Showing posts with label Kota Denpasar. Show all posts

/

6 Ribu Koleksi Album Lagu Lawas Milik Gus Campur

Oleh: Maria Ekaristi

Ini memang bukan obyek wisata. Tapi rumah di Jalan Imam Bonjol nomor 16A Denpasar ini menarik untuk anda singgahi. Terutama jika anda pengamat, kolektor atau penggemar berat musik. Soalnya, di salah satu ruangan rumah asri ini tersimpan 6 ribu koleksi kaset, LD, CD, VCD dan DVD dari musisi-musisi lawas kelas dunia seperti Pink Floyd, Deep Purple, Queen, Beatles, Jimmy Barnes, KISS, Joe Satriani, Joe Cockers, Johnny Winter, Van Hallen, Steve Vai, Dakota, Jeff Beck, Rainbow, Led Zeppelin, dan lainnya.

Koleksi lagu-lagu lawas milik Ida Bagus Udayana ini tergolong sangat lengkap. Maklum, semua koleksi tersebut ia kumpulkan satu demi satu sejak tahun 1976! Hingga kini Gus Campur, begitu Udayana akrab disapa, masih terus berburu CD, DVD grup-grup kawakan. Ia tak memilih genre musiknya. Entah Rock, Rock N Roll, Art Rock, Hard Rock, Blues, Country atau Golden Memories, semua ia buru dan kumpulkan. Untuk melengkapi pengetahuan dan kenangan mengenai grup atau penyanyi tersebut, Gus Campur juga mengoleksi poster-poster mereka.

Kini, sembari berolahraga setiap hari, lelaki kelahiran 18 Desember 1961 tersebut selalu memutar satu-persatu koleksinya. Bila anda kolektor, pengamat music atau penggemar musik lawas dan ingin berkenalan dengan Gus Campur, silahkan kontak ke telepon nomor (0361) 488995. Saya yakin, salah satu lagu favorit anda pasti terselip di antara koleksi Gus Campur itu.

Hide

/

Denpasar Akan Bebas Rokok

Oleh: Agung Bawantara

Ini berita penting bagi para prokok yang melancong ke Bali. Kota Denpasar, Ibu Kota Pulau Dewata, akan memberlakukan peraturan daerah bebas rokok. Tujuannya, tentu saja untuk menjaga kesehatan penduduknya. Sebagai persiapan penerapan aturan tersebut, dalam waktu dekat tujuh kawasan dinyatakan bebas asap rokok. Kawasan tersebut dinamakan dengan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Adapun ketujuh kawasan tersebut antara lain sekolah, tempat pelayanan kesehatan, angkutan umum, arena bermain anak-anak, tempat ibadah, dan ruangan kerja. Sementara itu, sebagai landasan penerapannya, Pemkot Denpasar kini tengah menyusun Peraturan Walikota mengenai rencana ini.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, Ni Luh Sri Armini, wacana Denpasar Bebas Rokok ini menyuat setelah ditemukan kenyataan bahwa aktivitas merokok di Denpasar, tergolong tinggi. Menurut data yang ada, diketahui 16,8 penduduk Bali sudah mulai merokok pada usia 10 tahun! Setiap hari mereka menghabiskan sedikitnya tiga batang.

"Ini tergolong parah. Meskipun angka persentasenya masih di bawah angka provinsi yang mencapai 20,2 persen," papar Sri Armini kepada media(3/9).

Sri Armini menambahkan, selama payung hukumnya digodok, Diskes Denpasar melakukan sosialisasi ke berbagai kalangan antara lain kepada para anggota DPRD Kota Denpasar, beberapa kepala sekolah, Bendesa Pakraman, Forum Kepala Desa dan staf Diskes Denpasar sendiri.

“Semua ini untuk melindungi hak-hak warga bukan perokok seperti sebagian besar kaum peremupan dan anak-anak, untuk mendapat udara segar di kawasan-kawasan publik," imbuh Sri Armini.

So, sebagai pelancong, hindari merokok di tempat-tempat yang dinyatakan bebas rokok itu.

Hide

/

Anjungan Air Minum Otomatis di Renon

Oleh: Maria Ekaristi

Kawasan wisata dan olahraga lapangan Renon kini dilengkapi dengan Anjungan Air Minum Otomatis (AMO). Sarana tersebut memungkinkan para pelancong yang datang untuk menikmati keindahan Monumen Bajra Sandhi atau masyarakat umum yang datang untuk berolahraga dapat menikmati air minum sehat secara gratis.

Sarana ini disediakan oleh Pemerintah Kota Denpasar sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang ramai datang berolahraga ataupun beranjangsana di kawasan tersebut. Mengenai kualitasnya, menurut Sekretaris Kota denpasar A.A. Rai Iswara AMO ini sudah melalui tujuh proses pemurnian dan menggunakan teknologi Ultra Filtrasi serta Ultra Violet untuk proses sterilisasi.

“Dengan demikian, saya menjamin air minum ini sehat dan aman untuk dikonsumsi mayarakat”, ujarnya.

Selain di lapangan Renon, Pemkot juga telah memasang dua AMO di pantai Segara Ayu dan di lapangan Puputan Badung. Namun satu di antara kedua AMO tersebut telah rusak akibat kurang perawatan dan ulah tangan jahil. Meski begitu Pemkot Denpasar tetap berencana akan menambah lagi sarana serupa di beberapa titik strategis di kota Denpasar.


Berita Terkait:
Jogging Track Sanur dilengkapi AMO

Hide

/

Omed-omedan, dari Tarik-tarikan Menjadi Cium-ciuman

Oleh: Agung Bawantara

Omed-omedan atau juga disebut Med-medan adalah acara ciuman massal yang rutin digelar oleh warga Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar Selatan, pada setiap setiap tanggal 1 tahun Caka, atau sehari setelah Hari Nyepi. Menurut cerita masyaraat setempat, acara ini sudah diwariskan sejak tahun 1900-an. Omed-omedan melibatkan sekaa teruna-teruni atau pemuda-pemudi umur 17 tahun hingga 30 tahun atau yang sudah menginjak dewasa namun belum menikah. Dalam bahasa Bali, Med-medan sama dengan paid-paidan, berarti saling tarik menarik. Jadi med-medan adalah ritual saling tarik-menarik antara kelompok pemuda dengan kelompok pemudi untuk memohon keselamatan seluruh warga desa.

Prosesi med-medan dimulai dengan persembahyangan bersama untuk mohon keselamatan. Usai sembahyang, peserta dibagi menjadi dua kelompok, laki-laki dan perempuan. Kemudian kedua kelompok tersebut mengambil posisi saling berhadapan di jalan utama desa. Setelah seorang sesepuh desa memberikan aba-aba, kedua kelompok saling mendekat. Bnegitu bertemu, peserta terdepan saling tarik menarik lalu berciuman disaksikan ribuan penonton. Prosesi tersebut dilakukan secara bergantian sehingga semua peserta kebagian berciuman.

Tidak semua masyarakat Bali, bahkan masyarakat Sesetan Kaja sendiri, menyukai tradisi ini. Pernah
pada 1970-an para sesepuh banjar memutuskan agar acara ini ditiadakan. Namun, tak lama berselang, di pelataran Pura terjadi perkelahian yang amat seru dua ekor babi, dan keduanya menghilang begitu saja di tengah perjelahian. Oleh warga, peristiwa itu dianggap sebagai pertanda buruk. Maka, med-medan pun kembali dilangsungkan.

Jauh sebelum itu, ada kisah menarik mengeni med-medan. Saat itu, begitu Hari Nyepi usai, masyarakat Puri Oka, sebuah kerajaan kecil di Denpasar selatan, menggelar permainan med-medan alias saling tarik-menarik antara kelompok pemuda dan pemudi. Saking serunya, acara tarik-menarik itu berubah menjadi acara saling merangkul dan situasi berubah gaduh karenanya. Raja yang saat itu sedang sakit pun marah besar.Dengan terhuyung-huyung beliau keluar hendak menghardik warganya. Namun, begitu melihat adegan itu, tiba-tiba sakit Sang Raja mendadak sirna dan ia pun sehat seperti sediakala. Raja lalu mengeluarkan titah agar med-medan dilaksanakan tiap tahun saat ngembak geni (menyalakan api pertama) setelah Hari Nyepi.

Begitu diselenggarakan lagi, giliran Pemerintah Kolonial Belanda yang terusik melihat upacara itu. Belanda melarang ritual itu, namun warga yang taat tidak menghiraukan larangan itu. Acara ciuman massal itu pun berlangsung hingga sekarang.

Catatan: Pelengkap bahan tulisan dan foto-foto dari berbagai sumber

Hide

/

Denpasar Festival, Melepas Matahari 2009

Melepas tahun 2009 dan menyambut tahun baru 2010, Kota Denpasar menyelanggarakan sebuah event besar bertajuk “Denpasar Festival'09”. Acara yang sebelumnya dikenal dengan nama “Gajah Mada Town Festival” ini merupakan sebuah perayaan akhir tahun yang terbuka untuk umum. Di dalamnya digelar aneka ragam kekayaan ekspresi dan kreatifitas yang tumbuh di Kota Denpasar. Ekspresi tersebut terpancar dalam bentuk pameran, seminar dan pentas seni, dan hiburan.

Denpasar Festival ini merupakan pengejawantahan dari semangat menjadikan Denpasar sebagai sebuah Kota Kreatif Berbasis Budaya Unggulan. Tahun ini, tema yang diangkat adalah adalah “Embracing Tomorrow” atau “Menyongsong Masa Depan Gemilang”. Tema tersebut merupakan lanjutan dari tema festival sebelumnya “Inspirational Memories”, menyerukan sebuah keyakinan bahwa keagungan masa lalu merupakan modal dasar untuk meraih masa depan yang gemilang.

Seniman yang tampil pada festival ini antara lain Made Budhiana (pelukis), A.A. Yoka Sara (desainer arsitektural), I Wayan Gede Yudana (musisi, komposer world music), Jango Pramartha (kartunis), Arsawan (desainer kain), Kadek Suardana (koreografer).

Puncak acara festival akhir tahun ini adalah acara “Melepas Matahari 2009” yang akan delakukan oleh semua komponen seniman dan masyarakat Denpasar sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Waktu yang telah mendewasakan kota Denpasar untuk menyongsong masa depan yang cemerlang.

Bagi kamu yang kebetulan berlibur di Bali, nikmatilah berbagai acara menarik yang digelar pada event ini.

Untuk mengetahui program acara, klik Jadwal Denpasar Festival'09.

Hide

/

Sanur Village Festival 2009 Berlangsung Marak

Sanur Village Festival 2009 berlangsung dengan semarak. Berbagai aktivitas seni, olahraga, kesehatan, kuliner, pameran tanaman, seni instalasi, penanaman terumbu karang dan banyak lagi berlangsung dengan lancar dan mendapat sambutan hangat dari para pengunjung. Puluhan layang-layang dengan berbagai ukuran setiap hari menghiasi langit di atas tempat penyelenggaraan. Layang-layang yang rata-rata berukuran besar tersebut bahkan selalu menjadi pelengkap untuk setiap acara yang digelar di tepi pantai.

Dari kesuluruhan acara, aktivitas wisata kulinerlah yang menjadi "muara" untuk menutup hari. Untuk kegiatan rekreasi ini, setiap hari pengunjung dari berbagai bangsa memadati setiap stan yang menyajikan berbagai jenis hidangan yang mengguncang lidah karena kelezatannya…







Hide

/

Meriah, Acara Pembukaan Sanur Village Festival 2009

Sanur Village Festival (SVF) 2009, gelaran tahunan yang diselenggarakan oleh masyarakat Sanur, Rabu (12/08/2009) dibuka dengan parade dan pertunjukan seni yang cukup meriah. Parade seni dan budaya dengan berbagai atraksi memikat diawali dari depan hotel Griya Santrian dan berakhir di Pantai Mertasari. Hadir pada acara pembukaan tersebut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jro Wacik, Wakil Gubernur Bali AAN Puspayoga, Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra, para Konsul negara sahabat , Tokoh Pariwisata Joop Ave dan I Gde Ardika, para General Manager hotel di wilayah Sanur serta tokoh masyarakat yang berlokasi di sebelah timur lokasi penyelenggaraan SVF 2009.

Parade diawali dengan Marching Band SMP Wisata Sanur yang menampilkan kolaborasi marching band dengan tektekan mengiringi tari kontemporer menerjemahkan tema Marine Life. Diteruskan dengan tetabuhan yang digunakan untuk mengiringi Baris Cina.

Setelah itu, tampil dalam parade pasangan Teruna-Teruni (muda-mudi) dengan busana adat dan tradisi di Kota Denpasar, dilanjutkan barisan Ibu-Ibu menjunjung gebogan bunga dan buah beraneka rupa. Mereka berasal dari masing-masing banjar di wilayah Kelurahan Sanur.

Giliran selanjutnya adalah peserta dari beberapa hotel di wilayah Sanur yang bergiliran menampilkan atraksi bleganjur menerjemahkan tema tahun ke-4 penyelenggaraan, antara lain Bali Hyatt, Mercure, Inna Grand Bali Beach, Sanur Beach, Segara Village, Griya Santrian dan ditutup oleh Puri Santrian.

Peserta dari negara asing yang akan tampil pada acara Asia Afrika Art & Culture turut berpartisipasi pada parade, diwakili oleh China (delegasi terbesar), India dan Jepang. Peserta nasional diwakili oleh Sulawesi Selatan.

Sajian sendratari Dewa Ruci ditampilkan oleh Ari Production, Sanur Kaja, yang kemudian diteruskan Parade Upacara Melasti yang ditampilkan oleh Kelurahan Sanur. “Kehidupan Nelayan” menghadirkan tidak saja para nelayan di lingkungan Sanur juga para surfer dan olahraga bahari lainnya ditampilkan oleh warga Sanur Kauh.

Usai parade, para undangan beranjak menuju lokasi panggung utama. Dekorasi diatur layaknya jamuan makan malam “round table”. Setiap meja dikelilingi oleh delapan kursi yang semuanya berbalut warna putih.

Rangkaian upacara pembukaan di panggung utama ini diawali dengan rangkaian acara seremonial seperti laporan Ketua Panitia, Ida Bagus Gde Sidarta, sambutan dari Joop Ave, tokoh pariwisata yang ernah menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi 1993-1998. Puncaknya, Jro Wacik memberi sambutan dan memukul gong sebagai pertanda SVF 2009 dibuka secara resmi. Pada saat gong ditabuh, serangkaian atraksi kembang api pun memarakkan suasana.

Di ujung acara, Tropical Transit dan Ayu Laksmi menghibur para undangan dan hadirin dengan lagu-lagu bernuansa etnik dan kontemplatif.

SVF kali ini adalah yang ke-empat. Perhelatan seni-budaya ini pertama kali digelar pada tahun 2006. Untuk tahun ini, tagline yang diusung adalah ”The New Spirit of Heritage”, sementara tema kegiatan-kegiatannya adalah ”Marine Life”. Adapun kegiatan disuguhkan dalam SVF kali ini adalah Turnamen Golf Terbuka, Bazaar dan Festival Makanan, Yoga Massal, Festival Layang-layang, Festival Jazz, Festival Bawah Laut, Sepakbola Pantai, Basket dan Rugby, Pameran Kartun Internasional, Kompetisi Olah Raga Air, Sepeda Santai, Kontes Fotografi, Lomba Memasak Tahunan ICA, Pameran dan Lomba Bonsai, Fashion Show dan Pagelaran Musik(abe/jjb)

Hide

/

16 Agustus, "Denpasar Car Free Day" Diberlakukan

Tingkat kepemilikan kendaraan di Kota Denpasar dari tahun ke tahun terus meningkat. Pertumbuhannya, tak kurang dari 15 persen setiap tahunnya. Menurut data di Dinas Perhubungan Kota Denpasar, pada siang hari jalan-jalan di kota Denpasar dipadati tak kurang dari 800.000 kendaraan. Kendaraan-kendaran tersebut selain berasal dari masyarakat kota Denpasar sendiri, juga dari masyarakat Badung, Tabanan, dan Gianyar yang bekerja di kota Denpasar. Akibatnya, asap kendaraan tersebut membuat udara kota Denpasar terpolusi. Dalam sebuah penelitian di tahun 2001, diketahui bahwa tingkat pencemaran udara di kota Denpasar sempat melewati ambang batas.

Untuk mengurangi tingkat polusi udara yang semakin parah, Pemerintah Kota Denpasar berencana akan memberlakukan "Car Free Day" (hari bebas kendaraan bermotor) di jalan-jalan utama kota tersebut. Hari khusus yang memberi keleluasaan bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda ini akan mulai diperlakukan pada tanggal 16 Agustus 2009. Ruas jalan yang akan dinyatakan bebas kendaraan bermotor pada Car Free Day tersebut adalah di Jalan Raya Puputan, Jalan Cuk Nyak Dien, Jalan Basuki Rahmat dan Jalan Juanda Renon.

“Ini bukan hal yang baru. Saya hanya melanjutkan semangat Tri Hita Karana yang telah lama dikenal oleh orang Bali. Satu hal yang penting dalam ajaran tersebut adalah menyelaraskan diri dengan lingkungan. Semangat ini saya bangkitkan kembali demi kesejeahteraan anak-cucu kita,” papar Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra, dalam sebuah perbincangan menyangkut program yang digagasnya itu.

Rencananya, Sabtu (15 Agustus 2009) mendatang, sehari menjelang Car Free Day diberlakukan, Rai Mantra akan mendeklarasikan “Denpasar Go Green” sekaligus mengukuhkan Brigade Bersepeda Siaga Bencana yaitu kelompok bersepeda yang dilatih khusus untuk melakukan penanganan bencana. Deklarasi tersebut akan digelar di Lapangan Puputan Badung, di jantung kota Denpasar. Selanjutnya, Car Free Day akan dilaksanakan setiap hari minggu. (abe/jjb)

Hide

/

Jogging Track Sanur dilengkapi AMO

Masyarakat dan Pelancong yang bertandang ke Pantai Segara Ayu, Sanur, Denpasar, kini dapat menikmati fasilitas baru di kawasan itu. Sejak Minggu (28/6/2009) lalu, jalur jogging pantai itu telah dilengkapi dengan anjungan Air Minum Otomatis (AMO), sarana penyediaan air siap minum untuk umum. Dengan memasukkan koin Rp 500 ke alat itu, kamu dapat menikmati air segar yang lansung dapat kamu minum.

Layanan ini diprakarsai oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Denpasar yang rencananya akan dikembangkan di tempat-tempat umum dan kawasan wisata. Pengoperasian perdana AMO dilakukan oleh Walikota Denpasar, IB. Rai Dharmawijaya Mantra, yang kemudian mengundang masyarakat dan wisatawan (lokal dan asing) yang kebetulan berada di sekitar situ untuk berbaur dan menikmati air siap minum.

Hide

/

Sapi Beauty Contest di Peguyangan

Belasan sapi dengan riasan yang anggun digiring memasuki "catwalk" dan memeragakan kecantikan dan ketampanannya untuk dinilai oleh dewan juri. Ini berlangsung dalam Sapi Beauty Contest di Desa Peguyangan, Denpasar, Sabtu (6/6/2009) lalu. Kontes ini dilakukan warga setempat untuk memeringati hari Tumpek Kandang.

Tumpek Kandang adalah sebuah hari suci umat Hindu di Bali yang ditujukan untuk menyelaraskan hubungan menusia dengan lingkungan khususnya hewan peliharaan. Upacara yang dilakukan pada hari ini merupakan ungkapan rasa syukur atas kemudahan hidup yang diberikan oleh Tuhan melalui hewan-hewan peliharaan, khususnya ternak potong. Dalam penanggalan Bali, hari suci ini jatuh pada Sabtu Kliwon Uye atau setiap 210 hari sekali (tujuh bulan kalender Masehi).

Di desa Peguyangan, tradisi kontes sapi dalam rangka hari Tumpek Kandang sudah berlangsung sejak tahun 1922 namun sempat menghilang selama puluhan tahun karena perubahan era dan situasi. Kini, tradisi tersebut dibangkitkan lagi sebagai ekspresi syukur terhadap lingkungan yang terjaga baik. Pemerintah Kota Denpasar, yang tengah mengumandangkan jargon “Go Green, Go Creative” mendukung sepenuhnya penyelenggaraan acara ini.

Banyak Tumpek
Selain Tumpek Kandang, umat Hindu di Bali juga merayakan beberapa hari Tumpek yang lain. Semua Tumpek itu merupakan ungkapan rasa syukur dan upaya menyelaraskan kehidupan manusia dengan lingkungannya. Tumpek Landep, merupakan upacara yang digelar untuk mensyukuri manfaat dari benda-benda tajam dan peralatan yang terbuat dari besi; Tumpek Wariga, ditujukan untuk mensyukuri manfaat tumbuh-tumbuhan; Tumpek Kuningan, untuk mensyukuri ketentraman dunia; dan Tumpek Wayang, untuk mensyukuri manfaat yang diberikan oleh peralataan kesenian seperti wayang, topeng, gamelan,dan lain sebagainya. (abe/jjb)

Foto: Adrian Suwanto/Radar Bali

Hide

/

Obral, Obrolan Komunitas-komunitas Kreatif Bali

Ini bukan sembarang obral. Ini "Obrolan Rabu Malam" yang dilakukan sebagai ajang gathering antar komunitas yang berbeda di Bali. Jadi dalam OBRAL diupayakan interaksi untuk membangun jejaring perkawananan yang guyub, kreatif dan produktif.

OBRAL perdana digelar di di Warung Lapau jalan By Pass Ngurah Rai 178 AB Sanur, Rabu (3/6/2009), menampilkan obrolan tentang "Forum dan diskusi seru di Bali" yang menampilkan: Soup Chat, komunitas yang memelopori diskusi kreatif dengan nara sumber yang beragam; Adgi Bali Chapter, komuniatas yang sukses dengan konsep "mebasa genep". Mebasa genep adalah isatilah bali yang berarti berbumbu lengkap. Istilah ini digunakan oleh untuk menunjukkan keragaman pemikiran, hobi dan profesi berpadu harmonis di komunitas Adgi Bali Chapter; Bedo komunitas yang konsisten melakukan "sharing discussion" tiap bulan dgn topik yang berbeda-beda; serta Bali Blogger Community, forum online (dan offline) yg merangkum para blogger di Bali.

OBRAL akan di selenggarakan secara reguler setiap bulan pada hari Rabu pekan pertama. Selain obrolan mulut, acara ini tenu juga diramaikan dengan obralan barang sepeti buku, kaset, CD, barang-barang koleksi, karya seni, desain, dan lain-lain dengan harga "miring" yang penjualannya tidak dikenai biaya apa pun alias direct selling.

Tempat OBRAL selalu berpindah-pindah. Bisa di Warung, Gallery, Taman atau tempat lain yang memungkinkan. Pemilihan tempat dilakukan bersama-sama atas usulan siapa saja. Yang penting, si pemilik tempat tidak berkeberatan.

Konsep presentasi, bukan serius macam seminar atau diskusi-diskusi formal lainnya, tetapi bersahutan seperti jika sedang ngobrol biasa. Yang utama dalam ajang ini adalah setiap obrolan bersifat konstruktif untuk semua... (abe/jjb)

Hide

/

Puri Dalem Hotel: Tempat Nyaman, Harga 'Aman'

Puri Dalem Hotel adalah sebuah resor-hotel yang berdiri di pusat keramaian kawasan wisata Sanur. Letaknya hanya sekitar 100 meter dari Pantai Sanur, pantai yang terkenal dengan keindahan pemandangan matahari terbitnya. Posisinya sangat strategis membuat hotel dengan tarif kamar mulai dari Rp.350 ribu ini mudah untuk mengakses Bandara atau ke obyek wisata mana pun di Bali. Hal ini disebabkan karena letaknya yang hanya 20 meter dari jalan by pass Ngurah Rai.

Selain unggul dalam hal lokasi, Puri Dalem Hotel juga mantap dalam konsep. Hotel ini merupakan satu di antara resor-hotel yang menawarkan bungalow yang berdekorasi dan arsitektur tradisional Bali dan dilengkapi dengan furniture berselera. Bangunan-bangunan itu terletak di antara rimbunan tananam hias yang subur dan tertata rapi, sehingga suasananya terasa teduh dan sejuk. Dengan berjalan kaki keluar resor, kamu dapa menemukan restauran yang tertata apik dengan suasana yang santai.

Setiap kamar memiliki private balcony. Dan, facilitas yang tersedia pada setiap kamar tersebut adalah AC, bath tub dengan shower, hot and cold water, hair dryer, TV, telepon IDD, mini refridge, alat-alat pembuatan kopi, sajian teh dan kopi, free WIFI internet connection.

Di hotel ini terdapat berbagai fasilitas yang menyamankan liburan kamu seperti kolam renang, restauran dan bar, laundry, room service selama 18 jam, safety deposit box, 24 jam doctor on call, free WIFI internet connection, pijat traditional, toko obat, layanan pos, money exchange, penjemputan gratis ke Bandara bagi yang tinggal selama sepekan atau lebih, pengaturan jadwal wisata, kendaraan antar-jemput ke pantai, dan area parkir gratis.

Kalau tertarik menginap di hotel ini, datang saja langsung ke jalan Hang Tuah No.23, Sanur-Denpasar, Telp. (0361)288421. Atau hubungi via e-mail: puridlm@indosat.net.id. Karena hotel ini kerap penuh, ada baiknya kamu memesan kamar melalui fasilitas reservasi di situs mereka: http://www.puridalemhotelbali.com. Selain memudahkan, harganya juga jauh lebih murah dibanding harga publish.

Standar
Rp. 350 ribu








Superior
Rp. 400 ribu








Deluxe
Rp. 450 ribu







Harga-harga di atas sudah termasuk continental/Indonesian breakfast, pajak 21 persen, service charge, dan welcome drink saat kedatangan.

Hide

/

Denpasar Bangun Monumen Maya

Ada Sembilan penari cantik dengan busana yang glamour masing-masing dengan corak dan warna yang berbeda. Kesembilan penari tersebut melambangkan kebhinekaan yang menjadi indah dalam sebuah harmoni. Dari sudut lain, ke-sembilan penari tersebut bermakna sembilan penjuru dari mana dan hendak ke mana kita melangkah sepanjang hayat. Itulah tari Praba Sastra garapan siswa-siswa SMAN 4 Denpasar yang membuka gelaran akbar memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-101 di Pusat Kesenian Werdhi Budaya, Denpasar, Kamis (20/5/2009). Acara tersebut diselenggarakan oleh ikatan OSIS SMA/SMK se Kota Denpasar, dikoordinir oleh OSIS SMAN 4 Denpasar.

Di hadapan 6000 SMA/SMK seantero Denpasar, selain tari Praba Sastra tadi, juga digelar kolaborasi Barong, Wayang, Joged dan Band yang juga digagas oleh siswa-siswa SMA tersebut. Kolaborasi ini didasari oleh semangat persatuan dan tekad untuk bersama-sama menumbuhkan kreativitas untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin sulit. Hal itu mereka teguhkan dalam sebuah deklarasi pemuda yang diwakili oleh para Ketua OSIS, yang mereka namakan dekrarasi “Guna Sarira Murti”, yakni kebangkitan jati diri dalam menghadapi era globalisasi.

Dalam sambutannya, IB Rai Mantra, Walikota Denpasar, memberi apresiasi setinggi-tingginya terhadap kreativitas anak-anak SMA/SMK tersebut dalam menghimpun dan mengorganisir diri lalu menyelenggarakan pagelaran bersama dengan sangat rapi dan tertata.

“Saya melihat pancaran semangat yang menggelora, kecerdasan luar biasa, dan keikhlasan yang dalam dari acara yang terselenggara malam ini,” ucapnya dengan sorot mata berbinar.

Rai Mantra mengatakan bahwa semangat yang selalu baru, kecerdasan berpikir dan keikhlasan bertindak adalah pilar utama dari kreativitas. Itulah olah para tetua Bali dinamakan dengan taksu.

Malam itu, Walikota yang sangat konsens terhadap pembangunan ekonomi kreatif ini mengajak para siswa SMA/SMK itu untuk membangun Monumen Maya, yaitu monumen di dalam diri yang terbuat dari kekuatan daya pikir, keikhlasan tindak, dan semangat yang selalu baru!

“Semakin menyebar kreativitas di masyarakat kita, semakin banyak monumen-monumen maya tersebut bermunculan. Semakin tinggi kreativitas pada diri masyarakat kita maka, semakin menjulang tinggi pula monumen-monumen maya itu,” tandasnya.

Selain pagelaran, di arena tersebut diselenggarakan pula pasar rakyat yang menggelar aneka kuliner khas Bali.

Hide

/

Menyantap Setan di Kota Denpasar

Pernah dengar orang jalan-jalan keliling kota lalu lapar dan menyantap setan? Pergilah ke kawasan Jalan Sudirman, Denpasar. Datanglah ke sebuah warung yang terletak di perempatan Jalan Sudirman – Jalan Slamet Riyadi, tepat di seberang kantor Pengadilan Negeri Denpasar, sekitar 500 meter sebelum Mal Nu Dewata (Robinson). Warung itu bernama warung Cak Mar. Di sanalah kamu bisa menjumpai para pelanggan warung yang berasal dari berbagai kalangan, menyantap menu andalan: Bebek Goreng Sambel Setan.

Bebek Goreng Sambel Setan buatan Cak Mar ini memang enak. Bebek gorengnya renyah dan gurih. Bebek itu kemudian disandingkan dengan sambal cocol berbahan terasi dan tomat yang lezat. Sambal itulah yang ia namakan sambal setan.

Meski sangat percaya diri dan bangga dengan menu andalannya, Cak Mar tidak serampangan dalam menghidangkannya. Bagi Cak Mar, makan bukan semata memanjakan mulut-lidah yang mengunyah dan mengecap makanan, melainkan juga memanjakan mata dengan cara penyajian yang merangsang selera. Berdasarkan keyakinan itu, Cak Mar menyuguhkan menu Bebek Goreng Sambel Setannya dengan penyajian yang unik. Ia meletakkan makanan-makanan itu dalam sebuah niru kecil yang cantik. Sambal setannya sendiri ia tempatkan padasebuah cawan kecil yang terbuat dari batang kelapa. Cara ini menampilkan kesan hidangan tersebut sebagai sesuatu yang spesial.

Di warung Cak Mar, selain bebek goreng, kamu juga dapat menyantap menu lain yang kompakan dengan sambel setan seperti bebek Bakar (Rp. 18 ribu), Ayam Goreng/Bakar dan Ikan Goreng/Bakar (Rp. 16 ribu). Selain itu, tersedia juga menu Gulai Kepala Bebek (Rp. 7 ribu), Ati /Ampale Goreng (Rp. 3 ribu), dan Sayur Urap (Rp. 3 ribu).

Semua menu tersebut layak untuk kamu cicipi terutama sambel setannya. Sambel buatan Cak Mar ini, meskipun menurut tim Jalan-jalan Bali terlalu banyak minyaknya, namun cukup lezat untuk dilewatkan begitu saja.

Jika kebetulan jalan-jalan di kawasan Kota Denpasar, cobalah mempir ke warung yang selalu buka dari pukul 10.00 Wita hingga pukul 22.00 Wita.

Untuk kamu yang Muslim, Cak Mar menjamin semua menu di warungnya halal (abe/jjb)

Hide

/

Keris Cahaya Sam Po Tay Jin di Tanah Kilap

Mulanya adalah sebuah bisikan gaib di telinga Ida Bagus Adnyana, seorang penekun spiritual asal desa Kamasan, Klungkung. Bisikan gaib itu menyebutkan bahwa di wialayah Tanah Kilap ada sebuah tempat suci terlantar, Adnyana dititahkan ke sana untuk merawat kembali situs suci itu. Tahun 1987 ketika itu, di mana Tanah Kilap masih merupakan belantara Mangrove yang lebat. Atas titah bisikan gaib itu, maka berangkatlah Adnyana ke Tanah Kilap yang juga dikenal dengan sebutan Alas Muntig. Di tengah hutan mangrove itu ia mendirikan gubuk sembari terus mencari jawab atas bisikan gaib yang diterimanya.

Tak ada jawaban yang jelas bagi Adnyana sampai sepuluh tahun kemudian ia seperti digerakkan oleh kekuatan dahsyat di luar dirinya untuk memulai membangun Kongco di Tanah Kilap, berdampingan dengan Pura Luhur Candi Narmada.

Kini, kedua tempat peribadatan tersebut bersanding harmonis dan menjadi contoh baik untuk persandingan antar pemeluk agama di Bali. Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap adalah tempat ibadat umat Hindu untuk memuja Batari Niang Sakti yang diyakini penganut Hindu di Bali sangat pemurah, suka membantu rejeki para pedagang dan pebisnis. Sedangkan Griya Kongco Dwipayana menunjukkan persahabatan erat antara penganut Hindu (Siwa), Budda, dan Tao.

Menurut Adnyana, pendirian Kongco Dwipayana bermula dari ditemukannya tiga peninggalan kuno. Masing-masing berupa petilasan Batara Lingsir (Dewa Siwa), prasasti batu bertuliskan peristiwa Dinasti Ching sekitar 360 tahun silam, serta sebuah kolam suci.

Di bagian timur laut tempat suci ini berdiri Gedong, tempat memuja Batara Lingsir (Dewa Siwa). Di sebelah selatan berdiri dua bangunan suci yaitu Gedong Buddha dan Gedong Kongco. Gedong Buddha untuk memuja Buddha dan Dewi Koan Im sebagai dewi welas asih, sedangkan Gedong Kongco untuk memuja Dewa Shin She/Batara Dokter (Ong Tay Jin) dan Ong Hu Niu Niu sebagai “tuan rumah” yang diyakini murah hati sebagai dewa kesejahteraan dan filsafat.

Di sini dipuja pula Dewa Panglima Armada (Sam Po Tay Jin/Sam Po Kong), Dewa Perang (Kwan Kong), Dewa Laut (Tian Shang Sheng Mu), Ratu Bagus Sakti Syahbandar (Ratu Mas Alan Ulun), Dewa Amurwa Bumi (Tho Di Kong), dan Dewa Na Cha Sakti.

Panglima Armada Sam Po Tay Jin (atau Sam Po Kong) yang dipuja di Konco ini dikenal sebagai panglima armada yang berjasa besar bagi negeri Tiongkok. Tahun 1405 pertama kali Panglima beragama Islam ini memimpin armadanya ke sejumlah negeri, melewati Campa, Jawa, Palembang, Sri Lanka, dan sekitarnya. Dalam lawatan berikutnya, misi ini dilengkapi dengan membawa bibit tanaman dan sempat juga sampai ke tanah Bali, mengajarkan bercocok tanam dan berdagang. Sang Panglima sempat juga singgah beberapa lama di Tanah Kilap.

Kini, kemurahan hati Dewa Sam Po Tay Jin di Kelenteng Tanah Kilap dibuktikan dengan anugerah sebilah keris yang datang secara gaib yakni jatuh dari langit dalam bentuk cahaya ke kolam suci. Hal itu terjadi pada pertengahan tahun 1990 tepat dihadapan Adnyana.

“Keris sepanjang 15 centimeter itu berisi gambar Sam Po Tay Jin menunggang gajah dan tulisan Cina nama Sam Po Tay Jin”, tutur Adnyana.

Yang juga istimewa di Tanah Kilap, di depan Gedong Kongco distanakan Dedwi Chi Sian Nii, yang merupakan perwujudan satu-satunya di Indonesia, berupa tujuh dewi sebagai asisten permaisuri Kaisar Langit. Di sinilah orang-orang lazim memohon keselamatan, kesehatan, membuka jalan keberuntungan, masalah perjodohan hingga rumahtangga. Perwujudan Tujuh Dewi Chi Sian Nii ini distanakan di atas kolam suci berbentuk siao pwe.

Kolam suci ini dipercaya mengandung mukjizat. Airnya tidak pernah meluap, tapi juga tidak kunjung habis. Air suci inilah lazim diberikan kepada orang-orang usai sembahyang, agar memperoleh berkah sesuai karma masing-masing.

Griya Kongco Dwipayana merayakan ulangtahun setiap 9/9-Kau Gwee, sedangkan Dewi Chi Sian Nii dirayakan pada 7/7-Jit Gwee.

Tertarik mengunjunginya? Dari Kuta jarak Kongco ini hanya sekitar satu kilometer. Jika kamu melewati jalan By Pass I Gusti Ngurah Rai menuju arah Sanur, letak Kongco ini di sebelah kanan jalan.(abe/sarad/72/IV/06)

Hide

/

Sukses, Pecha Kucha Night di Denpasar

Gelaran presentasi kreativitas dalam acara Pecha Kucha Night di Museum Bali, Denpasar, berlangsung dengan sukses. Sebagai langkah debutan, ajang ini cukup menarik. Beberapa gagasan yang dipresentasikan cukup menggelitik naluri kreatif untuk mencari tandingan yang lebih baik, lebih gila, lebih nonjok, dan seterusnya.

Ajang pamer gagasan kretaif yang mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Denpasar ini diawali oleh presentasi dari grup band De Buntu yang menampilkan materi dengan judul “Kemasan yang Menjual di Era Pemilihan Pemimpin Secara Ekstrim & Bermanfaat untuk Rakyat”.

Dengan gaya yang jenaka grup band indie dengan musik berirama retro rock ini menawarkan cara berkampanye yang oke bagi para politisi yang ngebet jadi pemimpin. Bersamaan dengan itu, dengan gaya yang jenaka pula para musisi yang menyebut diri beraliran “Funthemental” alias riang sepanjang hayat ini mengingatkan kepada pemilih (baca: rakyat) tentang risiko-risiko di balik setiap pilihan mereka.

Bergaya pelawak cabaret, personil deBuntu yang terdiri dari Nowot, Amang, Jhon, Bardon, dan Dinar membuka presentasi Pecha Kucha Night dengan aksi yang menggelitik.

Presentasi kedua disajikan oleh Elena Skoko, penggiat seni yang menjadikan musik dan fashion sebagai bagian yang tak terpisahkan. Pengalaman dalam dunia fashion dimilikinya semenjak 6 tahun di Croatia dan tahun 1991 bertemu fashion designer Pierluigi Voltolina dan Riviera PR king Principe Maurice yang mendorongnya mengikuti kompetisi fashion di Rimini pada tahun 2000. Dia membuat fashion show di catwalk dengan menyertakan bandnya dan mendapat ”best young fashion designer”

Malam itu Elena yang sejak 2008 tinggal di Bali menampilkan paparan berjudul "Trust Your Mojo Sista" yang merupakan kolaborasi kreatifnya dengan musisi Roberto "Bluebird" Ruggeri, musisi Bali, dan musisi dunia lainnya.

Presentasi ke-tiga dibawakan oleh Wahyu Aditya, anak muda kreatif kelahiran Malang , 4 Maret 1980. Dia adalah pendiri dan kepala sekolah Hello;Motion, satu sekolah desain dan animasi dalam negeri di bilangan Tebet, Jakarta Selatan.

Lulusan terbaik KvB Institute of Technology, Sydney, Australia tahun 2000 ini mempresentasikan hobbynya dengan membuat situs Kementrian Desain Republik Indonesia (KDRI) yang seakan-akan adalah bagian dari cabinet di Republik ini. Presentasinya yang meyakinkan membuat penonton tak mengenali lagi mana yang berupa angan-angan, mana harapan, dan mana kenyataan.

Tak kelirulah jika pada Oktober 2007 dewan juri Inggris menobatkannya sebagai International Young Screen Entrepreneur 2007 di London. Dialah juara dunia termuda di ajang itu.

Selanjutnya, Igo Blado mempresentasikan gagasannya untuk memajukan industri musik Indonesia. Paparan gagasan itu ia beri judul “Membeli Peta Musik Nasional”. Terlihat sekali dalam paparan Igo pengalaman dan konsistensinya memperjuangkan eksistensi musik indie di Bali. Maklum, vokalis Telephone Band ini memang bertekad bergulat habis-habisan di dunia musik indie.

Dari pengalamannya sebagai musisi juga sebagai pengelola music event organizer itulah kristalisasi pikiran dan gagasan didapatkannya. Sebagai catatan Igo dengan The Blado Showbiz nya telah menyelenggarakan sedikitnya 36 pagelaran musik dengan menampilkan sekitar 135 grup-grup band lokal, Nasional maupun internasional

Selain Igo, ada Fiki Satari dari Bandung Creative City Forum yang menyampaikan presentasi yang ia beri judul "Me & Quadranhelix". Presentasi ini merupakan refleksi perjalanan kreatifnya selama ini terutama yang berkaitan dengan aktivitasnya memberdayakan pengusaha kecil di Bandung.

Sebagaimana telah banyak diketahui, Bandung saat ini merupakan pusat pertumbuhan industri fashion alternative (distro dan clothing). Begitu populernya bisnis kreatif ini, gaungnya tak hanya merambah kawasan Bandung, melainkan ke seantero Indonesia. Bahkan, menjadi tolok ukur bagi industri distro di Malaysia yang baru mulai berkembang. Semua itu tak lepas dari usaha salah satu pelaku bisnis distro, yang akrab dipanggil Kang Fiki ini.

Kemudian ada juga presentasi Tegep Octaviansyah, anak muda kreatif yang identik dengan sepatu boot yang pada awalnya diproduksi di tengah krisis moneter 1997. Melalui ekspresinya dalam berbagai desain dan bentuk sepatu boot, Tegep menyebarluaskan karyanya ini hingga ke luar negeri. Kejeliannya melihat peluang dan keinginan kuat untuk menciptakan produk yang berbeda membuat Tegep Boots banyak diminati anak muda gaul, para bikers, artis bahkan pejabat. Ganjarannya, pendapatan Tegep dalam satu bulan berkisar Rp 100 juta-Rp 200 juta.

Presentasinya di Pecha Kucha Night berjudul “Bikers”, yaitu memaparkan cara pandang lain untuk memahami dunia para penggemar motor besar di seluruh dunia.
Presentasi yang tak kalah menarik adalah presentasi yang disajikan oleh Raoul Wijffels, seorang penggiat One Dollar For Music, yaitu organisasi non profit yang bertujuan mendorong potensi kreatif anak muda Indonesia dan memperkuat identitas budaya lewat musik dan seni kreatif.

Dalam Pecha Kucha Night ini Raoul mempresentasikan apa yang menjadi aktifitas One Dollar For Music. Dia memaparkan bahwa organisasi ini mempunyai misi kreativitas berkesinambungan, di mana ujung semua programnya diharapkan mampu menjadikan kekuatan ekspresi kreatif menjadi budaya anak muda Indonesia dan mampu berdialog setara dengan budaya global.

Selanjutnya Saylow, web designer yang aktif di Bali Blogger Community mempresentasikan gagasan unik yang menampilkan wajah-wajah lucu di dunia maya yang ia namai dengan Scarfface.

Presentasi terakhir dibawakan oleh Yoka Sara desainer dari Bali jebolan Jurusan Arsitektur Universitas Udayana ini menyajikan paparan dengan judul "Design in Collaboration Turbulence" . Dalam presentasi yang disampaikan secara bergiliran oleh anggota tim Bale Legend, biro arsitek yang didirikannya, Yoka Sara menyampaikan bagaimana sebuah karya desain yang berkulitas dihasilkan, yakni dengan sebuah model team work yang rapi, egaliter dan akrab.

Di sela-sela presentasi tersebut, tampil sebagai acara selingan penyair Tan Lioe Ie bersama Yande dan Putu Indrawan menampilkan musikalisasi puisi dalam genre musik Blues. Malam itu, kepiawaian Yande memetik gitar melodi dan kemantapan Indrawan (The Best Bassist of Indonesia Rock Festival 1985) membetot bass menyatu dengan energi puitik Tan Lioe Ie melahirkan aksi panggung yang sangat memesona. (abe/jjb)

Hide

/

Digelar di Denpasar, Pecha Kucha Night

Ini untuk pertama kalinya di Bali, sebuah perhelatan kreativitas yang memberi ruang bagi siapa pun untuk mempresentasikan gagasan kreatifnya. Ajang tersebut bertajuk Pecha Kucha Night. Ajang ini akan menjadi wahana pembelajaran sekaligus palung inspirasi untuk melahirkan gagasan-gagasan baru yang cemerlang.
Acara ini akan diselenggarakan pada acara peluncuran Bali Creative Entrepreneur Forum yang akan diselenggarakan di Museum Bali Denpasar, Sabtu 25 April 2009. Apa sih Pecha Kucha Night itu?

Pecha Kucha Night adalah sebuah bentuk presentasi dimana siapapun dari profesi dan bidang keahlian yang berbeda dapat menyampaikan gagasan kreatif atau proyek kreatifnya dengan suasana yang casual, menghibur dan menyenangkan. Pecha Kucha Night adalah sebuah acara non komersil yang sangat independen.

Acara Pecha Kucha Night pertama kali dibuat oleh Astrid Klein dan Mark Dytham, keduanya adalah co-founder Klein-Dytham Architecture (KDa), sebuah biro arsitek di Tokyo yang percaya bahwa kreatifitas akan berkembang jika kita saling belajar dan bertukar ide kreatif. Dalam Pecha Kucha Night difokuskan bagaimana orang-orang berlatar kreatif diberi ruang untuk bertemu, menyampaikan gagasan kreatifnya di depan publik dan belajar dari pemikiran dan gagasan orang lain.

Pecha Kucha Night diperkenalkan enam tahun yang lalu dalam suasana yang sederhana namun penuh keakraban yang membuat seluruh peserta dan pemirsanya sangat menikmati. Kini, Pecha Kucha Night telah tersebar secara cepat di 182 kota di seluruh dunia termasuk Helsinki, Rotterdam dan Groningen di Belanda; Bogotá, New York, San Francisco, dan Los Angeles di USA; Beijing dan Shanghai di China; Sydney dan Hobart di Australia; Lagos,Berlin, Belfast, Manchester dan Newcastle, Santiago, Costa Rica, Glasgow, Scotland; New Delhi dan Bangalore di India; Buenos Aires, Stockholm, Vienna, Bern, Bangkok, Bandung, Jakarta dan kini Bali

Sejauh ini, acara kota yang paling kerap menyelenggarakan acara Pecha Kucha adalah Tokyo. Kota tersebut telah menyelenggarakan Pecha Kucha lebih dari 61 kali. Jika dihitung dari sejak awal diselenggarakannya, Pecha Kucha di kota tersebut terselenggara hampir setiap bulan. Namun demikian, Pecha Kucha yang tercatat paling menghebohkan adalah saat Cannes Lion Advertising Festival dimana lebih dari 10 top executive advertising ternama dunia mempresentasikan gagasannya kepada pemirsa.

So,siapa saja yang boleh ikutan acara Pecha Kucha Night?

Kalau kamu mau mempresentasi gagasan kreatifmu di ajang tersebut, kamu boleh ikut. Tak peduli apakah kamu seorang amatir, pelajar, professional arsitek, interior designer, graphic designer, fotografer, perupa, musisi, illustrator, jurnalis, penulis, fashion designer, penari, artis, atau film maker. Pokoknya, siapa pun yang bergerak dan peduli dengan industri kreatif boleh ikut.

Syaratnya, persiapkan presentasi kamu dalam 20 frame presentasi di Power Point atau Keynote. Kemas dan sajikan dengan semenarik mungkin dengan dilengkapi gambar, ilustrasi, foto dan layout. Presentasi ini tidak boleh bernuansa politik, suku, ras dan agama. Jika sudah silakan mengirimkan copynya ke info@balicreativecommunity.org atau serahkan langsung ke Suicide Glam Renon, Jalan Cok Agung Tresna, Renon (Depan TVRI Bali) dengan ditujukan kepada Rudolf Dethu, selambatnya tanggal 24 April pukul 20.00 wita dengan mencantumkan nama, profesi dan email serta HP yang bisa dihubungi.

Pada saat presentasi kamu diberi kesempatan mempresantasikan 20 frame gagasan kamu namun setiap frame secara otomatis akan berganti selama 20 detik sehingga waktu total presentasi hanya 6 menit dan 40 detik. Ini adalah aturan internasional yang telah dibakukan oleh Pecha Kucha Night. Jangan khawatir, kalaupun waktunya setiap frame hanya 20 detik, bsa kok membawakannya tetap dengan casual.(ae/jjb)

Hide

/

Belanja Oleh-oleh di Denpasar

Di Denpasar terdapat banyak pusat perbelanjaan. Di wilayah Sunset Road, terdapat hyper market yang menyediakan berbagai barang kebutuhan dari sayur hingga elektronik.

Di kawasan Jalan Teuku Umar kamu dapat menjumpai deretan toko-toko elektronik terutama telepon seluler. Kalau telepon selular atau alat-alat elektronik kamu bermasalah, datanglah ke kawasan ini. Cuma, untuk kasus kerusakan yang berat, mereka akan meminta waktu cukup lama karena telepon selular kamu akan dikirim ke Surabaya atau Jakarta. Kalau kamu orang Jakarta, bisa jadi kamu sudah sempat sekolah sebulan tapi barang kamu masih nyangkut di Denpasar…

Di Pasar Kumbasari, yang terletak tak jauh dari lapangan Puputan Badung kamu dapat berbelanja berbagai jenis barang yang menarik. Pasar tradisional tersebut cukup lengkap. Bahkan terlengkap di Bali. Di sebelah timur dan utara pasar terdapat kompleks toko tekstil. Di situ ada juga toko barang antik. Kalau kamu ingin membeli bebek yang masih hidup, di sini banyak tersedia dengan harga yang relatif murah. Siapa tahu, secara iseng gitu,loh!

Di kawasan Jalan Nusakambangan, terdapat pusat oleh-oleh seperti T-Shirt, Kain Pantai, sandal, gantungan kunci, bed cover, celana dan baju pantai, jajanan, dan banyak lagi, dengan harga yang relatif murah.

Di kawasan Jalan Sudirman dan Jalan Diponegoro terdapat empat mall yaitu Matahari, Ramayana, Tiara Dewata dan Rimo. Rimo adalah mall khusus untuk barang-barang komputer, kamera, gadget, software, dan perlengkapan elektronik lainnya. Datanglah ke kawasan ini kalau kamu membutuhkan atau punya masalah dengan peralatan elektornik kamu di saat asyik berlibur.



Hide

/

Monumen Bajra Sandhi

Bajra Sandhi merupakan monumen perjuangan rakyat Bali. Monumen ini didirikan sebagai simbol penghormatan rakyat Bali terhadap para pahlawannya, sekaligus lambang semangat mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal tersebut ditandai dengan 17 anak tangga di pintu utama, delapan buah tiang agung di dalam gedung monumen, monumen yang menjulang setinggi 45 meter

Selain itu, monumen yang berlokasi persis di depan kantor Gubernur Bali menggambarkan sebuah genta yang tinggi menjulang di tengah padma melambangkan pertemuan antara lingga dan yoni yaitu sifat maskulinitas dan sifat femininitas. Harmonisasi dari kedua sifat tersebut akan melahirkan kesuburan dan kemakmuran.

Bangunan ini menerapkan konsepsi Tri Mandala. Bagian inti disebut Utama Mandala. Bagian tengah yang mengitari bangunan inti disebut Madya Mandala. Sedangkan pelataran bawah yang mengitari Utama Mandala dan Madya Mandala disebut dengan Nista Mandala.

Bagian Utama Mandala sendiri tersusun lagi atas tiga lantai yaitu Utamaning Utama Mandala, lantai teratas yang merupakan ruang ketenangan, tempat di mana kamu dapat menikmati pemandangan di sekeliling monumen. Lantai di bawahnya dinamakan Madyaning Utama Mandala. Di lantai ini dipajang 33 diaroma yang menggambarkan sejarah peradaban manusia Bali dari zaman pra sejarah hingga zaman kemerdekaan. Di sekeliling ruangan ini terdapat teras terbuka untuk menikmati pemandangan sekeliling. Lantai di bawahnya lagi dinamakan Nistaning Utama Mandala adalah lantai dasar gedung Monumen. Di sini terdapat ruang informasi, ruang perpustakaan, ruang pameran, ruang pertemuan, ruang administrasi, dan toilet. Di tengah-tengah ruangan tersebut terdapat kolam yang diberi nama Puser Tasik. Di kolam itulah tertancap delapan tiang agung dan tangga naik berbentuk tapak dara (tanda tambah).

Tiket
Rp 2 ribu.

Akses
Karena berada kawasan pusat pemerintahan provinsi Bali, Monumen Bajra Sandhi sangat mudah dijangkau dari mana pun. Kamu dapat mengunjunginya dengan mengendarai kendaraan sendiri, taksi, rombongan atau dengan angkutan umum.


Hide

/

Monumen Puputan Badung

Monumen Puputan Badung terletak di jantung kota Penpasar di depan Museum Bali. Monumen ini berada di sisi utara Lapangan Puputan yang dulu merupakan medan pertempuran saat terjadi Perang Puputan Badung pada tahun 1906 ketika Belanda menyerbu Denpasar. Kata puputan berarti habis-habisan. Jadi monumen ini adalah sebagai bentuk peringatan dan penghormatan kepada rakyat Bali yang melakukan perang habis-habisan melawan Belanda untuk membela kehormatan dan harga diri. Saat itu, tak kurang dari empat ribu orang termasuk keluarga raja Denpasar tewas. Kini monumen Puputan Badung menjadi saksi bisu dari kegiatan rekreasi masyarakat kota Denpasar yang setiap sore memadati Lapangan Puputan.



Hide