Blog Archive
Categories
- Acara Budaya (5)
- Air terjun Dusun Kuning (1)
- Air Terjun Singsing (1)
- Alas Kedaton (1)
- Amed (2)
- Arak Bali (1)
- Arsitektur Bali (1)
- ATV Driving (1)
- Bali Art Centre (2)
- Bali Bird Park dan Reptile Park (1)
- Bali Eye Balloon (1)
- Bali Kuno (1)
- Bali Safari and Marine Park (BSMP) (2)
- Bali Timur (1)
- Banana Boat (1)
- Barong (1)
- Batik (1)
- Batik Bali (1)
- Batu Abah (1)
- Batu Beling (1)
- Batu Lumbung (1)
- Batubulan (1)
- Bebek Bengil (1)
- Bedugul (7)
- Belanja (4)
- Belanja Murah di Bali (2)
- Belanja Oleh-oleh (4)
- Berita (3)
- Bersepeda (1)
- Bersihkan Hati (1)
- Betutu (1)
- Bikin Tato (1)
- Brahmavihara-Arama (1)
- Bunga Citra Lestari (1)
- Bunut Bolong (1)
- Bunute (1)
- Candi Dasa (1)
- Celuk (1)
- Ceningan (1)
- cuaca bali (2)
- Cupak Grantang (1)
- Danau Batur (1)
- Danau Beratan (6)
- Danau Buyan dan Tamblingan (3)
- Desa Kamasan (2)
- Desa Taro (2)
- Desa Wisata (2)
- Directori Spa (1)
- Direktori Warung Bali (1)
- Diving (4)
- Drama Gong (2)
- Dugem (1)
- duka (1)
- Fauna Bali (4)
- Fesyen (1)
- Flora Bali (1)
- Flu Babi (3)
- Flying Fish (1)
- Garuda Wisnu Kencana (GWK) (1)
- Gempa (2)
- Gunung Agung (4)
- Gunung Batur (2)
- GWK (1)
- Hipnotis (4)
- Hotel (13)
- Hotel di Canggu (1)
- Hotel di Denpasar (1)
- Hotel di Kuta (2)
- Hotel di Sanur (1)
- Hotel Murah di Bali (8)
- hotel murah di Kuta (1)
- Hotel Murah di Legian (3)
- Hotel Murah di Petitenget (1)
- Hotel Murah di Tuban (1)
- HUT Kemerdekaan (1)
- Imlek (1)
- Industri Kreatif Bali (3)
- Info (1)
- Inspirasi Bali (1)
- Jadwal Acara Hiburan (2)
- Jadwal Pementasan Tari Bali (5)
- Jati Luwih (1)
- Jet Ski (1)
- Joged (1)
- Joged Bumbung (3)
- Jogging (1)
- Jungut Batu (1)
- Kab. Badung (21)
- Kab. Bangli (7)
- Kab. Buleleng (10)
- Kab. Gianyar (16)
- Kab. Karangasem (18)
- Kab. Klungkung (10)
- Kab. Tabanan (10)
- Kabupaten Jembrana (6)
- Kalendar Festival Tahunan (3)
- Kapal Selam (1)
- Kawasan Batur (5)
- Kawasan Nusa Penida (2)
- Kawasan Tukad Unda (1)
- Kayaking (1)
- Kebun Raya Ekakarya (1)
- Kerajinan Kayu (1)
- kerajinan keris (1)
- Kerajinan Perak (1)
- keris bali (1)
- Kerta Gosa dan Taman Gili (1)
- Kiadan (1)
- Kongco Dwipayana (1)
- Kopi Bali (1)
- Korupsi (1)
- Kota Denpasar (24)
- Kunjungan Wisata (5)
- Kuta Carnival (1)
- Lawar (2)
- Layang-layang (2)
- Le Mayeur (1)
- Lebaran di Bali (3)
- Legian (1)
- Lembongan (1)
- Lingkungan (1)
- Lovina (3)
- Luna Maya (1)
- Makanan Jepang (1)
- Makanan Khas Bali (6)
- Meami-amian (1)
- Meditasi (1)
- Melasti (1)
- Monumen Bajra Sandhi (2)
- Monumen Maya (1)
- Monumen Ngurah Rai (1)
- Monumen Puputan Badung (1)
- Monumen Puputan Klungkung (2)
- Museum (2)
- Museum Bali (5)
- Musik Bali (4)
- Musik di Bali (5)
- Nasi Jinggo (1)
- Nasi Séla (1)
- Ngaben (1)
- Ngopi di Bali (1)
- Nusa Penida (1)
- Nyepi (6)
- Ogoh-ogoh (1)
- Olahraga Air (13)
- Omed-omedan (1)
- Padang Bai (1)
- Paint Ball (1)
- Paket Wisata (2)
- Pameran (3)
- Panca Bali Krama (2)
- Pantai Amed (2)
- Pantai Balangan (1)
- Pantai Dreamland (1)
- Pantai Jimbaran (1)
- Pantai Kedonganan (1)
- Pantai Kuta (12)
- Pantai Legian (3)
- Pantai Lepang (1)
- Pantai Lovina (3)
- Pantai Medewi (1)
- Pantai Mertasari-Sanur (1)
- Pantai Nusa Dua (2)
- Pantai Padang-padang (1)
- Pantai Sanur (8)
- Pantai Seminyak (1)
- Pantai Suluban (2)
- Pantai Tanjung Benoa (6)
- Pantai Tulamben (4)
- Parade Budaya (1)
- Parasailing (1)
- Pasar Seni Sukawati dan Guwang (1)
- Pecha Kucha (1)
- Pegayaman (1)
- Pelabuhan (1)
- Pembobolan ATM (1)
- Pembuatan Garam (1)
- Pemuteran (1)
- penginapan murah (1)
- Penglipuran (1)
- Penjor (1)
- Pentas Hiburan (5)
- Pentas Seni (1)
- Penyewaan Mobil (2)
- Perairan Pulau Menjangan (1)
- Perang Pandan (1)
- Pertunjukan Tari (4)
- Pesta Kesenian Bali (14)
- Petualangan (20)
- Pia Legong (1)
- Piala Dunia (1)
- Pojok Ngopi (1)
- Pulau Menjangan (1)
- Pulau Penyu (2)
- Puncak Malibu (1)
- Puncak Mangu (1)
- Puncak Manta (1)
- Pura Beji (1)
- Pura Besakih (11)
- Pura Bukit Sari di Sangeh (1)
- Pura Candi Gunung Kawi (1)
- Pura Goa Gajah (1)
- Pura Goa Lawah (1)
- Pura Gunung Raung (1)
- Pura Lempuyang (1)
- Pura Luhur Uluwatu (1)
- Pura Mangening (1)
- Pura Meduwe Karang (1)
- Pura Penataran Sasih (1)
- Pura Ponjok Batu (1)
- Pura Purancak (1)
- Pura Pusering Jagat (1)
- Pura Rambut Siwi (1)
- Pura Samuan Tiga (1)
- Pura Taman Ayun (1)
- Pura Tirta Empul Tampaksiring (1)
- Puri Agung Karangasem (1)
- Puting Beliung (1)
- Putung (1)
- Rabies (2)
- Rafing (1)
- Rafting (2)
- Ramadhan (1)
- Rujak kuah pindang (1)
- Safari Gajah (1)
- Salak (1)
- Salsa (2)
- Sambal Matah (1)
- Sampah (1)
- Sanghyang (1)
- Sanur (4)
- Sate Lilit (1)
- Sea Walker (1)
- Seni Suara (1)
- Seputar Bali (1)
- Siwa Ratri (1)
- Snorkeling (2)
- Spa (1)
- Spiritual Event (1)
- Sri Tanjung (1)
- Srombotan (1)
- Subak (2)
- Sungai Ayung (1)
- Surfing (4)
- Taman Kupu-kupu (1)
- Taman Margarana (1)
- Taman Nasional Bali Barat (1)
- Taman Rosani (1)
- Taman Tirta Gangga (1)
- Taman Ujung (1)
- Tamblingan (1)
- Tanah Lot (1)
- Tango (1)
- Tanjung Benoa (10)
- Tari Bali (9)
- Telaga Waja (1)
- Tempat Makan Halal (10)
- Tenganan (2)
- Tip Berwisata di Kawasan Batur (1)
- Topeng Sidakarya (1)
- Toyabungkah (1)
- Toyapakeh (1)
- tragedi (1)
- tranportasi (1)
- Travel (2)
- Treckking (1)
- Trekking (1)
- Trik Liburan di Bali (3)
- Tumpek Landep (1)
- Tunadaksa (1)
- TV Lokal Bali (1)
- Uang Kepeng (1)
- Ubud (1)
- Unikum Bali (2)
- Upacara (9)
- UWRF (1)
- Valentine Day di Bali (3)
- Warung Be Sanur (1)
- Warung Italia (1)
- Waterbom (1)
- Wisata Alam (2)
- Wisata Hujan (1)
- Wisata Lidah (38)
- Wisata Lidah di Bali (22)
- Wisata Masjid (1)
- Wisata-Sosial (1)
- World’s Best Island (1)
Showing posts with label Kab. Karangasem. Show all posts
Meamian-amianan, Saat Para Dewa Beranjangsana
0 Comments | Posted by Dewa in Kab. Karangasem, Meami-amian, Upacara
Oleh: Heru Amri
Kabupaten Karangasem ternyata punya segudang tradisi unik yang masih lestari hingga saat sekarang. Selain Geret Pandan di Tenganan, Ter Teran di Jasi, masih ada tradisi unik lainnya yang cukup menarik untuk disaksikan. Di Desa Adat Asak, Kecamatan Karangasem, ada tradisi Meamian-amianan yang digelar dua tahun sekali pada Purnama Kedasa (ke-sepuluh).
Tahun ini, tradisi itu kembali digelar selama dua hari berturut-turut yakni tanggal 30- 31 maret 2010 lalu. Para warga terutama kaum lelaki berkumpul di Pura Desa Adat Asak sekitar pukul 16.00 WITA untuk bersiap mengarak jempana yaitu semacam joli yang digunakan untuk mengusung pretima (benda suci) milik desa.
Jempana tersebut kemudian digotong ke Beji Toya Ijeng yang berjarak sekitar satu kilometer dari Pura Desa. Beji adalah sumber mata air yang disucikan oleh masyarakat setempat. Di tempat itulah seluruh jempana disucikan.
Yang menarik dari prosesi ini adalah adanya aksi saling dorong-mendodong antara pengusung jempana satu dengan pengusung jempana lainnya. Hal ini berlangsung sekembalinya jempana-jempana tersebut dari beji sebelum distanakan di Bale Agung. Masyarakat setempat percaya bahwa ada kekuatan niskala (gaib) yang menggerakkan para pengusungnya untuk melakukan aksi dorong mendorong tersebut. Sumber kekuatan niskala itu terletak pada jempana yang mereka usung masing-masing. Tak jarang, kekuatan jempana-jempana tersebut menggerakkan pengusungnya untuk berlari kencang hingga berkilo-kilo meter jauhnya.
Tak diketahui secara pasti sejak kapan tradisi ini mulai berlangsung. Tokoh masyarakat Desa Adat Asak, I Nyoman Winata, pun menggelengkan kepalanya ketika ditanyai soal ini.
“Ini tradisi turun temurun yang telah dilakukan oleh leluhur kami,” ucapnya datar sembari menerangkan bahwa Meamian-amianan merupakan padanan kata dari beranjang sana dan bersuka cita. Karena itu masyarakat setempat memaknai upacara meamian-amianan ini sebagai saat beranjangsana dan bersukacitanya para dewa.
Sebelum meamian-amianan dilaksanakan, ada beberapa prosesi yang mengawali yakni melasti (25/3), tuhunan teruna atau pengukuhan pemuda secara adat (28/3), Meyaban dan Nyolahang Ida Betara (29/3) malam.
Foto: HK Amri
Oleh : Heru Amri
Peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi memiliki arti yang sangat penting bagi penduduk Muslim Karangasem, Bali. Hal itu terlihat dari masih adanya perayaan-perayaan terhadap hari sekalipun bulan Rabiul Awal jelang berakhir dan segera akan digantikan oleh bulan Rabiul Akhir.
Di Kampung Gerembeng Atas, misalnya. Minggu (7/3) lalu, perayaan Maulud Nabi dilaksanakan dengan tradisi Ngurisang, yaitu menguris rambut puluhan bayi di kampung setempat. Prosesi pemotongan rambut bayi tersebut diiringi dengan pembacaan Shalawat. Sepintas, tradisi ini menunjukan adanya akulturasi Hindu dan Islam. Karena dalam pelaksanaannya banyak mempergunakan sarana kembang dan air.
Tradisi ini sendiri terbagi dalam tiga tahapan. Setelah pemotongan rambut bayi, tradisi ini kemudian dilanjutkan dengan Mejurag. Kata mejurag sendiri berasal dari Bahasa Bali yang berarti berebut. Memang dalam Mejurag yang dilakukan di halaman masjid ini dilakukan pelemparan uang koin bercampur kembang yang kemudian direbut oleh ratusan anak-anak. Uang koin yang dilemparkan tersebut adalah pecahan Rp 500 dan Rp 1.000.
Setelah Mejurag, acara disusul dengan upacara Nginjak Gumi. Pada tahapan ini, bayi yang telah dipotong rambutnya dimandikan dengan air kembang. Lalu, oleh orang tuanya sang bayi dituntun untuk menginjakan kakinya ke atas sejumlah sarana yang ditempatkan di atas tanah.
"Kalau Ngurisang bermakna pembersihan. Sedangkan Nginjak Bumi bermakna doa agar kelak si anak mampu mandiri menjalani kehidupannya dengan serba kecukupan," ujar Rohani, seorang ibu yang bayinya mengikuti proses tersebut.
Setelah ketiga acara utama tersebut usai, perayaan dilengkapi dengan pemotongan nasi Kebuli. Nasi berbahan beras ketan ini dicampur dengan ayam suwir dan lawar kelapa. Campuran tersebut kemudian dibentuk menjadi tumpengan besar.
Dan, seperti perayaan Maulid yang biasa ditemukan di Bali, pembagian nasi Kebuli ini disertai dengan pembagian telur hias kepada para undangan yang hadir. Sementara para anak-anak kemudian melanjutkan kegiatan dengan mengikuti panjat pinang.
Sejarah Islam di Karangasem
Menurut catatan sejarah, masuknya Islam ke Karangasem yang merupakan masa-masa awal masuknya Islam ke Bali. Itu bermula saat Raja Karangasem, Anak Agung Ketut Karangasem, menyerang Pulau Lombok sekitar tahun 1690. Dalam penyerangan tersebut, Raja Karangasem berhasil menaklukkan kerajaan Pejanggik dan menguasai sebagian wilayah Kerajaan Mataram atas jasa Pangeran Dadu Ratu Mas Pakel, putra Raja Mataram. Sebagai tanda jasa Pangeran Dadu Ratu Mas Pakel beserta pengikutnya yang beragama Islam diberi tempat terhormat di Karangasem. Ketika meninggal, jasad Sang Pangeran dimakamkan di Istana Taman Ujung. Komunitas inilah yang menjadi cikal-bakal kampung-kampung Islam di wilayah Karangasem.
Beberapa dekade kemudian, datang Sunan Mas Prapen (cucu Sunan Giri) mendirikan Masjid Ampel, sekitar 500 meter dari Puri Karangasem. Masjid tersebut dibangun di atas tanah seluas 4.500 meter persegi pemberian Raja Karangasem. Arsitektur Masjid Ampel Karangasem serupa dengan Masjid Ampel, Gresik Jawa Timur yang memiliki empat pilar sebagai soko guru yang menopang atap bersusun dua. Pada sisi-sisi masjid terdapat tiga pintu masuk terbuat dari kayu. Di dalam masjid terdapat 12 pila-pilar pendukung pilar utama tadi. (chairul/abe/jjb)
Lihat juga:
Wisata Masjid di Bali
Pondok Mina, Jagoan Gurame di Utara Amlapura
0 Comments | Posted by Dewa in Kab. Karangasem, Wisata Lidah, Wisata Lidah di Bali

Oleh: Maria Ekaristi & Agung Bawantara
Jika melancong ke kawasan Tulamben atau Amed, dua pantai indah di sisi timur pulau Bali, tempat makan enak yang bisa kamu singgahi adalah Pondok Mina. Rumah makan nyaman milik I Wayan Darmika ini menyajikan menu unggulan aneka olahan ikan Gurame. Ada yang digoreng, dipepes, dipanggang, atau yang dibumbu asam manis. Semuanya dihidangkan dalam satu paket berisi nasi putih, plecing kangkung dan lalapan. Harga per paket hanya Rp 35 ribu saja.
Kelebihan hidangan di rumah makan ini adalah semua bumbu hidangan diolah pada saat pesanan datang, bukan dibuat pada hari sebelumnya. Jadi, makanan yang tersaji terasa enak dan segar. Dan, sejak pukul 07 pagi hingga pukul 09.30 malam, tamu-tamu yang datang akan dilayani dengan oleh 12 pramusaji yang ramah .
Untuk mempercepat persiapan, sebaiknya pemesanan dilakukan sebelumnya via telepon. Dengan demikian, begitu kamu tiba di rumah makan yang berlokasi di dekat obyek wisata Tirtagangga itu, pesananmu sudah siap terhidang. Sebagai bayangan,untuk mempersiapkan menu paket Gurame pepes, juru masak rumah makan ini membutuhkan waktu sedikitnya 25 menit.
Karena ramai dikunjungi baik oleh pelancong dan pelanggan dari berbagai kalangan, setiap harinya warung makan ini menghabiskan rata-rata 80 ekor Gurame dengan berat per ekor 600 gram.
Meski terkenal dengan menu Guramenya, tempat makan dengan motto “unique for you” ini juga menyediakan menu lain bagi mereka yang lagi tak ingin menyantap Gurame. Menu-menu tersebut antara lain ayam goreng, ayam goreng asam manis, cap cay, dan nasi goreng.
Alamat lengkap rumah makan ini adalah Jl. Untung Surapati, Padangkerta, Amlapura, telepon (0363) 23154 atau 0812 397 6834.
Nasi Séla Karangasem
0 Comments | Posted by Dewa in Kab. Karangasem, Nasi Séla, Wisata Lidah, Wisata Lidah di Bali
Nasi séla adalah campuran nasi putih dan cacahan ubi berukuran kecil. Nasi jenis ini, populer di Bali pada tahun –tahun sebelum 1970-an. Itu karena pada saat tersebut beras sangat langka di Bali sehingga harus dicamput dengan ubi, gaplek atau bahan makanan lainnya untuk menambah volume. Sekarang, makanan jenis ini menjadi kelangenan yang asyik. Apalagi beberapa warung di Bali kini menyajikannya dengan pasangan yang serasi, seperti yang disuguhkan di stand kuliner Kabupaten Karangasem di arena Pesta Kesenian Bali (PKB) 2009. Di stan ini, nasi séla yang mulanya merupakan makanan “pertahanan di masa krisis”, menjadi hidangan yang begitu memanjakan selera.
Nasi séla di stan Karangasem yang diawaki oleh Nengah Sekerti (52 tahun) disuguhkan dengan lauk ayam betutu, urab sayur kacang panjang berisi timun dan kacang merah, pindang tongkol, pesan celengis, sambel matah, sambal teri, dan sate kulit ayam. Semuanya diolah dengan bumbu khas Bali yang didominasi rasa terasi dan bebungkilan (kencur, laos, kunyit, jahe, bawang putih).
Dalam racikan Sukerti, rasa bumbu yang menyatu dengan sayur, ikan dan daging membuat rasa ubi yang tercampur dalam nasi luluh. Andaikata tak tahu bahwa ada ubi di dalamnya, kamu pasti akan menyangka nasi yang kamu makan tersebut adalah nasi dari beras tulen!
Di luar ajang PKB, Sukerti biasanya membuka warung makan di jalan Ngurah Rai, Amlapura. Persis di depan RSU Karangasem. Namanya, “Warung Mek Luh”. Selain nasi séla, di warung ini kamu dapat menemukan makanan khas Bali lainnya seperti Ayam Betutu dan Tipat Blayag.
Harga seporsi nasi séla di “Warung Mek Luh” Rp 10 ribu. Murah, kan?
Menurut penelitian The Nature Conservancy tahun 2008, Pantai Amed merupakan satu di antara sedikit pantai yang kondisi terumbu karangnya masih baik. Terjaganya terumbu karang di perairan yang pantainya berpasir hitam ini, menjadi tempat yang menyenangkan bagi berbagai jenis ikan. Puluhan spesies ikan cantik hidup di gugusan karang yang menawan itu. Jenis-jenis ikan tersebut antara lain ikan Cardinal, ikan Trigger, Black Snaper, Pyramid Butterrflies, ikan Banner, dan ikan Damselfish. Yang menarik lagi, kehangatan air di pantai ini tidak berubah-ubah. Suhunya, entah siang maupun malam, tetap pada kisaran 28 derajat celcius.
Pantai Amed terletak di sisi timur Pulau Bali. Pantai ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Karangasem. Dari kota Amlapura, jarak pantai ini sekitar 22 kilometer yang bisa kamu tempuh selama 30 menit. Jika kamu berangkat dari Kuta, kamu harus menempuh jarak sejauh kurang-lebih 95 kilometer atau sekitar dua jam perjalanan dengan mobil.
Begitu menyelam, biasanya kamu enggan untuk beranjak apalagi pergi meninggalkan pantai yang indah dan tenang itu. Karena itu kamu harus menyiapkan diri untuk menginap. Kamu bisa memilih satu dari sekian banyak penginapan yang terdapat di kawasan itu. Mau yang hotel melati atau hotel berbintang, semua tersedia.
Untuk urusan lidah dan perut, tersedia cukup banyak warung makan yang menjual makanan kecil dan nasi campur. Ada juga beberapa restoran yang cukup besar dengan menu Indonesia yang lezat.
Perang Tanpa Benci di Bulan Juni
0 Comments | Posted by Dewa in Kab. Karangasem, Perang Pandan, Tenganan
Hampir seluruh perang di muka bumi ini dilakukan dengan semangat bermusuhan. Sorot mata orang-orang yang terlibat dalam perang selalu menyiratkan dendam dan kebencian terhadap kelompok yang dihadapinya. Hanya di desa Tenganan di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, terjadi perang yang dilakukan dengan wajah ceria di antara orang-orang yang saling berhadapan. Meski kulit tubuh mereka robek dan berdarah oleh lawan, mereka tetap tersenyum kepadanya.
Perang macam apa itu? Itulah tradisi Perang Pandan yang dalam bahasa setempat disebut Mekare-kare. Perang ini adalah atraksi khas masyarakat Tenganan, sebuah desa yang terletak di belahan timur Pulau Bali, sekitar 75 kilometer dari Kuta. Setiap tahun, tradisi perang pandan ini dilakukan selama dua hari, biasanya pada pertengahan bulan Juni.
Perang ini dilakukan oleh para pemuda Tenganan. Saat perang mereka mengenakan kain adat Tenganan dan bertelanjang dada. Senjata mereka adalah seikat daun pandan berduri dan sebuah perisai dari anyaman rotan untuk melindungi diri. Bagi masyarakat Tenganan yang dikenal sebagai masyarakat Bali Aga (Bali Asli), perang pandan bukanlah atraksi untuk mencari kalah-menang, melainkan merupakan bagian dari ritual pemujaan kepada Dewa Indra yang dipuja sebagai dewa perang. Sebelum perang digelar, acara diawali dengan dengan ritual upacara mengelilingi desa untuk memohon keselamatan. Setelah perang usai, acara ditutup dengan persembahyangan di Pura setempat dilengkapi dengan menghaturkan tarian sakral yang disebut Rejang. Jadi, laga yang dilakukan hingga saling menggucurkan darah itu adalah bentuk penghormatan bagi Sang Dewa.
Pemujaan terhadap Dewa Indra ini bermula dari kepercayaan masyarakat bahwa berabad-abad silam wilayah Tenganan dicengkram oleh seorang penguasa yang kejam dan lalim bernama Maya Denawa. Raja bengis tersebut tidak hanya memperlakukan rakyat secara semena-mena, bahkan menjadikan dirinya sebagai Tuhan. Ia memerintahkan begundalnya untuk membunuhi siapa pun yang berani melakukan ritual keagamaan.
Menyaksikan perilaku Maya Denawa itu, para dewa di surga pun murka. Selanjutnya mereka mengutus Dewa Indra untuk memimpin pertempuran melawan si raja lalim. Melalui pertempuran sengit, Maya Denawa dapat dilumpuhkan dan Dewa Indra lalu tampil sebagai penggantinya.
Jika ingin melihat dari dekat bagaimana perang pandan berlangsung, bersiaplah untuk hadir di Tenganan pada pertengahan bulan Juni mendatang.
Pantai yang sangat cantik ini letaknya sekitar 125 kilometer di timur laut Denpasar. Dari Kuta, pantai yang termasuk wilayah kabupaten Karangasem ini bisa dijangkau dalam waktu sekitar tiga jam. Tidak seperti Kuta, di pantai yang terletak di sisi timur pulau Bali itu kamu tidak bisa berjemur atau bermain bola di atas pasir. Soalnya, pantainya tidak berpasir tapi berbatu.
Keistimewaan pantai Tulamben memang bukan pantainya tapi pemandangan bawah lautnya. Di perairan pantai ini selain beraneka jenis terumbu karang dan ikan hias warna-warni yang jinak, juga terdapat bangkai kapal Liberty milik angkatan perang Amerika Serikat yang tenggelam terkena torpedo Jepang pada perang tahun 1942. Kapal tersebut kini menjadi rumpon (tempat berkumpul) beberapa jenis kehidupan di dasar laut Tulamben. Di dasar laut, posisi bangkai kapal sepanjang 50 meter itu terbujur dengan kemiringan 45 derajat, tampak seperti sebuah benda antik yang sengaja dipajang untuk para pecinta diving. Lokasinya nggak terlalu dalam, kok. Hanya sekitar sepuluh meter di bawah permukaan air.
Selain “pajangan” bersejarah itu, kamu juga menikmati terumbu karang yang sangat indah di tebing dasar laut yang memiliki kemiringan nyaris 90 derajat. Untuk mencapai daerah tersebut, kamu harus muncul ke permukaan terlebih dahulu, lalu dengan perahu bermotor kamu akan diantarkan menuju tebing curam di bawah laut yang dinamai drop of point itu.
Di pantai Tulamben, kamu dapat menikmati pemandangan indah gunung Agung yang menjulang dengan anggun. Penggemar trekking dan hiking dapat memulai pendaki dari kawasan ini. Di sepanjang perjalanan menuju gunung Agung itu kamu akan dapat menikmati pemandangan kawasan timur Bali dan onggokan pulau Lombok di seberang selat.
Akomodasi dan Fasilitas Lain
Di Pantai Tulamben, sudah terdapat banyak hotel dan resort, dari yang dengan tarif sewa murah sampai yang mahal. Kamar penginapan yang ber AC harganya sekitar Rp250 ribu - Rp300 ribu per malam. Yang hanya menggunkan kipas, Rp 70 ribu per malam.
Restoran-restoran juga banyak terdapat di pantai ini. Hampir semuanya menghadap ke laut, seolah sengaja menyuguhkan pemandangan alam yang indah dan romantis. Dengan hidangan menu hasil laut, rata-rata harga makanan di restoran-restoran tersebut terbilang cukup murah.
Diving
Kawasan Tulamben memiliki tujuh dive site yang tersebar di sepanjang pantainya. Tempat menyelam tersebut berjarak sekitar 50 – 200 meter dari garis pantai. Ombak yang relatif kecil memungkinkan untuk melakukan penyelaman dengan entry dari pantai di beberapa dive spot-nya.
Untuk menyelam, kamu tak harus membawa peralatan diving sendiri. Kamu bisa menyewanya di sini dengan tarif sewa yang lumayan murah. Hanya dengan Rp 250 ribu per jam kamu sudah dapat menyewa peralatan selam yang lengkap (swimsuit, sepatu selam, pemberat, tabung oksigen, masker, mouth piece dan regulator) serta sewa boat. Jika ingin berpose di bawah air, kamu dapat menyewa kamera bawah air seharga Rp 150 ribu per jam.
Akses
Jalan menuju pantai Tulamben sangat bagus dan mulus. Untuk menuju ke sana, kamu dapat menggunakan kendaraan angkutan wisata, sepeda motor atau membawa mobil sendiri.
Kalau kamu menumpang angkutan umum, kamu harus berganti angkutan beberapa kali. Dari kuta naik mini bus sampai di terminal Tegal, kemudian berganti angkutan hingga di Batubulan. Dari Batubulan naik bus atau minibus ke Karangasem. Dari Karangasem, kamu berganti kendaraan lagi. Kali ini dengan angkutan pedesaan menuju Tulamben. Karena penumpang angkutan umum sangat jarang di Bali, ada kemungkinan kamu akan ditawari untuk mencarter kendaraan. Pandai-pandailah menawar. Jika beruntung, kamu justru mendapat harga yang sangat ekonomis.
Tiket
Gratis!
Taman Ujung terletak dekat pantai kawasan Ujung, sekitar lima kilometer di selatan kota Amlapura. Dari Kuta kira-kira 95 kilometer jauhnya. Obyek ini mudah dicapai dengan kendaraan apa pun.
Taman Ujung mulai dibangun pada tahun 1919 dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1921. Taman ini dibangun oleh raja Karangsem yang digunakan sebagai tempat peristirahatan atau untuk menjamu tamu-tamu penting seperti raja-raja atau Kepala Pemerintahan Negara Asing yang berkunjung ke kerajaan Karangasem. Di taman ini terdapat tiga buah kolam besar dan luas, di tengah kolam paling utara terdapat bangunan utama yang dihubungkan oleh dua buah jembatan. Di sebelah kolam terdapat taman dan pot bunga serta patung-patung. Bentuk bangunan sangat megah dan khas karena perpaduan antara arsitektur Eropa dan Bali.
Di sebelah Barat kolam di tempat yang agak tinggi terdapat sebuah bangunan yang berbentuk bundar disebut "Bale Bengong" tempat untuk menikmati keindahan taman dan sekitarnya. Untuk mencapai puncak perbukitan sebelah Barat Taman dibuat undak-undakan yang tinggi dan lebar. Di sebelah Utara taman di atas bukit terdapat patung Warak yang besar di bawahnya patung banteng dan dari mulut kedua patung ini air memancur keluar menuju kolam. Dari puncak bukit ini kita dapat menyaksikan pemandangan alam yang betul-betul indah dan mengagumkan. Jauh di sebelah Timur Laut terlihat bukit Bisbis yang hutannya subur menghijau, di arah Selatan terlihat laut luas membentang dan di sekitar taman terlihat petak-petak sawah menghijau perpaduan alam pegunungan dan alam laut inilah yang merupakan daya tarik taman ini bagi para wisatawan.
Dua bencana alam yakni Gunung Agung yang meletus tahun 1963 dan gempa dahsyat pada tahun 1979merontokkan bangunan megah ini. Meskipun begitu, kesan megah di masa lalu masih terasa hingga kini.
Taman Tirta Gangga merupakan satu kompleks pertamanan yang amat indah. Keberadaannya menyerminkan pola budaya keraton dan masyarakat yang memaknai air sebagai sesuatu yang amat penting bagi kehidupan. Hal itu diperkuat dari namanya. Dalam bahasa Bali berarti air, dan gangga berarti sungai Gangga, sungai yang terdapat di India dan dianggap suci oleh umat Hindu di seluruh dunia.
Dalam komplek Taman Tirta Gangga terdapat tempat suci, mata air, bangunan pelindung mata air, menara air, aneka ragam bentuk kolam besar dan kecil, pancuran, kolam ikan hias, aneka tanaman dan bunga-bungaan.
Taman Tirta Gangga merupakan warisan taman dan arsitektur mendiang Raja Karangasem yang terakhir, Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem kepada kesepuluh putra laki-laki beliau. Tamn tersebut menjadi milik bersama yang kemudian sejak tahun 1981 pengelolaannya diserahkan kepada Dr. Anak Agung Made Djelantik.
Lokasi
Di pinggir jalan raya jurusan Amlapura. Lokasi obyek wisata ini berada pada satu jaringan obyek yang berdekatan dengan Puri Karangasem, Taman Ujung Karangasem, sekitar 83 kilometer ke arah timur kota Denpasar. Atau sekitar 2,5 jam perjalanan dengan kendaraan bermotor dari Kuta.
Fasilitas
Di sekitar obyek wisata Taman Tirta Gangga telah tersedia berbagai fasilitas bagi para pengunjung dan wisatawan seperti tempat parkir, penginapan, restoran, dan berbagai warung kecil. Di dalam komplek taman tersedia kolam renang untuk dewasa dan anak-anak.
Pada masa kini taman ini, berfungsi secara religius, sosial dan hiburan. Pertama, mata air itu memberikan air suci bagi masyarakat sekitarnya untuk upacara agama. Kedua, sebagai tempat untuk upacara dewa yadnya dan metirtayatra. Ketiga, sebagai tempat hiburan dan rekreasi bagi masyarakat dan wisatawan.
Telaga Waja adalah sebuah sungai yang berhulu di kaki gunung Agung. Alurnya yang berkelok dan penuh jeram membuat sungai ini cocok sebagai wahana untuk melakukan olahraga-olahraga petualangan, rafting, misalnya.
Rafting di sungai Telaga Waja menawarkan gairah petualanganmu sejak pertama kali kamu mengayuhkan dayung. Arus sungai akan membawa kamu menelusuri suasana alam yang eksotik. Kamu akan melewati hutan tropis yang masih liar, pure nature, tumbuhan gantung, dan tanaman merambat. Sungguh pemandangan yang menantang naluri bertualang semua orang.
Air sungai telaga Waja sangat jernih. Alirannya sangat deras di jeram-jeram yang banyak jumlahnya. Di tambah lagi air terjun yang menjulang, membuat sungai ini benar-benar menjadi lintasan rafting yang mengasyikkan.
Biaya
Untuk bisa menikmati petualangan di Sungai telaga Waja ini kamu harus mengeluarkan ongkos sebesar paket ini biasanya ditawarkan untuk domestik Rp 350 ribu per orang. Itu sudah termasuk jamuan makan siang internasional buffet di tempat yang memiliki view yang sangat menarik .
Putung merupakan obyek wisata yang terletak di desa Duda Timur. Jaraknya sekitar atau 19 kilometer dari kota Amlapura atau 64 kilometer dari kota Denpasar. Tempat wisata ini sangat mudah dicapai dengan mobil. Daya tarik utama dari obyek wisata ini ialah keindahan panoramanya yang indah yaitu perpaduan antara alam pegunungan dan alam laut.
Pemandangan sekitarnya emperlihatkan ladang-ladang bertingkat, gugusan bukit dengan hutannya yang lebat, petak-petak sawah yang tertata di wilayah Buitan, serta Labuhan Amuk dengan lautannya yang membentang luas membiru. Dari Putung, pulau Nusa Penida sangat jelas kelihatan. Keindahan wisata Putung menjadi makin terkenal berkat lukisan Mr. Christiano pelukis Italia yang beristrikan perempuan asal desa Manggis, Karangasem.
Pura Lempuyang terletak belahan timur pulau Bali, bertengger di puncak bukit Gamongan, 22 kilometer dari Amlapura, ibu kota Kabupaten Karangasem. Amlapura sendiri berada sekitar 95 kilometer jauhnya dari Kuta. Pura ini diduga termasuk paling tua di Bali. Bahkan, diperkirakan sudah ada pada zaman pra-Hindu-Buddha yang semula bangunan suci yang terbuat dari batu.
Dalam konsep Dewata Nawa Sanga (Sembilan Dewata yang menguasai sembilan mata angin), pura ini merupakan sthana Dewa Iswara. Pura ini dibagi menjadi tiga mandala dari bawah ke atas yakni Lempuyang Sor, Lempuyang Madya dan Lempuyang Luhur. Dari ketiganya, pura Lempuyang Luhur berada pada posisi yang tertinggi.
Berdasarkan lontar Markandeya Purana, Pura Lempuyang didirikan oleh Rsi Markandeya sekitar abad ke-8 M. Pada saat itu Rsi Markandeya membuat sebuah pesantrian untuk keperluan persembahyangan sekaligus membabarkan ajaran Hindu. Pesantrian tersebut diperkirakan berada pada lokasi Pura Lempuyang Madya saat ini, di mana di sini beliau dikenal sebagai Bhatara Gnijaya.
Hingga saat ini masih sangat sulit untuk mengungkapkan sejarah Pura Lempuyang secara jelas. Soalnya data-data yang kuat sukar didapatkan. Sejauh ini baru diperoleh data-data mengenai Pura Lempuyang Luhur. Itu pun sifatnya tidak langsung. Dari sumber-sumber tersebut, ada dua hal yang sama-sama disebutkan yaitu Gunung Lempuyang dan Sang Hyang Gnijaya. Di dalam bahsa Jawa kata Lempuyang berarti gamongan gunung Lempuyang berarti gunung gamongan atau bukit gamongan sebagaimana disebutkan dalam sumber lainnya lagi yakni lontar Kusuma Dewa. Yang pasti, berbagai sumber kuno menyebutkan bahwa pura Lempuyang merupakan satu dari tiga pura besar selain pura Besakih dan Pura Ulun Danu Batur.
Ada sejumlah pantangan memasuki pura ini. Pantangan yang jika dilanggar bisa berakibat buruk. Pantangan tersebut adalah berkata kasar saat dalam perjalanan menuju pura Lempuyang Luhur. Jadi, jika hendak ke sana, sejak awal pikiran, perkataan dan perbuatan harus disucikan.
Selain itu, perempuan yang sedang menstruasi, menyusui, anak yang belum tanggal gigi susu belum diperbolehkan masuk ke dalam pura apalagi bersembahyang di sana. Juga, umat yang hendak bersembahyang tidak diperkenankan membawa perhiasan emas dan membawa daging babi ke areal Pura Lempuyang Luhur.
Satu yang menarik dan merupakan keistimewaan Pura Lempuyang Luhur adalah di tengah pura tersebut terdapat serumpun bambu jenis kecil. Setelah bersembahyang, batang pohon bambu itu dipotong oleh Pemangku untuk mendapatkan air suci yang disebut dengan tirtha pingit.
Puri Agung Karangasem dibangun pada abad ke-19 oleh Anak Agung Gede Jelantik, raja pertama Kerajaan Karangasem. Puri ini memiliki arsitektur yang unik. Ia merupakan kombinasi antara arsitektur Bali, Cina, dan Eropa.
Arsitektur Bali dapat ditemukan pada pahatan patung-patung Hindu dan relief pada dinding puri. Pengaruh Eropa terlihat pada gaya gedung utama dengan beranda yang besar, sementara arsitektur Cina tampak pada gaya jendela, pintu, dan ornamen yang lain.
Puri Agung Karangasem terdiri atas tiga bagian, yakni Bencingah, Jaba Tengah, dan maskerdam. Bencingah merupakan bagian depan dari Puri, dimana kesenian tradisional sering dipentaskan. Jaba Tengah adalah halaman tengah yang menjadi kolam dan kebun puri. Di tengah kolam terdapat sebuah bangunan yang disebut Balai Gili atau gedung mengambang, di sini kita bisa menemukan dua pohon leci tua.
Bagian ketiga adalah Maskerdam, namanya mengingatkan pada kota Amsterdam, sebuah kota di Belanda. Bangunan memang ini dibangun pada awal Raja Karangasem memulai hubungan dengan Pemerintah Belanda.
Akses
Puri Karangasem terletak di Amlapura, sekitar 88 kilometer dari Kuta. Tidak sulit mencari tempat ini.
Pura Besakih adalah sebuah komplek pura yang terdiri dari 18 pura dan sebuah pura utama. Kompleks Pura yang merupakan pusat kegiatan dari seluruh pura yang ada di Bali, sekitar 70 kilometer dari kota Denpasar. Kompleks pura ini membentang di areal seluas tiga kilometer persegi menghadap ke arah barat laut. Hampir seluruh pengunjung kehilangan orientasi arah di sini. Biasanya mereka mengira kompleks Pura Besakih ini menghadap ke arah selatan.
Pura Besakih didirikan oleh Rsi Markandeya, seorang Brahmana yang pertama kali menyebarkan ajaran Hindu di Bali. Saat itu, mula-mula Rsi Markandeya bertapa di gunung Hyang (konon gunung Hyang adalah gunung Dieng yang berasal dari kata Di Hyang). Dalam semedinya, ia mendapat pawisik berupa perintah agar beliau merabas hutan di ujung timur pulau Dawa (Jawa). Saat itu pulau Jawa dan Bali masih merupakan satu daratan yang belum dipisahkan oleh laut.
Berdasarkan bisikan gaib tersebut, Rsi Markandeya berangkat ke arah timur bersama para pengiring-pengiringnya kurang lebih sejumlah 8000 orang. Setiba di tempat yang dituju ia memerintahkan semua pengiringnya merabas hutan belantara. Namun banyak pengiring yang sakit dan mati.
Perabasan hutan pun dihentikan dan Rsi Markandeya bermeditasi di gunung Raung, Jawa Timur, untuk merenungkan kegagalan ini. Setelah sekian lama, Rsi Markandeya mencari hari baik untuk melanjutkan kembali pembukaan daerah baru di ujung timur pulau Dawa. Kali ini pengiringnya berjumlah 4000 orang.
Begitu tiba di tempat yang dituju, sebelum melakukan pekerjaan, Rsi Markandeya bersemedi dan menggelar upacara. Rsi Markandeya memendam sebuah kendi berisi pancadatu (lima jenis logam) yakni emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai mirah adi (permata utama), air dan sesajen. Pendaman itu kemudian diperciki tirta (air suci). Oleh beliau, tempat di mana sarana-sarana itu ditanam diberi nama Basuki yang berarti selamat. Setelah itu, perabasan hutan tak menemui hambatan yang berarti. Lahan terbuka yang mereka hasilkan kemudian dibagi-bagikan kepada para pengikut untuk dijadikan sawah, tegal dan perumahan. Dan, wilayah itu kemudian dinamakan dengan desa Basuki yang kini dikenal dengan Besakih.
1. Pura Pesimpangan
Pura terletak di sebelah timur jalan utama, di tempat yang agak terpencil. Pura ini merupakan tempat persinggahan saat kembali dari melelasti (upacara penyucian) di pantai Kelotok, Klungkung.
2. Pura Dalem Puri
Pura ini terletak di ujung paling selatan dari kompleks pura Besakih. Untuk mencapainya, dari jalan raya kamu harus berjalan kaki kira-kira 300 meter ke utara dan kemudian membelok ke barat di sebuah tempat yang agak terpencil. Pura ini adalah tempat pemujaan Bhatari Durga (dewi kematian). Di sekitar Pura Dalem Puri terdapat suatu tanah lapang yang agak luas yang dinamai Tegal Penangsaran.
3. Pura Manik Mas
Pura ini merupakan tempat pemujaan Dewi Pertiwi. Di tempat ini terlebih dahulu umat Hindu bersembahyang untuk menyucikan jasmani dan rohani sebelum bersembahyang di Pura Penataran Agung. Menurut cerita, di masa lalu para Raja ke Pura Besakih dengan menunggang kuda. Di sebelah selatan Pura Manik Mas mereka turun dari kuda, bersembahyang di pura tersebut, lalu melanjutkan perjalanan ke Pura Penataran Agung dengan berjalan kaki.
4. Pura Bangun Sakti
Pura ini adalah tempat pemujaan Triantabhoga (Hyang Naga Basukih, Hyang Naga Sesa dan Hyang NagaTaksaka) yang merupakan symbol pelindung bumi dan seisinya.
5. Pura Ulun Kulkul
Pura Ulun Kulkul adalah tempat pemujaan Hyang Mahadewa. Sebuah kulkul (kentongan) besar terdapat di pura ini dan dipandang sebagai kulkul yang paling utama dan mulia dari pada semua kulkul yang ada di Bali. Hingga saat ini, masyarakat desa-desa di seluruh Bali masih menggunakan kulkul sebagai alat komunikasi untuk mengumpulkan warganya. Nah, setiap banjar (semacam RT) yang membuat kulkul baru, selalu memohon air suci di pura ini untuk memerciki kulkul tersebut agar memiliki inner power sehingga ‘panggilannya’ ditaati oleh masyarakat.
6. Pura Merajan Selonding
Di sebelah utara Pura Ulun Kulkul terdapat Pura Merajan Selonding. Dulu pura ini adalah pura keluarga raja Dalem Kesari Warmadewa yang diperkirakan pernah punya istana di Besakih bernama Bumi Kuripan. Lontar Raja Purana Besakih dan seperangkat gamelan kuno Selonding disimpan di pura ini. selonding adalah cikal bakal musik Bali.
7. Pura Goa
Di utara Pura Manik Mas, sebelah timur jalan raya terdapat Pura Gua tempat Hyang Naga Basuki diistanakan. Di sebelah timur Pura ini terdapat sebuah sungai dan pada tebingnya ada sebuah gua besar. Tapi sekarang gua tersebut sudah tertimbun runtuhan tanah longsor. Menurut ceritera, gua itu tembus sampai ke pura Gua Lawah yang terdapat di pesisir pantai timut Kabupaten Klungkung.
8. Pura Banua
Pura Banua terletak di sebelah timur jalan raya yaitu di timur areal parkir kendaraan. Pura ini adalah tempat pemujaan Dewi Sri, penguasa kemakmuran dalam bentuk hasil alam.
9. Pura Merajan Kanginan
Letaknya di sebelah timur Pura Banua. Pura ini merupakan tempat pemujaan Bhatara Rambut Sedana, penguasa kemakmuran dalam wujud harta-benda.
10. Pura Hyang Galuh (Jenggala)
Di pura ini terdapat beberapa patung batu kuno menyerupai seorang resi, garuda dan lainnya yang sakral. Banyak sekali kepercayaan menyangkut pura ini. Ada yang mengatakan sebagai stana Hyang Prajapati, ada yang mengatakan sebagai bekas pertapaan Dyah Kulputih, ada yang mengatakan pemujaan Dewa Melanting (penguasa pasar).
11. Pura Basukihan
Di Pura inilah Rsi Markandeya memendam pancadatu (lima jenis logam) dan sesajen saat pertama kali membuka lahan di lambung gunung agung itu. Pura ini adalah satu dari tiga pura yang menjadi induk pura kahyangan tiga yang tersebar di seluruh desa di Bali. Dua pura lainnya adalah Pura Penataran Agung dan Pura Dalem Puri.
12. Pura Penataran Agung
Inilah pura utama dari kompleks Pura Besakih. Di pura ini terdapat Padmatiga yaitu sarana pemujaan Tuhan dalam wujud Sang Hyang Tri Purusa yaitu jiwa agung alam semesta. Purusa artinya jiwa atau hidup. Tuhan sebagai jiwa dari Bhur Loka (alam bawah) disebut Siwa, sebagai jiwa Bhuwah Loka (alam tengah) disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa dari Swah Loka (alam atas) disebut Parama Siwa.
Untuk masuk ke pura ini kamu harus melewati sebuah gapura besar dengan lebih dari seratus undak anak tangga. Gapura ini menghadap ke arah barat laut, persis berhadap-hadapan dengan gapura Pura Uluwatu yang terdapat di ujung barat daya Pulau Bali, yang juga dibangun oleh Rsi Markandeya.
Menurut lontar Raja Purana Besakih, pura Penataran Agung Besakih adalah tempat berkumpulnya seluruh dewa-dewa.
13. Pura Batu Madeg
Untuk sampai ke pura ini kamu harus berjalan kaki ke arah barat daya. Pura ini adalah tempat pemujaan khusus Dewa Wisnu, manisfestasi Tuhan sebagai pelindung alam semesta. Di pura inilah masyarakat memohon keselamatan bila hendak membuat bendungan besar dan memohon agar sawah mereka selalu subur.
Semua atribut bangunan di pura ini berwarna hitam. Karena letaknya agak tersembunyi dari jalan utama, nggak banyak wisatawan mengunjungi pura besar ini.
14. Pura Batu Kiduling Kreteg
Letaknya di sebelah selatan Pura Penataran Agung, melewati jalan setapak dan menyeberangi sebuah sungai kering. Pura ini tempat pemujaan khusus Dewa Brahma, manisfestasi Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Semua atribut bangunan di pura ini berwarna merah.
Hampir serupa dengan Pura Batu madeg, karena letak pura ini agak jauh dari jalan utama, nggak banyak wisatawan mengunjungi pura besar ini.
15. Pura Gelap
untuk mencapai pura ini kamu harus menapaki jalan menanjak di sebelah Pura Penataran Agung. Pura ini adalah tempat pemujaan Dewa Iswara, pemberi kedamaian pikiran dan kesejahteraan hidup. Semua atribut bangunan di pura ini berwarna putih.
Karena menanjak cukup jauh, kebanyakan wisatawan mengurungkan niatnya mengunjungi pura besar ini.
16. Pura Pengubengan
Inilah pura yang lokasinya terletak di areal yang tertinggi. Untuk mencapai pura ini kamu harus bejalan kaki selama sekitar 30 menit langkah normal. Pura ini diyakini sebagai tempat pertemuan para dewa sebelum berkumpul di Pura Penataran Agung saat diselenggarakan upacara-upacara besar.
Masyarakat Hindu yang berniat mempersembahkan sesajen ke puncak gunung Agung namun tidak sanggup mendaki, menghaturkan persembahannya melalui Pura Pengubengan ini. Karena ketinggian lokasinya, dari pura ini pemandangan alam Bali tampak sangat indah. Meski begitu, tak banyak wisatawan yang memiliki waktu untuk mengunjungi pura ini.
17. Pura Batu Tirtha
Letaknya berdekatan dengan Pura Pengubengan, sekitar -kira 10 menit perjalanan normal. Di pura ini terdapat sumber air suci yang dipergunakan pada upacara-upacara besar di Pura Besakih ataupun di pura-pura desa di seluruh Bali
18. Pura Batu Peninjoan
Pura ini berdekatan dengan Pura Batu Madeg. Untuk mencapainya kamu harus berjalan melalui jalan setapak menuruni lembah dan menyelusuri pinggiran sungai kering. Perjalanan kurang lebih atarara 15 sampai 25 menit. Di pura ini, dahulu Empu Kuturan, pendeta yang datang ke Bali setelah Rsi Markandeya, meninjau wilayah desa Besakih sewaktu beliau merencanakan perluasan Pura Besakih. Di tempat inilah Empu Kuturan melakukan semedi setiap kali datang ke Besakih. Mpu Kuturanlah peletak tata cara pembangunan pura dan perumahan yang sampai sekarang masih dipraktekkan oleh masyarakat Hindu di Bali.
Dari Pura Peninjoan, semua pelinggih di Pura Penataran Agung dapat dilihat dengan jelas. Demikian juga pantai dan daratan pulau Bali bagian selatan tampak terbentang indah.
Begitulah Coy, sekilas tentang pura-pura di kompleks Pura Besakih. Oya, melengkapi info kamu tentang Pura Besakih, selain yang telah dijelaskan di atas, Pura Besakih juga sebagai simbol alam semesta yang terdiri dari Soring Ambal-ambal (alam bawah) dan Luhuring Ambal-ambal (alam atas).
Pura yang tergolong Soring Ambal-ambal adalah Pura Pesimpangan, Pura Manik Mas, Pura Bangun Sakti, Pura Merajan Selonding, Pura Goa Raja dengan Pura Rambut Sedana, Pura Besukian, Pura Dalem Puri, Pura Jenggala, Pura Banua dan Pura Merajan Kanginan.
Pura yang tergolong Luhuring Ambal-ambal adalah Pura Penataran Agung Besakih, Pura Batu Madeg, Pura Gelap, Pura Kiduling Kreteg, Pura Ulun Kulkul, Pura Peninjoan, Pura Tirtha, Pura Pengubengan dan Pura Pasar Agung di Desa Sebudi.
Akses
Kalau kamu menginap di Kuta, pertama kamu harus ambil jalur menuju Sanur, kemudian menuju Klungkung lewat jalan by pass. Di pertigaan pantai Klotok (pantai selatan Klungkung), berbelok ke kiri menuju kota Klungkung. Ikuti saja jalan besar ke arah utara, sekitar satu jam dari pusat kota itu kamu akan sampai di Besakih. Jika dihitung dari Kuta, perjalananmu kira-kira memakan waktu sekitar tiga jam.
Kalau ikut tur
Cara yang cukup mudah untuk mengatur perjalananmu adalah dengan meminta jasa travel biro. Banyak jasa angkutan wisata yang bersedia menjemput ke hotel tempat kamu menginap di Kuta, Legian, Seminyak, Sanur dan Nusa Dua dan mengantarkanmu ke Besakih. Mereka akan menjemput pagi-pagi, mengantarkanmu menuju pura Besakih dan mengajakmu mampir ke pusat kerajinan perak saat perjalanan pulang dan kembali menuju hotel. Biaya perjalanan ini bervariasi. Tapi, sedikitnya kamu harus menyediakan sekitar Rp 450 ribu.
Pakaian
Untukmenghormati adat istiadat setempat, ketika berkunjung ke pura Besakih kenakanlah busana yang rapi dengan kain dan selendang. Oleh penjaga, kamu tidak diperkenankan memasuki areal pura dengan tank top, vest, bikini, rok mini, atau semacamnya. Jika lupa membawa kain dan selendang, kamu bisa sewa di penyewaan yang letaknya tak jauh dari pintu masuk. Karena tempat suci, perempuan yang sedang menstruasi tidak diperkenankan masuk.
Waktu berkunjung
Untuk wisatawan, kompleks Pura Besakih dibuka dari pukul 08.00 – 17.00 WITA. Tapi kalau kamu datang dengan temanmu yang penduduk Bali, Pura Besakih terbuka 24 jam untukmu.
Tiket
Harga tiket masuk ke komplek Pura Besakih adalah Rp 7.000 plus Rp 3,000 jika membawa kendaraan. Kamera foto dikenai biaya Rp1.500 dan Rp 2500 untuk kamera video.
Kalau kamu berkunjung sendiri, biasanya pemandu wisata akan menghampirimu dan menawarkan diri untuk menemanimu berkeliling kompleks pura. Mereka yang merupakan penduduk lokal itu biasanya meminta bayaran berkisar antara Rp10ribu hingga Rp30 ribu Pandai-pandailah menawar. Makanya, jika kamu punya teman orang Bali, ada baiknya minta dia untuk menemanimu. Kamu akan mendapat banyak kemudahan.
Makanan dan Minuman
Di luar pura kamu akan menemukan banyak penduduk yang berjualan makanan dan minuman. Dagang buah-buahan juga ada. Tapi, umumnya harganya sedikit mahal di areal ini.
Di sepanjang jalan utama, di antara toko-toko kerajinan, kamu dengan mudah menemukan warung makan dengan menu beragam. Tak ada menu spesial yang mereka tawarkan.
Akomodasi
Jika kamu tipe pelancong yang suka luntang-lantung, jika kemalaman di sekitar pura Besakih, kamu bisa menginap di hotel terdekat yakni Hotel Lembah Arca yang berlokasi di jalan antara Menanga dan Besakih. Hotel tersebut terdiri dari dua bungalow dengan harga yang cukup moderat.
Di desa Besakih juga ada beberapa guest house, tapi standarnya sangat sederhana. Ya, sekelas rumah-rumah penduduk biasalah. Jika kamu berkunjung bersama teman Bali dan memutuskan hendak bermalam di areal pura, kamu harus menyiapkan pakaian tebal dan hangat. Soalnya, udara Besakih sangat dingin di malam hari.Jika kamu tak punya cukup waktu untuk menikmati seluruh keindahan Pura Besakih, pusatkan perhatian kamu ke ke Pura Basukian, Pura Penataran Agung, dan Pura Gelap atau Pura Batumadeg.
Padang Bai terletak di Kecamatan Manggis, sekitar 53 kilometer dari kota Denpasar atau lebih kurang 30 kilometer dari Amlapura. Dari Kuta, dapat dijangkau dengan memakan waktu drive sekitar 3 jam. Daerah ini merupakan kawasan pelabuhan yang menghubungkan pelayaran antara pulau Bali dan pulau Lombok. Di sini pula tempat mendaratnya para wisatawan yang berkunjung ke Bali melalui lautan yang diangkut oleh kapal-kapal pesiar.
Lokasi Padang Bai terletak di pantai jalan jurusan Klungkung-Karangasem belok ke arah kanan. Di Padang Bai kini telah ada beberapa buah penginapan maupun rumah makan bagi para wisatawan yang menikmati liburannya di sana, maupun para wisatawan yang akan pergi atau yang baru datang dari Lombok. Di sini juga tersedia jukung-jukung tradisional dan perahu bermotor kecil yang siap disewa untuk menikmati wisata air. Di sisi areal parker, toko-toko penjual souvenir berderet dengan dagangannya yang cukup menarik.
Untuk keperluan penyeberangan ke Lombok tersedia kapal ferry yang siap melayani wisatawan atau orang-orang yang pergi ke Lombok, empat kali penyeberangan dalam sehari.
Yang menarik dari obyek ini adalah tempatnya yang berupa teluk terlindungi batu karangnya yang hitam kokoh sehingga kehidupan bawah airnya aman. Di bagian timur pantai Padang Bai pasirnya berwarna putih bersih dan tebal ini mengasyikkan untuk berenang atau berjemur. Ikan-ikan hiasnya yang berseliweran di sela karang, menarik untuk dinikmati dengan melakukan diving maupun snorkeling.
Gunung Agung adalah Gunung tertingi di Bali. Masyarakat Bali meyakini bahwa gunung ini merupakan tempat suci, tempat bersemayamnya para dewa. Gunung Agung salah satu gunung yang masih aktif di Pulau Bali, letusan terakhir terjadi pada tahun 1963 yang mengakibatkan kehancuran terutama di Kabupaten Karangasem. Di lambung gunung yang memiliki ketinggian 3.014 meter ini terdapat Pura Besakih, sebuah kompleks pura terbesar di Bali.
Gunung Agung merupakan obyek wisata petualangan yang sangat menarik.
Tenganan adalah sebuah desa yang terbilang tetap tegar bertahan dalam arus perubahan zaman yang pesat dari teknologi informasi. Letaknya agak terpencil 17 kilometer di di barat Kabupaten Karangasem, sekitar 65 kilometer dari Kota Denpasar.
Selama ini dalam menjalankan tata kehidupan bermasyarakat mereka berpegang teguh pada peraturan adat desa yang sudah ditulis sejak abad 11—kemudian diperbarui tahun 1842 karena yang asli terbakar. Dengan kekukuhan tersebut, hingga saat ini Tenganan berhasil bertahan dari gerusan arus deras perubahan.
Ketika Kuta sudah penuh gemerlap dengan kehadiran hotel dan arus pelancong yang melimpah, Tenganan tetap bertahan dengan tiga balai desanya yang bersahaja dan deretan rumah adat yang satu sama lain persis sama. Bahkan keturunan pun mereka pertahankan keasliannya dengan melakukan perkawinan sesama warga desa.
Memasuki kawasan yang mulai tersentuh pariwisata sejak tahun 1960 ini, kamu harus melalui gerbang sempit yang cukup lewat satu orang. Sebelum masuk, seperti pelancong yang lainnya, kamu harus menyumbang sukarela kepada petugas di bangunan kayu semi permanen. Kamu pun harus mengisi buku tamu. Tidak ada tiket masuk ke desa yang sekaligus menjadi obyek wisata itu.
Kain Gringsing
Tenganan identik dengan kain geringsing. Begitu kaki melangkah ke art shop di dekat pintu masuk, langsung ada tawaran kain geringsing seharga Rp 800 ribu hingga Rp 2 juta. Mahal memang. Soalnya, dibanding kain-kain pabrikan yang dijumpai di toko-toko tekstil, setiap lembar kain geringsing adalah lembar yang eksklusif, bukan kodian. Harga setinggi itu karena kain geringsing hanya diproduksi di Tenganan dengan pengerjaan yang memakan waktu cukup lama. Sebab warna yang digunakan berasal dari tumbuh-tumbuhan sehingga memerlukan perlakuan-perlakuan khusus.
Kekhasan kerajinan tangan lainnya yaitu anyaman ata—bahan dasar yang didapat dari Pulau Flores. Kerajinan ini mulai dikenal di Tenganan setelah ada tameng (perisai) yang rusak dalam acara geret pandan—sebuah tarian pemuda. Mereka berusaha memperbaiki sendiri tameng yang mereka beli dari luar itu, dan akhirnya mereka mengetahui caranya.
Kabupaten Karangasem terletak di ujung timur Pulau Bali. Daerah ini merupakan daerah berbukit dengan kondisi tanah kering. Tahun 1963 ketika Gunung Agung meletus, sebagian wilayah Karangasemterkubur lahar.
Sejak pertengahan 1990-an, kawasan Karangasem utara terutama daerah tumpahan lahar di Tulamben, beralih menjadi kawasan wisata bahari dengan andalan pemandangan terumbu karang dan ikan hias yang cantik. Sarana hunian wisata seperti hotel, restauran, dan rekreasi bahari dibangun di kawasan ini. Tak hanya keindahan alam perbukitan dan bawah laut yang menjadi andalan wisata Karangasem. Masyarakat Bali Mula yang banyak bermukim di daerah Karangasem memberi warna lokal pada seni budaya daerah Karangasem. Masyarakat di Desa Tenganan, Bungaya, Asak, Timbrah, Bugbug, dan beberapa desa lainnya hingga kini masih memberlakukan tatanan adat istiadat Bali Mula warisan leluhur mereka.