuh Tresna.
Saat ini di bak penampungan milik KPK terdapat 39 sarang yang berisi 4300 telur penyu. Dari jumlah tersebut, empat sarang berisi 487 butir telur telah menetas dan langsung dilepas ke laut bebas beberapa jam kemudian. Ratusan telur di beberapa sarang diperkirakan akan menetas sekitar tanggal 3-5 Juli 2009.
Kenyamanan sarana wisata di pantai Kuta atau pantai lainnya di Bali, tidak lengkap tanpa kehadiran anggota Badan Penyelamat Wisata Air (Balawista). Para penyelamat pantai yang selalu bersiaga di enam pos di sepanjang kawasan pantai Kuta dari Tuban hingga Seminyak.
Setiap detik mereka berjaga-jaga untuk mencegah dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya kecelakaan menimpa wisatawan yang tengah mandi atau melakukan aktivitas lain di tengah deburan ombak pantai Kuta.
Menjadi seorang anggota Balawista memerlukan mereka rasa kepedulian yang kuat terhadap nasib orang lain. Juga semangat pengabdian, ketulusan dan kerelaan berkorban yang tinggi. “Tanpa itu, anda tak akan tahan menjalani profesi ini,” ucap Suparka, Komandan Balawista Kabupaten Badung.
Pernah, sekitar tahun 1980-an, tiga wisatawan asing terseret gelombang. Seketika para Balawista melesat dan terjun ke laut untuk memberi pertolongan. Namun apa yang terjadi? Ombak yang kala itu ganas akibat pengaruh cuaca, justru mengancam jiwa para Balawista. Mereka pun diombang-ambing dan diempaskan oleh deburan ombak yang dahsyat. Di saat-saat demikian, kata Suparka, hanya satu hal yang mereka pikirkan yaitu bagaimana menyelamatkan nyawa orang-orang yang terseret arus itu.
“Soal diri kami, itu urusan belakangan,” ucapnya.
Di luar itu, ada lagi syarat yang harus dipenuhi yakni kemampuan fisik yang prima. Untuk dapat diterima sebagai anggota Balawista calon anggota harus menjalani pelatihan terlebih dahulu. Setelah itu, mereka harus lulus beberapa ujian yang ditandai dengan Sertifikat Bronze. Sertifikat tersebut diberikan kepada mereka yang berhasil melampaui tes kemampuan berenang di kolam renang menempuh jarak 400 meter dalam waktu kurang dari sembilan menit. Juga kemampuan berlari di pantai sejauh 200 meter, berenang di laut sejauh 200 meter, kemudian berlari lagi di pantai 200 meter. Semua itu harus ditempuh dengan catatan waktu maksimal delapan menit. Setelah terpilih, masing-masing anggota diberi pelajaran selama sepuluh hari meliputi pelajaran tentang ombak dan arus, alat penyelamatan, P3K, dan lain-lain.
Dalam pelaksanaan tugas, anggota Balawista berkualifikasi Bronze, dibantu oleh anggota Balawista yang digolongkan dalam resasitasi group dan life saving group.
Anggota Resasitasi Group lebih banyak bertugas sebagai pengelola administrasi dan penyelamatan di darat, sedangkan anggota life saving group memiliki kemampuan resasitasi group ditambah cukup keterampilan renang. Anggota kelompok ini memiliki kemampuan sedikit di bawah Bronze group.
Saat ini jumlah anggota balawsita Badung ada 128 orang yang tersebar di 16 pos di pantai-pantai Tuban-Seminyak (6 pos), Jimbaran (1 pos), Nusa Dua (3 pos), Uluwatu (1 pos), Labuhan Sait (1 pos), Dreamland (1 pos), Berawa (1 pos), Batu Belig (1 pos), Seseh (1 pos) dan pos pengendali di Kuta. Untuk semua itu, fasilitas penyelamatan yang tersedia antara lain radio, jet ski, boat karet (4 unit), boat fiber glass (2 unit).
Guna meningkatkan kemampuan lapangan anggota Balawista mendapat pelatihan secara regular. Mereka juga secara bergiliran dikirim ke luar negeri untuk menimba ilmu penyelamatan.
Pesan wisatawan:
Jangan berenang di antara dua bendera yang dipasang oleh anggota Balawista. Biasanya, anggota Balawista akan mengingatkan bila kamu melanggar larangan ini.
Setelah sebelumnya menetapkan tujuh desa menjadi desa wisata, kini Pemerintah Kabupaten Badung kembali melirik dua desa untuk dimasukkan dalam program serupa. Dua desa tersebut adalah desa Biloksidan dan desa Buana. Keduanya diarahkan sebagai desa wisata lantaran pesona alamnya yang memesona. Selain punya potensi rafting, kedua desa ini sangat mungkin dikembangkan sebagai tujuan wisata spiritual.
Sebelumnya, Pemkab Badung menetapkan Kiadan, Sangeh, Bongkasa, Baha, Mengwi, Kapal dan Munggu sebagai desa wisata karena keunikan dan kekhasannya masing-masing. Desa Kiadan memiliki potensi ekowisata yang luar biasa, desa Sangeh memiliki hutan kera yang unik, Bongkasa merupakan kawasan rafting yang menyenangkan, desa Mengwi memiliki pura Taman Ayun yang indah dan sentra kerajinan yang maju, desa Kapal memiliki Pura Sada dengan tradisi perang ketupat yang unik. Sedangkan desa Munggu memiliki tradisi Mekotek yang juga tak kalah uniknya.
Menurut I Made Subawa, Kepala Dinas Pariwisata Daerah Badung, rencananya tahap pembangunan fisik sebagai pelengkap keberadaan desa wisata, diupayakan rampung paling telat pada tahun 2010.
“Jika target tersebut tercapai, maka pada 2011 kedua desa tersebut langsung dijual sebagai tempat wisata alternatif andalan Badung,” ucap Subawa kepada wartawan.
Suluban, Pantai Eksotik di Dekat Uluwatu
0 Comments | Posted by Dewa in Kab. Badung, Pantai Suluban, Surfing
Pantai Suluban berlokasi di Desa Pecatu, dekat kawasan Uluwatu. Letaknya sekitar 34 kilometer selatan kota Denpasar, atau sekitar 27 kilometer dari Kuta. Daya tarik pantai ini adalah panorama yang indah dan suasananya yang jauh dari kebisingan. Deburan ombaknya yang tinggi menjadikan pantai sebagai tempat yang menyenangkan untuk surfing.
Dinamakan pantai Suluban karena untuk tiba di pantai ini kamu harus menuruni tebing dan memasuki terowongan yang cukup lebar dan luas. Dalam bahasa Bali, berjalan ke depan dengan melewati sesuatu di atas kepala dinamakan masulub. Sedangkan sesuatu yang di atas kepala itu dinamakan pasuluban atau suluban. Nah, tebing karang menyerupai terowongan itulah suluban bagi setiap orang yang hendak menuju bibir pantai.
Begitu tiba di mulut terowongan, kamu memiliki dua pilihan: hendak langsung menuju bibir pantai atau naik ke atas tebing melalui tangga kayu untuk melihat pemandangan dari ketinggian. Oleh pengelola pantai tersebut, di atas tebing dibuatkan semacam pos dari kayu di mana pengunjung dapat menyaksikan dengan leluasa pemandangan laut yang indah. Dari pos itu kamu dapat melihat dengan lebih jelas atraksi para surfer di tengah laut. Dari pos itu pula kamu dapat memotret dengan lebih leluasa pemandangan yang menakjubkan saat matahari tenggelam di cakrawala.
Soal surfing, tinggi ombak yang dapat mencapai 3-4 meter di pantai ini membuat para surfer senang untuk menjajalnya. Namun untuk melakukan aksi liuk-meliuk di atas papan selancar itu, kamu harus berjalan melintasi hamparan karang “berlumut” sekitar 15 meter jauhnya. Setelah itu kamu harus berenang ke tengah laut untuk mencari lokasi ombak yang menjulang itu.
Karena jauh dari hiruk-pikuk aktivitas sehari-hari ataupun aktivitas hura-hura, kamu dapat menikmati liburan dengan tenang di pantai ini.
Dari Kuta jalur yang bisa kamu tempuh adalah Bandara Ngurah Rai terus menuju Jimbaran terus mengikuti jalan menanjak dan berkelok menuju Uluwatu. Beberapa kilometer menjelang Uluwatu, ada pertigaaan. Pilihlah jalan yang ke kiri. Waktu yang kamu perlukan untuk itu sekitar 45 menit.
Di Pantai Suluban ada beberapa buah penginapan yang dimiliki oleh penduduk setempat. Terdapat juga warung-warung yang menyediakan makanan, minuman, barang-barang suvenir dan peralatan surfing.


Dibangun, Patung Ngurah Rai Ukuran Jumbo
0 Comments | Posted by Dewa in Kab. Badung, Monumen Ngurah Rai
Meski telah terkenal sebagai daerah kunjungan wisata terbaik di Indonesia, Bali tetap saja bersolek untuk mempercantik kota-kotanya. Polesan terbaru yang saat ini tengah dilakukan adalah pemasangan patung Pahlawan Nasional Brigjen I Gusti Ngurah Rai. Patung perunggu setinggi delapan meter itu dipasang tak jauh dari pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Patung tersebut bertengger di atas pondasi seluas 19,45 meter, dikitari kolam dan rencananya akan diperindah dengan 17 air mancur.
Patung perunggu yang menampilkan sosok Pahlawan Puputan Margarana tersebut tiba akhir pekan lalu dari tempat pembuatannya di Yogyakarta. Saat peletakannya di atas pondasi, Jalan Kartika Plaza, Kuta ditutup selama beberapa jam untuk menghindarkan terjadinya kemacetan lalu-lintas di daerah tersebut. Semua kendaraan yang menuju atau dari jalan tersebut dialihkan melalui jalan alternatif.
Jika dirangkai, angka-angka yang nenunjukkan jumlah air mancur, tinggi patung, dan lebar pondasi, semua itu melambangkan 17 - 8 – 1945 atau hari kemerdekaan Republik Indonesia, sebuah hari yang sakral, yang oleh Ngurah Rai dipertahankan dengan segenap jiwa raganya.
Pembangunan patung Ngurah Rai di kawasan bandara internasional di Tuban, Kabupaten Badung ini satu paket dengan pembangunan sepasang gapura yang menjulang tinggi tak jauh dari lokasi tersebut. Tahun lalu, di sela pemaparan konsep pembangunan patung dan candi bentar tersebut di depan Bupati Badung, kepada Antara, pelaksana tugas General Manager PT (Persero) Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai, I Ketut Erdi Nuka, SE,MM mengatakan bahwa pembangunan tersebut selain dimaksudkan untuk menunjukkan identitas Bali, juga untuk memberikan kesan khusus bagi wisatawan mau pun tamu lainnya yang datang atau pergi via Bandara.
Dibanding dengan patung Ngurah Rai (lama) yang terletak dipertigaan Jalan Bypass – Bandara, lokasi serta bentuk patung jauh lebih menarik. Bukan hanya tinggi dan besarnya saja, area sekitar untuk menikmati keindahan patung tersebut pun lebih luas, aman, dan nyaman. Jika ditata dengan tepat, kawasan ini dapat menjadi tempat menunggu yang baik bagi para wisatawan atau penjemput sebelum pesawat tiba (ae/jjb).
Wisata pedesaan rupanya memiliki daya tarik yang cukup besar bagi pelancong. Beberapa desa wisata seperti Ubud, Penglipuran, Tenganan, Kerta Langu telah terbukti punya daya pikat yang kuat untuk menyedot pelancong dari dalam dan luar negeri untuk datang bertandang. Belajar dari pengalaman tersebut, kini Pemerintah Kabupaten Badung tengah menyiapkan tujuh desa untuk dijadikan desa wisata. Ke-tujuh desa tersebut adalah Petang, Munggu, Bongkasa, Mengwi, Sangeh, Kapal dan Baha.
Upaya menjadikan ke-tujuh desa di atas menjadi desa wisata tak akan mengubah struktur dan kondisi desa tersebut. Tata ruang dan lingkungan alam akan dipertahankandan dijaga. Malah, beberapa lingkungan yang rusak akan diperbaiki dan dikembalikan keasriannya.
“Ini adalah sebuah upaya mengembangkan industri pariwisata dengan tetap menjaga kelestarian alam,” ungkap AA RakaYudha, Kepala Bidang Penataan Obyek Pariwisata Dinas Pariwisata Daerah Kabupaten Badung, kepada wartawan.
Di samping itu, menurut RakaYudha, konsep ini akan menjadikan pariwisata sebagai milik masyarakat desa. “Akan semakin banyak masyarakat mendapat cipratan bahkan limpahan rejeki dari obyek pariwisata model ini,” imbuhnya.
Namun rialisasi niat baik tersebut masih sedikit terkendala. Kurangnya sarana akomodasi nerupakan kendala utama menjadikandi desa-desa tersebut sebagai desa wisata. Namun demikian, Raka Yudha tetap optimistik bahwa kendala ini akan segera dapat diatasi. Ia berencana melakukan pendekatan ke pelaku-pelaku wisata untuk mencari jalan keluar untuk hal ini.
Tujuh desa yang disebut di atas memang layak dikembangkan menjadi desa wisata sebab masing-masing desa itu memiliki potensi yang hebat. Desa Petang memiliki potensi ekowisata yang sangat baik, Sangeh memiliki hutan kera yang unik, Bongkasa memiliki Sungai Ayung yang selain menawan juga menyenangkan untuk rafting, desa Kapal memiliki pura Sada yang menarik dan tradisi perang ketupat, desa Munggu memiliki tradisi makotek (perang bambu), desa Baha memiliki pemandangan persawahan yang indah, dan desa Mengwi memiliki pura Taman Ayun yang cantik.
Pura Bukit Sari berada di tengah hutan pala Desa Sangeh, Badung bagian utara. Kawasan pura ini merupakan salah satu obyek wisata yang menggoda. Betapa tidak, pura yang tenang itu tampak seperti sebuah istana yang dikawal oleh ratusan pasukan kera.
Menurut kisah, Pura Bukit Sari dibangun oleh Anak Agung Anglurah Made Karang Asem Sakti, anak angkat dari Raja Mengwi saat itu, Cokorda Sakti Blambangan. Sejak belia Anak Agung Anglurah Made Karang Asem gemar menjalani laku spiritual. Pada suatu malam, saat menjalani pertapaan, ia memperoleh pawisik (ilham) agar mendirikan pura di tengah kawasan hutan pala Sangeh.
Tentang pohon pala di Sangeh, juga ada kisah yang menarik. Menurut mitos, pohon-pohon tersebut berasal dari kawasan Gunung Agung di bagian timur Bali. Segerombolan pohon pala melakukan perjalanan dari Gunung Agung menuju kawasan Bali bagian barat. Sayangnya, di tengah jalan perjalanan tengah malam tersebut terlihat oleh seseorang. Akibatnya, perjalanan gaib itu terhenti. Pohon-pohon tersebut lalu menetap di sana dan berkembang menjadi hutan Sangeh hingga saat ini.
Konon, Sangeh berasal dari dua kata: sang yang berarti orang dan ngeh berarti lihat atau bisa diterjemahkan sebagai dilihat orang.
Kini, kawasan hutan Sangeh dihuni oleh ratusan monyet berwarna abu dan berekor panjang. Populasinya saat ini sekitar 700 ekor. Kawanan monyet itu terbagi dalam tiga kelompok: kelompok barat, tengah, dan timur. Masing-masing kelompok dipimpin oleh seekor monyet jantan sebagai rajanya.
Monyet-monyet di kawasan ini cukup jinak. Mereka jarang mendapatkan bahan makanan dengan cara merebut dari pengunjung. Namun, jangan coba-coba membuat monyet itu marah. Apalagi yang marah itu rajanya. Dia akan mencoet memanggil anak buahnya untuk bersama-sama menyerangmu. Ini pernah terjadi pada seorang sutradara sinetron yang tak sengaja menendang raja monyet yang merebut daun pepaya properti salah satu adegan sinstronnya. Si raja monyet yang marah langsung mencoet keras. Tak lama kemudian seluruh anak buahnya termasuk yang masih bayi datang dan menyeringai ke arah si Sutradara Sinetron. Untung saja seorang pawang langsung datang melerai…
Akses
Tidak sulit menjangkau obyek wisata alam yang unik itu. Dari Kuta jaraknya sekitar 45 kilometer. Fasilitas jalan ke arah sana cukup bagus, sehingga dapat kamu jangkau dengan taksi atau kendaraan pribadi.
Tiket
Rp 6 ribu per orang.
Pura Taman Ayun adalah pura keluarga Kerajaan Mengwi yang megah dan memiliki panorama indah. Pura yang berdiri di desa Mengwi ini berjarak sekitar 18 kilometer dari Denpasar dan sangat mudah dicapai dengan kendaran bermotor.
Pura Taman Ayun bermula dari pendirian sebuah tempat persembahyangan oleh raja pertama kerajaan Mengwi, I Gusti Agung Putu yang bergelar Cokorda Sakti Blambangan. Pendiriannya di tahun 1634 itu dimaksudkan untuk menghormati leluhur sang Raja. Sebelum mendapatkan nama Pura Taman Ayun, tempat ini bernama Taman Ganter.
Setelah kerajaan Mengwi makin kuat maka I Gusti Agung Putu memperluas tempat pemujaannya. Lalu Taman Ganter dipindahkan ke tempat yang kini bernama Taman Ayun. Taman Ayun berarti Taman yang Indah. Dan, kompleks pura itu memang indah. Deretan meru yang menjulang itu berpadu dengan taman dan kolam asri yang mengelilingi mengelilinginya. Meru adalah bangunan tempat pemujaan yang terbuat dari kayu dengan atap ijuk yangbersusun-susun. Ada yang bersusun tiga, lima, tujuh, sembilan dan sebelas. Meru tersebut diperuntukkan bagi pemujaan Tuhan dalam berbagai manivestasi dan konsepsi-Nya.
Kompleks Pura dibagi menjadi empat halaman berbeda. Halaman yang satu lebih tinggi dari yang lainnya. Halaman terluar dan terendah disebut jaba, yang terdalam dan tertinggi di sebut jeroan yang merupakan areal paling suci. Di halaman inilah terdapat deretan meru yang menjulang itu. Tiga halaman dari pura ini melambangkan tiga tingkat kosmologi dunia: alam manusia, alam kedewaan, dan alam ketuhanan. Secara keseluruhan, kompleks pura menggambarkan gunung Mahameru yang mengapung di tengah lautan susu seperti yang termakstub dalam mitologi Hindu.
Pada zaman dahulu, selain sebagai tempat pemujaan, bagian luar dari kompleks Taman Ayun ini juga digunakan sebagai tempat berkumpul para anggota kerajaan. Sekarang lokasi tersebut dipakai rendevous oleh anak-anak remaja untuk pacaran.
Pemandangan di areal ini akan lebih indah dinikmati dari ketinggian. Naiklah ke bale kulkul yaitu bangunan yang terdapat di sebelah kiri pintu gerbang, untuk mendapat pandangan yang lebih lapang. Bagi yang rada-rada narsis, di sini kamu dapat berpose dengan beragam latar belakang.
Bonus
Di seberang lingkungan pura Taman Ayun terdapat Museum ManusaYadnya yang memaparkan proses upacara manusia Bali dari sejak upacara untuk janin yang masih dalam kandungan, saat berusia enam bulan, remaja, menikah, hingga meningal. Obyek ini boleh kamu anggap sebagai bonusyang dapat kamu kunjungi setelah bertandang ke pura Taman Ayun.
Tiket
Rp 3 ribu
Akses
Dari Kuta, kamu dapat langsung ke arah Taman Ayun melalui Kerobokan – Lalung – Kapal - Mengwi.
Tanjung Benoa dan Pulau Penyu
0 Comments | Posted by Dewa in Kab. Badung, Pulau Penyu, Tanjung Benoa
Pantai Tanjung Benoa terletak sekitar 11 kilometer dari Bandara Internasional Ngurah Rai atau sekitar 14 kilometer. Kalau dari Kuta, sekitar 14 kilometeranlah. Pantai ini termasuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Badung. Pasir putihnya yang lembut dan bentangan garis pantainya yang lebar membuat pantai Tanjung Benoa sangat cocok untuk aktivitas olah raga air dan petualangan seperti parasailing, windsurfing, glass bottom boat, banana boat, flying fish, waterskiing, dan jet ski. Juga untuk petualangan bawah laut macam Odyssey dan Sea Walker. Namun jangan menanyakan olahraga surfing di pantai ini. Ombak pantai yang relatif tenang membuat olah raga tersebut nggak mungkin dilakukan di spantai ini.
Untuk menikmati berbagai sarana olahraga air di atas, kamulian nggak harus merogoh kocek teralalu dalam. Biayanya hanya berkisar antara Rp150 ribu sampai Rp 200 ribu untuk pemakaian selama 10-15 menit untuk setiap permainan. Cuma, di waktu-waktu padat pengunjung, jatah waktu permainan sering dikurangi menjadi hanya sekitar lima menit saja karena panjangnya antreian.
Selain olahraga air, pesona lain pantai ini adalah Pulau Penyu yang berjarak kurang lebih 20-30 menit perjalanan dengan perahu. Disebut Pulau Penyu, karena pulau ini merupakan tempat penangkaran berbagai spesies penyu/kura-kura yang sudah mulai langka. Untuk mencapai lokasi ini, kamu bisa menumpang perahu dari pesisir Tanjung Benoa. kalian harus menaiki perahu. Perahunya beralas kaca alias glass bottom yang memungkinkan kamulian untuk menikmati pemandangan bawah laut selatan Bali yang indah. Tarif sewa perahu sekitar Rp 50 ribu per orang.
Di Pulau Penyu, karena dangkal, perahu tidak bisa merapat langsung ke lokasi. KaPengunjunglian harus turun dan menyusuri pantai berair setinggi mata kaki. Di beberapa tempat, air dapat setinggi lutut orang dewasa. Selanjutnya, kapengunjunglian akan dipandu oleh warga lokal berkeliling melihat beragam jenis kura-kura di tempat penangkaran. Mereka ditangkarkan untuk mencegah kepunahannya. Dibiarkan berkembang secara alami. Di situ kamulian bebas berfoto dengan kura-kura mana pun. Mau dengan kura-kura kecil atau kura-kura besar, bisa. Asal jangan minta dengan kura-kura ninja aja, nggak ada! Di pulau ini kura-kura hanya sempat berlatih berenang. Mereka ditangkarkan untuk mencegah kepunahannya. Dibiarkan berkembang secara alami. Setelah telur-telur tersebut pecah dan kemudian membesarberbiak, anak-anak penyu ini akan anak-anaknya dilepas ke laut bebas. Sementara iInduknya, tetap berada di penangkaran.
Selain penyu, di pulau ini juga terdapat beberapa hewan lain seperti elang laut, rangkong, kelelawar, dan ular yang sudah jinak. Kalian Kamu juga bisa berpose di depan kamera bersama hewan-hewan tersebut.
Lumba-lumba
Pemandangan yang sangat sayang dilewatkan saat menuju Tanjung Benoa yang memakan waktu 30 -60 menit ini adalah menyaksikan atraksi lumba-lumba di lepas pantai. Selain penyu, dengan menggunakan boat dari Tanjung Benoa kamu dapat menyaksikan atraksi lumba-lumba di lepas pantai Tanjung Benoa. Ada banyak titik untuk titik di mana kalian dapat menjumpai gerombolan Lumba-lumba. Sangat mengasyikan melihat hewan bersahabat ini Berlayar sekitar 30-60 menit, kalian akan menjumpai pemandangan mengasyikkan berupa atraksi ikan Lumba-lumba yang terus berloncatan sambil mengikuti laju perahumu.
Waktu terbaik untuk menyaksikan atraksi lumba-lumba ini adalah pada saat subuh atau menjelang matahari terbenam. Pada saat itulah kawanan lumba-lumba mencari makan sehingga kemungkinan untuk berjumpa dengannya lebih besar dibanding jika kaliankamu bertandang pada siang hari.
Tarif rekreasi ini sebesar US$ 70 net per orang (minimum dua orang). Harga itu sudah termasuk penjemputan dan pengantaran dari dan ke hotel di sekitar Nusa Dua, Jimbaran, Kuta, Seminyak dan Sanur; makan siang dengan soft drink atau air mineral; sewa perahu; dan asuransi kesehatan.
Tiket
Gratis! Namun tidak ada salahnya Tidak dikenakan tarif khusus untuk masuk baik ke Tanjung Benoa maupun ke Pulau Penyu. Tapi, di Pulau Penyu bolehlah kalian mendonasikan beberapa rupiah untuk membantu warga setempat menangkarkan memelihara penyu. yang ditangkarkan.
Akses
Untuk menuju Pantai Tanjung Benoa kalian kamu bisa menumpang bus-bus pariwisata atau membawa kendaraan sendiri. Belum ada transportasi umum melewati kawasan ini.
Meski memiliki pasir yang putih dan lembut, sebelum tahun 1980, pantai Nusa Dua bukanlah merupakan pantai yang menjadi tujuan pelancong. Saat itu pantai ini hanya dipenuhi dengan semak belukar. Baru setelah Bali Tourism and Development Council, menata dan mengembangkan daerah ini, Nusa Dua menjadi sebuah kawasan wisata elit dan ekslusif. Semua hotel di kawasan ini merupakan hotel berbintang dengan tarif sewa kamar sekitar US$ 100-US$ 400 per malam.
Di sepanjang pantai Nusa Dua kamu bisa menyaksikan dua pemandangan yang sangat cantik sekaligus. Pemandangan pertama adalah hamparan samudera Hindia dengan garis horizon yang memesona. Pemandangan kedua adalah deretan hotel-hotel mewah yang tertata rapi di sepanjang pantai.
Di pantai ini juga kamu dapat berenang, berjemur atau bersantai tanpa diganggu oleh pedang kaki lima. Sebab, hampir seluruh garis pantai sepanjang lima kilometer di kawasan ini menjadi halaman belakang dari hotel-hotel kelas dunia tersebut. Di sepanjang pantai, pihak pengelola membangun jalan kecil bagi pejalan kaki yang menyusuri pantai. Namun, tidak semua pengunjung bebas berjalan di sana, karena beberapa hotel melarang pengunjung yang bukan tamu hotel berkeliaran di sekitar areal pantai hotel.
Selain memiliki area bermain golf yang terkenal, Bali Golf and Country Club, kawasan ini juga menawarkan fasilitas untuk wisatawan yang ingin melakukan konferensi atau pertemuan bisnis karena telah didukukung oleh hotel yang telah memiliki fasilitas konferensi terbesar di Bali. Selain ini Nusa Dua tidak kalah dengan daerah wisata lainnya di Bali dalam hal penyajian tempat tempat belanja, rekreasi dan tempat makan. Semuanya berada dalam satu kawasan. Hampir semua hotel di Nusa Dua berada di pinggir pantai dan memiliki kemudahan akses dengan shuttle bus ke tempat belanja, tempat makan dan tempat rekreasi.
Akses
Sekitar 11 kilometer dari Bandara Internasional Ngurah Rai Bali atau sekitar 14 kilometer dari Kuta, kamu harus membawa sendiri kendaraan atau menumpang kendaraan anggkutan wisata. Kendaraan umum tidak melewati kawasan ini.
Pantai Suluban berlokasi di Desa Pecatu, dekat kawasan Uluwatu. Letaknya sekitar 34 kilometer selatan kota Denpasar, atau sekitar 27 kilometer dari Kuta. Daya tarik pantai ini adalah panorama yang indah dan suasananya yang jauh dari kebisingan. Deburan ombaknya yang tinggi menjadikan pantai sebagai tempat yang menyenangkan untuk surfing.
Di Pantai Suluban ada beberapa buah penginapan yang dimiliki oleh penduduk setempat. Terdapat juda warung-warung yang menyediakan makanan, minuman, barang-barang suvenir dan peralatan surfing.
Untuk tiba di pantai ini kamu harus menuruni tebing dan memasuki gua yang lebar dan luas. Karena jauh dari hiruk-pikuk aktivitas sehari-hari ataupun aktivitas hura-hura, kamu dapat menikmati liburan dengan tenang di pantai ini.
Dari Kuta jalur yang bisa kamu tempuh adalah Bandara Ngurah Rai terus menuju Jimbaran terus mengikuti jalan menanjak dan berkelok menuju Uluwatu. Beberapa kilometer menjelang Uluwatu, ada pertigaaan. Pilihlah jalan yang ke kiri. Waktu yang kamu perlukan untuk itu sekitar 45 menit.
Tempat ibadah ini merupakan satu dari enam pura utama di Bali. Pura ini berdiri anggun di puncak tebing karang berketinggian 75 meter di atas permukaan laut, di ujung selatan pulau Bali. Menurut kosmologi Bali, Pura Luhur Uluwatu terletak di barat daya menghadap ke timur laut. Gerbangnya persis berhadap-hadapan dengan gerbang Pura Penataran Agung di Besakih.
Belum ditemukan bukti otentik, kapan pura ini pertama kali dibangun. Namun, melihat beberapa peninggalan arkeologis di tempat itu, diperkirakan pura ini sudah ada sejak abad ke-8. Dan, jika dilihat dari lokasinya yang berada di kawasan daratan tertinggi dari sekitarnya, kuat dugaan Uluwatu sudah difungsikan sebagai kawasan suci di masa-masa Bali Kuno, pra-Hindu. Di masa itu, orang Bali sangat yakin bahwa daratan tertinggi, seperti gunung atau bukit adalah kawasan tersuci. Di sanalah diyakini roh-roh leluhur bersemayam. Karenanya, ke sanalah orientasi pemujaan mereka arahkan.
Pada beberapa sumber historiografi tradisional Bali, disebutkan bahwa sekitar abad ke-15 pendeta Hindu asal Jawa Timur bernama Dang Hyang Nirartha melakukan perjalanan spiritual menyusuri tepian pantai-pantai Bali bagian selatan. Di beberapa tempat yang beliau lalui, beliau mendirikan atau membenahi tempat-pempat persembahyangan seperti Pura Tanah Lot, Peti Tenget, Sakenan, Masceti, Silayukti, dan Pura Luhur Uluwatu. Tidak hanya pura, di sepanjang perjalanannya, Dang Hyang Nirarta mendirikan "pondok sastra", menyuratkan gubahan karya-karya sastra yang sarat ajaran kerohanian.
Bagi masyarakat Hindu di Bali, Pura Luhur Uluwatu merupakan tempat memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa-Rudra.
Sebagai objek wisata, pura ini sangat memikat, pesona alamnya begitu magis dan eksotik. Dari titik-titik yang tepat, kamu bisa melihat anjungan batu karang terjal menjorok ke laut. Di atas tebing setinggi 75 meter dari permukaan laut itu tampak Pura Luhur Uluwatu berdiri anggun. Di kaki tebing, ombak samudera Hindia yang mengempas bebatuan, menimbulkan buih-buih berwarna putih mengilat dan suara yang gemuruh.
Ada dua pintu masuk ke areal Pura Luhur Uluwatu, yakni pintu utara dan pintu selatan. Sekitar 70 pemandu wisata yang ramah siap mengantarmu mengitari kawasan. Semuanya berasal dari desa di sekitar pura. Tak ada tarif khusus bagi pemandu wisata tapi umumnya pelancong memberi mereka tip antara Rp 20 ribu - Rp 50 ribu.
Semakin masuk ke halaman pura, gerombolan monyet-monyet yang tinggal di hutan sekitar Uluwatu akan menyambutmu. Hati-hati, mereka sedikit usil. Sering barang-barang bawaan pengunjung dicopetnya. Itu sebabnya, di loket masuk terpampang peringatan yang ditulis dalam sejumlah bahasa. Bunyinya: "Kacamata, topi, anting, ikat rambut, tolong dilepas. Bahaya dengan monyet".
Agar tidak diganggu, berikan mereka makanan sekadarnya. Mereka paling suka potongan mentimun yang bisa kamu dapatkan di warung makan sekitar area parkir. Meskipun monyet-monyet itu suka pisang, sebaiknya jangan membawakannya. Soalnya, kulit pisang itu akan menjadi sampah yang mengganggu keindahan. Begitu kamu berhasil menarik hati si monyet, mereka akan dengan mudah kamu ajak berfoto. Di sebelahmu, mereka akan tampak seperti seorang sahabat lama yang baru berjumpa kembali.
Melewati jalan setapak berkelok-kelok yang dibatasi pagar beton setinggi 1,5 meter seperti tembok China dalam ukuran mini, kamu bisa menikmati pemandangan kawasan tersebut dari ujung yang satu ke ujung yang lainnya. Di jalur inilah terdapat beberapa titik terbaik untuk menyaksikan keindahan anjungan batu karang terjal di mana Pura Luhur Uluwatu bertengger. Oleh pengelola kawasan, titik-titik tersebut diberi tanda berupa gerbang kecil di mana kalian dapat mengambil foto pemandangan yang indah tersebut dengan lebih leluasa. Dengan langkah santai, kamu membutuhkan waktu hingga satu jam untuk berkeliling.
Janganlah terburu-buru pulang, tunggulah hingga senja tiba. Matahari yang terbenam tampak begitu indah dari kawasan ini. Pendar cahaya jingga matahari yang seolah membenamkan dirinya ke laut membuat tebing dan pura tampak sebagai sebuah siluet yang menawan.
Agar tak bosan, kamu bisa menanti senja sembari menunggu pertunjukan tari Kecak di arena yang khusus disiapkan untuk itu. Dari tempat pertunjukan tersebut kamu juga dapat menyaksikan pemandangan matahari terbenam. Pertunjukkan yang berlangsung antara pukul 18.00-19.00 ini biasanya selalu dipadati penonton. Karena itu belilah tiket sesegera mungkin agar kamu dapat memilih tempat duduk yang paling nyaman untuk menikmati pertunjukan kecak sekaligus pemandangan matahari terbenam. Harga tiketnya Rp 40 ribu.
Akses
Kawasan Uluwatu sangat mudah dijangkau. Jalan menuju lokasi wisata itu tergolong bagus walaupun tidak lebar. Kalau dari Kuta, kamu dapat mengambil jalur Bandara Ngurah Rai – Nusa Dua – Kampus Universitas Udayana – Uluwatu. Atau, kamu dapat melalui jalur lain yaitu dari Bandara Ngurah Rai ke arah Nusa Dua, berbelok kanan di simpang tiga Jimbaran terus saja ikuti jalan utama tersebut kamu akan mentok di areal Pura Luhur Uluwatu. Perjalanan tersebut akan memakan waktu sekitar 15 menit.
Pakaian
Diwajibkan mengenakan busana rapi dengan kain dan selendang. Seperti di pura lainnya, untuk masuk pura ini setiap pengunjung wajib mengenakan kain serta selendang. Kalau tidak membawanya, kamu bisa menyewanya di dekat pintu masuk.
Waktu Berkunjung
Kalau ingin menyaksikan matahari terbenam, sebaiknya pukul 17.30 kamu sudah berada di sana.
Tiket
Rp 3 ribu + Rp 2 ribu untuk parkir mobil.
Makanan dan Minuman
Di areal parkir kamu menemukan banyak warung yang menjual makanan dan minuman.
Informasi tentang pantai padang-padang belum terlalu banyak beredar. Soalnya, pantai ini memang belum begitu ramai dikunjungi seperti pantai lainnya.
Jalan masuk menuju ke pantai nggak biasa, karena kamu harus melewati cerukan karang yang menjadi semacam pintu gerbangnya. Setelah menuruni beberapa tahap anak tangga, kamu akan dibuat takjub oleh pemandangan yang terhampar di depanmu. Pantai pasir putih yang airnya jernih dan dangkal akan membuatmu tak sabar untuk berenang. Agak ke tengah laut, deburan ombaknya yang tinggi sangat baik untuk surfing. Begitu indahnya tidak heran kalau band Michael Learns to Rock sempat menjadikannya lokasi tempat pembuatan salah satu video klip mereka.
Sekarang, pantai ini kerap digunakan sebagai tempat perlombaan surfing. Dari pantai ini terlihat pemandangan pantai Dreamland yang pintu masuknya melalui kompleks Bali Pecatu Graha.
Akses:
Dari Kuta meluncurlah ke selatan ke arah GWK dan Uluwatu.
Pantai Dreamland berada di pesisir selatan pulau Bali. Dari arah Denpasar, hanya beberapa kilometer sebelum Pura Uluwatu. Pantai Dreamland dikelilingi oleh tebing-tebing yang menjulang , dan dikelilingi batu karang yang lumayan besar di sekitar pantai.
Pantai Dreamland hampir mirip dengan pantai Kuta, tapi pantai ini jauh dari kebisingan. Pasir putih, batu karang, dan celah karang menjadi pemandangan yang begitu sedap dipandang. Airnya yang bening dan bersih membuat pantai ini menyenangkan untuk dijadikan tempat berenang. Ombaknya yang cukup kencang, membuat pantai ini disenangi oleh penggemar surfing.
GWK adalah patung Dewa Wisnu yang berdiri tegak di Bukit Ungasan Jimbaran Bali. Patung buatan seorang lulusan ITB bernama I Nyoman Nuarta ini direncanakan akan mencapai tinggi 145 meter, mengalahkan tinggi patung Liberty, New York dan rencananya akan menjadi monumen tertinggi di dunia.
Letak patung Garuda Wisnu Kencana ini yang berada dibukit kapur dengan ketinggian 300 di atas permukaan laut ini kemudian akan menjadi landmark yang menyambut siapa pun yang menginjakkan kaki di pulau Bali.
Karena beberapa kendala, pembangunan patung tersebut sedikit tersendat. Sejak dibangun pada tahun 1997, sampai dengan saat ini kondisi patung baru selesai 15 persen yang terdiri dari patung Dewa Wisnu dan Kepala Garuda. Di areal kompleks, sudah terdapat exhibition center, restoran, kolam bunga teratai, diorama, Giri Kencana Villa, amphiteater dan trade and promotion center.Sebuah arena konser dibangun di tengah tebing-tebing kapur yang menjulang. Tebing-tebing tersebut adalah tebing buatan dari sebuah bukit yang dipapras.
Akses
Jalan menuju kawasan GWK adalah jalan yang sama dengan jalan yang menuju kawasan Pura Luhur Uluwatu. Jadi, kamu bisa ke GWK dulu sebelum ke Uluwatu.
Pantai Jimbaran dan Kedonganan
0 Comments | Posted by Dewa in Kab. Badung, Pantai Jimbaran, Pantai Kedonganan
Kedua pantai yang bersebelahan ini berada di pesisir selatan pulau Bali, atau sekitar lima kilometer dari pantai Kuta. Pantai Jimbaran di sebelah selatan, pantai Kedonganan di sebelah utara. Keduanya memiliki pasir putih, air jernih dan ombak yang tenang sehingga sangat nyaman untuk berenang dan berjemur. 
Kecuali panorama matahari terbenamnya, pemandangan pantai Jimbaran dan Kedonganan berbeda dengan pantai Kuta, Legian atau Seminyak. Dari kedua pantai ini kamu masih bisa melihat deretan perahu tradisional yang tengah melaut menangkap ikan. Kamu juga dapat melihat perahu-perahu serupa yang disewa wisatawan penggemar selancar. Ya, gulungan ombak di pantai ini memang berdebur cukup jauh dari bibir pantai. Karena itu para peselancar membutuhkan perahu untuk mengantarkan mereka ke tengah laut.
Di ujung utara pantai Jimbaran terdapat pasar ikan yang menjual berbagai jenis ikan segar. Di sini kamu dapat membeli ikan-ikan segar dengan harga yang relatif murah. Beberapa kafe berjajar di sepanjang pantai menyediakan menu-menu hasil laut seperti ikan dan cumi bakar, lobster, kepiting serta kerang rebus dengan aroma dan rasa yang khas yakni perpaduan antara citarasa Bali dengan citarasa internasional. Jadi, nggak terlalu pedas sebagaimana masakan Bali pada umumnya. Biasanya, kafe-kafe ini ramai di kunjungi pada petang hingga malam hari. Rupanya, bagi banyak wisatawan, makan di tepi pantai terasa lebih indah dan romantis di malam hari.
Siapkanlah beberapa uang ‘receh’ untuk pengamen yang akan menghiburmu dengan lantunan suaranya yang merdu. Berilah Rp10 ribu (Ya sepuluh ribu rupiah!) untuk hiburan yang menyejukkan telingamu itu. Kalau seandainya kamu kebetulan nggak ada recehan, tolak saja dengan halus ketika rombongan penyanyi itu menghampirimu. Mereka nggak akan marah karena penolakanmu itu, kok.
Di seputar pantai Jimbaran kamu dapat dengan mudah menemukan hotel, vila, atau resort untuk menginap. Kisaran harga sewa kamar mulai dari Rp 350 ribu (termasuk makan pagi) sampai US$ 780 per malam. Silahkan pilih. Ada harga, ada rupa!