Showing posts with label Pameran. Show all posts

/

Kedamaian, Cinta dan Pengertian Seorang Dedok

Barong adalah satu dari sekian ikon Bali yang memancarkan banyak makna. Simbol ini dapat mengekspresikan cinta-kasih, kedamaian, kebenaran, dan banyak lagi. Hal itulah yang kemudian “dipinjam” oleh I Made Arya Dwita Dedok, seniman bali telah memulai perjalanan berkeseniannya sejak ia masih sangat belia. Dalam karya-karya monoprint dan blockprint-nya Dedok banyak meminjam spirit yang terpancar dalam barong untuk menyampaikan pesan atau gagasannya. Spirit tersebut ia cangkokkan dalam figur-figur babi, gajah, macan atau pun manusia yang tergambar dalam kanvasnya. Karya-karya tersebut telah terpajang dalam pameran tunggalnya bertajuk “Peace, Love and Understanding” di Ganesha Gallery, Four Seasons, Jimbaran sejak 16 April hingga 11 Mei 2009.

Meski menampilkan symbol-simbol tradisional, guratan garis dan warna serta komposisinya terasa meloncat dari kurun ke kurun menyesuaikan dengan tema yang tengah diangkatnya. Ia seolah mampu menyelinap ke alam tradisional lalu kembali ke alam modern sembari membawa sesuatu yang kemudian dipadunya menjadi karya yang kuat.


Barangkali hal ini disebabkan karena Dedok memiliki banyak bakat dan telah bekerja secara simultan dalam beberapa bidang antara lain fotografi, desain grafis, seni grafis, seni lukis, dan kartun. Dan, pada semua bidang yang digelutinya tersebut ia menunjukkan kualitas yang yahud. Ia pernah memenangkan beberapa penghargaan dalam setiap bidang tersebut. Karena bakatnya itu tahun 2008 lalu Dedok memperoleh penghargaan bergengsi yakni the Freeman Foundation Art Fellowship di Vermont Studio Center, di Johnson, Amerika. Di situlah sebagian dari karya-karya yang dipamerkan di Jimbaran dihasilkan.

Hide

/

Pameran Foto “The Journey” Lukman Siswo Bintoro

Mata adalah indera manusia yang menjadi perantara antara diri dan luar diri. Obsesi, harapan dan impian manusia berada di dalam diri. Sedangkan perilaku dan tingkah polah berada di luar diri. Mata menangkap gambaran kehidupan di luar manusia, untuk kemudian menyerapnya ke dalam. Pada pameran tunggal bertajuk “The Journey” yang digelar di Museum Bali 18-22 April 2009, Lukman Siswo Bintoro menjadikan kamera sebagai mata untuk menangkap "gerakan dalam" diri manusia yang memancar lewat gerak dan polahnya.

Dengan kameranya, lelaki kelahiran Malang tahun 1974 ini ‘membekukan’ kompleksitas perilaku manusia masa kini dan menjadikannya karya-karya kontemplatif. Dan, disiplin foto jurnalisme yang dianutnya membuat realitas yang terekam dalam foto-fotonya serasa hadir di hadapan orang yang melihatnya.

“Karya-karya foto di dalam pameran ini adalah hasil kontemplasi saya sebagai seorang jurnalis foto yang telah melakukan perjalanan panjang mengabadikan peristiwa demi peristiwa ,” papar pria berpenampilan lembut.

Lukman memang bukan foto jurnalis kemarin sore. Di Bali dia memulai langkahnya sejak tahun 2000 dengan menjadi staf fotografer di Harian Nusa. Di situ ia berkutat hingga empat tahun lamanya. Setelah merasa mantap untuk berdiri sendir, pada tahun 2004 ia memutuskan untuk menjadi fotografer lepas.

Kualitas karya-karya Lukman membuatnya terpilih menjadi satu-satunya pewarta foto Indonesia yang mendapat scholarship untuk mengikuti Angkor Photo Workshop dan Angkor Photography Festival pada 2006 di Kamboja. Kualitas karyanya pula yang membuat foto jurnalistiknya diterbitkan di 30-an media seperti Tempo, The Jakarta Post, Time Asia, Financial Times, The Dailytelegraph, Oberoi Magazine International, The Bulletin Magazine dan majalah Tempo. Apple Inc. memilihnya sebagai salah satu fotografer untuk pembuatan materi dalam kampanye iklan Aperture, software pengolah foto digital keluaran Apple. Saat ini secara reguler mengerjakan penugasan-penugasan dari News Limited Australia (ae).

Hide

/

Benny & Mice Tersesat di Bali

Ingat Benny dan Mice? Itu lho, dua tokoh jenaka yang tiap hari Minggu wajahnya nongol di harian Kompas, harian terbesar di Indonesia. Setiap kali tampil, mereka selalu hadir dengan kisah-kisah dan sentilan khas kaum urban yang kocak dan menggelitik.
Beberapa waktu lalu, Benny dan Mice sok plesiran di Bali yang dijuluki orang sebagai “the most unique island in the world”. Kacaunya, di pulau unik yang kecil itu, kedua tokoh ini tersesat-sesat. Tapi, dasar otak mlintir, pengalaman-pengalaman sepat tersebut justru ia bukukan. Maka terbitlah sebuah buku kocak berjudul “Lost in Bali”.
Sesungguhnya, siapakah Beny dan Mice? Mereka adalah dua karakter rekaan dua kartunis terkenal yakni Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad. Kedua orang ini memang dikenal sebagai kartunis hebat. Goresan dan cara bertuturnya begitu kuat sehingga pesan-pesan yang ingin mereka sampaikan selalu mengena.
Buku “Lost in Bali” diluncurkan tanggal 13 Desember 2008 di Museum Kartun Indonesia Bali, Jl. Sunset Road 85, Kuta Bali. Peluncuran buku tersebut sekaligus mebuka pameran kartun yang akan berlangsung tanggal 13 - 31 Desember 2008, 10.00 – 21.00 Wita.

Hide