Showing posts with label Fauna Bali. Show all posts

/

Harimau Bali, Kekayaan Hayati yang Telah Punah

Harimau Bali (Panthera tigris balica) sebagai salah satu kekayaan hayati Pulau Dewata telah hilang keberadaannya. Subspesies harimau ini punah bersamaan dengan kepunahan Harimau Jawa. Saat ini, dari tiga sub-spesies harimau yang hidup di kawasan Indonesia, tinggal Harimau Sumatera saja yang masih bertahan. Itu pun dengan ancaman kepunahan yang luar biasa pula.

Harimau Bali adalah harimau terkecil dari tiga sub-spesies yang hidpu di Indonesia. Menurut beberapa catatan, Harimau Bali terakhir diyakini ditembak pada tahun 1925, dan sub-species ini dinyatakan punah pada tanggal 27 September 1937. Kemungkinan besar kepunahan disebabkan oleh wilayah Bali yang sempit dengan areal hutan yang terbatas. Hal itu menyebabkan populasi harimau tidak pernah meningkat. Ketika populasi manusia meningkat, harimau itu pun mengalami kepunahan.

Klasifikasi ilmiah harimau Bali menurut Schwarz (1912):
Kerajaan: Animalia.
Filum: Chordata.
Kelas: Mamalia.
Ordo: Carnivora.
Famili: Felidae.
Genus: Panthera.
Spesies: Panthera tigris.
Upaspesies: Panthera tigris balica.
Nama trinomial: Panthera tigris balica.



Hide

/

Untuk Hentikan Hama, Warga Tabanan Ngaben Tikus

Tak kurang dari 112.670 ekor tikus diaben atau dikremasi menurut adat Bali, Jumat (17/7) lalu di Kabupaten Tabanan. Upacara pembakaran mayat tikus-tikus ini dilaksanakan layaknya upacara ngaben yang dilakukan terhadap jenazah manusia. Upacara yang disebut Prateka Merana itu lengkap dengan sesajen dan bade (usungan jenazah) yang megah.

Ngaben tikus ini adalah tata cara orang Bali untuk menyetop hama tikus yang menyerang lahan pertanian mereka. Seperti telah banyak diberitakan di media local, beberapa waktu lalu ratusan hektar lahan pertanian di kabupaten Tabanan diserang hama tikus. Ribuan binatang pengerat tersebut menggasak ludas padi-padi yang tengah di tanam menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi petani di wilayah yang dikenal sebagai lumbung padinya Bali itu. Untuk mengatasi hama tersebut, masyarakat setempat bahu-membahu berperang melawan sang penyerbu. Bersenjatakan tongkat kayu mereka turun ke areal persawahan membunuhi tikus-tikus itu. Maka melayanglah ratusan ribu nyawa tikus dalam operasi gabungan tersebut.

Selanjutnya, untuk membersihkan dan menyucikan areal persawahan yang telah berubah menjadi medan pertumpahan darah, tak kurang dari sepuluh ribu warga setempat membakar bangkai-bangkai tikus itu dengan upacara ngaben atau Mrateka Merana. Upacara ini diselenggarakan di depan Pura Puseh Bedha, Desa Bongan.

Oleh warga, bangkai ratusan ribu tikus yang oleh masyarakat Bali dijuluki Jro Ketut itu dimasukkan ke dalam lima bade. Di belakang setiap bade tersebut terpampang foto tikus sesuai dengan warnanya, yakni merah, putih, kuning, hitam dan belang (hitam-putih). Kelima bade tersebut diarak menuju Segara Yeh Gangga, Desa Sudimara, sekitar empat kilometer dari Desa Bongan. Arak-arakan tersebut diiringi tetabuhan baleganjur.

Setiba di Yeh Gangga, sebelum melakukan prosesi pembakaran bade, seluruh masyarakat melakukan persembahyangan terlebih dahulu. Setelah semua bade berisi ratusan ribu tikus itu ludas terlalap api, abu tikus dikumpulkan dan dihanyutkan ke laut sebagaimana yang dilakukan pada upacara pengabenan manusia.

Pelaksanaan upacara Mrateka Merana ini didasari oleh petunjuk-petunjuk yang tertulis pada Babad Arya Tabanan, Babad Dukuh Jumpungan, Lontar Sri Purana Tatwa, dan Lontar Darma Pemaculan. Semua kitab dan lontar tersebut memberi petunjuk tentang bagaimana mengendalikan hama tikus secara spiritual. Sebelum ini, upacara serupa diselenggarakan pada tahun 2002. (abe/jjb-radarbali)

Foto-foto repro : Yoyo Raharyo - Radar Bali.

Hide

/

400 Telur Penyu di Bak KPK

Tak kurang dari 400 telur penyu saat ini tengah ditetaskan dalam sebuah bak penetasan milik Konservasi Penyu Kuta (KPK). Telur-telur binatang laut berbatok keras tersebut berasal dari berbagai pantai di Bali. Mereka dibawa ke KPk karena tempat di mana telur-telur tersebut ditemukan dianggap tak kondusif. 102 butir berasal dari Pantai Klecung, Tabanan. Mereka dibawa oleh para pecinta lingkungan setempat pada tanggal 28 April 2009. Telur-telur penyu ini diperkirakan akan menetas sekitar tanggal 14 – 27 Juni 2009.

Dua hari setelah kedatangan telur dari Pantai Klecung, di pesisir pantai depan Kulkul Hotel, Kuta, ditemukan 222 butir telur penyu di beberapa titik di atas hamparan pasir. Telur-telur itu pun di bawa ke bak penetasan KPK dan diperkirakan akan menetas sekitar tanggal 16 – 29 Juni 2009. Selang dua hari berikutnya, 2 Mei 2009, kembali bak penetasan ini mendapat kiriman 110 butir telur penyu yang ditemukan di pantai depan Hotel Inna Kuta. Telur-telur ini diperkirakan akan menetas sekitar tanggal 18 Juni - 1 Juli 2009.

Lalu bagaimana setelah telur-telur itu menetas? Seperti yang sudah beberapa tahun dilakukan oleh KPK, begitu tukik (anak penyu) keluar dari cangkangnya, setelah dianggap siap tukik-tukik tersebut tersebut dilepaskan ke laut agar mereka mencari sendiri habitatnya yang sesuai.

Tentang Konservasi Penyu Kuta, ini adalah sebuah lembaga non profit yang cikal-bakalnya bermula pada tahun 1999. Saat itu Desa Adat Kuta yang dserahi wewenang untuk pengelolaan kawasan pantai Kuta bertekad untuk melakukan pelestarian dan penataan kawasan tersebut. Tiga tahun kemudian setelah memahami dengan baik segala persoalan yang muncul dan cara pemecahannya, pada tahun 2002 Desa Adat Kuta mendirikan Satuan Tugas (Satgas) yang bertanggungjawab atas pengelolaan kawasan sekaligus menjaga kenyamanan kawasan pantai.
Di tahun itu, seekor penyu menepi dan bertelur di pesisir pantai Kuta. Sebagai pengeloala kawasan, Satgas Desa Adat Kuta dibantu BKSDA Bali mengisolasi lokasi penyu tersebut bertelur agar tidak diganggu hewan maupun tangan-tangan jahil. Beberapa saat kemudian sebagian dari telur-telur tersebut menetas, dan tukiknya dilepaskan ke laut.

Tahun 2004, kembali terjadi kunjungan beberapa penyu di beberapa lokasi di pantai Kuta. Kembali Satgas Desa Adat Kuta melakukan pengisolasian seperti yang pernah dilakukan sebelumnya. Namun, cara itu rupanya tak aman.

“Telur-telur tersebut habis tersapu gelombang besar yang datang tiba-tiba,” tutur I Gusti Ngurah Tresna, Komandan Satgas Desa Adat Kuta Unit Pengelolaan Pantai.

Berdasarkan pengalaman tersebut, ketika pada tahun 2005, pantai Kuta kembali kedatangan penyu-penyu yang bertelur, Satgas Desa Adat Kuta membuatkan bak penangkaran untuk telur-telur tersebut. Dengan cara ini, 95 persen dari telur tersebut menetas dengan selamat.

Sejak saat itu, citra Bali yang senang membantai penyu perlahan-lahan surut. Net Animal, organisasi pecinta binatang yang bermarkas di New York dan memiliki 17 ribu cabang yang tersebar di seluruh dunia pun kemudian datang berkunjung ke Kuta dan menganugerahkan Gibon Award bagi Satgas Desa Adat Kuta.

Akhir 2007, saat penyelenggaraan United Nation for Climate Change (UNFCC) di Nusa Dua, Satgas Desa Adat Kuta dan KPK diundang untuk membantu memandu proses pelepasan tukik di Nusa Dua yang melibatkan Miss World.

Sekadar tambahan, masa penyu bertelur dalam setahun, adalah sekitar bulan April hingga bulan Oktober. (abe/jjb)

Hide

/

Anjing Kintamani, Anjing Asli Bali

Bagi penggemar anjing yang berlibur ke Bali, cobalah menengok anjing asli Bali yakni Anjing Kintamani. Anjing ini banyak ditemukan di daerah pegunungan Kintamani, sekitar 71 kilometer dari Kuta. Anjing ini berbulu tebal dan halus serta memiliki sifat pemberani. Sayangnya, hingga sekarang jenis anjing ini belum diakui oleh dunia internasional sebagai salah satu ras anjing di dunia.

Tahun 1988 anjing Kintamani warna putih mendapat Sertifikasi-Silsilah dari PERKIN (Persatuan Kinelogi Indonesia). Namun begitu, pengamatan, penelitian dan pemuliabiakan terus dilakukan sampai mendapat pengakuan Federation Cynologique Internationale (FCI).

Anjing Kintamani mudah dibedakan dengan anjing-anjing lokal ataupun anjing hasil persilangan antara ras yang sama maupun persilangan lainnya. Namun, untuk memperoleh Standar Anjing Kintamani diperlukan pengamatan dan penelitian yang terus menerus dan berkelanjutan. Gambaran sementara yang dapat dilihat dari keunggulan Anjing Kintamani dari hasil pengamatan lapangan dan hasil pemuliabiakan pada Anjing Kintamani yang berbulu putih spesifik dapat diuraikan sebagai berikut:

Ciri-ciri Umum
Anjing ini dapat digolongkan dalam kelompok anjing jenis pekerja (working dog) dengan ukuran sedang, memiliki keseimbangan tubuh dan proporsi tubuh yang baik dengan pertulangan kuat yang dibungkus oleh otot yang kuat, sebagai anjing pegunungan memiliki bulu yang panjang (moderat) dengan warna putih spesifik, hitam atau cokelat. Pengelompokan dalam sistem FCI, anjing Kintamani masuk dalam group V karena memiliki ciri-ciri anjing spitz dan tipe primitif seperti Chow Chow, Basenji, dan Samoyed.

Sifat-sifat Umum:
Anjing Kintamani memiliki sifat pemberani, tangkas, waspada dan curiga yang cukup tinggi. Merupakan anjing penjaga (guard dog) yang cukup handal, sebagai pengabdi yang baik terhadap pemiliknya, loyal terhadap seluruh keluarga pemilik dan tidak lupa pada pemilik atau perawatnya. Anjing Kintamani (Bali) suka menyerang anjing atau hewan lain yang memasuki (wilayah kekuasaannya) dan juga menggaruk-garuk tanah sebagai tempat perlindungan. Pergerakannya bebas, ringan dan lentur.

Bentuk Kepala
Kepala bagian atas lebar dengan dahi dan pipi datar, moncong proporsional dan kuat terhadap ukuran bentuk kepala, rahang tampak kuat dan kompak, memiliki gigi-geligi kuat dengan gerakan gigi seperti menggunting, bibir berwama hitam atau cokelat tua. Telinganya tebal, kuat, berdiri berbentuk V terbalik dengan ujung agak membulat. Jarak antara kedua telinga cukup lebar, panjang telinga kurang lebih sama bila dibandingkan dengan jarak antara dasar dua telinga bagian dalam dengan sudut mata luar.

Mata berbentuk lonjong seperti buah almond dengan bola mata berwarna cokelat gelap dan bulu mata berwarna putih. Hidung berwarna hitam atau coklat tua dan warna hidung ini sering berubah karena penambahan umur dan musim.

Untuk mempercepat pengakuan dari Federation Cynologique Internationale, dalam memenuhi ketentuan/persyaratan perlu upaya-upaya secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu upaya adalah meneliti hubungan antara stuktur dan profil DNA distribusi warna bulu putih spesifik secara genotip dengan fenotip warna bulu putih spesifik pada Anjing Kintamani.

Distribusi warna bulu pada Anjing Kintamani dapat dikelompokkan menjadi 4 macam yaitu:

1. Warna bulu putih sedikit kemerahan dengan warna coklat-kemerahan pada telinga, bulu di bagian belakang paha dan ujung ekornya.
2. Warna hitam mulus atau dengan dada putih sedikit.
3. Warna coklat muda atau cokiat tua dengan ujung moncong kehitaman, sering disebut oleh masyarakat sebagai warna Bang-bungkem.
4. Warna dasar coklat atau coklat muda dengan garis-garis warna kehitaman, yang oleh masyarakat disebut warna Poleng atau Anggrek.


Tinggi dan Bentuk Badan
Anjing Kintamani jantan mempunyai tinggi 45 cm-55 cm dan anjing betina 40 cm-45 cm. Dengan warna bulu kebanyakan berwarna putih spesifik (sedikit kemerahan) dengan warna merah kecoklatan (krem) pada ujung telinga, ekor dan bulu dibelakang paha. Warna lainnya adalah hitam mulus dan cokelat dengan moncong berwarna hitam (bangbungkem - bhs Bali), pigmentasi kulit, hidung, bibir kelopak mata, skrotum, anus dan telapak kaki berwarna hitam atau cokelat gelap.

Lehernya tampak anggun dengan panjang sedang, kuat dengan perototan yang kuat pula. Dada dalam dan lebar, punggung datar, panjangnya sedang dengan otot yang baik. Badan anjing betina relatif lebih panjang dari jantan. Anjing Kintamani memiliki bulu krah (badong - bhs Bali) panjang berbentuk kipas di daerah bahu (gumba- bhs Bali), makin panjang bulu badong makin baik.

Kaki agak panjang, kuat dan lurus jika dilihat dan depan atau belakang. Tumit tanpa tajir, gerakan kaki ringan. Ekor bulunya bersurai, posisinya tegak membentuk sudut 45 derajat atau sedikit melengkung tetapi tidak jatuh atau melingkar di atas pinggang atau jatuh ke samping. Makin panjang bulu ekor makin baik .



Tulisan ini disarikan dari tulisan drh. Pudji Rahardjo, MS, seorang dokter hewan peneliti dan pemuliabiak anjing Kintamani. Informasi lebih lanjut menghubungi 08123973112.




Hide