Blog Archive
Categories
- Acara Budaya (5)
- Air terjun Dusun Kuning (1)
- Air Terjun Singsing (1)
- Alas Kedaton (1)
- Amed (2)
- Arak Bali (1)
- Arsitektur Bali (1)
- ATV Driving (1)
- Bali Art Centre (2)
- Bali Bird Park dan Reptile Park (1)
- Bali Eye Balloon (1)
- Bali Kuno (1)
- Bali Safari and Marine Park (BSMP) (2)
- Bali Timur (1)
- Banana Boat (1)
- Barong (1)
- Batik (1)
- Batik Bali (1)
- Batu Abah (1)
- Batu Beling (1)
- Batu Lumbung (1)
- Batubulan (1)
- Bebek Bengil (1)
- Bedugul (7)
- Belanja (4)
- Belanja Murah di Bali (2)
- Belanja Oleh-oleh (4)
- Berita (3)
- Bersepeda (1)
- Bersihkan Hati (1)
- Betutu (1)
- Bikin Tato (1)
- Brahmavihara-Arama (1)
- Bunga Citra Lestari (1)
- Bunut Bolong (1)
- Bunute (1)
- Candi Dasa (1)
- Celuk (1)
- Ceningan (1)
- cuaca bali (2)
- Cupak Grantang (1)
- Danau Batur (1)
- Danau Beratan (6)
- Danau Buyan dan Tamblingan (3)
- Desa Kamasan (2)
- Desa Taro (2)
- Desa Wisata (2)
- Directori Spa (1)
- Direktori Warung Bali (1)
- Diving (4)
- Drama Gong (2)
- Dugem (1)
- duka (1)
- Fauna Bali (4)
- Fesyen (1)
- Flora Bali (1)
- Flu Babi (3)
- Flying Fish (1)
- Garuda Wisnu Kencana (GWK) (1)
- Gempa (2)
- Gunung Agung (4)
- Gunung Batur (2)
- GWK (1)
- Hipnotis (4)
- Hotel (13)
- Hotel di Canggu (1)
- Hotel di Denpasar (1)
- Hotel di Kuta (2)
- Hotel di Sanur (1)
- Hotel Murah di Bali (8)
- hotel murah di Kuta (1)
- Hotel Murah di Legian (3)
- Hotel Murah di Petitenget (1)
- Hotel Murah di Tuban (1)
- HUT Kemerdekaan (1)
- Imlek (1)
- Industri Kreatif Bali (3)
- Info (1)
- Inspirasi Bali (1)
- Jadwal Acara Hiburan (2)
- Jadwal Pementasan Tari Bali (5)
- Jati Luwih (1)
- Jet Ski (1)
- Joged (1)
- Joged Bumbung (3)
- Jogging (1)
- Jungut Batu (1)
- Kab. Badung (21)
- Kab. Bangli (7)
- Kab. Buleleng (10)
- Kab. Gianyar (16)
- Kab. Karangasem (18)
- Kab. Klungkung (10)
- Kab. Tabanan (10)
- Kabupaten Jembrana (6)
- Kalendar Festival Tahunan (3)
- Kapal Selam (1)
- Kawasan Batur (5)
- Kawasan Nusa Penida (2)
- Kawasan Tukad Unda (1)
- Kayaking (1)
- Kebun Raya Ekakarya (1)
- Kerajinan Kayu (1)
- kerajinan keris (1)
- Kerajinan Perak (1)
- keris bali (1)
- Kerta Gosa dan Taman Gili (1)
- Kiadan (1)
- Kongco Dwipayana (1)
- Kopi Bali (1)
- Korupsi (1)
- Kota Denpasar (24)
- Kunjungan Wisata (5)
- Kuta Carnival (1)
- Lawar (2)
- Layang-layang (2)
- Le Mayeur (1)
- Lebaran di Bali (3)
- Legian (1)
- Lembongan (1)
- Lingkungan (1)
- Lovina (3)
- Luna Maya (1)
- Makanan Jepang (1)
- Makanan Khas Bali (6)
- Meami-amian (1)
- Meditasi (1)
- Melasti (1)
- Monumen Bajra Sandhi (2)
- Monumen Maya (1)
- Monumen Ngurah Rai (1)
- Monumen Puputan Badung (1)
- Monumen Puputan Klungkung (2)
- Museum (2)
- Museum Bali (5)
- Musik Bali (4)
- Musik di Bali (5)
- Nasi Jinggo (1)
- Nasi Séla (1)
- Ngaben (1)
- Ngopi di Bali (1)
- Nusa Penida (1)
- Nyepi (6)
- Ogoh-ogoh (1)
- Olahraga Air (13)
- Omed-omedan (1)
- Padang Bai (1)
- Paint Ball (1)
- Paket Wisata (2)
- Pameran (3)
- Panca Bali Krama (2)
- Pantai Amed (2)
- Pantai Balangan (1)
- Pantai Dreamland (1)
- Pantai Jimbaran (1)
- Pantai Kedonganan (1)
- Pantai Kuta (12)
- Pantai Legian (3)
- Pantai Lepang (1)
- Pantai Lovina (3)
- Pantai Medewi (1)
- Pantai Mertasari-Sanur (1)
- Pantai Nusa Dua (2)
- Pantai Padang-padang (1)
- Pantai Sanur (8)
- Pantai Seminyak (1)
- Pantai Suluban (2)
- Pantai Tanjung Benoa (6)
- Pantai Tulamben (4)
- Parade Budaya (1)
- Parasailing (1)
- Pasar Seni Sukawati dan Guwang (1)
- Pecha Kucha (1)
- Pegayaman (1)
- Pelabuhan (1)
- Pembobolan ATM (1)
- Pembuatan Garam (1)
- Pemuteran (1)
- penginapan murah (1)
- Penglipuran (1)
- Penjor (1)
- Pentas Hiburan (5)
- Pentas Seni (1)
- Penyewaan Mobil (2)
- Perairan Pulau Menjangan (1)
- Perang Pandan (1)
- Pertunjukan Tari (4)
- Pesta Kesenian Bali (14)
- Petualangan (20)
- Pia Legong (1)
- Piala Dunia (1)
- Pojok Ngopi (1)
- Pulau Menjangan (1)
- Pulau Penyu (2)
- Puncak Malibu (1)
- Puncak Mangu (1)
- Puncak Manta (1)
- Pura Beji (1)
- Pura Besakih (11)
- Pura Bukit Sari di Sangeh (1)
- Pura Candi Gunung Kawi (1)
- Pura Goa Gajah (1)
- Pura Goa Lawah (1)
- Pura Gunung Raung (1)
- Pura Lempuyang (1)
- Pura Luhur Uluwatu (1)
- Pura Mangening (1)
- Pura Meduwe Karang (1)
- Pura Penataran Sasih (1)
- Pura Ponjok Batu (1)
- Pura Purancak (1)
- Pura Pusering Jagat (1)
- Pura Rambut Siwi (1)
- Pura Samuan Tiga (1)
- Pura Taman Ayun (1)
- Pura Tirta Empul Tampaksiring (1)
- Puri Agung Karangasem (1)
- Puting Beliung (1)
- Putung (1)
- Rabies (2)
- Rafing (1)
- Rafting (2)
- Ramadhan (1)
- Rujak kuah pindang (1)
- Safari Gajah (1)
- Salak (1)
- Salsa (2)
- Sambal Matah (1)
- Sampah (1)
- Sanghyang (1)
- Sanur (4)
- Sate Lilit (1)
- Sea Walker (1)
- Seni Suara (1)
- Seputar Bali (1)
- Siwa Ratri (1)
- Snorkeling (2)
- Spa (1)
- Spiritual Event (1)
- Sri Tanjung (1)
- Srombotan (1)
- Subak (2)
- Sungai Ayung (1)
- Surfing (4)
- Taman Kupu-kupu (1)
- Taman Margarana (1)
- Taman Nasional Bali Barat (1)
- Taman Rosani (1)
- Taman Tirta Gangga (1)
- Taman Ujung (1)
- Tamblingan (1)
- Tanah Lot (1)
- Tango (1)
- Tanjung Benoa (10)
- Tari Bali (9)
- Telaga Waja (1)
- Tempat Makan Halal (10)
- Tenganan (2)
- Tip Berwisata di Kawasan Batur (1)
- Topeng Sidakarya (1)
- Toyabungkah (1)
- Toyapakeh (1)
- tragedi (1)
- tranportasi (1)
- Travel (2)
- Treckking (1)
- Trekking (1)
- Trik Liburan di Bali (3)
- Tumpek Landep (1)
- Tunadaksa (1)
- TV Lokal Bali (1)
- Uang Kepeng (1)
- Ubud (1)
- Unikum Bali (2)
- Upacara (9)
- UWRF (1)
- Valentine Day di Bali (3)
- Warung Be Sanur (1)
- Warung Italia (1)
- Waterbom (1)
- Wisata Alam (2)
- Wisata Hujan (1)
- Wisata Lidah (38)
- Wisata Lidah di Bali (22)
- Wisata Masjid (1)
- Wisata-Sosial (1)
- World’s Best Island (1)
Showing posts with label Pura Besakih. Show all posts
Wisatawan yang berkunjung ke pura Besakih kerap mendapat perlakuan tak menyenangkan dari pemandu wisata lokal di kawasan tersebut. Selasa (26/5/2009) lalu, Pemerintah Kecamatan Rendang memberi teguran keras kepada lima orang pemandu wisata yang tergabung dalam kelompok guide khusus di Besakih karena ulahnya yang tak terpuji saat memandu wisatawan. Dengan caranya masing-masing, ke-lima pemandu tersebut melakukan pemerasan terhadap wisatawan asing.
“Jika tetap membadel, sanksi berikutnya adalah pencabutan lisensi sebagai pemandu wisata di sana ,” ucap Sekretaris Kecamatan Rendang, I Made Kusuma Negara.
Selama ini, para pelancong yang berkunjung di pura Besakih diharuskan membeli tiket seharga Rp. 8 ribu di loket yang letaknya di dekat pintu gerbang. Di depan loket tersebut berjaga beberapa petugas yang mengingatkan para pelancong yang memakai celana pendek di atas lutut untuk memakai kain sarung. Jika tidak membawa kain, oleh mereka disarankan untuk membeli atau mengenakan kain sarung milik petugas di sana. Sarung tersebut satu paket dengan pemandu wisata yang akan mengantarkan pelancong itu berkeliling melihat-lihat keunikan pura terbesar di Bali tersebut. Dari loket tadi, para pelancong masih harus berjalan menanjak sekitar satu kilometer untuk mencapai Pura Besakih. Bagi yang tidak kuat, dapat memanfaatkan fasilitas ojek.
Nah, jarak yang jauh dan ketidaktahuan pelancong inilah yang kerap menjadi ruang bagi para pemandu wisata yang nakal untuk melakukan pemerasan. Misalnya, meminta tambahan fee setelah mengajak tamu tersebut berkeliling.
Kusuma Negara mengimbau agar wisatawan yang merasa dirugikan oleh pemandu wisata local di sana untuk segera melaporkan kepada petugas kepolisian yang bertugas di sana. Saat melaporkan, minta identitas petugas yang menerima laporan tersebut. Dengan demikian, paparnya, keluhan tersebut dapat ditindaklanjuti dengan cepat dan akurat.
“Selama ini sejumlah tamu yang komplin sering menyampaikan setelah lewat beberapa hari, sehingga begitu hendak dikonfrontasikan tamu tersebut sudah siap kembali ke negaranya,” tandas Kusuma Negara.
Saat ini guide khusus Besakih berjumlah 285 orang setiap harinya. Mereka terbagi dalam empat shift yang masing-masing terdiri 50 orang. Menurut aturan resmi, sebagai petugas yang wajib melayani wisatawan, para pemandu tersebut memperoleh fee sebesar Rp 2.400 dari tiket masuk Rp 10 ribu untuk wisatawan asing dan Rp 8 ribu untuk wisatawan domestik. Namun, kenyataan di lapangan para pemandu tersebut meminta fee sebesar Rp. 30 ribu kepada wisatawan.
Kunjungan wisatawan ke kawasan Pura Besakih saat ini menjukkan peningkatan dari 19.379 orang pada hingga April 2008 menjadi 64.624 orang pada April 2009.
Tip Berwisata ke Besakih:
Menginjak hari ke-16 rangkaian upacara Panca Bali Krama dan Batara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih, hari Minggu (12/4) kemarin umat yang datang untuk bersembahyang membludak hebat. Para Pemangku yang bertugas di Pura Penataran Agung memperkirakan sekitar 40 ribu umat hadir di pura terbesar di Bali tersebut sejak subuh hingga malam hari. Pada puncak kepadatan, luapan kedatangan tersebut membuat kawasan Pura Agung Besakih tak ubahnya lautan manusia. Jalan utama menuju kawasan Besakih pun sempat macet total beberapa jam lamanya. Kemacetan dimulai dari Desa Rendang, sekitar empat kilometer dari Besakih.
Kepadatan kendaraan di jalur yang menanjak tersebut membuat beberapa kendaraan hangus kampas koplingnya dan mogok. Hal ini semakin memperparah kemacetan yang ada.
Di kawasan pura sendiri, arus ribuan manusia tersebut sempat macet total. Kemacetan tersebut terjadi di sisi kanan Pura Penataran Agung, yakni pada jalur menuju pura-pura Pedharmaan (tempat pemujaan leluhur klan-klan yang ada di Bali).
Titik kepadatan tertinggi adalah di depan Pedharmaan Ratu Pasek dan Pedharmaan Dalem Sukawati. Karena kedua pedharmaan ini terletak di tengah-tengah, sehingga arus ribuan manusia tersebut tertahan di depan kedua gerbang pura tersebut. Di tengah sengatan cahaya matahari yang begitu terik, tak pelak beberapa umat mengalami kelelahan dan pingsan. Namun berkat ketersediaan pos-pos kesehatan dan kesigapan petugas medis, hal-hal fatal akibat kesesakan tersebut tak sampai terjadi.
“Lonjakan luar biasa ini terjadi sejak Kamis malam lalu, tapi yang paling hebat hari ini,” ungkap I Gusti Gde Mangku Manik Kubayan, Pemangku senior yang setiap hari melayani umat di Pura Penataran Agung. Gusti Mangku menduga liburan akhir pekan yang panjang sejak Jumat hingga Minggu membuat luapan umat ini sangat membludak.
“Ini juga saya duga akibat limpahan umat yang nangkil (bersembahyang) di Pura Batur yang hari-hari upacaranya bersamaan,” imbuhnya.
Untunglah bludakan tersebut tak sampai mengganggu kekhidmatan umat bersembahyang. Pengaturan shift bagi umat yang hendak masuk ke pura Penataran Agung dan pura-pura lainnya membuat suasana persembahyangan menjadi tertib.
Namun demikian, kepadatan tersebut membuat beberapa umat terpisah dari rombongannya. Hingga petang, tak kurang dari 19 laporan masuk ke panitia. Mereka mengadukan telah ‘kehilangan’ anak, istri atau anggota keluarga lainnya. Setelah diumumkan, dalam beberapa menit semua keluarga/rombongan yang terpisah tersebut dapat bertemu kembali. Semisal Made Santa (delapan tahun) dan Ida Bagus Ade (sembilan tahun) yang sempat terpisah dari orangtuanya, setelah diumumkan melalui pengeras suara dapat ditemukan kembali beberapa saat kemudian.
Tentang kepadatan umat yang datang ini, Bendesa (ketua) Adat Desa Besakih, I Wayan Gunatra memperperkirakan bahwa hal tersebut tak akan terjadi pada hari-hari kerja.
“Menurut pengalaman, kepadatan terjadi pada Sabtu malam hingga minggu dini hari,” paparnya.
Sementara itu pihak Kepolisian yang bertanggungjawab atas kelancaran arus lalu-lintas terus-menerus mengimbau masyarakat agar mengikuti saran-saran yang telah mereka sampaikan untuk menghindari kemacetan.
“Saudara-saudara saya, saya mohon kepada anda untuk menggunakan jalur yang disarankan petugas, memarkir kendaraan di tempat yang telah disediakan, gunakan mobil dengan kapasitas maksimal 27 tempat duduk, dan tidak memarkir kendaraannya di badan jalan,” ucap Kapolsek Rendang AKP I Ketut Badra.
Nah, bagi kamu yang hendak berwisata ke Pura Besakih, pilihlah hari yang tepat agar kunujunganmu menyenangkan (jjb/ae).
Dipamerkan, Foto Dokumentasi Upacara-upacara Besar di Pura Agung Besakih
1 Comment | Posted by Dewa in Pura Besakih
Tentu tak banyak yang dapat dibayangkan mengenai suasana upacara-upacara besar yang pernah diselenggarakan di Pura Agung Besakih jika tak ada dokumentasi yang baik berupa foto dan catatan-catatan. Adalah Made Widnyana Sudibya, seorang Arsitek pecinta fotografi yang dengan tekun mengabadikan secara detil setiap rangkaian upacara-upacara besar di pura terbesar di Bali tersebut.
Kini, melalui rekaman kamera Widnyana, khalayak dapat mengetahui dan membayangkan kejadian dan runut upacara besar seperti Ekadasa Rudra tahun 1979, Pnca Bali Krama tahun 1989, Tri Buwana tahun 1993, Eka Buwana tahun 1996, Panca Bali Krama tahun 1999, dan Panca Bali Krama 2009. Foto-foto yang disajikan dalam 15 panel berukuran 100 x 200 centimeter tersebut sejak Minggu (5/4) dipamerkan di gedung Sasana Budaya di pelataran pura Besakih.
Ratusan foto yang dipilih dan ditata dengan apik oleh Widnyana yang pernah didapuk sebagai ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Bali selama dua periode tersebut memberi gambaran yang cukup komprehensif tentang rangkaian setiap upacara-upacara penting bagi masyarakat Hindu tersebut.
Berikut adalah dua comntoh panel-yang dipamerkan tersebut.
Upacara Eka Dasa Rudra, 100 tahun sekali (1979)
Upacara Panca Bali Krama, sepuluh tahun sekali (1989)
Fenomena alam kerap kali terasa aneh dan menakjubkan. Datang dan perginya pun sering tak terduga. Begitu banyak fenomena hadir di muka bumi ini, dan manusia memaknainya dengan berbagai sudut pandang dan tafsir. Ada yang membacanya dengan kacamata ilmiah, ada pula yang melongoknya dari jendela mistis. Dari sudut mana pun kamu melihatnya, fenomena Gunung Agung bertedung awan yang terjadi pada hari raya Galungan ini sungguh memesona. Silahkan memaknai fenomena yang muncul di hari besar yang berentetan dengan hari raya dan upacara-upacara besar lainnya di Bali yakni Panca Bali Krama, Nyepi, Kuningan, Bhatara Turun Kabeh tersebut…
Foto Gunung Agung Bertedung di atas adalah pemandangan Gunung Agung yang diambil pada tanggal 18 Maret 2009 pukul 17.55 Wita oleh Jro Mangku Bagiartha dari perbatasan desa Pempatan-Suter, Kecamatan Rendang, dengan kamera ponsel.
Di bawah adalah foto-foto pemandangan Gunung Agung yang di ambil sebelum dan sesudah munculnya fenomena “Gunung Agung Bertedung" tersebut.
Foto ini dibuat oleh Maria Ekaristi pada tanggal 16 Maret 2009 pukul 08.55 Wita dari jalan Dalem Puri, desa Besakih, dengan kamera digital.
Foto ini dibuat oleh Jro Mangku Nyoman Artawan pada tanggal 18 Maret 2009 pukul 18.12 Wita dari pelataran Pesucian, sisi kiri Pura Penataran Agung, Besakih dengan kamera ponsel.
Sekadar catatan, menurut para Pemangku di Pura Agung Besakih, setiap kali ada upacara besar di pura tersebut, selalu ada fenomena menakjubkan yang terlihat di kawasan puncak Gunung Agung. Yang paling kerap adalah fenomena cincin awan melingkari kepundan gunung tertinggi di Bali itu.
Panca Bali Krama, Bangun Keharmonisan Jagat
0 Comments | Posted by Dewa in Panca Bali Krama, Pura Besakih
Pada Rabu, 25 Maret 2009 mendatang, umat Hindu kembali menyelenggarakan upacara Tawur Panca Bali Krama di Pura Besakih. Upacara ini digelar setiap sepuluh tahun sekali, yaitu pada Tilem Caitra (bulan mati ke-sembilan) ketika tahun Saka berakhir dengan angka "0" (nol) atau disebut dengan rah windhu. Apa makna upacara ini?
Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat Ketut Wiana mengatakan, dalam Lontar Raja Purana, tawur agung yang diselenggarakan setiap sepuluh tahun itu disebut Panca Bali Krama, sedangkan dalam lontar yang lain disebut Panca Wali Krama. Inti dari upacara tersebut adalah caru yang dalam kitab Samhita Swara berarti 'cantik' atau mengharmoniskan kembali. Dalam konteks ini, alam mesti diharmoniskan (butha hita), termasuk sesama individu umat (jana hita) menuju keharmonisan bersama (jagat hita). Jadi, Tawur Agung Panca Bali Krama ini pada esensinya adalah upaya menuju hal-hal yang harmonis.
Menurut sastrawan dan tokoh Hindu IBG Agastia sistem upacara umat Hindu di Bali terutama upacara-upacara besar seperti Panca Bali Krama, Eka Dasa Rudra dan yang lainnya diselenggarakan pada saat terpilih dan juga tempat yang terpilih. Ketika matahari dan bulan tepat di atas khatulistiwa, pada saat itulah waktu yang dipilih untuk melaksanakan Karya Agung Panca Bali Krama. Saat itu terjadi dalam kurun waktu sepuluh tahun sekali. Setelah Panca Bali Krama berulang sepuluh kali alias 100 tahun, diselenggarakanlah Eka Dasa Rudra. Semua itu dimaksudkan untuk mengharmoniskan segala unsur yang membangun jagat raya. Sehari setelah upacara besar itu, umat Hindu pun memasuki tahun baru Saka.
Seperti telah diberitakan sebelumnya, Upacara Agung Panca Bali Krama akan diikuti dengan prosesi Melasti yang akan dilangsungkan pada 21, 22 dan 23 Maret 2009.
Disarikan dari BaliPost, 24 Februari 2009
Panca Bali Krama, Pendakian ke Gunung Agung Ditutup
0 Comments | Posted by Dewa in Gunung Agung, Pura Besakih
Menjelang upacara agung Panca Bali Krama di Pura Besakih, pendakian ke Gunung Agung, lewat jalur mana pun, ditutup untuk umum. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kesucian kawasan agar tak mengganggu kekhidmatan pelaksanaan upacara yang diselenggarakan sepuluh tahun sekali itu. Penutupan dilakukan hingga tanggal 27 April 2009 saat diselenggarakannya upacara Mejauman sebagai penutup rangkaian acara.Pada saat itu rombongan Pemangku akan mendaki ke puncak gunung Agung dan patirthaan Giri Kusuma di dekat puncak untuk menghaturkan sesaji.
Penyucian kawasan Gunung Agung telah dilakukan sejak upacata Ngaku Agem dilakukan pada Jumat (12/12/2008) lalu. Setelah upacara tersebut, serangkaian upacara yang kait berkait akan diselenggarakan di Pura Besakih selama selama 136 hari.
Secara sederhana pertimbangan tidak mengijinkan pendakian ke Gunung Agung adalah untuk menghindari terjadinya kecelakaan yang dapat menodai kesucian kawasan. Jangankan di Gunung Agung, tempat di mana upacara besar tersebut akan diselenggarakan, di wilayah lain saja di Bali upacara yang berkaitan dengan kematian (ngaben) dibatasi selambat-lambatnya tanggal 13 Pebruari 2009. Sedangkan bagi yang meninggal setelah batas waktu tersebut, masih diberikan kesempatan pelaksanaan pengabenan 'dadakan' selambat-lambatnya tanggal 20 Pebruari 2009. Setelah tanggal tersebut sampai tanggal 27 April 2009, tidak upacara ngaben diperbolehkan.
Bila ada yang meninggal setelah tanggal 20 Pebruari 2009 dimintakan untuk dikubur. Perjalanan ke kuburan dilaksanakan pada sore hari setelah matahari terbenam.
'Mendem Pedagingan' di Pura Manik Mas Besakih
0 Comments | Posted by Dewa in Pura Besakih, Upacara
Sebagai rangkaian upacara ‘peresmian’ Pura Manik Mas Besakih setelah dipugar beberapa bulan lalu, Senin 16 Februari 2009 dilangsungkan upacara Tawur, Pamelaspas dan Mendem Pedagingan. Upacara ini dipimpin oleh tiga orang Sulinggih (pendeta), yaitu Ida Pedanda Gede Putra Tembau (Pendata Siwa) dari Griya Aan, Klungkung; Ida Pedanda Gede Nyoman Jelantik Duaja (Pendeta Buda) dari Griya Jelantik Budakeling dan Ida Rsi Bhujangga Anom Palguna (Pendeta Bhujangga) dari Griya Tegal Cangkring, Jembrana.
Upacara ini dihadiri oleh seluruh Pemangku seluruh pura di kompleks Pura Agung Besakih, utusan Gubernur Bali, utusan Bupati dan Walikota di seluruh Bali, serta umat dari pemaksan Ulun Kulkul selaku pangempon (penyangga utama) Pura Manik Mas.
Sekitar pukul 09.30 Wita upacara ini dimulai dengan pemujaan upacara Tawur oleh tiga orang Sulinggih, dilanjutkan dengan Bhumi Sudha (panyucian areal pura) oleh Ida Pedanda Gede Nyoman Jelantik Duaja, dan dilanjutkan dengan pemujaan Melaspas atau peresmian secara spiritual bangunan-bangunan di areal pura itu.
Setelah Melaspas, dilanjutkan dengan Mendem Pedagingan, yakni pemendaman lima jenis logam (emas, perak, besi, perunggu, timah) di dasar masing-masing bangunan pura. Kelima logam itu disebut dengan panca datu yang merupakan simbolis dari kekuatan alam semesta. Pemendaman tersebut dilakukan oleh para pemangku disertai para utusan Gubernur Bali dan para utusanBupati dan Walikota se- Bali. Mereka adalah Guru Wisesa (pelaksana pemerintahan) yang bersama-sama umat lain berfungsi sebagai saksi. Dalam istilah Bali mereka disebut dengan manusa saksi.
Sebelum dipendam, sarana pedagingan itu diiring mengelilingi areal pura searah jarum jam sebanyak tiga putaran. Seluruh rangkaian upacara ini ditutup dengan persembahyangan bersama sekitar puku 12.30 Wita.
Sebagai pelengkap upacara, hari itu digelar kesenian topeng Pajegan, Wayang Lemah dan Gegitan. Dalam setiap upacara besar di Pura mana pun di Bali, ketiga jenis kesenian tersebut wajib diselenggarakan.
Sesajen yang dipersembahkan dalam upacara ini adalah sesajen yang telah dilengkapi dengan binatang kurban yang telah disucikan pada upacara Mapepada yang dilakukan hari Minggu, 15 Pebruari 2009.
Pura Manik Mas, salah satu pura di kompleks Pura Besakih, baru saja usai dipugar. Untuk menyucikan pura tersebut agar dapat digunakan sabagai sarana persembahyangan, pura tersebut ‘diresmikan’ kembali melalui upacara Pamelaspas, Mendem Pedagingan dan Ngenteg Linggih. Serangkaian dengan itu, hari Minggu (15/2/2009) lalu diselenggarakan upacara Mapepada Tawur yaitu upacara penyucian hewan-hewan yang akan digunakan sebagai kurban dalam upacara.
Upacara Mapepada Tawur ini dipimpin oleh Ida Pedanda Wayahan Tianyar dari Griya Menara, Sidemen – Karangasem diikuti oleh para Pemangku Pura Agung Besakih, umat dari Pemaksan Ulun Kulkul dan dari kabupaten Jembrana selaku pangempon (penyokong) pura ini.
Pada upacara Mapepada ini yang disucikan adalah kambing sebagai wewalungan (binatang persembahan) utama. Kambing tersebut disucikan, didoakan dan diiringkan melakukan purwa daksina (berkeliling tiga kali searah putaran jarum jam). Selanjutnya, pada kambing tersebut dilakukan prosesi malepas prani atau peleburan arwah dengan menusukkan secara simbolis tombak keramat ke tubuhnya.
Malam hari dilakukan tahap nyoroh bhakti atau menata sesajen yang akan dipersembahkan pada upacara tawur yang diselenggarakan pada hari Senin 16 Februari 2009. Pada sesaji inilah bagian-bagian tubuh (kepala, kaki dan kulit) binatang tersebut ditempatkan sebagai bagian penting dari sesajen. Keseluruhan sesajen ini disebut sebagai ritual winangun urip atau tatanan upakara agar roh binatang-binatang tersebut meningkat pada status hidup spiritual yang lebih tinggi dari sebelumnya, juga untuk menghilangkan sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia.
Seperti telah diberitakan sebelumnya, bahwa pada tanggal 25 Maret 2009 akan diselenggarakan upacara sepuluh tahunan Panca Bali Krama di Pura Besakih. Pura Manik Mas adalah satu di antara 18 pura yang tergabung dalam kompleks pura terbesar di Bali itu.
Baca juga:
Melasti Panca Bali Krama, Diperkirakan 1500 Orang
Melasti Panca Bali Krama, Diperkirakan 1500 Orang
0 Comments | Posted by Dewa in Melasti, Pura Besakih
Ritual Melasti ke pantai Klotok, Klungkung akan menjadi satu perhelatan besar dalam rangkaian upacara Panca Bali Krama, yaitu ritual keagamaan yang dilakukan setiap sepuluh tahun sekali di Pura Besakih. Melasti adalah upacara penyucian Pratima (benda-benda sakral simbolisasi kekuasaan Tuhan) yang dilakukan di pantai. Ritual ini akan diselenggarakan tanggal 21, 22 dan 23 Maret 2009 dan diperkirakan akan diikuti oleh tak kurang dari 1500 umat. Mereka akan berjalan kaki sambil mengusung Pratima dari pura yang terletak di lambung Gunung Agung itu menuju pantai Klotok yang berjarak sekitar 40 kilometer.
Dari Klotok, iring-iringan akan menginap semalam di Pura Penataran Agung, Klungkung. Keesokan harinya iring-iringan berangkat menuju Besakih melalui jalur desa Paksebali, berisitirahat sejenak di Pura Tohjiwa lalu melanjutkan perjalanan melalui jalur Sidemen dan menginap semalam di Pura Puseh Tebola, Sidemen , Karangasem.
Tanggal 23 Maret iring-iringan berangkat menuju Pura Besakih melalui jalur desa Selat melewati Toya Esah. Setelah memasuki kawasan Besakih, Pratima akan disambut dengan ritual Pesandekan dan Pamendak Alit (penyongsongan kecil) di Pura Pasimpangan Besakih. Setelah itu lanjut menuju Pura Penataran Agung Besakih.
Setiba di halaman depan Pura Penataran Agung Besakih, Pratima akan disambut dengan ritual Pamendak Agung (penyongsongan besar) bersamaan dengan penyongsongan Ida Bhatara Tirtha, air suci dari Sad Kahyangan (enam pura utama) Bali, Gunung Semeru, Gunung Agung dan Gunung Rinjani yang prosesinya dilakukan oleh rombongan lain sehari sebelum ritual Melasti.
Seperti telah diberitakan sebelumnya, upacara agung Panca Bali Krama akan berlangsung selama 42 hari yang pelaksanaannya secara resmi akan dimulai pada 25 Februari 2009.
Berita terkait: Upacara Sepuluh Tahunan di Pura Besakih
Info terkini tentang Pura Agung Besakih klik di sini
Upacara Sepuluh Tahunan di Pura Besakih
0 Comments | Posted by Dewa in Panca Bali Krama, Pura Besakih
Penduduk Bali sebagian besar beragama Hindu yang memiliki berbagai upacara ritual yang unik dan penuh pesona. Hampir setiap hari di pulau yang dijuluki ‘pulau seribu pura’ ini dapat dijumpai acara ritual untuk mengharmoniskan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam semesta, yang ketiganya mereka sebut dengan Tri Hita Karana. Satu di antara sekian banyak ritual itu adalah upacara Panca Bali Krama yang di selenggarakan di Pura Besakih setiap 10 tahun sekali.
Setelah upacara Panca Bali Krama yang diselenggarakan pada tahun 1999, kini masyarakat Hindu Bali menyelenggarakan kembali upacara tersebut yang puncaknya jatuh pada tanggal 25 Maret 2009.
Rangkaian upacara Panca Bali Krama tahun ini sudah dimulai dengan ngakuagem (pernyataan kesiapan) di pura Penataran Agung Besakih, Senin (12/1) lalu. Sementara ritual nuasen karya (menetapkan hari-hari baik rangkaian upacara), mohon air suci dan penyucian alam dan diri dilaksanakan di Pura Dalem Puri Besakih pada hari Minggu (25/1).
Setelah puncak upacara pada tanggal 25 Maret 2009, upacara terus dilaksanakan selama sebulan hingga pelaksanaan penyineban (upacara penutupan) pada tanggal 24 April 2009.
Pura Besakih adalah sebuah komplek pura yang terdiri dari 18 pura dan sebuah pura utama. Kompleks Pura yang merupakan pusat kegiatan dari seluruh pura yang ada di Bali, sekitar 70 kilometer dari kota Denpasar. Kompleks pura ini membentang di areal seluas tiga kilometer persegi menghadap ke arah barat laut. Hampir seluruh pengunjung kehilangan orientasi arah di sini. Biasanya mereka mengira kompleks Pura Besakih ini menghadap ke arah selatan.
Pura Besakih didirikan oleh Rsi Markandeya, seorang Brahmana yang pertama kali menyebarkan ajaran Hindu di Bali. Saat itu, mula-mula Rsi Markandeya bertapa di gunung Hyang (konon gunung Hyang adalah gunung Dieng yang berasal dari kata Di Hyang). Dalam semedinya, ia mendapat pawisik berupa perintah agar beliau merabas hutan di ujung timur pulau Dawa (Jawa). Saat itu pulau Jawa dan Bali masih merupakan satu daratan yang belum dipisahkan oleh laut.
Berdasarkan bisikan gaib tersebut, Rsi Markandeya berangkat ke arah timur bersama para pengiring-pengiringnya kurang lebih sejumlah 8000 orang. Setiba di tempat yang dituju ia memerintahkan semua pengiringnya merabas hutan belantara. Namun banyak pengiring yang sakit dan mati.
Perabasan hutan pun dihentikan dan Rsi Markandeya bermeditasi di gunung Raung, Jawa Timur, untuk merenungkan kegagalan ini. Setelah sekian lama, Rsi Markandeya mencari hari baik untuk melanjutkan kembali pembukaan daerah baru di ujung timur pulau Dawa. Kali ini pengiringnya berjumlah 4000 orang.
Begitu tiba di tempat yang dituju, sebelum melakukan pekerjaan, Rsi Markandeya bersemedi dan menggelar upacara. Rsi Markandeya memendam sebuah kendi berisi pancadatu (lima jenis logam) yakni emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai mirah adi (permata utama), air dan sesajen. Pendaman itu kemudian diperciki tirta (air suci). Oleh beliau, tempat di mana sarana-sarana itu ditanam diberi nama Basuki yang berarti selamat. Setelah itu, perabasan hutan tak menemui hambatan yang berarti. Lahan terbuka yang mereka hasilkan kemudian dibagi-bagikan kepada para pengikut untuk dijadikan sawah, tegal dan perumahan. Dan, wilayah itu kemudian dinamakan dengan desa Basuki yang kini dikenal dengan Besakih.
1. Pura Pesimpangan
Pura terletak di sebelah timur jalan utama, di tempat yang agak terpencil. Pura ini merupakan tempat persinggahan saat kembali dari melelasti (upacara penyucian) di pantai Kelotok, Klungkung.
2. Pura Dalem Puri
Pura ini terletak di ujung paling selatan dari kompleks pura Besakih. Untuk mencapainya, dari jalan raya kamu harus berjalan kaki kira-kira 300 meter ke utara dan kemudian membelok ke barat di sebuah tempat yang agak terpencil. Pura ini adalah tempat pemujaan Bhatari Durga (dewi kematian). Di sekitar Pura Dalem Puri terdapat suatu tanah lapang yang agak luas yang dinamai Tegal Penangsaran.
3. Pura Manik Mas
Pura ini merupakan tempat pemujaan Dewi Pertiwi. Di tempat ini terlebih dahulu umat Hindu bersembahyang untuk menyucikan jasmani dan rohani sebelum bersembahyang di Pura Penataran Agung. Menurut cerita, di masa lalu para Raja ke Pura Besakih dengan menunggang kuda. Di sebelah selatan Pura Manik Mas mereka turun dari kuda, bersembahyang di pura tersebut, lalu melanjutkan perjalanan ke Pura Penataran Agung dengan berjalan kaki.
4. Pura Bangun Sakti
Pura ini adalah tempat pemujaan Triantabhoga (Hyang Naga Basukih, Hyang Naga Sesa dan Hyang NagaTaksaka) yang merupakan symbol pelindung bumi dan seisinya.
5. Pura Ulun Kulkul
Pura Ulun Kulkul adalah tempat pemujaan Hyang Mahadewa. Sebuah kulkul (kentongan) besar terdapat di pura ini dan dipandang sebagai kulkul yang paling utama dan mulia dari pada semua kulkul yang ada di Bali. Hingga saat ini, masyarakat desa-desa di seluruh Bali masih menggunakan kulkul sebagai alat komunikasi untuk mengumpulkan warganya. Nah, setiap banjar (semacam RT) yang membuat kulkul baru, selalu memohon air suci di pura ini untuk memerciki kulkul tersebut agar memiliki inner power sehingga ‘panggilannya’ ditaati oleh masyarakat.
6. Pura Merajan Selonding
Di sebelah utara Pura Ulun Kulkul terdapat Pura Merajan Selonding. Dulu pura ini adalah pura keluarga raja Dalem Kesari Warmadewa yang diperkirakan pernah punya istana di Besakih bernama Bumi Kuripan. Lontar Raja Purana Besakih dan seperangkat gamelan kuno Selonding disimpan di pura ini. selonding adalah cikal bakal musik Bali.
7. Pura Goa
Di utara Pura Manik Mas, sebelah timur jalan raya terdapat Pura Gua tempat Hyang Naga Basuki diistanakan. Di sebelah timur Pura ini terdapat sebuah sungai dan pada tebingnya ada sebuah gua besar. Tapi sekarang gua tersebut sudah tertimbun runtuhan tanah longsor. Menurut ceritera, gua itu tembus sampai ke pura Gua Lawah yang terdapat di pesisir pantai timut Kabupaten Klungkung.
8. Pura Banua
Pura Banua terletak di sebelah timur jalan raya yaitu di timur areal parkir kendaraan. Pura ini adalah tempat pemujaan Dewi Sri, penguasa kemakmuran dalam bentuk hasil alam.
9. Pura Merajan Kanginan
Letaknya di sebelah timur Pura Banua. Pura ini merupakan tempat pemujaan Bhatara Rambut Sedana, penguasa kemakmuran dalam wujud harta-benda.
10. Pura Hyang Galuh (Jenggala)
Di pura ini terdapat beberapa patung batu kuno menyerupai seorang resi, garuda dan lainnya yang sakral. Banyak sekali kepercayaan menyangkut pura ini. Ada yang mengatakan sebagai stana Hyang Prajapati, ada yang mengatakan sebagai bekas pertapaan Dyah Kulputih, ada yang mengatakan pemujaan Dewa Melanting (penguasa pasar).
11. Pura Basukihan
Di Pura inilah Rsi Markandeya memendam pancadatu (lima jenis logam) dan sesajen saat pertama kali membuka lahan di lambung gunung agung itu. Pura ini adalah satu dari tiga pura yang menjadi induk pura kahyangan tiga yang tersebar di seluruh desa di Bali. Dua pura lainnya adalah Pura Penataran Agung dan Pura Dalem Puri.
12. Pura Penataran Agung
Inilah pura utama dari kompleks Pura Besakih. Di pura ini terdapat Padmatiga yaitu sarana pemujaan Tuhan dalam wujud Sang Hyang Tri Purusa yaitu jiwa agung alam semesta. Purusa artinya jiwa atau hidup. Tuhan sebagai jiwa dari Bhur Loka (alam bawah) disebut Siwa, sebagai jiwa Bhuwah Loka (alam tengah) disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa dari Swah Loka (alam atas) disebut Parama Siwa.
Untuk masuk ke pura ini kamu harus melewati sebuah gapura besar dengan lebih dari seratus undak anak tangga. Gapura ini menghadap ke arah barat laut, persis berhadap-hadapan dengan gapura Pura Uluwatu yang terdapat di ujung barat daya Pulau Bali, yang juga dibangun oleh Rsi Markandeya.
Menurut lontar Raja Purana Besakih, pura Penataran Agung Besakih adalah tempat berkumpulnya seluruh dewa-dewa.
13. Pura Batu Madeg
Untuk sampai ke pura ini kamu harus berjalan kaki ke arah barat daya. Pura ini adalah tempat pemujaan khusus Dewa Wisnu, manisfestasi Tuhan sebagai pelindung alam semesta. Di pura inilah masyarakat memohon keselamatan bila hendak membuat bendungan besar dan memohon agar sawah mereka selalu subur.
Semua atribut bangunan di pura ini berwarna hitam. Karena letaknya agak tersembunyi dari jalan utama, nggak banyak wisatawan mengunjungi pura besar ini.
14. Pura Batu Kiduling Kreteg
Letaknya di sebelah selatan Pura Penataran Agung, melewati jalan setapak dan menyeberangi sebuah sungai kering. Pura ini tempat pemujaan khusus Dewa Brahma, manisfestasi Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Semua atribut bangunan di pura ini berwarna merah.
Hampir serupa dengan Pura Batu madeg, karena letak pura ini agak jauh dari jalan utama, nggak banyak wisatawan mengunjungi pura besar ini.
15. Pura Gelap
untuk mencapai pura ini kamu harus menapaki jalan menanjak di sebelah Pura Penataran Agung. Pura ini adalah tempat pemujaan Dewa Iswara, pemberi kedamaian pikiran dan kesejahteraan hidup. Semua atribut bangunan di pura ini berwarna putih.
Karena menanjak cukup jauh, kebanyakan wisatawan mengurungkan niatnya mengunjungi pura besar ini.
16. Pura Pengubengan
Inilah pura yang lokasinya terletak di areal yang tertinggi. Untuk mencapai pura ini kamu harus bejalan kaki selama sekitar 30 menit langkah normal. Pura ini diyakini sebagai tempat pertemuan para dewa sebelum berkumpul di Pura Penataran Agung saat diselenggarakan upacara-upacara besar.
Masyarakat Hindu yang berniat mempersembahkan sesajen ke puncak gunung Agung namun tidak sanggup mendaki, menghaturkan persembahannya melalui Pura Pengubengan ini. Karena ketinggian lokasinya, dari pura ini pemandangan alam Bali tampak sangat indah. Meski begitu, tak banyak wisatawan yang memiliki waktu untuk mengunjungi pura ini.
17. Pura Batu Tirtha
Letaknya berdekatan dengan Pura Pengubengan, sekitar -kira 10 menit perjalanan normal. Di pura ini terdapat sumber air suci yang dipergunakan pada upacara-upacara besar di Pura Besakih ataupun di pura-pura desa di seluruh Bali
18. Pura Batu Peninjoan
Pura ini berdekatan dengan Pura Batu Madeg. Untuk mencapainya kamu harus berjalan melalui jalan setapak menuruni lembah dan menyelusuri pinggiran sungai kering. Perjalanan kurang lebih atarara 15 sampai 25 menit. Di pura ini, dahulu Empu Kuturan, pendeta yang datang ke Bali setelah Rsi Markandeya, meninjau wilayah desa Besakih sewaktu beliau merencanakan perluasan Pura Besakih. Di tempat inilah Empu Kuturan melakukan semedi setiap kali datang ke Besakih. Mpu Kuturanlah peletak tata cara pembangunan pura dan perumahan yang sampai sekarang masih dipraktekkan oleh masyarakat Hindu di Bali.
Dari Pura Peninjoan, semua pelinggih di Pura Penataran Agung dapat dilihat dengan jelas. Demikian juga pantai dan daratan pulau Bali bagian selatan tampak terbentang indah.
Begitulah Coy, sekilas tentang pura-pura di kompleks Pura Besakih. Oya, melengkapi info kamu tentang Pura Besakih, selain yang telah dijelaskan di atas, Pura Besakih juga sebagai simbol alam semesta yang terdiri dari Soring Ambal-ambal (alam bawah) dan Luhuring Ambal-ambal (alam atas).
Pura yang tergolong Soring Ambal-ambal adalah Pura Pesimpangan, Pura Manik Mas, Pura Bangun Sakti, Pura Merajan Selonding, Pura Goa Raja dengan Pura Rambut Sedana, Pura Besukian, Pura Dalem Puri, Pura Jenggala, Pura Banua dan Pura Merajan Kanginan.
Pura yang tergolong Luhuring Ambal-ambal adalah Pura Penataran Agung Besakih, Pura Batu Madeg, Pura Gelap, Pura Kiduling Kreteg, Pura Ulun Kulkul, Pura Peninjoan, Pura Tirtha, Pura Pengubengan dan Pura Pasar Agung di Desa Sebudi.
Akses
Kalau kamu menginap di Kuta, pertama kamu harus ambil jalur menuju Sanur, kemudian menuju Klungkung lewat jalan by pass. Di pertigaan pantai Klotok (pantai selatan Klungkung), berbelok ke kiri menuju kota Klungkung. Ikuti saja jalan besar ke arah utara, sekitar satu jam dari pusat kota itu kamu akan sampai di Besakih. Jika dihitung dari Kuta, perjalananmu kira-kira memakan waktu sekitar tiga jam.
Kalau ikut tur
Cara yang cukup mudah untuk mengatur perjalananmu adalah dengan meminta jasa travel biro. Banyak jasa angkutan wisata yang bersedia menjemput ke hotel tempat kamu menginap di Kuta, Legian, Seminyak, Sanur dan Nusa Dua dan mengantarkanmu ke Besakih. Mereka akan menjemput pagi-pagi, mengantarkanmu menuju pura Besakih dan mengajakmu mampir ke pusat kerajinan perak saat perjalanan pulang dan kembali menuju hotel. Biaya perjalanan ini bervariasi. Tapi, sedikitnya kamu harus menyediakan sekitar Rp 450 ribu.
Pakaian
Untukmenghormati adat istiadat setempat, ketika berkunjung ke pura Besakih kenakanlah busana yang rapi dengan kain dan selendang. Oleh penjaga, kamu tidak diperkenankan memasuki areal pura dengan tank top, vest, bikini, rok mini, atau semacamnya. Jika lupa membawa kain dan selendang, kamu bisa sewa di penyewaan yang letaknya tak jauh dari pintu masuk. Karena tempat suci, perempuan yang sedang menstruasi tidak diperkenankan masuk.
Waktu berkunjung
Untuk wisatawan, kompleks Pura Besakih dibuka dari pukul 08.00 – 17.00 WITA. Tapi kalau kamu datang dengan temanmu yang penduduk Bali, Pura Besakih terbuka 24 jam untukmu.
Tiket
Harga tiket masuk ke komplek Pura Besakih adalah Rp 7.000 plus Rp 3,000 jika membawa kendaraan. Kamera foto dikenai biaya Rp1.500 dan Rp 2500 untuk kamera video.
Kalau kamu berkunjung sendiri, biasanya pemandu wisata akan menghampirimu dan menawarkan diri untuk menemanimu berkeliling kompleks pura. Mereka yang merupakan penduduk lokal itu biasanya meminta bayaran berkisar antara Rp10ribu hingga Rp30 ribu Pandai-pandailah menawar. Makanya, jika kamu punya teman orang Bali, ada baiknya minta dia untuk menemanimu. Kamu akan mendapat banyak kemudahan.
Makanan dan Minuman
Di luar pura kamu akan menemukan banyak penduduk yang berjualan makanan dan minuman. Dagang buah-buahan juga ada. Tapi, umumnya harganya sedikit mahal di areal ini.
Di sepanjang jalan utama, di antara toko-toko kerajinan, kamu dengan mudah menemukan warung makan dengan menu beragam. Tak ada menu spesial yang mereka tawarkan.
Akomodasi
Jika kamu tipe pelancong yang suka luntang-lantung, jika kemalaman di sekitar pura Besakih, kamu bisa menginap di hotel terdekat yakni Hotel Lembah Arca yang berlokasi di jalan antara Menanga dan Besakih. Hotel tersebut terdiri dari dua bungalow dengan harga yang cukup moderat.
Di desa Besakih juga ada beberapa guest house, tapi standarnya sangat sederhana. Ya, sekelas rumah-rumah penduduk biasalah. Jika kamu berkunjung bersama teman Bali dan memutuskan hendak bermalam di areal pura, kamu harus menyiapkan pakaian tebal dan hangat. Soalnya, udara Besakih sangat dingin di malam hari.Jika kamu tak punya cukup waktu untuk menikmati seluruh keindahan Pura Besakih, pusatkan perhatian kamu ke ke Pura Basukian, Pura Penataran Agung, dan Pura Gelap atau Pura Batumadeg.