/

Cuplikan Kenangan Bali Tahun 1920-an

Bali telah dikenal wisatawan Barat sebagai tempat yang indah untuk beranjangsana sejak tahun 1920-an. Foto-foto berikut ini adalah reproduksi dari foto-foto karya Gregor Krause yang berjudul Bali Vol. I : Land un Volk ; Vol II: Tenze, tempel, Feste yang diterbitkan oleh Folkwang Verlag, Magen (1920).

Suasana perkampungan Bali






Gerbang Pura Batur







Suasana Persembahyangan di Pura







Suasana Pasar Tradisional







Seniman Gambuh







Prosesi Mapeed

Hide

/

Pura Gunung Raung, Dari Sebuah Pohon Bercahaya


Oleh: Agung Bawantara

Ini salah satu pura tertua di Bali. Letaknya di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar. Pura ini erat sekali kaitannya dengan perjalanan Rsi Markandya, seorang resi dari Pasraman Gunung Raung, Jawa Timur, ke Bali untuk menyebarkan ajaran Sanatana Dharma (Kebenaran Abadi) yang kini dikenal dengan sebutan Hindu Dharma.

Setelah terlebih dahulu mengawali langkahnya dengan mendirikan Pura Basukian di Besakih, selanjutnya Rsi Markandya membangun pasraman (semacam pesantrian) di Taro. Pasraman inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Pura Gunung Raung di Desa Taro tersebut.

Di desa Taro, Pura Gunung Raung ini terletak persis di tengah-tengah desa dan menjadi pembatas Banjar Taro Kaja (utara) dan Banjar Taro Kelod (selatan). Ini adalah sesuatu yang unik, sebab pada umumnya letak pura di Desa Kuno di Bali adalah di daerah hulu dan di daerah hilir desa.

Tentang perjalanan Rsi Markandya, menurut lontar Bali Tatwa, mulanya Sang Resi berasrama di Damalung, Jawa Timur. Selanjutnya, beliau mengadakan tirthayatra (perjalanan suci) ke arah timur hingga ke Gunung Hyang (Dieng). Tak ada tempat ideal yang ia temukan sebagai pasraman dalam perjalanan suci tersebut. Resi Markandya pun melanjutkan perjalanannya ke arah timur hingga tiba di Gunung Raung, Jawa Timur. Di tempat inilah beliau membangun asrama dan melakukan pertapaan.

Suatu hari, dalam samadinya, beliau mendapatkan petunjuk agar meneruskan perjalanan ke arah timur lagi, yakni ke Pulau Bali. Petunjuk itu pun dilaksanakannya. Diiringi 8000 pengikut, beliau melanjutkan perjalanan sucinya ke Bali.

Tiba di sebuah tempat yang berhutan lebat di lambung Gunung Agung, Rsi Markandya berkemah dan membuka areal pertanian. Namun, para pengikut beliau terkena wabah penyakit hingga sebagian di antaranya meninggal dunia. Hanya sekitar 4000 pengikut saja yang tersisa.

Melihat keadaan itu, Resi Markandya kembali ke Jawa Timur untuk bersamadi dan memohon petunjuk. Tuhan yang menampakkan dirinya sebagai Sang Hyang Pasupati kemudian hadir dan memberi tahu Sang Rsi bahwa kesalahannya adalah tidak melakukan ritual dan mempersembahkan sesaji untuk mohon izin saat hendak merambah hutan. Mendapat keterangan demikian, Resi Markandya kembali menuju Bali dan terus menuju Gunung Agung (Ukir Raja). Saat itu beliau diring oleh para pengikut yang disebut Wong Age.

Setiba di Gunung Agung, Rsi Markandya mengadakan upacara dengan menanam Panca Datu yaitu lima jenis logam (emas, perak, besi, perunggu, timah) yang merupakan simbolis dari kekuatan alam semesta. Di tempat pelaksanaan ritual dan pemendaman panca datu tersebut kemudian didirikan pura yang dinamakan Pura Basukian yang menjadi cikap bakal berdirinya kompleks Pura Besakih.

Setelah itu memendam panca datu dan melakukan ritual lainnya, barulah kemudian Sang Rsi memerintahkan pengikutnya untuk membuka lahan pertanian menurun hingga ke Gunung Lebah di Ubud. Sampai di sebuah lahan yang cukup strategis, beliau mengadakan penataan seperti pembagian lahan untuk perumahan dan pertaian untuk para pengikutnya. Desa itu kemudian dinamakan Desa Puakan.

Selanjutnya, Rsi Markadya juga memerintahkan sebagian pengikutnya membuka lahan hingga ke sebuah tempat yang subur yang dinamakan Desa Sarwa Ada. Di sana beliau juga melakukan penataan dan pembagian lahan bagi para pengikutnya. Dan, setelah semua pengikutnya mendapatkan lahan untuk melanjutkan dan mengembangkan kehidupannya, beliau kemudian membangun sebuah pasraman yang serupa dengan pasramannya di Gunung Raung, Jawa Timur. Entah kenapa, pada saat itu kembali Resi Markandya mendapatkan banyak gangguan dan kesulitan.

Seperti sebelumnya, Rsi Markandya kembali ke Jawa Timur dan mengadakan samadi. Tak ada petunjuk apa pun yang beliau peroleh selain perintah untuk kembali melakukan samadi di pasraman beliau di Bali. Ketika petunjuk itu beliau turuti, Rsi Markandya melihat seberkas sinar cemerlang memancar dari sebuah tempat. Ketika didekatinya, sinar tersebut berasal dari sebatang pohon. Di pokok pohon yang menyala itulah Rsi Markandya mendirikan pura yang sekarang dinamakan Pura Gunung Raung.

Pura dengan pohon yang bersinar tersebut menjadi pusat desa. Karenanya, desa tersebut dinamakan Desa Taro. Taro berasal dari kata ”taru” yang berarti pohon. Sedangkan nama pura dan pasramannya sama dengan nama sebelumnya yakni Gunung Raung.

Sebelumnya, di Desa Taro, hidup sapi putih yang dipercayai oleh masyarakat setempat sebagai keturunan Lembu Nandini (Tunggangan Dewa Siwa). Sapi putih itu dikeramatkan oleh penduduk di Desa Taro. Dang Hyang Markandya adalah seorang resi yang menganut paham Waisnawa, namun dengan membiarkan masyarakat tetap mengeramatkan sapi putih itu, menunjukan bahwan beliau menghormati keberadaan paham Siwaisme yang sudah sempat tumbuh dan berkembang di Taro.

sumber: I Ketut Gobyah (http://www.balipost.co.id) dan beberapa sumber lainnya.

Hide

/

Gamelan Angklung, Si Selendro yang Melankolis

Oleh: Agung Bawantara

Ini adalah jenis alat musik tradisional Bali yang berlaras selendro. Di beberapa tempat gamelan ini dikenal dengan sebutan Angklung Kelentungan. Jenis gamelan ini menghasilkan nada sendu dan melankolis. Gamelan ini tergolong barungan madya atau orkestrasi sedang yang dimainkan oleh 11-25 pemusik. Sebagai pembanding, barungan ageng atau orkestrasi besar dimainkan oleh lebih dari 25 pemusik.
Orkestrasi ini dibentuk oleh instrumen berbilah dan pecon dari krawang (sejenis campuran logam), Kadang-kadang ditambah juga angklung bambu kocok yang berukuran kecil. Gamelan ini dibuat dengan ukuran-ukuran yang relatif kecil sehingga mudah dipanggul dan dimainkan sambil mengiringo sebuah prosesi. Di Bali Selatan, gamelan ini hanya mempergunakan empat nada sedangkan di Bali Utara mempergunakan lima nada.

Berdasarkan konteks penggunaan dan materi tabuhnya, jenis angklung dapat dibedakan menjadi tabuh angklung klasik (tradsional) yang dimainkan untuk mengiringi prosesi upacara (tanpa tari-tarian) dan angklung kebyar yang dimainkan untuk mengiringi pegelaran tari maupun drama. Satu barung (kelompok) Gamelan Angklung bisa berperan keduanya, karena seringkali mereka mempergunakan gamelan yang sama.

Di kalangan masyarakat luas, gamelan ini dikenal sebagai pengiring upacara-upacara kematian (Pitra Yadnya) seperti Ngaben. Bahkan, di sekitar Kota Denpasar dan beberapa tempat lainnya, penguburan jenazah warga Tionghoa pun kerap diiringi dengan Gamelan Angklung. Namun, di beberapa daerah, Gamelan Angklung menggantikan fungsi gamelan Gong Gede untuk mengiringi upacara di pura (Dewa Yadnya) dan upacara-upacara lainnya.

Dalam satu barung, instrumental Gamelan Angklung terdiri dari jegogan, jublag, pemada, kantil, reong, kendang, tawa-tawa, dan kempur. Angklung Kebyar tidak mempergunakan kempur, tetapi gong.

Nama-nama tabuh yang umum dikenal di kalangan pemain angklung antara lain: Asep menyan, Capung manjus, Capung Ngumbang, Dongkang Menek Biu, Gowak Maling Taluh, Sekar Jepun, Berong, Sekar Ulat, Glagah Katunuan, Jaran Sirig, Kupu-kupu tarum, meong Megarong, Pipis Samas, Sekar Sandat, dan Cecek Magelut. Sedangkan tabuh-tabuh angklung kebyar sama dengan yang dipakai dalam Gong Kebyar.

Sumber: Buku “Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali” karya Prof. Dr. I Wayan Dibia dan beberapa sumber lainnya.
Foto : http://farm1.static.flickr.com/31/103002205_1edaead23c.jpg

Hide

/

Lima Pukulan Kentongan SBY untuk Menduniakan PKB

Oleh: Agung Bawantara

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berulang kali menyatakan bahwa dirinya sengat mengagumi kebudayaan Bali. Yang terakhir, Presiden kembali menyatakan kekagumannya itu saat membuka Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-32 di panggung terbuka Ardha Candra, Art Center semalam. Presiden yang mengenakan pakaian adat Bali berharap PKB bisa menggaungkan Bali ke penjuru dunia.

Menurut Presiden, kebudayaan Bali yang berwarna-warni dan memiliki daya pukau luar biasa, semestinya dimanfaatkan untuk menembus seluruh dunia guna menawarkan gagasan-gagasan cemerlang dari Bumi Nusantara.

“Jadi, Pesta Kesenian Bali ini bukan semata-mata menampilkan kesenian selama sebulan penuh, melainkan ada dialog atau pertemuan antara masyarakat dengan tokoh-tokoh seni dan budaya Bali. Juga dengan peserta dari luar Bali, bahkan dari luar negeri,” wejangnya.

Saat malam pembukaan tersebut, panggung terbuka Ardha Candra penuh sesak oleh pengunjung. Selain ingin menyaksikan acara pembukaan yang dihadiri langsung oleh Presiden, mereka juga ingin menyaksikan gelaran sendratari kolosal Anggada Duta garapan Institut Seni Indoensia (ISI) Denpasar. Bagi masyarakat umum, gelaran acara pembukaan PKB dianggap sebagai gelaran menarik yang layak disaksikan.

Kembali ke soal pengembangan kebudayaan Bali, Presiden berharap tokoh-tokoh Bali memikirkan bagaimana membawa nilai-nilai Bali lebih mendunia. Presiden menyontohkan World Culture Forum yakni pertemuan khusus kebudayaan yang melibatkan tokoh-tokoh dunia.

"Saya berharap tokoh-tokoh Bali bisa memikirkan gagasan ini. Dengan demikian, Bali tetap menjadi perhatian dunia dan punya agenda tersendiri," demikian presiden.

Melalui PKB tahun ini, presiden berharap warna-warni menggelora dari Bali dan menembus dunia."Saya menginginkan warna-warni ini muncul dari Bali dan menembus dunia," harap SBY yang lagi-lagi mendapat tepuk tangan para hadirin.

Setelah berpidato, tepat pukul 20.30 Wita, SBY membuka PKB XXXII dengan memukul kentongan sebanyak lima kali. Bunyi gamelan langsung menyambut pemukulan kentongan tersebut. Ikut mendampingi presiden di panggung Menbudpar Jero Wacik, Gubernur Bali Made Mangku Pastika, dan Ketua DPRD Bali AA Ngurah Oka Ratmadi.***

Foto: Repro Nyoman Wija,Radar Bali

Hide

/

Sawah Indah, Makan dan Rekreasi di Tengah Sawah

Oleh : Maria Ekaristi

Sumpek dengan rutinitas sehari-hari? Atau, ingin menikmati suasana makan siang yang jauh dari kebisingan? Datanglah ke Rumah Makan Sawah Indah di Jalan Raya Teges - Goa Gajah, Ubud. Dijamin, begitu memasuki tempat tersebut anda akan merasakan suasana yang berbeda. Rumah makan ini berada di tengah areal persawahan yang sejuk sangat cocok untuk bersantap sembari bersantai.

Menu makanan andalannya adalah menu-menu tradisional yang memanjakan lidah seperti ikan, ayam atau bebek bumbu Bali dengan berbagai olahan. Juga aneka sayuran bumbu Bali yang sedap seperti plecing kangkung dan plecing gonda.



Yang istimewa, Bebek Goreng yang yang terhidang di rumah makan ini begitu gurih dan renyah. Nyaris melampaui hidangan bebek goreng di resto-resto spesialis bebek goreng yang sudah terkenal.

Di luar itu, kelebihan rumah makan yang dikelola oleh Eka Sugiyantha ini adalah ketersediaan layanan outbound dan berbagai wahana permainan di arena lumpur seperti gebug bantal, bola tangan, tarik tambang, menangkap belut, menangkap bebek, bakiak tandem, menanam padi, membajak sawah, dan memancing. Hal ini menjadikan rumah makan Sawah Indah ini sebagai wahana yang asyik untuk liburan keluarga.

Untuk program outbond, ada beberapa layanan yang tersedia. Jika anda memilih Full Program, minimal peserta 20 orang, anda akan diajak untuk menikmatik kegiatan cycling, trekking; permainan di lumpur (gebug bantal, bola tangan, tarik tambang, nangkap belut, nangkap bebek), bakiak tandem, menanam padi dan memancing. Jika mengingkan kegiatan seperti menanam padi atau membajak sawah, ada biaya sedikit tambahan untuk itu.

Untuk paket full program yang dimulai sejak pukul 09.00 hingga pukul 15.00 ini, anda dikenakan biaya Rp. 325 ribu per pax. Harga tersebut sudah termasuk dua kali coffee break dan makan siang.

Jika menginginkan paket dengan jumlah peserta yang lebih kecil, tersedia Paket Family dengan peserta minimal empat orang. Kegiatannya: permainan di lumpur dan memancing. Untuk paket ini, biaya yang harus anda keluarkan adalah Rp. 150 ribu per pax. Harga tersebut sudah termasuk biaya makan siang.

Jika anda mengikuti aktivitas outbond, jangan lupa membawa baju ganti dan perlengkapan mandi.

Fasilitas lain yang terdapat di areal rumah makan "Sawah Indah" adalah:

Camping
Tenda untuk lima dan 10 orang
Check in pukul 11.00, check out pukul 14.00 keesokan harinya
Harga: Rp. 200 ribu per pax termasuk breakfast
games di lumpur; mandi di sungai.

Memancing
sewa pancing Rp. 10 ribu per unit
umpan Rp. 5 ribu per bungkus
gurami Rp. 60 ribu per kg
lele Rp. 37 ribu per kilogram

Dengan fasilitas empat gazebo dan lokasi yang dapat menampung sampai sepuluh tenda serta areal parkir yang dapat menampung hingga 30 mobil, wahana ini sangat cocok dipilih sebagai alternatif liburan keluarga atau lembaga.

Bagaimana mencapai lokasi "Sawah Indah"? Bila anda berangkat dari Denpasar menuju obyek wisata Pura Goa Gajah, tiba di pertigaan Teges, berbeloklah ke kanan. Anda memasuki Jalan Raya Goa Gajah. Beberapa meter sebelum pompa bensin yang terletak di sisi kiri jalan, anda akan melihat papan nama Sawah Indah. Masuklah ke gang itu, selanjutnyaa Anda akan akan dipandu dengan papan penunjuk arah yang dipasang di sepanjang jalan kecil di tengah-tengah persawahan.







Rumah Makan Sawah Indah
Jl. Raya Teges - Goa Gajah, Ubud, Gianyar
0361.7858080


Hide

/

Bendera Jumbo dan Kampung World Cup di Bali


Oleh: Maria Ekaristi & Agung Bawantara

Menyambut event Piala Dunia 2010, kampung-kampung world cup mulai bermunculan di Bali. Di Kelurahan Kedonganan, Kelurahan Jimbaran dan Kelurahan Benoa misalnya, sejak sebulan terakhir warga udah memasang bendera tim kesayangannya di depan atau di halaman rumah mereka. Bendera-bendera tersebut rata-rata berukuran lima meter lebarnya sehingga terlihat jelas dari kejauhan. Bahkan, di Kelurahan Benoa ada dua bendera berukuran jauh lebih besar yakni bendera Inggris dan bendera Portugal. Kedua bendera tersebut berukuran masing-masing 10 x 7 meter dan 15 x 8 meter!

Di Kelurahan Kedonganan dan Kelurahan Jimbaran, dari sejumlah bendera yang terpasang, sebagian besar warga memasang bendera negara-negara yang memang sudah kondang di ajang Piala Dunia, seperti Brazil, Inggris, Prtugal, Argentina, Italia, Jerman, dan Prancis. Di beberapa titik, ada juga terselip di antara itu bendera negara peserta seperti Afrika Selatan dan Korea. Beda halnya dengan Kelurahan Benoa. Di salah satu ruas jalan kawasan tersebut, yakni di Jalan Calonarang, terpasang bendera seluruh negara peserta Piala Dunia 2010.

Menurut informasi yang diperoleh oleh Jalan-jalan Bali, masyarakat ketiga kelurahan tersebut memang tergolong penggila bola. Dalam berbagai ajang sepak bola bergengsi macam Piala Eropa atau Piala Konfederasi, warga setempat selalu mengekspresikan dukungan mereka terhadap tim kesayangannya dengan polah yang unik. Salah satu bentuk ekspresi mereka adalah memasang bendera-bendera berukuran jumbo tersebut. bentuk ekspresi lainnya adalah melakukan konvoi menjelang hari pembukaan sembari mengibar-ngibarkan bendera tim kesayangan mereka.

Tidak hanya di tiga kelurahan itu saja terjadi euforia Piala Dunia. Di Kota Denpasar pun terjadi euforia yang sama. Di Jalan Nusa Penida, Sanglah, misalnya, masyarakat memasang bendera-bendera peserta Piala Dunia pada tali yang dibentangkan silang menyilang di atas ruas jalan tersebut.

Di Kesiman, Denpasar Timur, belasan bendera berukuran jumbo sudah berkibar sejak beberapa pekan lalu. Bendera-bendera tersebut dikibarkan pada tiang bambu yang sebelumnya digunakan untuk mengibarkan bendera partai dalam rangka Pemilihan Umum Langsung Kepala Daerah setempat.

Hide