Showing posts with label Desa Wisata. Show all posts

/

Dua Lagi, Desa Wisata di Badung

Setelah sebelumnya menetapkan tujuh desa menjadi desa wisata, kini Pemerintah Kabupaten Badung kembali melirik dua desa untuk dimasukkan dalam program serupa. Dua desa tersebut adalah desa Biloksidan dan desa Buana. Keduanya diarahkan sebagai desa wisata lantaran pesona alamnya yang memesona. Selain punya potensi rafting, kedua desa ini sangat mungkin dikembangkan sebagai tujuan wisata spiritual.

Sebelumnya, Pemkab Badung menetapkan Kiadan, Sangeh, Bongkasa, Baha, Mengwi, Kapal dan Munggu sebagai desa wisata karena keunikan dan kekhasannya masing-masing. Desa Kiadan memiliki potensi ekowisata yang luar biasa, desa Sangeh memiliki hutan kera yang unik, Bongkasa merupakan kawasan rafting yang menyenangkan, desa Mengwi memiliki pura Taman Ayun yang indah dan sentra kerajinan yang maju, desa Kapal memiliki Pura Sada dengan tradisi perang ketupat yang unik. Sedangkan desa Munggu memiliki tradisi Mekotek yang juga tak kalah uniknya.

Menurut I Made Subawa, Kepala Dinas Pariwisata Daerah Badung, rencananya tahap pembangunan fisik sebagai pelengkap keberadaan desa wisata, diupayakan rampung paling telat pada tahun 2010.

“Jika target tersebut tercapai, maka pada 2011 kedua desa tersebut langsung dijual sebagai tempat wisata alternatif andalan Badung,” ucap Subawa kepada wartawan.

Hide

/

Tujuh Desa Wisata Baru di Badung

Wisata pedesaan rupanya memiliki daya tarik yang cukup besar bagi pelancong. Beberapa desa wisata seperti Ubud, Penglipuran, Tenganan, Kerta Langu telah terbukti punya daya pikat yang kuat untuk menyedot pelancong dari dalam dan luar negeri untuk datang bertandang. Belajar dari pengalaman tersebut, kini Pemerintah Kabupaten Badung tengah menyiapkan tujuh desa untuk dijadikan desa wisata. Ke-tujuh desa tersebut adalah Petang, Munggu, Bongkasa, Mengwi, Sangeh, Kapal dan Baha.

Upaya menjadikan ke-tujuh desa di atas menjadi desa wisata tak akan mengubah struktur dan kondisi desa tersebut. Tata ruang dan lingkungan alam akan dipertahankandan dijaga. Malah, beberapa lingkungan yang rusak akan diperbaiki dan dikembalikan keasriannya.

“Ini adalah sebuah upaya mengembangkan industri pariwisata dengan tetap menjaga kelestarian alam,” ungkap AA RakaYudha, Kepala Bidang Penataan Obyek Pariwisata Dinas Pariwisata Daerah Kabupaten Badung, kepada wartawan.

Di samping itu, menurut RakaYudha, konsep ini akan menjadikan pariwisata sebagai milik masyarakat desa. “Akan semakin banyak masyarakat mendapat cipratan bahkan limpahan rejeki dari obyek pariwisata model ini,” imbuhnya.

Namun rialisasi niat baik tersebut masih sedikit terkendala. Kurangnya sarana akomodasi nerupakan kendala utama menjadikandi desa-desa tersebut sebagai desa wisata. Namun demikian, Raka Yudha tetap optimistik bahwa kendala ini akan segera dapat diatasi. Ia berencana melakukan pendekatan ke pelaku-pelaku wisata untuk mencari jalan keluar untuk hal ini.

Tujuh desa yang disebut di atas memang layak dikembangkan menjadi desa wisata sebab masing-masing desa itu memiliki potensi yang hebat. Desa Petang memiliki potensi ekowisata yang sangat baik, Sangeh memiliki hutan kera yang unik, Bongkasa memiliki Sungai Ayung yang selain menawan juga menyenangkan untuk rafting, desa Kapal memiliki pura Sada yang menarik dan tradisi perang ketupat, desa Munggu memiliki tradisi makotek (perang bambu), desa Baha memiliki pemandangan persawahan yang indah, dan desa Mengwi memiliki pura Taman Ayun yang cantik.

Hide