/

Gambuh

Oleh : Agung Bawantara

Gambuh adalah tarian dramatari Bali yang dianggap paling tinggi mutunya dan merupakan dramatari klasik Bali yang paling kaya akan gerak-gerak tari sehingga dianggap sebagai sumber segala jenis tari klasik Bali.Diperkirakan, Gambuh ini muncul sekitar abad ke-15 yang lakonnya bersumber pada cerita Panji. Gambuh berbentuk total theater karena di dalamnya terdapat jalinan unsur seni suara, seni drama & tari, seni rupa, seni sastra, dan lainnya.

Pementasannya dalam upacara-upacara Dewa Yadnya seperti odalan, upacara Manusa Yadnya seperti perkawinan keluarga bangsawan, upacara Pitra Yadnya (ngaben) dan lain sebagainya. Diiringi dengan gamelan Penggambuhan yang berlaras pelog Saih Pitu. Tokoh-tokoh yang biasa ditampilkan adalah Condong, Kakan-kakan, Putri, Arya / Kadean-kadean, Panji (Patih Manis), Prabangsa (Patih Keras), Demang, Temenggung, Turas, Panasar dan Prabu. Dalam memainkan tokoh-tokoh tersebut semua penari berdialog, umumnya bahasa Kawi, kecuali tokoh Turas, Panasar dan Condong yang berbahasa Bali, baik halus, madya dan kasar.

Di Bali, hanya sedikit desa yang memiliki kesenian Gambuh. Salah satu desa yang terkenal dengan kesenian Gambuhnya adalah Desa Pedungan, Denpasar. Gambuh ini merupakan kelompok seni istana yang berkaitan erat dengan Puri Satria dan Puri Pemecutan. Ia mendapat perlindungan dan pengayoman dari penguasa di kedua puri tersebut. Besarnya perhatian raja pada kesenian Gambuh pada waktu itu menyebabkan Gambuh Pedungan tumbuh dan berkembang dan melahirkan penari-penari Gambuh handal. Satu di antara penari Gambuh yang sangat terkenal adalah I Gede Geruh (almarhum).

Kini, dengan semakin memudarnya kekuasaan puri, Gambuh pun menjadi milik kelompok atau banjar yang bersangkutan. Kelompok Seni Gambuh yang masih aktif hingga kini terdapat di desa Batuan (Gianyar), Padang Aji dan Budakeling (Karangasem), Tumbak Bayuh (Badung), Pedungan (Denpasar), Apit Yeh (Tabanan), Anturan dan Naga Sepeha (Buleleng).

Sumber:
"Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali" (I Wayan Dibia, Guru Besar ISI Denpasar)
"Masa Keemasan Kesenian Gambuh" (Wardizal, Dosen Seni Karawitan ISI Denpasar)

Foto:
Widnyana Sudibya


Tulisan Terkait:
Pasang Surut Gambuh Pedungan di Tengah Laju Budaya Global


Hide

/

Warung Lawar Penatih, Bumbu Wangen Tiga Generasi

Oleh: Maria Ekaristi & Agung Bawantara

Warung ini didirikan pada tahun 1957 oleh I Made Pegeg. Mula-mula berupa sebuah warung sederhana disebuah gang yang letaknya tak jauh dari warung yang sekarang. Menu pada saat didirikan adalah lawar godel (sapi muda). Karena lezat dan khas warung milik Pak Pegeg itu langsung ramai pengunjung. Meski demikian, ahli lawar ini tetap bersahaja. Ia tetap bertahan dengan sajiannya yang sederhana dan harganya yang murah. Tapi, kesederhanaan itu justru semakin membuat warung lawar Pak Pegeg menjadi terkenal. Orang-orang menyebutnya Warung Lawar Penatih.

Karena usia yang semakin renta, perlahan-lahan Pegeg menurunkan kemahirannya meracik bumbu kepada putrinya Ni Ketut Ribug, dan kemudian menyerahkan pengelolaan warung itu kepadanya.
Tahun 1982, karena berbagai pertimbangan Ni Ketut Ribug memindahkan lokasi warung beberapa meter di seberang warung yang lama. Pada saat-saat tersebut, selain di warung, penjualan juga dilakukan berkeliling ke tempat-tempat di mana tajen (sabungan ayam) tengah digelar.
Itu berlangsung hingga beberapa tahun lamanya.

Kembali karena pertimbangan usia, Ni Ketut Ribug menurunkan keahlian memasaknya pada putranya, I Wayan Nanu. Sekaligus juga menyerahkan pengelolaan warung itu ke pemuda alumnus Fakultas humum Universitas Udayana tersebut. Di tangan Nanu, warung ini mengalami perubahan menu dari godel menjadi babi dan bebek. Alasannya, karena daging godel semakin sulit didapat dan harganya semakin melangit.

Tahun 1996, Nanu, memindahkan lokasi warung ke lokasi yang ditempati hingga sekarang. Yakni di jalan Padma, Denpasar Utara.

Kini warung sederhana itu sudah berubah menjadi bangunan permanen dua lantai. Di situlah layanan dibuka sejak pukul delapan pagi hingga pukul lima sore. Setiap harinya, warungi itu dikunjungi tak kurang dari 150 pembeli, rata-rata berusia di atas 30 tahun. Menu tetap sampai saat ini adalah : lawar, sate, ares, daging goreng, urutan.

Menurut nanu, rahasia sukses Warung Lawar Penatih ini adalah kesetiaannya menjaga rasa yang kuat dari bumbu wangen.

“Sebagai pewaris, saya berusaha mempertahankan apa yang telah dirintis oleh kakek dan ibu saya,” Papar Nanu.

Hide

/

Rawan Pembobolan, Hati-hati Bertransaksi di ATM

Grace Simon, penyanyi top era 1970-an, langsung menarik seluruh dana yang tersisa di bank begitu rekeningnya ketahuan kebobolan sebesar Rp 15 juta. Ia tak mau dana pribadi maupun dana panti asuhan miliknya yang masih tersimpan di bank ikut terkuras pula. Grace, yang kini mengelola panti asuhan Baith-El di Jalan Jempiring 20 Semarapura itu adalah satu di antara 19 korban sindikat pembobol rekening via anjungan tunai mandiri (ATM) di Bali.

Itu yang dilakukan Grace, lalu bagaimana dengan korban lainnya? Tak banyak korban yang mau buka suara soal ini. Yang pasti, menurut Kapoltabes Denpasar Kombes Pol. Gede Alit Widana, dari seluruh korban yang melapor, total dana yang telah tersedot penjahat mencapai lebih dari Rp500 juta. Untuk kepentingan pengungkapan, Alit Widana mengatakan pihaknya telah memeriksa 20 orang saksi serta melakukan koordinasi dengan pihak bank.

“Berdasarkan hasil peyelidikan sementara, sistem yang digunakan untuk membobol kartu ATM para nasabah, diduga dengan memasang chips di mesin ATM untuk merekam data dari kartu dan juga adanya pemasangan kamera tersembunyi untuk mengetahui digit nomor PIN milik para nasabah,” paparnya kepada pers, Kamis (21/1).

Rupanya, pembobolan ATM ini bukan hanya terjadi di Bali. Melainkan terjaid juga Jakarta. Kamis (21/1) TEMPO Interaktif melaporkan bahwa Markas Besar Kepolisian mulai mempelajari keterlibatan mafia Rusia dalam kasus pembobolan ATM ini.
“Kan sebagian pelaku sudah keluar (dari penjara). Kami pelajari modus operandinya, apakah yang sekarang sama dengan yang lama,” ucap Kepala Badan Reserse dan Kriminal Inspektur Jenderal Ito Sumardi. Menurut Ito, apabila modus yang digunakan sama, maka ada kemungkinan operasi pembobolan kembali dilakukan oleh mereka.

“Namun kami masih mengembangkan (keterkaitan mafia Rusia),” tandasnya.

Di Bali, sejumlah korban yang melapor ke kepolisian terkait kasus ini antara lain: Robert Allen - Rp55 juta (BCA), Richard Lewis - Rp18,5 juta (BCA), Sueca - Rp8,5 juta (BCA), Yudiyono - Rp34 juta (BCA), Lili Suryani - Rp145 juta (BCA), Wilhelmina Bia Migirayo - Rp19 juta (BCA), Grace Ellen Simon - Rp 15 juta (BCA), Ika Nuriali - Rp8,5 juta (BCA), Helena Brau Buo - Rp27 juta (Permata), Dario – Rp 46 juta (Permata), NN – Rp 11,5 juta (Permata), Wayan Siplin – Rp13,2 juta (BNI), Ketut Sri Wardani – Rp 30,1 juta (BNI), Nyoman Sureni – Rp30 juta (BNI).

Berkait dengan kasus ini, pihak Bank Indonesia menghimbau nasabah untuk mengganti PIN secara berkala sebagaimana telah diingatkan oleh pihak bank selama ini. Berikut ini beberpa beberapa tip lain menghindarkan diri dari pembobolan rekening via ATM:


1. Lindungi kerahasiaan PIN dengan tidak memberitahukannya kepada siapa pun, termasuk kepada orang yang tampak seperti petugas bank.
2. Tutup dengan tangan saat memasukkan PIN di ATM sehingga PIN tidak dilihat oleh pihak lain.
3. Perhatikan kondisi fisik ATM dan sekililingnya. Apabila ada hal-hal yang mencurigakan, jangan gunakan ATM tersebut. Segera laporkan kondisi tersebut kepada pihak bank terdekat dan atau kepada pihak berwajib.
4. Pada saat bertransaksi menggunakan kartu ATM / Debit pada merchant / toko yang bekerja sama dengan pihak perbankan, perhatikan kondisi alat EDC (Electronic Data Capture). Bila terdapat alat yang mencurigakan menempel pada EDC, urungkan transaksi dan segera laporkan kepada pihak bank terdekat atau kepada pihak berwajib.
5. Segera lakukan pemblokiran Kartu ATM, jika kartu ATM anda hilang dengan menguhubungi via telpon atau datangi kantor cabang penerbit kartu tersebut.
6. Gunakan Ruang ATM yang benar benar aman dan jauh dari orang2 tidak di kenal.
7. Untuk mengacaukan rekaman penjahat, setelah bertransaksi via ATM, masukkan kembali kartu ATM lalu tekan nomor acak dan tekan tombol “cancel”.

Penting:
Modus Pembobolan ATM dan Cara Pencegahannya

Hide

/

Angin Barat, Sampah Menumpuk di Pantai Kuta

Telah hampir dua pekan berselang, timbunan sampah “kiriman” yang mengotori tepian Pantai Kuta, masih saja terlihat. Setiap pagi, ribuan kubik sampah berjejal di bibir pantai. Sampah tersebut dibawa oleh arus air laut akibat dampak embusan angin barat sejak bulan Desember lalu. Setiap hari 33 Satgas Pantai Kuta dibantu para pedagang telah bekerja ekstra keras melakukan pembersihan tumpukan sampah tersebut. Namun, setiap pagi, selalu saja ada tumpukan sampah berupa botol air mineral, kemasan rokok, plastik, ranting, potongan kayu, akar pohon, batang pohon pisang, dan kayu gelondongan, berjubel di situ. Pembersihan dilakukan sejak pagi hingga sore, sebanyak enam kali setiap harinya.

“Untuk mempermudah pekerjaan, selain menggunakan peralatan sederhana, kami juga mengerahkan tiga unit alat berat (loader) dan satu unit truk sampah,” papar I Gusti Ngurah Tresna, Ketua Unit Satgas Pantai Kuta.

Menurut Tresna, kejadian semacam ini selalu berulang setiap datang angin barat yang biasanya berembus sejak pertengahan Desember hingga Pebruari. Tentu saja kondisi ini sangat menggangu kenyamanan berwisata di pantai tersebut. Selain tak sedap dipandang mata, sampah tersebut juga mengembuskan bau amis yang menyengat .

Terganggunya aktivitas pelancong oleh sampah tersebut membuat pemasukan para pedagang di sepanjang pantai tersebut merosot drastis. Herman, seorang pedagang bakso yang pada situasi normal biasa menangguk rejeki sebesar Rp. 175 ribu hingga Rp 200 ribu per hari, kini melorot hingga kurang dari sepertiganya.

"Tamu-tamu jadi malas berjemur di pantai. Jadi ndak ada yang belanja," keluh pemuda asal Lombok yang mengatakan bahwa dirinya baru memperoleh pendapatan sebesar Rp 45 ribu, padahal hari sudah beranjak siang.

Yang mengherankan bagi Tresna dan Herman, kenapa Pemerintah selalu terlambat dalam mengantisipasi kondisi tahunan ini. (abe/jjb)

Hide

/

Rujak Kuah Pindang Dadong Ayu

Oleh: Maria Ekaristi & Agung Bawantara

Pernah mendengar menu rujak kuah pindang, bukan? Itu lho, rujak berbumbu terasi, garam dan cabai, lalu dikuahi dengan kaldu ikan. Di Bali, banyak warung yang menyediakan jenis kudapan ini. Satu di antaranya adalah “Warung Dadong Ayu” di Jalan Merdeka, Renon, Denpasar. Letaknya persis di pojok perempatan berseberangan dengan kantor Telkomsel. Warung ini sederhana saja, namun rasa rujaknya istimewa. Komposisi bumbunya terasa pas dengan buah dan kuahnya sehingga adonan menjadi begitu segar dan menerbitkan selera.

Layaknya warung rujak tradisonal di Bali, selain rujak kuah pindang di warung ini juga tersedia rujak cuka dan rujak gula. Keduanya sama segar dan nikmatnya. Tak ketinggalan juga hidangan tipat bumbu plecing, plecing kangkung dan tipat cantok. Harga per porsinya rata-rata Rp 3 ribu saja.

Dan, yang penting, meskipun tempat dan bangunannya sederhana, penyajian makanan di warung ini cukup hygenis. Mau coba? Datang saja. Tapi, jangan terlalu sore. Soalnya, warung tradisonal ini cukup laris. Begitu dagangan yang disiapkan pada pagi hari habis (biasanya sekitar pukul 14), maka warung pun langsung tutup. (abe/jjb)

Hide

/

Musim Hujan, Tarif Diving Turun 10 Persen

Hujan yang mengguyur hampir seluruh wilayah Bali membawa pengaruh bagi usaha diving dan snorkeling di beberapa dive spot di sisi timur pulau ini. Beberapa wahana wisata bawah laut di Kabupaten Karangasem seperti pantai Amed, Jemeluk, Bunutan, Tulamben dan beberapa pantai lainnya mengalami kelesuan. Untuk merangsang minat klien, beberapa penyelenggara wahana tersebut memberi potongan sebesar sepuluh persen dari tarif biasanya.

Memang, hujan deras yang kerap turun secara tiba-tiba membuat para peminat olahraga air urung menjalankan niatnya. Akibatnya, tidak hanya pengusaha wahana air yang merugi akibat situasi ini, para nelayan yang kesehariannya turut menggantungkan diri pada bisnis ini pun harus merelakan penghasilannya menyurut.

I Gede Suta, seorang dive master di pantai Amed, menuturkan bahwa setiap kali musim hujan rata-rata perusahaan wahana bawah air mengalami penurunan order sekitar 75 persen. Soalnya, pada musim hujan, perairan pantai menjadi keruh oleh aliran lumpur dari sungai-sungai.

“Ini menyebabkan jarak pandang di air menjadi pendek, dan pemandangan di bawah air menjadi tidak menarik” paparnya.

Menurut Suta, aktivitas wisata diving dan snorkling yang paling ramai di kawasan ini adalah pada bulan Mei sampai Juni. Pada bulan-bulan tersebut, dalam sehari bisa 40 orang tamu yang melakukan diving yang berbiaya antara 35 hingga 45 dollar Amerika per orang. (rul/jjb)

Hide