Blog Archive
Categories
- Acara Budaya (5)
- Air terjun Dusun Kuning (1)
- Air Terjun Singsing (1)
- Alas Kedaton (1)
- Amed (2)
- Arak Bali (1)
- Arsitektur Bali (1)
- ATV Driving (1)
- Bali Art Centre (2)
- Bali Bird Park dan Reptile Park (1)
- Bali Eye Balloon (1)
- Bali Kuno (1)
- Bali Safari and Marine Park (BSMP) (2)
- Bali Timur (1)
- Banana Boat (1)
- Barong (1)
- Batik (1)
- Batik Bali (1)
- Batu Abah (1)
- Batu Beling (1)
- Batu Lumbung (1)
- Batubulan (1)
- Bebek Bengil (1)
- Bedugul (7)
- Belanja (4)
- Belanja Murah di Bali (2)
- Belanja Oleh-oleh (4)
- Berita (3)
- Bersepeda (1)
- Bersihkan Hati (1)
- Betutu (1)
- Bikin Tato (1)
- Brahmavihara-Arama (1)
- Bunga Citra Lestari (1)
- Bunut Bolong (1)
- Bunute (1)
- Candi Dasa (1)
- Celuk (1)
- Ceningan (1)
- cuaca bali (2)
- Cupak Grantang (1)
- Danau Batur (1)
- Danau Beratan (6)
- Danau Buyan dan Tamblingan (3)
- Desa Kamasan (2)
- Desa Taro (2)
- Desa Wisata (2)
- Directori Spa (1)
- Direktori Warung Bali (1)
- Diving (4)
- Drama Gong (2)
- Dugem (1)
- duka (1)
- Fauna Bali (4)
- Fesyen (1)
- Flora Bali (1)
- Flu Babi (3)
- Flying Fish (1)
- Garuda Wisnu Kencana (GWK) (1)
- Gempa (2)
- Gunung Agung (4)
- Gunung Batur (2)
- GWK (1)
- Hipnotis (4)
- Hotel (13)
- Hotel di Canggu (1)
- Hotel di Denpasar (1)
- Hotel di Kuta (2)
- Hotel di Sanur (1)
- Hotel Murah di Bali (8)
- hotel murah di Kuta (1)
- Hotel Murah di Legian (3)
- Hotel Murah di Petitenget (1)
- Hotel Murah di Tuban (1)
- HUT Kemerdekaan (1)
- Imlek (1)
- Industri Kreatif Bali (3)
- Info (1)
- Inspirasi Bali (1)
- Jadwal Acara Hiburan (2)
- Jadwal Pementasan Tari Bali (5)
- Jati Luwih (1)
- Jet Ski (1)
- Joged (1)
- Joged Bumbung (3)
- Jogging (1)
- Jungut Batu (1)
- Kab. Badung (21)
- Kab. Bangli (7)
- Kab. Buleleng (10)
- Kab. Gianyar (16)
- Kab. Karangasem (18)
- Kab. Klungkung (10)
- Kab. Tabanan (10)
- Kabupaten Jembrana (6)
- Kalendar Festival Tahunan (3)
- Kapal Selam (1)
- Kawasan Batur (5)
- Kawasan Nusa Penida (2)
- Kawasan Tukad Unda (1)
- Kayaking (1)
- Kebun Raya Ekakarya (1)
- Kerajinan Kayu (1)
- kerajinan keris (1)
- Kerajinan Perak (1)
- keris bali (1)
- Kerta Gosa dan Taman Gili (1)
- Kiadan (1)
- Kongco Dwipayana (1)
- Kopi Bali (1)
- Korupsi (1)
- Kota Denpasar (24)
- Kunjungan Wisata (5)
- Kuta Carnival (1)
- Lawar (2)
- Layang-layang (2)
- Le Mayeur (1)
- Lebaran di Bali (3)
- Legian (1)
- Lembongan (1)
- Lingkungan (1)
- Lovina (3)
- Luna Maya (1)
- Makanan Jepang (1)
- Makanan Khas Bali (6)
- Meami-amian (1)
- Meditasi (1)
- Melasti (1)
- Monumen Bajra Sandhi (2)
- Monumen Maya (1)
- Monumen Ngurah Rai (1)
- Monumen Puputan Badung (1)
- Monumen Puputan Klungkung (2)
- Museum (2)
- Museum Bali (5)
- Musik Bali (4)
- Musik di Bali (5)
- Nasi Jinggo (1)
- Nasi Séla (1)
- Ngaben (1)
- Ngopi di Bali (1)
- Nusa Penida (1)
- Nyepi (6)
- Ogoh-ogoh (1)
- Olahraga Air (13)
- Omed-omedan (1)
- Padang Bai (1)
- Paint Ball (1)
- Paket Wisata (2)
- Pameran (3)
- Panca Bali Krama (2)
- Pantai Amed (2)
- Pantai Balangan (1)
- Pantai Dreamland (1)
- Pantai Jimbaran (1)
- Pantai Kedonganan (1)
- Pantai Kuta (12)
- Pantai Legian (3)
- Pantai Lepang (1)
- Pantai Lovina (3)
- Pantai Medewi (1)
- Pantai Mertasari-Sanur (1)
- Pantai Nusa Dua (2)
- Pantai Padang-padang (1)
- Pantai Sanur (8)
- Pantai Seminyak (1)
- Pantai Suluban (2)
- Pantai Tanjung Benoa (6)
- Pantai Tulamben (4)
- Parade Budaya (1)
- Parasailing (1)
- Pasar Seni Sukawati dan Guwang (1)
- Pecha Kucha (1)
- Pegayaman (1)
- Pelabuhan (1)
- Pembobolan ATM (1)
- Pembuatan Garam (1)
- Pemuteran (1)
- penginapan murah (1)
- Penglipuran (1)
- Penjor (1)
- Pentas Hiburan (5)
- Pentas Seni (1)
- Penyewaan Mobil (2)
- Perairan Pulau Menjangan (1)
- Perang Pandan (1)
- Pertunjukan Tari (4)
- Pesta Kesenian Bali (14)
- Petualangan (20)
- Pia Legong (1)
- Piala Dunia (1)
- Pojok Ngopi (1)
- Pulau Menjangan (1)
- Pulau Penyu (2)
- Puncak Malibu (1)
- Puncak Mangu (1)
- Puncak Manta (1)
- Pura Beji (1)
- Pura Besakih (11)
- Pura Bukit Sari di Sangeh (1)
- Pura Candi Gunung Kawi (1)
- Pura Goa Gajah (1)
- Pura Goa Lawah (1)
- Pura Gunung Raung (1)
- Pura Lempuyang (1)
- Pura Luhur Uluwatu (1)
- Pura Mangening (1)
- Pura Meduwe Karang (1)
- Pura Penataran Sasih (1)
- Pura Ponjok Batu (1)
- Pura Purancak (1)
- Pura Pusering Jagat (1)
- Pura Rambut Siwi (1)
- Pura Samuan Tiga (1)
- Pura Taman Ayun (1)
- Pura Tirta Empul Tampaksiring (1)
- Puri Agung Karangasem (1)
- Puting Beliung (1)
- Putung (1)
- Rabies (2)
- Rafing (1)
- Rafting (2)
- Ramadhan (1)
- Rujak kuah pindang (1)
- Safari Gajah (1)
- Salak (1)
- Salsa (2)
- Sambal Matah (1)
- Sampah (1)
- Sanghyang (1)
- Sanur (4)
- Sate Lilit (1)
- Sea Walker (1)
- Seni Suara (1)
- Seputar Bali (1)
- Siwa Ratri (1)
- Snorkeling (2)
- Spa (1)
- Spiritual Event (1)
- Sri Tanjung (1)
- Srombotan (1)
- Subak (2)
- Sungai Ayung (1)
- Surfing (4)
- Taman Kupu-kupu (1)
- Taman Margarana (1)
- Taman Nasional Bali Barat (1)
- Taman Rosani (1)
- Taman Tirta Gangga (1)
- Taman Ujung (1)
- Tamblingan (1)
- Tanah Lot (1)
- Tango (1)
- Tanjung Benoa (10)
- Tari Bali (9)
- Telaga Waja (1)
- Tempat Makan Halal (10)
- Tenganan (2)
- Tip Berwisata di Kawasan Batur (1)
- Topeng Sidakarya (1)
- Toyabungkah (1)
- Toyapakeh (1)
- tragedi (1)
- tranportasi (1)
- Travel (2)
- Treckking (1)
- Trekking (1)
- Trik Liburan di Bali (3)
- Tumpek Landep (1)
- Tunadaksa (1)
- TV Lokal Bali (1)
- Uang Kepeng (1)
- Ubud (1)
- Unikum Bali (2)
- Upacara (9)
- UWRF (1)
- Valentine Day di Bali (3)
- Warung Be Sanur (1)
- Warung Italia (1)
- Waterbom (1)
- Wisata Alam (2)
- Wisata Hujan (1)
- Wisata Lidah (38)
- Wisata Lidah di Bali (22)
- Wisata Masjid (1)
- Wisata-Sosial (1)
- World’s Best Island (1)
Showing posts with label Kab. Klungkung. Show all posts
“Apa Ini, Apa Itu” , Pertanyaan 27 Seniman Jelang 2010
0 Comments | Posted by Dewa in Kab. Klungkung, Pantai Lepang, Pentas Seni


Tajuk happening art ini seperti judul buku pengetahuan anak-anak yang menunjukkan berbagai rahasia alam sekitar. Tampaknya memang begitulah niat 27 seniman dari enam negara yang tergabung dalam acara ini. Mereka menjadikan dirinya sebagai kanak-kanak yang takjub pada rahasia-rahasia kehidupan yang mereka jalani; tentang ketakmengertian mereka mengenai banyak hal pada tahun 2009 dan tentang ketidaktahuan yang menggantung di benak mereka memasuki tahun 2010. Dan, semua perasaan takjub itu mereka ekspresikan dalam pameran instalasi dan happening art di Pantai Lepang Klungkung, Bali, 29-31 Desember 2009.
Namun, menurut Wayan Sujana Suklu, Ketua Panitia perhelatan ini, acara lebih dari sakadar itu. Selain mengekspresikan ketakmengertian dan ketidaktahuan, acara tutup tahun ini juga bermaksud hendak mengajak masyarakat berbaur dan berekspresi. Diharapkan dari enteraksi tersebut akan terbuka semacam jalan pencerahan di hati masing-masing sehingga memudahkan menemukan keindahan hakiki pada langkah-langkah di tahun berikutnya.
“Dalam tiga hari ini kami mengajak masyarakat untuk merespons berbagai karya seni kontemporer yang disajikan selama 72 jam nonstop,” paparnya.
Untuk itu, panitia juga menyediakan 100 gendang jembe untuk ditabuh secara bergantian oleh pengunjung yang hadir dalam rangkaian menyambut pergantian tahun. Hal itu akan menjadi peristiwa “liar” yang akan meningkahi berbagai suguhan kesenian tari, musik, instalasi, fotografi, dan lainnya.
Art Director Daniel LeClaire asal Amerika Serikat (AS) juga memberikan ruang bagi seniman untuk melakukan proses kreatif di acara ini dan seluruh kegiatan ini akan didokumentasikan dalam bentuk film, buku, dan pameran fotografi tahun depan.
Ke-27 peserta itu adalah kolektor asal Jerman Adi Bachmann yang akan memamerkan reproduksi karya seni rupa kelas dunia, yakni Agung Gunawan, Cedil, Charlie Crooijmans (Belanda), Daniel Kho, Daniel Zacharias, Danuta Franzen (Polandia), Deasylinada da Ary, Eko Prawoto, Gusti Sudibia, I Gede Made Surya Darma, IG Nengah Hari Mahardika, Joko Dwi Avianto, Made Djirna, Ni Kadek Diah Kristin Natalia (Bali), dan Mireki Jasmiene Okubo (Jepang).
Seniman Nyoman Erawan akan mengadakan pertunjukan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Nyoman Sujana Kenyem yang terakhir bergulat dengan bambu dan daun sudah menyiapkan karya di pantai. Ada pula penari Nyoman Sura, Putu Satria Kusuma, Shoosie Sulaiman (Malaysia), Tisna Sanjaya, Wawan Setiawan Husin, Wayan Pacet, Wayan Sudiarta, Wayan Sujana Suklu, dan Welldo Wnophringgo.
Program:
Tuesday December 29, Vernissage on the Beach
16:00 Welcoming Speech by Daniel LeClaire, Art Director Djagad Art House
16:10 Welcoming Speech by Bpk Wayan Candra, Regent of Klungkung
16:20 Festival Opening by Klunkung sand miner Bpk I Nyoman Artawan
16.30 Contemporary Bale Ganjur Orchestra Procession from the Beach to Kubu
17.30 Tisna Sanjaya will unearth Artworks buried during the Sanur Village Festival and bring them to Kubu
18.00 Performance, 53,5 Hours of Watching You, Weldo Wnophringgo will enter Kubu house for the duration of the festival (Conceptualized by Daniel Kho and Suklu)
19.00 Contemporary Bale Ganjur Orchestra Procession from Kubu to the Beach
20.30 Performance Srimimpi in Wonderland, Agung Gunawan and Deasylinada Ary at the Beach
21.30 Contemporary Music Performance,Wayan Pacet at the Beach
22.30 Contemporary Music Performance, Cedil at the Beach
22.30 Open Performance ‘Silence’ at Kubu and the Beach
Wednesday December 30, Midissage at Kubu and the Beach
00.00-24.00 Performance Watching You,Weldo Wnophringgo at Kubu
01.00 Performance, Wayan Sudiarta at Kubu
02.00 Performance, Wawan Setiawan Husin responds to Weldo Wnophringgo at Kubu
03.00–06.00 Open Performance ‘Tranquil’ at the Beach
06.00 Performance Kokok Ayam, Wayan Sudiarta at the Beach
07.00 Performace of mutual response by Agung Gunawan,Wawan S Husin and Wayan Sudiarta at the Beach
08.00 Diah and Jasmiene Okubo respond to Suklu’s Artwork at Kubu
09.00-15.00 Open Performance at Kubu
14.00 Performance Ini Ngremo, Deasylinada Ary at the Beach
14.30 Performance, Nyoman Sure at the Beach
15.00 Performance, Putu Satria Kusuma at the Beach
16.00 Performance, I Gede Surya Darma at the Beach
17.00 Diah and Jasmiene Okubo respond to Eko Porwoto’s Artwork at the Beach
18.30 Performance Symphony Senja, Agung Gunawan at the Beach
19.00 Music Peformance, Contemporary Gentong, Wayan Pacet at the Beach
20.00 Light Painting Performance, Daniel Zacharias at the Beach
20.30 Performance Nyoman Sura at the Beach
21.00 Music Performance, Ngurah Rai Mahardika at the Beach
22.00 Performance, Putu Satria Kusuma at the Beach
22.30 Contemporary Music Performance, Cedil at the Beach
22.30-24.00 Open Performance and Music at the Beach
Thursday December 31, Finissage at the Beach
00.00-23.30 Performance Watching You,Weldo Wnophringgo at Kubu
01.00-05.00 Open Performance ‘Stillness’ at Kubu
06.00 Performance Kokok Ayam, Wayan Sudiarta at Kubu
07.00 Performance ‘Words’, Putu Satria Kesuma at Kubu
08.00 Performance Ini Ngremo,Deasylinada Ary at Kubu
09.00-15.00 Open Performance at the Beach
10.00-18.00 Open Installation using Tires at the Beach
15.00 Performance ‘Words’,Putu Satria Kesuma at the Beach
17.00 Performance Sympony Senja,Agung Gunawan at the Beach
17.30 Contemporary Music Performance, Cedil at the Beach
18.00 Performance,Wawan Setiawan Husin at the Beach
19.00 Contempory Bale Ganjur Orchestra at the Beach
20.00 Performance Srimimpi in Wonderland,Agung Gunawan and Daniel Kho at the Beach
21.00 Music Performance, Ngurah Rai Mahardika at the Beach
21.20 Performance Melangkoli, Agung Gunawan at the Beach
21.30-23.30 Music Performance 100 Jembe at the Beach
23:30 Performance Tisna Sanjaya Funeral March of Artworks accompanied by Weldo Wnophringgo leaving the Kubu house and the Bale Ganjur Orchestra from Kubu to the Beach
24.00 Performance Nyoman Erawan responds to Tisna Sanjaya’s Artwork at the Beach
00.30-Onwards Open Performance and Music at the Beach
Djagad Art House – Team
Daniel Kho (Initiator, Conceptor, Founder)
Daniel LeClaire (Art Director)
Daniel Zacharias (Founder)
Wayan Sujana Suklu (Founder)
Wayan Sudiarta (Founder)
Uang Kepeng, Suvenir Unik dari Desa Kamasan
0 Comments | Posted by Dewa in Desa Kamasan, Kab. Klungkung, Uang Kepeng
Uang kepeng sangat dekat dengan kehidupan masyarakat di Bali. Uang dengan lubang di tengahnya itu diduga masuk ke Bali sejak abad ke-7 pada era Dinasti Tiang berkuasa di dataran Tiongkok. Saat itu. di Bali, uang tersebut berfungsi sebagai alat tukar. Belakangan, seperti yang tersurat dalam prasasti Sukawana yang berangka tahun 882 Masehi, uang kepeng ditengarai telah mempunyai fungsi sebagai sarana upacara agama Hindu di Bali. Dari jenisnya, uang kepeng yang beredar di Bali merupakan produksi China, Korea, Jepang dan Indonesia sendiri.
Pada zaman dahulu uang kepeng merupakan satuan terkecil sehingga paling mudah untuk menentukan jumlah satuan baik sebagai alat tukar maupun sebagai sarana upacara. Namun kini, karena jenis uang itu semakin langka, dalam beberapa hal nilai uang itu kerap diganti dengan koin yang berlaku saat ini sesuai dengan nilai tukarnya.
Sejak 2002 Pemerintah Provinsi Bali melakukan upaya untuk melestarikan produksi uang kepeng. Produksinya dipusatkan di desa Kamasan, Klungkung, sekitar 40 kilometer dari Kuta. Sejak saat itu, uang kepeng diproduksi secara rutin. Selain untuk memenuhi kebutuhan sarana upacara, juga sebagai suvenir. Dalam sehari sedikitnya 5 ribu keping uang kepeng diproduksi di desa itu. Harga satu kepingnya relatif murah, yakni Rp 700.
Jenis-jenis suvenir yang berbahan uang kepeng ini sangat beragam, antara lain liontin, gelang tamiang (perisai), patung, dan berbagai bentuk miniatur rumah. Kisaran harga suvenir tersebut antara Rp 25 ribu sampai Rp 7,5 juta.
Alamat workshop industri uang kepeng desa Kamasan ini adalah di jalan Br. Jelantik Kori Batu, desa Tojan, Klungkung. Bisa juga kalian kunjungi etalase mereka di Perum Puri Candra Asri Blok A/17 Jl. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, Telp. (0361) 468187, 464041, 4642219.
Adem, Peringatan 101 Tahun Puputan Klungkung
0 Comments | Posted by Dewa in Kab. Klungkung, Monumen Puputan Klungkung
Puputan Klungkung, sebuah peristiwa bersejarah bagi masyarakat Klungkung, hari ini diperingati di Semarapura, ibukota kabupaten tersebut. Tak ada acara gegap-gempita. Tak ada pertunjukan spektakuler. Pun, tak ada peristiwa khusus yang ditujukan bagi rakyat kecil untuk mengenang spirirt peristiwa itu. Semua berjalan biasa-biasa saja, macam peringatan rutin yang tak begitu istimewa.
Sesungguhnya apa sih puputan Klungkung itu?
Puputan Klungkung adalah peristiwa perlawanan rakyat Klungkung terhadap Pemerintah kolonial Belanda yang hendak menguasai wilayah tersebut. Perlawanan heroik yang terjadi pada tanggal 28 April 1908 itu dipimpin oleh Raja Klungkung Ida I Dewa Agung Jambe.
Kenapa disebut “Puputan”, bukan “Perang”?
Puputan adalah istilah rakyat Bali untuk perang habis-habisan demi mempertahankan kehormatan. Semangatnya, lebih baik mati di medan tempur dari pada hidup dengan harga diri terinjak-injak. Dalam sejarah penaklukan Bali oleh Belanda, puputan Klungkung adalah babak akhir dari perlawanan rakyat Bali. Menurut catatan I Made Sujaya, memerhati sejarah Klungkung, pada babak-babak sebelumnya, perlawanan rakyat Bali dilakukan dengan beberapa pilihan langkah. Ada yang memilih jalan kompromi dan bekerja sama, ada yang memilih jalan mengangkat senjata, ada juga yang memadukan keduanya. Klungkung menggunakan berbagai pilihan jalan itu saat berhadapan dengan kolonialisme Belanda. Diawali dengan jalan kerja sama, lalu mengangkat senjata (Perang Kusamba), disusul kompromi dan diplomasi (jalinan kontrak politik dengan Belanda) serta diakhiri dengan jalan mengangkat senjata yang berujung pada puputan.
Rangkaian babak demi babak penaklukan ini bermula dari terjadinya perpindahan kekuasaan dari Belanda kepada Inggris di Pulau Jawa. Bersamaan dengan itu, Raja Buleleng, Gusti Gde Ngurah Karangasem menguasai Jembrana untuk tujuan menduduki Banyuwangi di Pulau Jawa. Tindakan ini membuat geram pemerintah Inggris di Batavia sehingga dikirimlah satu eskader angkatan laut Inggris ke Buleleng pada tahun 1814. Tujuannya, untuk memberi pelajaran kepada Raja Buleleng. Usaha pemerintah Inggris ini mendapat perlawanan hebat. Tidak saja dari Raja Buleleng, tetapi juga dari semua raja di Bali. Raja-raja lainnya di Bali mengirimkan bantuan pasukannya ke Buleleng untuk membantu kerajaan di bagian utara Bali itu. Raja-raja Bali itu bertekad untuk berjuang bersama menentang agresi militer dari luar. Sikap ini merupakan pertama kalinya terjadi pada raja-raja Bali pada masa itu .
Sikap bersatu raja-raja Bali terbukti ampuh. Pemimpin pasukan Inggris, Jenderal Nightingale diperintahkan Batavia untuk memundurkan pasukannya. Pemerintah Inggris tidak bersedia berperang dengan raja-raja Bali yang mempunyai tekad bersatu melawan musuh.
Namun, tiga puluh tahun kemudian, semangat bersatu Bali itu mengalami kemerosotan. Manakala Belanda hendak menyerang Kerajaan Buleleng dan Karangasem gara-gara masalah perampasan kapal milik Belanda, raja-raja Bali enggan untuk membantu kedua kerajaan itu. Bahkan, permintaan Raja Klungkung sebagai sasuhunan (pemimpin) raja-raja Bali dan Lombok saat itu agar para raja di Bali membantu raja Buleleng dan Karangasem, tak mendapat respons yang baik.
Inilah awal petaka bagi keutuhan Bali. Ketidakkompakan raja-raja di Bali itu kemudian membuat Belanda dengan mudah mencengkeram pulau ini. Pertama kali, Buleleng takluk di kaki Belanda. Rubuhnya semangat perlawanan di Bali utara yang terkenal kuat itu menjadi pintu pembuka bagi Belanda untuk menguasai kerajaan lainnya. Setelah Buleleng, dengan mudah Belanda menaklukkan Karangasem dan Gianyar. Belanda kemudian menggempur Badung yang mempertahankan diri dengan melakukan perang puputan, selanjutnya menggempur Klungkung yang bertahan dengan cara serupa.
Dewa Agung Kanya, Srikandi Klungkung
Di Klungkung, perang puputan di atas bukanlah satu-satunya perang melawan agresi Kolonial. Sebelumnya, tercatat sebuah perlawanan rakyat Klungkung melawan Belanda. Perlwanan tersebut terjadi di pantai Kusamba dipimpin oleh Ratu Klungkung, Dewa Agung Istri Kanya. Dalam pertempuran yang berlangsung pada 24-25 Mei 1849 itu, Sang Ratu yang terjun langsung memimpin pasukannya berhasil meluluhlantakkan pasukan Belanda. Bahkan Jenderal AV Michels yang memimpin pasukan tersebut tewas dalam pertempuran itu.
Tentu hal ini sangat mengejutkan Belanda. Klungkung yang dari banyak segi tidak sebanding dengan Belanda mampu mengimbangi dan mengalahkan pasukan Belanda. Peristiwa Perang Kusamba ini dicatat oleh Belanda sebagai kekalahan kedua setelah sebelumnya pasukan mereka dihancur leburkan oleh laskar Jagaraga di bawah pimpinan Patih I Gusti Ketut Jelantik tahun 1848.
Jika kamu hendak melihat dari dekat jejak-jejak sejarah Puputan Klungkung, kamu bisa datang ke Monumen Puputan Klungkung yang kini berdiri menjulang di tengah kota Semarapura. Letaknya, berdekatan dengan obyek wisata Taman Gili - Kertha Gosa, Pemedal Agung dan Museum Semarapura. (abe/jjb)
Monumen Puputan Klungkung
0 Comments | Posted by Dewa in Kab. Klungkung, Monumen Puputan Klungkung
Monumen ini dibangun untuk mengenang dan menghargai jasa para pahlawan ksatria yang gugur dalam mempertahankan martabat bangsa dari cengkraman kolonialisome Belanda. Monumen Puputan Klungkung merupakan tugu peringatan dari peristiwa bersejarah yakni Puputan Klungkung yang terjadi pada hari Selasa, 28 April 1908. Pada areal monumen tersebut dulu terjadi perang puputan atau perang habis-habisan sebagai bentuk perlawanan gigih melawan penjajah Belanda.
Monumen Klungkung berbentuk Lingga-Yoni, didirikan diatas areal seluas 123 meter persegi, dilengkapi dengan empat buah Balai Bengong pada sudut-sudut halamannya. Pada bagian bawah lingga terdapat ruangan yang besar serupa gedung persegi empat yang berpintu masuk berupa gapura sebanyak empat di empat penjuru mata angin.
Ketinggian monumen tersebut dari dasar sampai ke puncak lingga adalah 28 meter. Sedangkan antara gedung/ruang bawah dengan lingga terdapat semacam bangunan kubah bersegi delapan dialasi kembang-kembang teratai sebanyak 19 buah.
Ini keseluruhannya menyerminkan tanggal 28 April 1908. Di dalam ruangan monumen terdapat diorama yang menggambarkan perjuangan raja dan rakyat Klungkung tersebut.
Kawasan Tukad Unda letaknya 38 kilometer dari Denpasar. Di kawasan ini terdapat kegiatan rekreasi arung jeram. Tempat rekreasi arung jeram ini memiliki panjang sejauh sembilan kilometer dan pada jalur arung jeram ini kamu menemui sekitar 22 rintangan yang menegangkan untuk menambah asyiknya permainan ini.
Kerta Gosa dan Taman Gili
0 Comments | Posted by Dewa in Kab. Klungkung, Kerta Gosa dan Taman Gili
Objek wisata Kertha Gosa dan Taman Gili (Balai Kambang) pada jaman dahulu merupakan bagian dari Puri Semarapura Kerajaan Klungkung yang dibangun pada abad 17. Di sebelah barat bangunan ini terdapat sebuah pintu gerbang yang dikenal dengan nama Pemedal Agung. Itulah gerbang utama Puri Semarapura.
Ketiga bangunan bersejarah ini berada dalam satu areal yang terletak dijantung kota Semarapura, sekitar 40 kilometer sebelah timur Denpasar. Sama sekali tak sulit untuk menemukan obyek ini. Begitu tiba di pusat Kabupaten Klungkung, kamu akan langsung menjumpainya.
Daya tarik ketiga bangunan ini adalah karena sebagai peninggalan bersejarah dari kerajaan Klungkung dengan ornamen ukiran-ukirannya yang indah. Selain itu pada bangunan Kertha Gosa dan Taman Gili yang pada langit-langit atapnya dihiasi lukisan tradisional Kamasan yang artistik, menggambarkan filosofi kebudayaan Hindu.
Taman Gili sebagai satu bangunan berarsitektur tradisional Bali dibangun dengan beralaskan kura-kura raksasa. Di atas tembok pembatas yang mengeliling bangunan tersebut, berderet patung-patung para dewa di satu pihak dan para raksasa di pihak lain, masing-masing kelompok berusaha mendapatkan Air Kehidupan. Taman Gili ini berfungsi sebagai tempat melaksanakan upacara potong gigi bagi putra-putri raja.
Sedangkan Kerta Gosa adalah bangunan yang berfungi sebagai tempat pengadilan. Karena itu, lukisan-lukisan wayang yang tertera di langit-langit Kertha Gosa berbea dengan yang ada di Taman Gili. Lukisan di Kertha Gosha menggambarkan keadaan roh-roh di akhirat. Masing-masing roh mendapat ganjaran sesuai dengan tabiatnya ketika mereka masih hidup, seperti yang tercantum dalam cerita Bima Swarga
Dan, Pemedal Agung adalah jejak tersisa dari kemegahan istana kerajaan Klungkung di masa Lampau. Istana itu telah hancur akibat perang melawan Belanda. Sebuah perang dahsyat yang dikenal sebagai perang Puputan Klungkung pada 28 April 1908.
Kawasan Nusa Penida
0 Comments | Posted by Dewa in Ceningan, Diving, Jungut Batu, Kab. Klungkung, Kawasan Nusa Penida, Lembongan
Nusa Penida adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah selatan Kota Semarapura, Klungkung. Di kawasan Nusa Penida ini terdapat beberapa obyek serta tempat rekreasi wisata air. Kawasan Rekreasi air tersebut sangat menarik untuk dinikmati. Di sana banyak terdapat terumbu karang yang indah dan bermacam-macam jenis ikan yang berwarna-warni. Di pulau Nusa Penida banyak terdapat obyek wisata yang menarik seperti:
Suana
Di samping pantai berpasir putih dan perbukitan yang indah, di Suana juga terdapat gua yang disebut Goa Giri Putri. Goa ini terletak di Dusun Karangsari Desa Suana kurang lebih lima kilometer di sebelah timur Desa Batununggul, desa yang paling ramai di Nusa Penida. Yang menarik, pada pintu masuk ke dalam goa sempit. Untuk masuk, kamu harus merangkak terlebih dahulu sepanjang tiga kilometer. Setelah itu, kamu akan menemui sebuah ruangan goa yang sangat luas. Di dalam goa banyak terdapat stalakmit dan stalaktit. Juga terdapat mata air yang dikeramatkan. Goa ini melebar hingga ke barat dan di sini terdapat mulut goa yang cukup lebar untuk menyaksikan pemandangan perbukitan.
Pantai Lembongan dan Jungutbatu
Pantai ini berpasir putih. Air laut di sekitarnya bersih dan jernih sehingga berbagai jenis ikan serta karang lautnya yang beraneka warna tampak dengan jelas. Berbagai wahana air tersedia bagi wisatawan. Di sini kamu bisa menikmati permainan banana boat dan olahraga air lainnya. Pada sore hari kamu dapat menyaksikan keindahan panorama saat matahari terbenan.
Dari Jungutbatu maupun Lembongan, para wisatawan dapat menikmati pemandangan alam yang indah Nusa Ceningan, dengan jembatan di atas laut yang menghubungkan antara pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.
Pura ini dinamakan Pura Goa Lawah karena di dalamnya terdapat sebuah goa alam besar yang dihuni oleh ribuan kelelawar. Dalam bahasa Bali, kata lawah berarti kelelawar. Namun dari sisi agama, keberadaan kelelawar itu tak ada hubungannya dengan apa yang dipuja masyarakat Hindu di Bali. Dalam keyakinan masyarakat Bali, Pura Goa Lawah adalah tempat berstananya Tuhan dalam manivestasi sebagai Dewa Laut.
Menurut mitologi yang disuratkan dalam lontar Prekempa, dikisahkan bahwa saat terjadi bencana kekeringan yang dahsyat, Dewa Siwa mengutus Sang Hyang Tri Murti untuk menyelamatkan bumi. Dewa Brahma turun menjelma menjadi naga Ananta Bhoga. Dewa Wisnu menjelma sebagai naga Basuki. Dewa Iswara menjadi naga Taksaka.
Selanjutnya, naga Basuki terlentang dengan kepala menghadap ke tenggara. Sebagian kepala naga Basuki tercelup ke laut untuk mengerakkan samudera agar menguap menjadi mendung. Nah, kepala naga Basuki ini kemudian disimbolkan dengan pura Goa Lawah. Sedangkan ekornya yang menjuntai menjelma menjadi gunung dan sisiknya menjelma menjadi hutan yang sangat lebat. Oleh masyarakat Bali, daerah yang dianggap sebagai ujung ekor naga Basuki didirikan Pura Goa Raja (salah satu pura dalam kompleks Pura Besakih). Sebagian masyarakat Bali percaya bahwa pada zaman dulu gua di Pura Goa Raja tembus di Pura Goa Lawah. Namun karena gempa dahsyat pada tahun 1917, goa itu tertutup reruntuhan bumi.
Di luar mitologi tersebut, sumber-sumber kuno mengatakan bahwa Pura Goa Lawah dibangun atas inisiatif Mpu Kuturan pada abad ke XI dan dipugar untuk diperluas pada abad ke XV.
Satu di antara sekian kepercayaan umat Hindu di Bali mengatakan bahwa arwah orang yang sudah meninggal harus disucikan melalui serangkaian upacara. Nah, ujung dari rangkaian upacara tersebut adalah atma wedana (lanjutan dari upacara Ngaben). Dalam upacara tersebut umat melakukan upacara Nyegara-Gunung sebagai penutup. Mereka akan menyucikan sang arwah di laut (Pura Goa Lawah) lalu menyemayamkannya di gunung (Pura Besakih). Begitu, broer!
Dari konsep lain, Pura Besakih (di Gunung Agung) dan Pura Goa Lawah (di tepi laut) merupakan simbol lingga-yoni. Keduanya merupakan unsur yang menyebabkan terjadinya penciptaan alam semesta.
Di pura ini, tepat di mulut goa terdapat pelinggih Sanggar Agung sebagai pemujaan Tuhan Yang Maha Tunggal. Meru Tumpang Tiga sebagai pesimpangan Bhatara Andakasa. Ada Gedong Limasari untuk memuja Dewi Sri Hyang Basuki) dan Gedong Limascatu untuk memuja Dewa Wisnu (Bhatara Tengahing Segara). Keduanya merupakan simbol kekuasan Tuhan dalam memberi kemakmuran pada umat manusia.
Akses
Pura Goa lawah terletak di pinggir jalan raya yang menghubungkan antara kota Klungkung dan Karangasem. Jadi pura tersebut sangat mudah ditemukan. Mengunjungi pura ini, selain dapat menyaksikan keunikan pura, kamu juga bisa menikmati keindahan pantai yang terbentang di sebelah jalan raya.
Tiket
Rp 3 ribu per orang.
Kamasan adalah sebuah komunitas seniman lukisan tradisional. Antar satu seniman dengan seniman lain saling mengisi dan saling menguatkan sehingga melahirkan gaya lukis wayang yang khas. Gaya tersebut kemudian turut mewarnai geliat perjalanan seni lukis Bali.
Masih menurut catatan sejarah, seni lukis wayang (tradisional) ini berkembang di Kamasan dan daerah lain di Bali sejak zaman Kerajaan Majapahit. Antara abad ke-14 hingga abad ke-18, Pulau Bali dikuasai para Dalem, raja-raja keturunan Sri Kresna Kepakisan dari Kerajaan Majapahit.
Selama Dinasti Kepakisan memegang tampuk pemerintahan, Bali mengalami masa kejayaan. Sejarah mencatat, kekuasaan raja Bali zaman itu pernah meliputi pesisir Jawa Timur, Lombok, bahkan sampai Sumbawa. Salah satu Dalem yang paling dikenal adalah Sri Waturenggong, cucu Sri Kresna Kepakisan. Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong ini, seni budaya di Bali mengalami masa pencerahan karena sang raja juga penggemar seni budaya. Kamasan dijadikan sebagai salah satu pusat kerajaan yang khusus mengurus seni budaya, pendidikan, dan keagamaan.
Di Klungkung, tumbuh pula kesenian lain berupa seni ukir emas dan perak dan yang terakhir seni ukir selongsong peluru. Meskipun medianya berbeda, namun ciri khas wayang Kamasan tetap kuat dalam karya-karya tersebut.
Kalau punya minat terhadap seni rupa, datanglah ke Desa Kamasan. Kamu akan mendapat tambahan wawasan mengenai gaya seni rupa Bali.
Akses
Kamasan berada sekitar 43 kilometer di sebelah timur Kuta. Desa ini dapat dicapai dengan kendaraan bermotor. Seluruh jalan menuju obyek ini dalam kondisi baik. Dari Kuta berangkatlah menuju Denpasar melalui jalan by pass, dan ikuti jalan itu menuju arah Klungkung. Sampai di pesimpangan Batu Klotok, berbeloklah ke kiri, kamu akan sampai ke desa Gelgel. Dari Gelgel, kamu tinggal beberapa ratus meter saja menuju desa ini.
Di Bali, Klungkunglah kabupaten yang terkecil luas wilayahnya. Klungkung mewilayahi hanya sekitar 315 kilometer persegi, yang terbagi menjadi empat kecamatan.
Kendati wilayahnya kecil, Klungkung melingkupi pula gugusan Pulau Nusa yang terdiri dari Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan. Mata pencaharian penduduk Klungkung sebagian besar bertumpu pada bidang pertanian. Sebelum bencana letusan Gunung Agung, daerah Gunaksa bahkan menjadi penghasil beras Bali terbaik bersanding dengan Tabanan.
Melihat dari luas wilayah Kabupaten Klungkung, sulit dipercaya bahwa Klungkung di masa lalu adalah pusat pemerintahan Bali. Bahkan, Bali dikendalikan dari Gelgel Klungkung ketika mencapai zaman keemasan raja Dalem Batur Enggong sekitar abad 15. Usai pemberontakan Gusti Patih Maruti barulah kemudian pusat pemerintahan dipindahkan ke Klungkung pada masa pemerintahan Dalem Dimade.
Di masa awal Belanda masuk ke Bali, Klungkung sempat dipimpin oleh seorang raja perempuan yakni Tjokorda Istri Kania. Beliau menjadi wali raja karena ahli waris Dalem masih belia. Atas prakarsa Tjokorda Istri Kania lah di Klungkung dibuat kesepakatan paswara astha negara yang menyatukan semua raja-raja di Bali. Namun setelah Perang Jagaraga, Perang Buleleng, dan Perang Puputan Badung, tahun 1908 terjadi Perang Puputan Klungkung yang memastikan kekuasaan penuh penjajahan Belanda di Bali sekaligus memutus mata rantai kekuasaan raja-raja di Bali.
Di Klungkung berkembang cabang seni dan kerajinan yang mengacu pada kehidupan budaya dan agama. Desa Tihingan adalah desa yang sangat terkenal dalam hal industri gamelan, Desa Budaga dikenal sebagai pembuat perangkat upacara perunggu dan kuningan, sedangkan Desa Satria dikenal sebagai daerah pengrajin tedung dan perangkat busana pura. Sementara Desa Kamasan terkenal dengan lukisan klasik wayang yang tidak semata-mata berupa lukisan namun sarat dengan ajaran susastra-agama.