Blog Archive
Categories
- Acara Budaya (5)
- Air terjun Dusun Kuning (1)
- Air Terjun Singsing (1)
- Alas Kedaton (1)
- Amed (2)
- Arak Bali (1)
- Arsitektur Bali (1)
- ATV Driving (1)
- Bali Art Centre (2)
- Bali Bird Park dan Reptile Park (1)
- Bali Eye Balloon (1)
- Bali Kuno (1)
- Bali Safari and Marine Park (BSMP) (2)
- Bali Timur (1)
- Banana Boat (1)
- Barong (1)
- Batik (1)
- Batik Bali (1)
- Batu Abah (1)
- Batu Beling (1)
- Batu Lumbung (1)
- Batubulan (1)
- Bebek Bengil (1)
- Bedugul (7)
- Belanja (4)
- Belanja Murah di Bali (2)
- Belanja Oleh-oleh (4)
- Berita (3)
- Bersepeda (1)
- Bersihkan Hati (1)
- Betutu (1)
- Bikin Tato (1)
- Brahmavihara-Arama (1)
- Bunga Citra Lestari (1)
- Bunut Bolong (1)
- Bunute (1)
- Candi Dasa (1)
- Celuk (1)
- Ceningan (1)
- cuaca bali (2)
- Cupak Grantang (1)
- Danau Batur (1)
- Danau Beratan (6)
- Danau Buyan dan Tamblingan (3)
- Desa Kamasan (2)
- Desa Taro (2)
- Desa Wisata (2)
- Directori Spa (1)
- Direktori Warung Bali (1)
- Diving (4)
- Drama Gong (2)
- Dugem (1)
- duka (1)
- Fauna Bali (4)
- Fesyen (1)
- Flora Bali (1)
- Flu Babi (3)
- Flying Fish (1)
- Garuda Wisnu Kencana (GWK) (1)
- Gempa (2)
- Gunung Agung (4)
- Gunung Batur (2)
- GWK (1)
- Hipnotis (4)
- Hotel (13)
- Hotel di Canggu (1)
- Hotel di Denpasar (1)
- Hotel di Kuta (2)
- Hotel di Sanur (1)
- Hotel Murah di Bali (8)
- hotel murah di Kuta (1)
- Hotel Murah di Legian (3)
- Hotel Murah di Petitenget (1)
- Hotel Murah di Tuban (1)
- HUT Kemerdekaan (1)
- Imlek (1)
- Industri Kreatif Bali (3)
- Info (1)
- Inspirasi Bali (1)
- Jadwal Acara Hiburan (2)
- Jadwal Pementasan Tari Bali (5)
- Jati Luwih (1)
- Jet Ski (1)
- Joged (1)
- Joged Bumbung (3)
- Jogging (1)
- Jungut Batu (1)
- Kab. Badung (21)
- Kab. Bangli (7)
- Kab. Buleleng (10)
- Kab. Gianyar (16)
- Kab. Karangasem (18)
- Kab. Klungkung (10)
- Kab. Tabanan (10)
- Kabupaten Jembrana (6)
- Kalendar Festival Tahunan (3)
- Kapal Selam (1)
- Kawasan Batur (5)
- Kawasan Nusa Penida (2)
- Kawasan Tukad Unda (1)
- Kayaking (1)
- Kebun Raya Ekakarya (1)
- Kerajinan Kayu (1)
- kerajinan keris (1)
- Kerajinan Perak (1)
- keris bali (1)
- Kerta Gosa dan Taman Gili (1)
- Kiadan (1)
- Kongco Dwipayana (1)
- Kopi Bali (1)
- Korupsi (1)
- Kota Denpasar (24)
- Kunjungan Wisata (5)
- Kuta Carnival (1)
- Lawar (2)
- Layang-layang (2)
- Le Mayeur (1)
- Lebaran di Bali (3)
- Legian (1)
- Lembongan (1)
- Lingkungan (1)
- Lovina (3)
- Luna Maya (1)
- Makanan Jepang (1)
- Makanan Khas Bali (6)
- Meami-amian (1)
- Meditasi (1)
- Melasti (1)
- Monumen Bajra Sandhi (2)
- Monumen Maya (1)
- Monumen Ngurah Rai (1)
- Monumen Puputan Badung (1)
- Monumen Puputan Klungkung (2)
- Museum (2)
- Museum Bali (5)
- Musik Bali (4)
- Musik di Bali (5)
- Nasi Jinggo (1)
- Nasi Séla (1)
- Ngaben (1)
- Ngopi di Bali (1)
- Nusa Penida (1)
- Nyepi (6)
- Ogoh-ogoh (1)
- Olahraga Air (13)
- Omed-omedan (1)
- Padang Bai (1)
- Paint Ball (1)
- Paket Wisata (2)
- Pameran (3)
- Panca Bali Krama (2)
- Pantai Amed (2)
- Pantai Balangan (1)
- Pantai Dreamland (1)
- Pantai Jimbaran (1)
- Pantai Kedonganan (1)
- Pantai Kuta (12)
- Pantai Legian (3)
- Pantai Lepang (1)
- Pantai Lovina (3)
- Pantai Medewi (1)
- Pantai Mertasari-Sanur (1)
- Pantai Nusa Dua (2)
- Pantai Padang-padang (1)
- Pantai Sanur (8)
- Pantai Seminyak (1)
- Pantai Suluban (2)
- Pantai Tanjung Benoa (6)
- Pantai Tulamben (4)
- Parade Budaya (1)
- Parasailing (1)
- Pasar Seni Sukawati dan Guwang (1)
- Pecha Kucha (1)
- Pegayaman (1)
- Pelabuhan (1)
- Pembobolan ATM (1)
- Pembuatan Garam (1)
- Pemuteran (1)
- penginapan murah (1)
- Penglipuran (1)
- Penjor (1)
- Pentas Hiburan (5)
- Pentas Seni (1)
- Penyewaan Mobil (2)
- Perairan Pulau Menjangan (1)
- Perang Pandan (1)
- Pertunjukan Tari (4)
- Pesta Kesenian Bali (14)
- Petualangan (20)
- Pia Legong (1)
- Piala Dunia (1)
- Pojok Ngopi (1)
- Pulau Menjangan (1)
- Pulau Penyu (2)
- Puncak Malibu (1)
- Puncak Mangu (1)
- Puncak Manta (1)
- Pura Beji (1)
- Pura Besakih (11)
- Pura Bukit Sari di Sangeh (1)
- Pura Candi Gunung Kawi (1)
- Pura Goa Gajah (1)
- Pura Goa Lawah (1)
- Pura Gunung Raung (1)
- Pura Lempuyang (1)
- Pura Luhur Uluwatu (1)
- Pura Mangening (1)
- Pura Meduwe Karang (1)
- Pura Penataran Sasih (1)
- Pura Ponjok Batu (1)
- Pura Purancak (1)
- Pura Pusering Jagat (1)
- Pura Rambut Siwi (1)
- Pura Samuan Tiga (1)
- Pura Taman Ayun (1)
- Pura Tirta Empul Tampaksiring (1)
- Puri Agung Karangasem (1)
- Puting Beliung (1)
- Putung (1)
- Rabies (2)
- Rafing (1)
- Rafting (2)
- Ramadhan (1)
- Rujak kuah pindang (1)
- Safari Gajah (1)
- Salak (1)
- Salsa (2)
- Sambal Matah (1)
- Sampah (1)
- Sanghyang (1)
- Sanur (4)
- Sate Lilit (1)
- Sea Walker (1)
- Seni Suara (1)
- Seputar Bali (1)
- Siwa Ratri (1)
- Snorkeling (2)
- Spa (1)
- Spiritual Event (1)
- Sri Tanjung (1)
- Srombotan (1)
- Subak (2)
- Sungai Ayung (1)
- Surfing (4)
- Taman Kupu-kupu (1)
- Taman Margarana (1)
- Taman Nasional Bali Barat (1)
- Taman Rosani (1)
- Taman Tirta Gangga (1)
- Taman Ujung (1)
- Tamblingan (1)
- Tanah Lot (1)
- Tango (1)
- Tanjung Benoa (10)
- Tari Bali (9)
- Telaga Waja (1)
- Tempat Makan Halal (10)
- Tenganan (2)
- Tip Berwisata di Kawasan Batur (1)
- Topeng Sidakarya (1)
- Toyabungkah (1)
- Toyapakeh (1)
- tragedi (1)
- tranportasi (1)
- Travel (2)
- Treckking (1)
- Trekking (1)
- Trik Liburan di Bali (3)
- Tumpek Landep (1)
- Tunadaksa (1)
- TV Lokal Bali (1)
- Uang Kepeng (1)
- Ubud (1)
- Unikum Bali (2)
- Upacara (9)
- UWRF (1)
- Valentine Day di Bali (3)
- Warung Be Sanur (1)
- Warung Italia (1)
- Waterbom (1)
- Wisata Alam (2)
- Wisata Hujan (1)
- Wisata Lidah (38)
- Wisata Lidah di Bali (22)
- Wisata Masjid (1)
- Wisata-Sosial (1)
- World’s Best Island (1)
Ini adalah pantai yang ketenarannya melebihi ketenaran artis mana pun di Indonesia! Kemahsyuran pantai Kuta bukan hanya di Indonesia, tapi meluas hingga ke seantero jagat sebagai pantai dengan pemandangan alam memesona. Hampir semua pelancong yang datang ke Bali merasa belum lengkap jika belum sempat mengunjungi pantai ini.Sebelum muncul sebagai obyek wisata terkemuka, Kuta adalah sebuah pelabuhan dagang. Di sinilah hasil-hasil bumi masyarakat pedalaman dipasarkan kepada para pembeli dari luar Bali. Pada abad ke-19, Mads Lange, seorang pedagang asal Denmark, datang ke Bali dan mendirikan markas dagang di Kuta. Kepiawaiannya bernegosiasi, menjadikan Mads Lange sebagai makelar perdagangan antara raja-raja Bali dengan Belanda.
Belakangan, Hugh Mahbett menerbitkan buku berjudul Pujian untuk Kuta yang berisi ajakan kepada masyarakat setempat untuk menyiapkan fasilitas wisata untuk mengantisipasi perkembangan kunjungan wisata ke Bali. Buku itu kemudian memberi inspirasi banyak orang untuk membangun fasilitas wisata seperti penginapan, restoran, dan tempat-tempat hiburan.
Daya Tarik
Pesona utama pantai Kuta adalah kawasannya yang lebar dan landai serta pasirnya yang putih bersih. Letaknya yang berada di sisi barat menjadikan pantai ini sebagai tempat yang pas untuk menikmati pemandangan indah saat matahari terbenam. Namun, popularitasnya yang melambung tinggi membuat denyut pantai Kuta tidak hanya pada waktu-waktu itu saja. Kawasan ini berdenyut hampir selama 24 jam setiap harinya!
Pada pagi hari, pantai Kuta dikunjungi oleh wisatawan yang ingin menghirup udara segar atau sekadar berjalan-jalan. Siang hari, para pelancong biasa menikmati panorama alam sembari berjemur (sun bathing) di pinggir pantai. Sementara, para penggemar surfing menghabiskan waktu dengan meliuk-liuk di atas ombaknya sembari menikmati kehangatan air laut.
Pada sore hari, selain pelancong, banyak penduduk lokal membawa keluarganya untuk bermain pasir atau berenang sambil menanti saat-saat matahari terbenam. Keramaian kemudian berlanjut pada malam hari oleh para pelancong yang mengunjungi tempat-tempat hiburan atau hendak menikmati makan malam di kafe atau restoran.
Untuk menjaga keselamatan pelancong yang berenang, pantai Kuta dijaga ketat oleh sedikitnya 40 orang balawista. Mereka tersebar di tiga pos dan dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama berjaga sejak pukul 07.00 hingga pukul 14.00 WITA, sedangkan kelompok berikutnya sejak pukul 12.00 hingga pukul 19.00.
Penjagaan para balawista beratribut merah ini lebih difokuskan pada kantong-kantong arus yang dianggap rawan. Para pria berbadan kekar ini selalu siaga dengan tiga buah jet ski dan enam buah perahu karet.
Akses
Dari Bandara Internasional Ngurah Rai, kamu hanya membutuhkan waktu 10 menit menuju pantai Kuta. Kamu bisa masuk ke kawasan pantai ini kapan saja dengan menggunakan taksi, mobil jemputan atau kendaraan pribadi. Tak ada angkot yang melintasi pantai ini.
Tiket Masuk
Free!
Akomodasi dan berbagai fasilitas
Sebagai pusat kunjungan wisata Bali, Kuta memiliki fasilitas pendukung yang lengkap. Di kawasan ini kamu akan dengan mudah menemukan penginapan dari hotel bintang lima, wisma hingga hotel melati. Kamu juga bisa dengan mudah menemukan tempat hiburan, kafe, bar, pub, diskotek, karaoke, hingga pusat pelatihan dan penyewaan peralatan surfing.
Bagi penggemar belanja, di kawasan Kuta terdapat banyak toko souvenir yang menjual barang kerajinan dan aksesori dalam berbagai bentuk serta model, toko pakaian yang menjual busana pantai dan tropis. Di kawasan ini juga terdapat banyak supermarket dan warung makan maupun restoran yang menyuguhkan berbagai masakan dengan beragam cita rasa.
Untuk urusan cadangan uang tunai, fasilitas ATM dapat kamu temukan dengan mudah. Hampir semua bank menyediakan layanan ATM di lokasi-lokasi strategis di kawasan ini.
Mau sekadar relaksasi? Di pinggiran pantai ada banyak pemijat profesional yang bisa langsung melenturkan otot-otot dengan biaya jasa sekitar Rp 20 ribu untuk setengah jam dan Rp 40 ribu untuk satu jam. Ada juga penjual jasa mempercantik penampilanmu seperti membuat tatto temporer, mewarnai kuku, dan mengepang rambut.
Pada musim liburan panjang, tingkat hunian hotel dapat mencapai 90 hingga 100 persen. Waktu liburan tersebut yakni pada Juli-Agustus (dipadati oleh wisatawan domestik, Australia, Eropa); akhir November - pertengahan Januari (Indonesia, Australia); Maret – April (Rusia, Jepang). Jadi, kalau kamu ingin stay di kawasan Kuta pada saat berlibur di musim liburan tersebut, kamu harus sudah memesan tempat sebulan sebelumnya!
Penyewaan Kendaraan
Di Kuta terdapat banyak tempat penyewaan kendaraan dari mobil, motor hingga sepeda.
Tarif sewa mobil bervariasi tergantung jenis kendaraannya. Yang termurah, Rp 300 ribu per 24 jam. Yang termahal, Rp 575 ribu per 24 jam, sudah termasuk sopir dan BBM atau Rp 220 ribu per 24 jam tanpa sopir dan BBM.
Surfing di Kuta
Ombak pantai Kuta yang cukup tinggi sangat asyik buat surfing. Cobalah nikmati olahraga air yang seru ini. Kalau kamu tidak mempunyai atau membawa peralatannya, kamu bisa menyewa papan surfing di banyak tempat penyewaan yang tersebar di sepanjang pantai. Dengan membayar sewa sebesar Rp 50 ribu - Rp150 ribu per jam, selain papan kamu juga akan mendapat pelatihan singkat dari instruktur surfing dari tempat penyewaan tersebut. Di bawah arahan mereka, hanya butuh waktu 30 menit untuk kamu bisa meliuk-liuk membelah ombak di atas papan surfing itu.
Waterbom
Waterbom Bali salah satu objek wisata yang banyak diminati dengan luas 3.800 meter persegi. Untuk bisa berekreasi di tempat ini, kamu harus membayar karcis masuk seharga Rp 140 ribu per orang atau Rp 90 ribu untuk anak-anak. Biaya tersebut sudah mencakup biaya tiket masuk dan menikmati semua fasilitas kecuali: sewa loker dan handuk, wall climbing, gazebo dan eurobungy. Tiket berlaku sehari penuh dan diperbolehkan keluar area dan masuk kembali di hari yang sama.
Bila ingin mendapatkan harga yang hemat, kamu bisa mendapatkannya hanya dengan menunjukkan kartu pelajar. Dengan kartu ‘sakti’ tersebut, kamu hanya perlu membayar Rp 65 ribu per orang. Ketika kamu membeli karcis, langsung saja beli kartu belanja yang dapat diisi ulang. Kartu ini berguna ketika kamu hendak berbelanja di dalam arena, seperti membeli makanan, minuman, menyewa loker atau gazebo.
Dengan tiket masuk itu bisa langsung menikmati sesuka hati berbagai macam permainan air, dari kolam arus hingga kolam luncur. Kamu bisa memilih kolam luncur yang medium, high atau extreme. Beberapa permainan di antaranya:
Smashdown yakni meluncur dari ketinggian sekitar 21,79 meter, dengan kecuraman hampir 45 derajat dan berkecepatan 70 km/jam! Boomerang permainan seluncur berketinggian 14, 4 meter dengan kemiringan 60 derajat ini akan membuatmu merasa ‘terlempar’ ke udara. Seru! Macaroni Tube yang akan membawamu ke petualangan dalam kegelapan pipa sepanjang 150 meter. Banyak tikungan tajam, cukup mendebarkan, tapi asyik gitu, loh! Dan salah satu yang paling digemari pengunjung adalah Raft River. Kamu akan meluncur di pipa sepanjang 174 meter dari ketinggian 16 meter selama 50 detik. Dengan durasi yang cukup lama ini kamu dapat menikmati panorama sekitar yang indah.
Saat pulang, jika ternyata masih ada sisa uang dalam kartu belanjamu, maka kamu dapat menguangkannya kembali di loket yang berada di pintu keluar. Berikan kartu belanja itu kepada petugas jaga. Kartu itu akan di-scan. Sisa uangmu akan dikembalikan sesuai dengan nilai yang ditunjukkan oleh scanner.
Untuk menempatkan pakaian dan barang-barang lainnya selama kamu berkecibung di dalam air, sewalah loker. Biaya sewanya sekitar Rp 20 ribu. Itu yang berukuran biasa, yang hanya pas untuk menempatkan propertimu sendiri saja. Untuk loker keluarga, biaya sewanya Rp 30 ribu.
Waterbom buka mulai pukul 09.00 hingga 18.00 WITA. Suasananya yang teduh oleh pepohonan rindang, tengah hari bolong sekalipun sehingga kamu nggak perlu khawatir terhadap sengatan matahari.
Sling Shot
Ini adalah wahana untuk uji nyali. Adrenalinmu pasti akan terpacu kencang begitu kamu menjajalnya. Wahana ini adalah ketapel raksasa yang terbuat dari sepasang menara setinggi 35 meter. Pada kedua menara tersebut dikaitkan dua utas kawat baja yang disambung lagi tali elastis. Di ujung tali-tali elastis tersebut terdapat sebuah rangka bola berisi dua buah jok dengan sandaran punggung yang tinggi. Pada salah satu jok itulah kamu duduk dan diikat kuat-kuat dengan tali-tali pengaman.
Dalam waktu kurang lebih tiga detik, jantung kamu akan serasa berhenti berdetak karena tiba-tiba saja rangka bola yang kamu duduki, melesat ke udara setinggi 52 meter dengan kecepatan yang sangat tinggi. Begitu mencapai puncak lontaran, dengan kecepatan yang sangat tinggi pula rangka bola tersebut meluncur kembali ke bumi. Begitu seterusnya hingga mereda dengan sendirinya.
Saat terlontar ke atas dan kembali lagi ke bumi, rangka bola juga berputar 360 derajat ke segala arah beberapa kali sebelum akhirnya kembali ke posisi stabil.
Hingga saat ini hanya ada satu wahana slingshot di Bali yakni di Jalan Kartika Plaza, Kuta. Mereka buka dari pukul 09.00 hingga pukul 20.00.
Ramai Rasa Ramen di “Rame-Rame Ramen”
0 Comments | Posted by Dewa in Makanan Jepang, Wisata Lidah, Wisata Lidah di Bali
Oleh: Maria Ekaristi
Saat memasuki resto ini saya langsung mendapat sapaan ramah dalam bahasa Jepang. Meski tidak paham benar artinya, saya langsung membalasnya dengan ucapan terimakasih sambil membungkuk seperti yang biasa dilakukan orang-orang Jepang saat membalas salam. Semua petugas restoran itu tertawa melihat polah saya. Deby, sang manager, balik membalas dengan gaya candanya yang lucu. Suasana pun seketika cair, dan saya seperti memasuki ruangan makan rumah saya sendiri.
Siang itu santap siang saya awali dengan semangkuk Kaiso Salad yang terdiri dari rumput laut, selada, tauge, timun dan tomat dengan saus asam. Rasa asam dari saus berpadu dengan rasa garam yang digunakan untuk merendam bahan-bahan salad, menyuguhkan kesegaran di lidah saya. Rasa lapar saya yang tadinya malas-malasan pun terusik. Segera dia menabuh genderang di perut dan membanjirkan air liur di rongga mulut. Nafsu makan saya pun seketika bergejolak. Maka ketika sepiring Harumaki, yaitu penganan semacam lumpia goreng dengan isi beragam sayuran dan jamur terhidang saya pun langsung mengganyangnya.Setelah dua menu pembuka itu, menu utama berupa Ramen segera terhidang. Semuanya tak lebih dari 15 menit sejak saya memesannya. Ramen tak lain adalah mi dalam bahasa Jepang. Di resto ini ramen disajikan dengan berbagai olahan yang kemudian masing-masing diberi nama sesuai dengan cara dan bahan pengolahannya. Ada Tonkotsu Ramen, Chicken Ramen, Shoyu Ramen, Gomoku Ramen, Pork Tantanmen, Chicken Tantanmen, Hiyashi Chukka, Vegetarian Hiyashi Chuka, Ankake Yakisoba, Chilli Beef Ramen. Siang itu pilihan saya jatuh pada Chicken Ramen.
Chicken Ramen adalah sup mi khas Jepang yang disajikan dengan sayur kailan potongan halus bawang pre, irisan daging ayam dan potongan telur setengah matang dan diberi kuah. Kuah Chicken Ramen terbuat dari kaldu pekat daging ayam yang diproses selama hampir sepuluh jam. Pengolahan ini menghasilkan rasa yang sangat khas: gurihnya melekat di lidah.Porsi yang cukup besar membuat perut saya penuh dan rasa lapar saya langsung terkulai lemas. Agar kenikmatannya tak segera hilang saya pun cepat-cepat mengakhiri santap siang itu dengan hidangan penutup berupa es krim Macha dan es krim Ogura. Es krim Macha adalah es krim teh hijau yang pekat. Rasanya sepat sedikit getir tapi menyegarkan kerongkongan. Rasa ini seperti mengunci rasa nikmat dari makanan utama yang telah saya lahap. Kemudian aroma harum dan rasa manis es krim Ogura yang terbuat dari kacang merah seperti memberi kesegaran dan semangat baru untuk melanjutkan aktivitas siang itu.
Oya, semua makanan yang tersaji tadi merupakan racikan Evan Lesmana mantan chef di sebuah hotel ternama di Jakarta. Evan dibantu oleh tiga orang koki lokal asal Bali yang handal. Kerena itu menu-menu yang disajikan di resto ini digemari oleh para wisatawan asing maupun domestik. Juga warga Jepang yang bermukim di Bali.
Mau mencoba? Datang saja ke “Rame Rame Ramen” di Jl. Sunset Road No. 1 Blok K Kuta. Letaknya di sebelah Utara Patung Dewa Ruci berdampingan dengan A Spa. Kalau mau pesan terlebih dahulu bisa melalui telepon 087860942128. Bila datang dari arah utara, anda harus memutari Patung Dewa Ruci lalu berbalik arah menuju utara. Resto ini buka setiap hari pada pukul 11.00 -24.00 WITA.
Harga seporsi ramen berkisar antara Rp42 ribu hingga Rp47 ribu.
Oleh: Maria Ekaristi
Tak banyak villa yang memiliki kelebihan ini: aroma rerumputan dan tanaman yang merebak harum di sekeliling vila. Saya sendiri merasakan kesegarannya begitu memasuki gerbangnya. Padahal, saat itu sedang panas terik. Saya tak tahu, apa yang membuat rerumputan dan tanaman di vila ini menebarkan aroma segar yang berbeda dari yang lain. Mungkinkah karena di taman tersebut terdapat pohon buah-buahan macam Kecapi (Sandoricum koetjape), Buni (Antidesma bunius) dan Jamblang (Syzygium cumini), yang aroma bunga dan buahnya saling berkombinasi baik? Yang pasti, kekhasan aroma di arael Villa Fare Ti’i itu sungguh menyenangkan.
Memasuki kawasan Villa Fare Ti’i, saya merasakan suasana yang ditawarkannya, yakni sebuah tempat yang nyaman dan eksotik untuk beristirahat dan menyegarkan diri setelah menghadapi rutinitas sehari-hari. Di sini anda akan merasakan kemewahan alam tropis Bali dengan hamparan sawah yang membentang di sekeliling kawasan.
Villa Fare Ti’i merupakan kumpulan dari empat villa yang unik. Villa-villa tersebut seolah membentuk sebuah komunitas kecil yang membawa kedamaian masa lalu ke alam masa kini. Bangunannya merupakan penggabungan yang serasi dari arsitektur-arsitektur tradisional Indonesia dengan arsitektur Bali sebagai basisnya.
Dari empat villa yang ada, hanya satu villa yang memiliki satu kamar tidur. Tiga villa lainnya, masing-masing memiliki dua kamar tidur. Namun, semuanya mendapat sentuhan interior yang apik yang dipercantik oleh pajangan benda-benda seni dari masa lalu – benda-benda seni yang keindahan dan keunikannya telah teruji oleh waktu.
Keisitimewaan lainnya, ruang di antara villa satu dengan villa yang lainnya diberi taman asri dan eksotik yang membuat anda benar-benar merasa seperti tengah berada di sebuah kawasan retret yang damai.
Untuk kenyaman setiap tamu yang menginap di sana, pada ke-empat villa tersebut dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas: bar terbuka, ruang makan, pengering rambut, bath tub, sun bed, air panas, jaringan telepon internasional (SLI), pesawat televisi dengan satellite TV channel, pengatur suhu (AC), CD stereo system, mini bar, brankas, akses Internet WiFi, dan dapur. Jika diperlukan, pada setiap villa terdapat sebuah tempat tidur tambahan (extra bed) yang selalu siap untuk anda gunakan.
Di tengah-tengah pertamanan, terdapat sebuah kolam renang yang cantik dan bersih. Suasananya menyuguhkan kesegaran, kesenangan dan kenyamanan untuk merenanginya.
Jika anda menginap di villa ini, layanan inklusif yang pasti anda dapatkan antara lain: minuman selamat datang dan handuk dingin pada saat kedatangan; sarapan (American Breakfast) untuk dua orang bagi yang menginap di “One Bed Room Villa” dan untuk empat orang bagi yang menginap di “Two Bed Room Villa”; air mineral (dua botol per hari untuk setiap kamar); hidangan teh/kopi yang disajikan di bar terbuka pad asetiap sore, penggunaan sepeda gunung, akses internet di seluruh areal villa atau dengan PC di lobi villa.
Bagi anda yang menginap lebih dari tujuh malam, anda akan mendapat layanan transfer gratis menuju airport.
Untuk melengkapi kenyamanan anda beristirahat, Villa Fare Ti’i menyediakan jasa layanan laundry, pijat dan perawatan kecantikan; makan siang atau makan malam eksklusif disiapkan di setiap villa (bisa juga berdasarkan pilihan anda pada menu-menu Echo Beach Restaurant); BBQ atau Candle Light Dinner; penjaga anak; tour operator; penyewaan mobil atau motor; dokter panggilan; pelajaran Bahasa Indonesia; kursus memasak; pelajaran menari Bali; kursus mengukir kayu; layanan pos.
Vila Fare Ti’i terletak di tepi pantai Desa Pererenan, sebuah kawasan surfing yang sangat indah. Jarak tepat ini dari Kawasan Wisata Kuta kira-kira 8 kilometer. Dari Bandara Internasional Ngurah Rai, villa ini berjarak sekitar 10 kilometer dan dengan kecepatan normal, jarak tersebut dapat ditempuh hanya dalam waktu 45 menit saja.
Untuk mencapai villa ini, dari Kawasan Kuta menujulah arah Tanah Lot via Kerobokan. Tiba di perempatan Kerobokan berbeloklah ke arah kiri. Kurang lebih tiga kilometer dari perempatan tersebut anda akan menemukan pertigaan (ke kiri ke Pererenan, ke kanan ke Mengwi, serong lurus kea rah Tanah Lot). Pilihlah yang ke arah kiri menuju Pantai Pererenan. Satu setengah kilometer dari situ anda sudah menemui Vila Fare Ti’i. Letaknya di sisi kiri jalan.
Lalu, bagaimana soal harga?
Harga untuk “One Bed Room Villa”:
Rate USD 125.00 net / villa / malam
Harga untuk “Two Bed Room Villa”:
Rate USD 150.00 net / villa / malam
Semua tarif tersebut sudah termasuk pajak pemerintah dan ongkos pelayanan.
Ada sedikit catatan, tamu tidak diperkenankan triple kecuali menambah biaya extra bed sebesar Rp 200.000, - net / malam (termasuk sarapan). Waktu check in 14:00 dan waktu check out 12:00 siang.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai villa kami, silakan kontak atau datang langsung ke:
Jl. Pantai Pererenan, Br. Pengembungan
Desa Pererenan, Canggu, Badung - Bali
Phone: +62.361.881.7979 - 848.2640
Fax: +62.361.848.2640
Email: sales@faretii.com
Website: www.faretii.com
Indonesia berduka. Belum usai menata kembali kehancuran akibat bencana di Wasior, telah menyusul bencana di Mentawai dan Merapi. Ratusan korban tak terselamatkan. Ribuan lainnya menanggung derita.
Bertahanlah. Bangkitlah.
Kami bersamamu, saudaraku.
Dengan apa yang kami mampu…
Nasi Barak, Sarapan Kegemaran Pejabat dan Mahasiswa
0 Comments | Posted by Dewa in Tempat Makan Halal, Wisata Lidah, Wisata Lidah di Bali
Oleh: Maria Ekaristi
Warungnya sederhana saja. Hanya bangunan semi permanen di atas areal seluas 3,5 x 6 meter. Hidangan yang disajikan pun sederhana: nasi campur ala Bali. Namun omset yang berputar di situ tergolong luar biasa: sekitar Rp 4,5 juta per hari. Maklum, dalam setengah hari warung milik Ni Wayan Resmiyani ini menghabiskan sedikitnya 28 ekor ayam yang diolah dengan beberapa cita rasa sebagai lauk dari nasi hidangannya. Semua itu ludas oleh para langganananya yang sebagian besar adalah karyawan, pejabat pemeritah, politisi, pedagang, pebisnis dan mahasiswa-mahasiswa asal Buleleng yang berkuliah di Denpasar. Lalu apa keistimewaan yang menyebabkan warung itu begitu laris? Tak lain, ayam betutunya yang mmmmmuaaaah! Enak banget!
Waktu saya datang ke warung itu, saya langsung memesan hidangan andalan mereka. Hanya dalam 5 menit terhidang di depan saya sepiring nasi dari beras merah dengan lauk ayam betutu, ayam suwir, ayam goreng, sayur urap dan kuah baso ayam. Itulah nasi campur ala Bali versi warung yang dikenal dengan sebutan Warung "Nasi Barak” (nasi beras merah) ini. Dan, itulah menu andalan mereka karena memang itu menu satu-satunya yang mereka hidangkan sejak 2002.
Di lidah saya, bumbu betutu warung ini memang khas. Aroma jahe dan serehnya yang dominan membuat ayam yang terbaluri bumbu tersebut terasa sangat gurih. Nyangluh, kata orang Bali. Rasa gurih itu seolah melekat di rongga mulut sehingga membuat hidangan tersebut terasa lezat dari suapan pertama hingga suapan terakhir. Yang mengejutkan, untuk semua kenikmatan tersebut anda cukup menggantinya dengan uang hanya sebesar Rp10 ribu!
Warung "Nasi Barak” ini berlokasi di pinggir jalan di kawasan Banjar Abian Luang, Baturiti. Jalan ini merupakan jalan utama Denpasar-Bedugul-Singaraja. Sebagai ancar-acar, lokasi warung ini kurang lebih sekitat sekitar 3,5 kilometer dari pusat oleh-oleh “Kawan Jogger” atau sekitar 2 kilometer dari “Café Tahu”. Hanya saja, jangan datang ke sana setelah lewat tengah hari. Sebab, sekitar pukul 12 warung itu sudah tutup karena persediaan makanan sudah ludas. Ketika saya tanya Resmiyani, sang pemilik warung, soal kemungkinan menambah “jam tayang” warungnya agar pelanggan yang datang sore hari punya kesempatan menikmati hidangannya, perempuan dengan penampilan bersahaja ini mengatakan bahwa dirinya tak sanggup mengelola warung dalam ukuran besar.
“Biarlah segini saja. Kalau terlalu banyak, saya tak sanggup menyediakan masakannya. Saya takut nanti malah tidak enak. Kasihan pelanggan,” ucapnya sembari tersenyum tulus.
Ini untuk yang kedua kalinya perhelatan besar bagi para meditator digelar di Bali. Yang pertama, diselenggarakan pada 13 Nopember 2009. Tajuk acara tersebut adalah International Bali Meditators’ Festival (IBMF) 2010 yang diprakarsai oleh Yayasan Anand Ashram. Sama seperti perhelatan pertama IBMF 2010 pun akan digelar di Lapangan Astina, Ubud, yakni pada 12-14 Nopember 2010. Adapun tema kali ini adalah: Vasudhaiva Kutumbakam. Vasudhaiva Kutumbakam adalah idiom dalam bahasa Sansekerta yang secara bebas dapat diartikan sebagai sebuah upaya untuk membangun dunia sebagai sebuah keluarga yang damai, penuh limpahan cinta dan harmonis.
Para tokoh meditasi yang akan berbicara dan memberikan workshop meditasi maupun penyembuhan adalah : Ida Pedanda Sebali Tianyar Arimbawa, Ma Anand Baghawati, Gde Prama, LK Suryani, BR. Indra Udayana, Bhante Ciradhammo, K.K. Nuril Arifin Husein, Margot Anand, Tara Khandro, Ketut Arsana, dr. I Made Astawa, Maya safira Muchtar, Gede Kamajaya, Prabhu Darmayasa.
Semangat yang diusung dalam festival ini masih semangat lama yakni, meruntuhkan dan meretas sekat pembatas yang mengotak-ngotakkan manusia berdasarkan suku, agama, ras, golongan dan ideologi.
“Melalui meditasi kita dapat memancarkan aura baik penih cinta-kasih ke segenap penjuru semesta. Dengan cara itu, kita telah turut menciptakan dan menjaga kedamaian di bumi ini,” papar dr. I Wayan Sayoga, tokoh penting dalam Yayasan Anand Ashram.
Dan, menurut Sayoga, di tengah derasnya arus budaya konsumerisme yang serba instan dan mau mudahnya saja, semangat menebar cinta kasih kepada sesama dan alam semesta melalui meditasi, harus terus-menerus dilakukan. Itulah sebabnya, di tengah berbagai keterbatasa Yayasan Anand Ashram tetap menghelat ajang internasional ini.
“Bagi kami, keyakinan, keteguhan, kerja keras dan semangat pengabdian adalah cara terbaik untuk membalikkan segala bentuk keterbatasan menjadi kegembiraan,” tandasnya.
Info lebih detil:
Oka Ratnayani
(0361) 8779752, (0361) 8477490
e-mail:info@balimeditates.org
www.balimeditates.org
Oleh : Agung Bawantara
Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2010 jadi ajang reuni dan temu kangen para penulis Australia. Begitu cetus seorang pecinta buku di Bali yang rajin mengamati perhelatan tahunan yang menghadirkan penulis dari dalam dan luar negeri itu. Tentu itu hanya seloroh setelah ia melihat daftar peserta dan pemerhati yang bakal hadir. Memang, tercatat dalam situs web resmi panitia, dari 143 peserta yang diundang, 49 peserta berasal dari Australia. Jumlah itu melampaui peserta dan partisipan tuan rumah, Indonesia, yang hanya berjumlah 37 orang.
Tapi, ini tentu bukan urusan jumlah peserta dan dari negara mana mereka berasal. Sebagaimana disampaikan oleh I Wayan Juniartha, salah satu orang penting dalam penyelenggaraan ajang ini, bahwa pemilihan peserta undangan lebih didasari kriteria yang berkaitan dengan dunia kepenulisan dan perbukuan. Bukan di luar hal itu.
“Kebangsaan penulis bukan hal terpenting. Karya dan kiprahnya yang berkaitan dengan tema festivallah yang menjadi pertimbangan utama kami,” paparnya.
Tema UWRF yang ke-tujuh ini adalah Bhineka Tunggal Ika : Unity in Diversity. Tema itulah yang terutama menjadi acuan untuk memilih undangan dan memilih nomor-nomor kesenian yang akan dipentaskan. Termasuk juga dalam memilih tokoh-tokoh yang akan diberi penghargaan.
Di lain sisi, untuk menentukan peserta asal Indonesia yang diundang, Triyanto Triwikromo salah satu kurator acara itu, mengatakan bahwa ada banyak alasan yang mendasarinya.
“Secara keseluruhan, mereka mencerminkan keberagaman daerah serta kantong-kantong kesusasteraan di Indonesia. Selain itu, juga mencerminkan keragaman genre, aliran, tema, dan kecenderungan kesusasteraan Indonesia, mempresentasikan penghormatan Ubud Writers & Readers Festival 2010 pada upaya pemberdayaan perempuan, dan memajukan penulis-penulis muda berkualtas” begitu papar Triyanto Triwikromo kepada media.
Ada 18 penulis Indonesia yang diundang panitia untuk mengikuti UWRF 2010 yang akan berlangsung pada 6-10 Oktober di beberapa lokasi di Kawasan Ubud itu. Mereka adalah Kurnia Effendi (Jakarta), Medy Lukito (Jakarta), Nusya Kuswatin (Yogyakarta), Arif Riski (Padang), Zelfeni Wimra (Padang), Wa Ode Wulan Ratna (Jakarta), Andha S (Padang), Imam Muhtarom (Blitar), Wendoko (Semarang), Yudhi Heribowo (Solo), W. Hariyanto (Surabaya), Benny Arnas (Sumatera Selatan), Magriza Novita Syahti (Padang), Harry B Koriun (Riau), serta Hermawan Aksan (Bandung), Sunaryono Basuki KS(Penulis buku Biyang Bulan dan Rangda yang diterbitkan JP Books) , Ni Made Purnamasari, Iwan Darmawan (Bali).
Para sastrawan ini dipilih oleh Dewan Kurator Ubud Writers & Readers Festival 2010 dalam sidangnya yang berlangsung awal Mei lalu di Ubud, Bali. Dewan Kurator terdiri dari Triyanto Triwikromo, Cok Sawitri, dan M Aan Mansyur.
Selama berlangsungnya festival, para penulis Indonesia itu kemungkinan akan mendapat kesempatan untuk berdialog dengan sejumlah penulis terkemuka dari berbagai negara. Salah satu penulis yang menjadi “bintang” dalam UWRF kali ini adalah Louis de Bernieres, novelis Inggris yang karyanya “Captain Corelli’s Mandolin” memenangi Commonwealth Writers Prize 1995.
Di bawah ini, nama-nama peserta dan partisipan UWRF 2010:
Australia
1. Ali Cobby Eckermann
2. Antony Loewenstein
3. Bob Gosford
4. Caroline Baum
5. Cate Kennedy
6. Chris Hanley
7. Chris Parkinson
8. Christos Tsiolkas
9. Daniel Ducrou
10. Emilie Zoey Baker
11. Ezra Bix
12. Frank Moorhouse
13. Gerard Ryle
14. Greg Barton
15. Irene Ritchie
16. Janet De Neefe
17. Jeff Lowenstein
18. Jeni Caffin
19. Jennifer Byrne
20. Jo Case
21. Joan London
22. Jon Bauer
23. Julie Janson
24. Kirsty Murray
25. Lionel Fogarty
26. Marie Munkara
27. Mark Jensen
28. Mark Tredinnick
29. Maurice O'Riordan
30. Nam Le
31. Omar Musa
32. Pam Allen
33. Patrick Allington
34. Paul Ham
35. Pauline Nguyen
36. Rosemary Sayer
37. Ruby Murray
38. Sara Niner
39. Sarah Taylor
40. Selena Hanet-Hutchins
41. Shane Maloney
42. Shelley Kenigsberg
43. Sian Prior
44. Sophie Cunningham
45. Stephen Carleton
46. The Brothahood
47. The Last Kinection
48. Thomas Keneally
49. Tony Maniaty
Indonesia
1. Anak Agung Gde Putra Agung
2. Andha S
3. Arif Rizki
4. Basuki KS Sunaryono
5. Benny Arnas
6. Clara Ng
7. Cok Sawitri
8. Debra Yatim
9. Dede Oetomo
10. Dewi Lestari
11. Enin Supriyanto
12. Hary B Kori'un
13. Hermawan Aksan
14. Iman Muhtarom
15. Iwan Darmawan
16. Kurnia Effendi
17. M Aan Mansyur
18. Made Wijaya
19. Maghriza Novita Syahti
20. Medy Loekito
21. Ni Made Purnamasari
22. Noor Huda Ismail
23. Nusya Kuswantin
24. Nyoman Nuarta
25. Petty Elliot
26. Poonam Sagar
27. Reda Gaudiamo
28. Sarojini
29. Sitor Situmorang
30. Sosiawan Leak
31. Sutardji Calzoum Bachri
32. Toenggoel Siagian
33. W Hariyanto
34. Wa Ode Wulan Ratna
35. Wendoko
36. Yudhi Herwibowo
37. Zelfeni Wimra
USA
1. Anne Martin Bowler
2. Diana Darling
3. Ioannis Gatsiounis
4. Jamie James
5. Janet Steele
6. Joe Kim
7. Kamau Abayomi
8. Kris Saknussemm
9. Lisa Teasley
10. Michael Vatikiotis
11. Mike Otterman
12. Rachel Kushner
13. Renée Melchert Thorpe
14. Robin Hemley
15. Steve Mettee
Filipina
1. Apolonio Chua
2. Marjorie Evasco
3. Paul A. Dumol
4. Ricardo M. de Ungria
5. Tony Perez
6. Yason Banal
Inggris
1. Kate Adie
2. Louis de Bernieres
3. Richard Gombrich
4. Sarah Murray
5. William Dalrymple
Malaysia
1. Brian Gomez
2. Mohd Jayzuan
3. Tash Aw
4. Zhang Su Li
Vietnam
1. Andrew Lam
2. Anna Moi
3. Nguyen Qui Duc
Singapura
1. Deepika Shetty
2. Madhav Mathur
3. Shamini Flint
Irlandia
1. Anne Enright
2. John O'Sullivan
Lebanon
1. Joumana Haddad
2. Rabih Alameddine
Negara Lain:
1. Adrian Grima (Malta)
2. Ali Eteraz (Pakistan)
3. Anne-Ruth Wertheim (Netherlands)
4. Berislav Loncarevic (Croatia)
5. Etgar Keret (Israel)
6. Galina Lazareva (Russia)
7. Hande Altayli (Turkey)
8. Ma Jian (China)
9. Ma Thida (Burma)
10. Najat El Hachmi (Spain)
11. Oleg Borushko (Ukraine)
12. Senadin Musabegovic (Bosnia and Herzegovina)
13. Shehani Gomes (Sri Lanka)
14. Stephen McCarty (Hong Kong)
15. Suad Amiry (Palestinian Territories)
16. Tabish Khair (India)
17. Teodozio Ximenes (Timor-Leste)
Jadwal UERF 2010
Joged, Tango Khas Bali dengan Banyak Ragam
0 Comments | Posted by Dewa in Joged, Joged Bumbung, Tari Bali
Oleh: Agung Bawantara
Dibandingkan dengan Tari Legong dan Kecak, Joged kalah pamor dalam brosur-brosur pariwisata Bali. Tapi di Bali, tari ini termasuk tari yang populer. Tari ini merupakan tari pergaulan yang memiliki pola gerak lincah, dinamis dan bebas. Yang dimaksud bebas di sini adalah bahwa gerak-gerak dalam tarian tersebut tidak terikat oleh pakem dan komposisi yang ketat. Penari dapat melakukan banyak improvisasi, terutama saat meladeni partisipasi penonton (laki-laki) yang turut menari dengannya. Tari ini biasanya dipentaskan untuk suasana sukacita pada musim panen dan hari-hari besar.
Dasar gerak tari ini adalah gerakan tari Legong dan Kekebyaran. Ada banyak macam tari Joged di Bali, yaitu Joged Bumbung, Joged Pingitan, Joged Gebyog, Joged Gadrung, Joged Leko, dan Joged Dadua. Kecuali Joged Pingitan, semua pertunjukan Joged selalu ditarikan secara berpasangan. Biasanya setelah menarikan tarian pembuka, penari akan nyawat (memilih) penonton laki-laki untuk turut menari (ngibing) bersamanya. Bagian tersebut dinamakan paibing-ibingan. Ditilik dari penampilannya yang berpasangan, sepintas tari Joged dapat disejajarkan dengan Dansa di Eropa atau Tango dan Salsa di Amerika Latin.
Joged BumbungJenis ini adalah yang paling populer di Bali. Musik pengiringnya adalah gamelan tingklik bambu berlaras slendro yang disebut Gamelan Gegrantangan. Tarian ini muncul pada tahun 1946 di Bali Utara lalu menyebar hampir ke semua desa di Bali.
Ketika acara televisi semakin marak dengan program hiburan, kepopuleran tari Joged pun merosot. Apalagi saat hiburan musik pop Bali semakin menyuat, banyak kelompok Joged Bumbung berguguran karena tak memiliki kesempatan berpentas. Dalam kondisi seperti itu ada kelompok Joged yang mengambil jalan mudah untuk merebut kembali pamornya yakni dengan menampilkan goyangan erotik saat menari. Namun, cara kontroversial itu tak bertahan lama. Masyarakat menghujatnya sebagai joged porno. Sementara, di panggung-panggung musik pop, grup-grup sexy dancer tampil hampir setiap pekan terutama di kawasan Denpasar dan Kuta dengan penampilan yang lebih vulgar dan lebih erotis.
Kini Joged Bumbung kembali ke gaya pementasannya semula yang tak terlalu vulgar. Untuk bertahan hidup, mereka pentas secara berkala di hotel-hotel di Kawasan Sanur, Kuta, Nusa Dua dan Ubud.
Joged Pingitan
Joged ini diduga muncul di Bali sekitar tahun 1884. Semula merupakan tarian hiburan bagi raja, dan konon penari-penarinya adalah para selir.
Dinamakan Joged Pingitan karena di dalam pementasan tarian ini ada hal-hal pingit (tabu) yaitu pengibing (penari laki-laki) hanya diperbolehkan menari mengimbangi gerakan penari Joged. Dia sama sekali tidak diperbolehkan menyentuh bagian tubuh mana pun dari si penari Joged. Jika dilanggar, diyakini akan menyebabkan hal-hal yang mencelakkan penari atau pengibing itu sendiri.
Berbeda dengan Joged Bumbung, dalam pementasannya Joged Pingitan membawakan suatu lakon dengan iringan gamelan tingklik bambu berlaras Pelog (lima nada). Gamelan tersebut terdiri dari sepasan rindik besar (pangugal), sepasang rindik barangan berbilah 14 atau 15, sepasang Jegogan, sebuah kemplung, sebuah kajar, sebuah kemodong, satu atau dua buah seruling serta sebuah kendang kekrumpungan.
Kecuali pada kendang dan seruling, untuk memainkan instrument di atas, penabuh mempergunakan dua buah panggul (alat pukul) dengan teknik kakilitan atau kotekan. Tabuh-tabuh yang biasa dimainkan meliputi: Bapang Gede, Condong, Legong, Pacalonarangan dan Gandrangan. Di antara semua tabuh itu, Gandranganlah yang paling meriah karena bisa ditarikan secara bebas dan improvisasi. Tabuh-tabuh lain cenderung formal seperti yang terdapat dalam Legong Kraton.
Lakon yang biasa dibawakan dalam pementasan Joged Pingitan adalah kisah Prabu Lasem dan Calonarang.
Saat ini penari Joged Pingitan sulit di temukan. Beberapa yang masih aktif dapat dijumpai di Gianyar, Badung dan Denpasar. Maestro Joged Pingitan adalah Ni Ketut Cenik. Sayang, Sang Maestro keburu meninggal dunia sebelum ada generasi baru yang benar-benar bisa mengambil alih kepiawaiannya.
Joged Gebyog
Jenis tari joged yang diiringi dengan bumbung gebyog yang ritmis berlaras Slendro, jenis joged ini hanya terdapat didaerah Bali bagian barat yaitu di kabupaten Jembrana. Tari Joged Gebyog ini menggambarkan ibu-ibu rumah tangga yang menumbuk padi dengan riang-gembira. Masing-masing penari membawa sebatang bambu yang menggambarkan sebagai alu untuk menumbuk padi. Bambu-bambu tersebut diketukkn pada lesung kayu sehingga menghasilkan irama ritmis dan indah untuk mengiringi tarian Joged yang kemudian melibatkan penonton (laki-laki) untuk menari berpasangan dengannya (ngibing).
Saat ini sangat terbatas grup tari yang bisa mementaskan Joged Gebyog ini. Satu dari yang sedikit tersebut adalah Sanggar Tari Werdhi Sentana, Jembrana, asuhan Gusti Ketut Sudana.
Joged Gandrung
Kalau joged jenis lain ditarikan oleh perempuan, Joged Gandrung ditarikan oleh laki-laki yang berhias dan berpakaian perempuan. Joged Gandrung diiringi seperangkat Gamelan Tingklik berlaras pelog yang terbuat dari bambu. Saat ini grup Joged Gandrung sangat jarang ditemui. Hanya di beberapa desa di Gianyar, Badung dan Denpasar masih tersisa beberapa sekaa (grup) Joged Gandrung. Itu pun semua penarinya perempuan, bukan laki-laki seperti pakem aslinya.
Joged Leko
Jenis joged ini nyaris sama langkanya dengan Joged Pingitan. Joged yang diduga muncul pada tahun 1930-an itu kini hanya terdapat di tiga desa yakni Desa Sibang Gede (Badung), Desa Tunjuk (Tabanan) dan Desa Pedem (Jembrana).
Joged jenis ini menampilkan gerak tarian menyerupai gerak tari Legong Keraton sebagai pembuka, lalu dilanjutkan dengan gerak bebas saat bagian pengibing-ibingan.
Dalam sebuah pementasan, penampilan Joged Leko diawali dengan Condong yang dibawakan oleh seorang penari dengan gerak-gerak abstrak, lalu dilanjutkan dengan Kupu-kupu Tarum yang dibawakan oleh sepasang penari untuk menggambarkan kemesraan sepasang kupu-kupu yang bercengkerama di sebuah taman bunga.
Usai Kupu-kupu Tarum, penampilan dilanjutkan dengan Onte yang juga dibawakan secara berpasangan. Bagian ini mengisahkan sepasang muda-mudi sedang asyik memadu kasih. Disusul kemudian dengan Goak Manjus yang menggambarkan sepasang burung gagak sedang mandi dengan riang di sebuah telaga.
Terakhir, tampillah Joged yang dibawakan beberapa penari yang tampil secara bergiliran. Setiap penari, menunjuk (nyawat) seorang laki-laki dari kerumunan penonton yang diajaknya sebagai pasangan menari dalam beberapa putaran. Setiap penari Joged biasanya melakukan tiga sampai lima putaran paibig-ibingan, sebelum digantikan oleh penari Joged yang lain.
Yang menarik, pada saat tertentu Penari Joged tiba-tiba trance dan mengamuk. Biasanya hal tersebut terjadi jika Joged Leko menampilkan kisah Calonarang sebagai inti pertunjukannya. Trance umumnya terjadi saat adegan perkelahian ditampilkan.
Joged Dadua
Joged ini hanya terdapat di Banjar Suda Kanginan (Tabanan). Sering juga disebut Joged Duwe (‘e’ di belakang diucapkan seperti dalam kata ‘fase’). Tarian ini merupakan tarian ritual keagamaan di Pura-Pura yang terdapat di wilayah Banjar Suda Kanginan. Diperkirakan Joged ini lahir sebelum tahun 1920-an di Puri Kediri.
Mulanya, joged ini merupakan tarian hiburan biasa. Lama kelamaan, entah kapan mulainya, para Penari Joged ini seperti mendapat kekuatan supratural untuk menari dalam keadaan trance. Sejak saat itu, joged ini pun dinamakan dengan joged pingitan yang tidak boleh ditarikan di tempat-tempat yang dianggap tidak suci (leteh/cuntaka) dan hanya boleh ditarikan pada upacara-upacara tertentu.
Awalnya, Joged Dadua ini diiringi dengan seperangkat gamelan gong kebyar yang tak lengkap yang diistilahkan dengan Gong Sibak. Sekitar tahun 1940-an gong pengiring joged tersebut dilengkapi menjadi satu barung (set) gong.
Seperti namanya, penari Joged Dadua (dadua = dua) terdiri dari dua penari perempuan berusia kanak-kanak (belum menstruasi). Dua penari tersebut dipilih oleh warga dengan syarat mau belajar menari serta berparas elok. Begitu penari tersebut menstruasi, maka warga segera mencari penggantinya untuk dilatih dan diinisiasi secara spiritual.
Penari Joged Dadua mengenakan kostum Legong Keraton lengkap dengan kipasnya. Urutan penampilannya ada tiga palet (babak). Diawali dengan Palet Papeson-Lalegongan yang serupa dengan tarian awal Legong Keraton. Selanjutnya disusul dengan Palet Palayon yang juga mirip dengan gerakan Legong Keraton. Terakhir, Palet Ibing-ibingan menghadirkan satu atau dua pengibing yang telah ditentukan orangnya dan biasanya dari kalangan sutri. Tarian akan berakhir bila penabuh telah mendapat isyarat berhenti dari para sutri.
Kelompok Joged Dadua yang masih eksis saat ini antara lain Sekaa (grup) Joged Banjar Suda Kanginan, Desa Nyitdah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan.
Joged Bisama
Joged ini juga tergolong tarian hiburan yang mulai disakralkan. Tak banyak informasi mengenai tarian yang hanya terdapat di Desa Bongan Gede (Karangasem) ini.
Sumber:
-Joged, babadbali.com
-Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali, Prof. Dr. I Wayan Dibia
-Dari Parade Seni di Ksirarnawa --Kekhasan Daerah Perkaya Keragaman Budaya, Bali Post Senin Pon, 27 Desember 2004
-'Kerauhan' dalam Kesenian Bali, Masuknya 'Memedi' hingga Dewa, Kadek Suartaya Bali Post Minggu Wage, 17 April 2005
Tulisan terkait:
Grantangan, bumbung-bumbung Pengiring Ngibing
Joged-joged Bali
Oleh: Agung Bawantara & Maria Ekaristi
Hujan di Bali mengalami anomali. Begitu pernyataan Kepala Sub Bidang Pelayanan Jasa Badan Meteorologi, Klimatologidan Geofisika Wilayah III Denpasar, Nyoman Suarsa, beberapa waktu lalu. Ia mengatakan bahwa fenomena alam secara global menyebabkan kecenderungan musim hujan di Bali datang lebih awal sehingga jangka waktunya akan terjadi lebih lama. Hal ini menyebabkan beberapa aktivitas wisata di Bali menjadi terganggu. Tapi bagi wisatawan yang ‘siap’, musim tak akan membuat rencana berlibur berantakan.
Sejauh ini, persepsi para wisatawan –terutama wisatawan domestik— mengenai liburan di Bali memang bersenang-senang menikmati suasana Bali dalam cuaca terang. Kemungkinan hal ini disebabkan karena negeri ini memiliki dua musim saja sehingga tanpa sadar membuat dikotomi yang tegas pada pikiran orang-orang. Langit terang mereka anggap sebagai gambaran keriangan, sedangkan hujan mereka anggap sebagai bentuk kemuraman. Tanpa sadar, banyak orang menjadi kurang suka pada hujan, terlebih pada saat berwisata. Apalagi semua brosur wisata memperlihatkan Bali dalam suasana terang benderang. Maka begitu hujan, orang langsung merasa liburannya mendapat gangguan.
Tapi itu tidak terjadi pada Rio Helmi, fotografer kondang yang berdomisili di Ubud sejak tahun 1971. Rio yang karena profesinya telah puluhan kali mengelilingi dunia itu menyintai suasana hujan di Bali sama seperti dia menyintai suasana terangnya. Baginya, keduanya memiliki daya pesona tersendiri, sebagaimana pesona musim salju menjelang dan musim-musim lainnya di negeri-negeri yang memiliki empat musim.
“It's a perfectly fine day in sunny paradise!” begitu ungkapnya saat ia menikmati guyuran hujan di halaman rumahnya di Ubud.
Ini mungkin bisa menjadi inspirasi menarik buat anda yang tengah berlibur di Bali saat ini. Di tengah musim hujan yang mengalamianomali, bisa jadi satu dua perjalanan liburan anda tersela hujan yang datang tanpa diduga. Tetaplah riang. Nikmati suasana itu sebagai suasana indah yang hanya ada di Bali. Cepat ubah rencana awal anda, misalnya menggantinya dengan berjalan di dalam hujan. Jangan khawatir anda akan jatuh sakit karenanya. Keasaman air hujan di Bali masih bagus. Asal, begitu usai melakukan wisata hujan, keringkan kepala dan badan anda dengan handuk.
Maka, hujan tiba-tiba mengguyur anda di perjalanan dan anda tak membawa baju ganti, santai saja. Di Bali banyak kios-kios kecil yang menjual baju dan celana dengan harga murah. Anda tinggal membeli lalu mengganti pakaian anda yang basah di toilet-toilet umum di tempat-tempat wisata atau di pompa bensin.
Jadi, terang atau hujan sama saja. Tetaplah riang menikmati liburan anda di Bali.
Oleh : Prof. I Gde Pitana
Subak merupakan or- ganisasi petani di Bali yang mengelola air irigasi untuk anggota-anggotanya. Sebagai suatu organisasi, subak mempunyai pengurus dan awig-awig (aturan-aturan keorganisasian), baik tertulis maupun tak tertulis. Subak memiliki sumber air bersama. Sumber air bersama ini dapat berupa empelan (bendungan) di sungai, mata air, air tanah, ataupun saluran utama suatu sistem irigasi yang melingkupi beberapa subak.
Sebuah Subak mempunyai satu areal persawahan. Di hulunya terdapat sebuah atau beberapa Pura Bedugul atau pura yang berhubungan dengan persubakan.
Di seluruh Bali, terdapat tak kurang dari 1274 Subak. Semuanya didasari oleh ajaran Tri Hita Karana yang mengajarkan agar setiap orang selalu mengupayakan keseimbangan antara pengabdian manusia kepada Tuhan (Parahyangan) dengan pelayanan mereka terhadap sesame manusia (Pawongan), serta kecintaan merawat alam lingkungan (Palemahan) agar tetap lestari.
Sistem irigasi Subak mempunyai fasilitas fisik yang mirip dengan fasiitas irigasi yang dimiliki oleh system irigasi lain. Protitipe sistem fisik subak antara lain terdiri atas:
- empelan (bendungan) yang berfungsi sebagai bangunan pengambilan air dari sumbernya
- aungan (terowongan)
- telabah (saluran primer)
- tembuku aya (bangunan bagi primer)
- telabah gede (saluran sekunder)
- tembuku gede (saluran bagi sekunder)
- telabah pemaron (saluran tersier)
- tembuku pemaron (bangunan bagi tersier)
- telabah penyahcah (saluran kuarter)
- tembuku penyahcah (bangunan bagi kuarter) terdiri dari penasan untuk sepuluh anggota (kanca)
- tembuku pengalapan (bangunan pemasukan air individual)
- talikunda (saluran individual)
Subak juga mempunyai beberapa bangunan pelengkap seperti penguras (flushing), pekiuh (over flow) dan petaku (bangunan air terjun). Abangan (talang) juga umum ditemui pada subak. Demikian juga jengkawung (gorong-gorong).
Umumnya Subak mempunyai saluran pembuangan khusus. Air buangan dari satu petak sawah akan disalurkan kembali ke saluran irigasi.
Di samping fasilitas yang secara langsung digunakan untuk kepentingan irigasi, Subak juga mempunyai fasilitas upacara keagamaan berupa pura subak dengan berbagai tingkatan. Pura Subak yang paling umum adalah Pura Bedugul.
Di daerah-daerah Bangli dan Gianyar dikenal pura-pura Masceti yang disungsung (disokong dan dihidupi) oleh sejumlah subak dalam satu wilayah tertentu. Pura Subak biasanya dilengkapi pula dengan Balai Timbang. Di samping pura subak, umumnya setiap petani anggota Subak juga mempunyai sanggah-sanggah pengalapan yakni bangunan kecil untuk sarana sembahyang yang ditempatkan di dekat bangunan pemasukan air ke sawah masing-masing (tembuku pengalapan). Tempat persembahyangan ini dikenal juga dengan sebutan sanggah catu pengalapan.
Kelembagaan
Subak adalah organisasi petani yang bergerak dalam pengaturan air irigasi lahan basah (sawah). Karena faktor pengikat utamnya adalah air irigasi, maka anggota suatu subak adalah petani pemilik atau penggarap sawah yang dilayani oleh suatu jaringan atau sub jaringan irigasi tertentu, tidak memandang dari desa mana anggota tersebut berasal. Dengan kata lain, subak adalah organisasi petani yang canal based bukan village based.
Anggota suatu subak bisa berasal dari berbagai desa dan seorang petani dapat menjadi anggota beberapa subak. Walau ditemui adanya beberapa variasi tentang status keanggotaan dalam subak, secara umum anggota subak yang diistilahkan dengan karma subak dibedakan dalam tiga kelompok.
1. Krama pengayah (anggota aktif) yaitu anggota subak yang secara aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan subak seperti gotong royong pemeliharaan dan perbaikan fasilitas subak, upacara-upacara keagamaan yang dilakukan oleh subak, dan rapat-rapat subak. Di beberapa subak, anggota ini disebut juga karma pekaseh atau sekaa yeh.
2. Krama Pengempel atau Krama Pengoot (anggota pasif) yaitu anggota subak yang karena alas an-alasan tertentu tidak terlibat secara aktif dalamkegiatan-kegiatan (ayahan subak). Sebagai gantinya anggota ini membayar dengan sejumlah beras (atau uang) yang disebut pengoot atau pengampel. Besarnya pengoot ini biasanya disepakati dalam rapat subak menjelang musim tanam. Persyaratan untuk dapat menjadi anggota pasif bervariasi antar subak.
3. Krama Leluputan (anggota khusus), yaitu anggota subak yang dibebaskan dari berbagai kewajiban subak, karena yang bersangkutan memegang jabatan tertentu di dalam masyarakat seperti pemangku (pinandita di sebuah pura), bendesa adat (pimpinan desa adat), perbekel (kepala desa), ataupun sulinggih (pendeta, peranda, Sri Mpu, dan lain-lain).
Sebagai suatu organisasi, subak mempunyai unsur pimpinan yang disebut prajuru. Pada subak yang kecil struktur organsisi subak umumnya sangat sederhana yaitu terdiri dari anggota yang diketuai oleh satu orang ketua subak yang disebut kelihan subak atau pekaseh. Sedangkan pada subak-subak yang lebih besar, prajuru (pengurus) terdiri dari Pekaseh (ketua Subak), Petajuh (wakil pekaseh), Penyarikan (sekretaris), Patengan atau Juru Raksa (bendahara), dan Saya (pembantu khusus).
Prajuru subak, Kecuali Juru Arah dan Saya, dipilih oleh anggota subak dalam suatu rapat yang diadakan khusus untuk itu, untuk masa jabatan tertentu. Biasanya lima tahun. Sedangkan juru arah dan saya biasanya dijabat secara bergantian oleh anggota subak dengan masa tugas 35 hari atau 210 hari. Kedua perioda tersebut masing-masing satu bulan dan enam bulan menurut perhitungan penanggalan tradisional Bali.
Subak-subak yang besar biasanya terbagi menjadi sub subak yang disebut dengan Tempek. Di wilayah Badung, Tempek disebut dengan Munduk, sedangkan di Buleleng disebut Banjaran. Tempek atau Munduk atau Banjaran dipimpin oleh seorang kelihan yang didampingi oleh penyarikan (sekretaris) dan juru raksa (bendahara).
Untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti koordinasi dalam distribusi air dan upacara pada suatu pura, beberapa subak dalam suatu wilayah bergabung dalam suatu wadah koordinasi yang disebut Subak Gede. Subak-subak yang menjadi anggota Subak Gede umumnya berada dalam satu kawasan irigasi. Namun, ada pula Subak Gede yang anggotanya adalah subak-subak yang memiliki sistem irigasinya masing-masing. Subak Gede dipimpin oleh Pekaseh Gede. Lebih jauh lagi, untuk tujuan koordinasi dalam kegiatan-kegiatan subak di sepanjang suatu aliran sungai, beberapa subak membentuk organisasi federasi subak yang disebut Subak Agung yang dipimpin oleh seorang Sedahan Agung.
Seluruh sistem organisasi subak tersebut dirancang dan diwarisi secara turun-temurun oleh masayarakat petani di Bali untuk kelancaran pembagian air di lahan persawahan yang merupakan penyangga utama kehidupan masyarakat dan adat istiadat di selama berabad-abad. Ya, sistem pembagian air itu merupakan cara bersama untuk berbagi kebahagiaan.
Sumber: “Subak Sitem Irigasi Tradisional di Bali”, Upada sastra , 1993.
Tulisan Terkait:
Subak, Sistem Irigasi Tradisional Bali
Umalas Residence, Hotel-Hunian Elegan di Kuta Utara
0 Comments | Posted by Dewa in Hotel, Hotel di Kuta
Oleh : Maria Ekaristi
Sangat mudah menemukan lokasi condotel ini di Kawasan Umalas. Gedungnya menjulang empat lantai menyamai pohon kepala tertinggi di wilayah itu. Jadi, dari Kuta, meluncur saja ke arah utara mengikuti jalan utama menuju Tanah Lot. Hanya perlu waktu 15 menit berkendara anda pasti langsung menemukan condominium-hotel yang nyaman dan asri ini.
Ketika saya berkunjung ke hotel ini, suasana kekeluargaan langsung menyambut saya begitu menginjakkan kaki di lantai lobby. Senyum ramah dari beberapa karyawan condotel yang kebetulan berada di situ terasa begitu bersahabat. Sapaan selamat datangnya memang standar, namun cara dan gaya penyampaiannya terasa begitu tulus. Situasi ini semakin terasa ketika berjuma dengan Agus Putra Wiranata. Laki-laki berpenampilan santai ini tampak begitu akrab dengan semua tamu yang menginap di situ. Belakangan saya tahu, ternnyata dialah pemilik condotel yang memang dirancang sebagai ‘rumah’ bagi para expatriate, penulis, jurnalis, dan periset dari berbagai penjuru dunia yang berdiam dalam waktu yang cukup lama di Bali. Pantaslah aura persaudaraan mengembang dari wajah semua karyawannya.
Berdiri di areal tanah seluas 33,5 ribu meter persegi, bangunan empat lantai ini terdiri dari 53 unit dengan desain elegan. Ke-53 unit tersebut dibagi menjadi beberapa tipe. Ada studio dengan satu kamar tidur(One Bedroom Studio), superior dengan dua kamar tidur (Two Bedroom Superior), deluxe dengan dua kamar tidur (Two Bedroom Deluxe), penthouse dengan dua kamar tidur (Two Bedroom Penthouse) dan penthouse tiga kamar tidur (Three Bedroom Penthouse). Semua tipe itu dilengkapi dengan dapur dan living room.



Di luar fasilitas privat itu terdapat juga fasilitas bersama seperti fitness center, laundry, 24 hour security, ruangan multi fungsi, groceries, restauran, bar, kolam renang, sauna, dan ruangan khusus massage.
Untuk wisatawan domestik, harga per malam unit-unit tersebut adalah sebagai berikut:One Bedroom Studio Rp1.300.000++
Two Bedroom Superior Rp2.250.000++
Two Bedroom Deluxe Rp2.474.000++
Three Bedroom Rp2.700.000++
Three Bedroom Penthouse Rp3.600.000++
Two Bedroom Penthouse Rp2.700.000++
Sebagaimana layaknya condotel, selain disewakan per malam, semua unit dalam condotel tersebut dapat anda miliki dengan status free hold (hak milik). Dan jika unit yang anda beli tersebut sedang tidak anda gunakan, unit tersebut dapat anda serahkan kepada pengelola untuk disewakan kepada wisatawan atau siapa pun yang menginginkannya. Dengan begitu, aset tersebut akan mendatangkan income tambahan bagi anda.
Tertarik untuk menginap atau membeli unit condotel tersebut? Silakan kontak langsung ke pengelolanya yakni PT Puri Amartha Phala, di Kompleks Pertokoan Semer Kencana Indah No.6, Jalan Banjar Semer, Kerobokan -Kuta, 80361 Telp. (0361) 732248, fax. (0361)733589. Bisa juga melalui email: info@propertybali.com
Panduan Menuju Umalas Residence:
Dari Kuta meluncurlah menuju arah Tanah Lot. Kurang-lebih 50 meter dari lampu lalu-lintas Petitenget, berbeloklah ke kiri masuk ke jalan utama Banjar Umalas. Ikuti saja jalan utama, lurus sampai kira-kira 500 meter, anda akan menemukan sebuah belokan ke kanan. Nah, di sisi kiri belikan itulah Umalas Residence berdiri.
Untuk info lebih lengkap klik di sini
Oleh: Agung Bawantara
Ini info penting bagi wisatawan, khususnya yang berkebangsaan asing, yang hendak berlibur di Kuta. Info ini berkaitan dengan terjadinya kejahatan hipnotis yang menyebabkan para korban mengalami kerugian hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Menurut sumber kepolisian yang dapat dipercaya, modus kejahatan hipnotis yang menyasar turis asing di Kuta (Bali) ini pernah terjadi di era sebelum tragedi Bom Bali I terjadi.
Dari hasil investigasi saat itu terungkap ada beberapa kelompok pelaku kejahatan dengan modus hipnotis seperti ini. Saat itu pihak kepolisian menyebut mereka dengan “sindikat Philippina”. Beberapa anggota dari kelompok tersebut ada yang sudah puluhan tahun menetap di Bali. Di antara mereka ada yang beristrikan warga negara Indonesia dan mempunyai usaha legal sebagai penyedia jasa laundry di kawasan Kuta.
Sindikat itulah yang mengoordinasikan kejahatan hipnotis tersebut. Biasanya, sebagai pembuka jalan, mereka menggunakan perempuan Filipina berparas cantik dan berpenampilan seksi. Dengan kemolekan wajahnya itulah, si perempuan menggaet calon korbannya.
Mula-mula si perempuan berkenalan dengan calon korban dan mengajaknya berjalan-jalan ke kafe atau diskotek. Selanjutnya, oleh si perempuan, perkenalan tersebut terus dirawat hingga dalam beberapa hari calon korban merasa benar-benar akrab dengannya. Bahkan ada yang sempat jatuh cinta pada si pelaku. Begitu akrab, si perempuan mengajak calon korban ke hotel atau kompleks perumahan yang diaku sebagai tempat tinggalnya. Hotel dan kompleks perumahan itu memiliki model bangunan yang serupa satu dengan lainnya, sehingga korban sulit mengenalinya. Semuanya memiliki garasi dengan rolling door yang akan segera menutup begitu mobil si perempuan dan calon korban masuk. Hal itu membuat korban tak punya kesempatan untuk mengenali lingkungan di sekitar rumah itu.
Di dalam rumah, sekelompok orang yang tengah asyik berjudi akan menyambut calon korban dengan sapaan ramah. Langkah selanjutnya, dengan keakraban yang sudah terjalin baik, si perempuan membujuk calon korban untuk turut berjudi sekadar untuk bersenang-senang.
Kebiasaan klasik, begitu bersedia terlibat dalam permainan, calon korban pasti diberi kesempatan untuk menang pada lima atau tujuh putaran awal. Setelah menang, oleh si Perempuan, korban diajak bersenang-senang di kafe atau diskotek di seputaran Kuta. Saat itulah si Perempuan merajuk untuk dibelikan hadiah berupa perhiasan atau barang-barang berharga lainnya, lalu membujuk korban untuk berjudi lagi.
Modus lain, setelah menang dalam perjudian di putaran awal dan korban terlena karenanya, sindikat tersebut segera mengalahkannya hingga seluruh uang korban habis terkuras. Tak ada korban yang berhasil berhenti di tengah permainan, karena kelompok tersebut sangat lihai mempermainkan psikologis korbannya sehingga mereka sungkan untuk berhenti sebelum uang mereka benar-benar habis.
Setelah korban kalah dalam perjudian, si perempuan langsung beraksi. Dia menghibur korban dan mengajaknya berkeliling ke tempat hiburan atau ke kafe untuk bersenang-senang. Karena uang sudah ludas, biasanya korban akan mampir ke ATM menyairkan uang untuk bekal aktivitas selanjutnya. Pada saat itu, si perempuan melancarkan aksi kejahatan berikutnya. Ada dugaan pada saat itulah si perempuan menggunakan ilmu hipnotis untuk menggiring korban membeli barang-barang berharga, lalu membawanya kabur sebelum si korban sadar. Dugaan lain, aksi ini adalah semata-mata kejahatan penipuan yang tertata sangat rapi.
Sebuah sumber yang dapat dipercaya mengatakan bahwa sesungguhnya pihak Kepolisian Kuta pernah mengungkap semua pelakunya, tetapi mereka kesulitan melakukan konfirmasi dengan korban, sebab yang bersangkutan sudah kembali ke negaranya. Kesulitan lain, polisi tidak menemukan pasal untuk menjerat pelaku. Jika menggunakan pasal penipuan, saksinya hanya satu, yakni saksi korban. Secara hukum itu tidak kuat. Di samping itu, korban juga terlibat dalam permainan (dan sempat menang) sehingga hal tersebut tergolong perjudian. Jika dibawa ke ranah hukum, maka korban pun harus ditangkap dan dipenjarakan pula karena telah melanggar hukum Indonesia yang melarang perjudian.
“Untuk membongkar sindikat ini, polisi memang harus benar-benar cepat dan jeli,” ucap sumber tersebut. Namun masalahnya, imbuh sumber tadi, korban biasanya telat melapor dan tak mengenali lokasi-lokasi di mana dia diperdaya.
Sebagai tambahan, modus ini biasanya dilancarkan pada saat-saat kunjungan ramai (high seasons) di Bali.
Tulisan Terkait:
Pelaku Kejahatan Hipnotis Turis di Kuta, Asal Filipina
Dua Turis Dihipnotis di Kuta
Menghindari Kejahatan Hipnotis di Tempat Wisata
Oleh: Agung Bawantara
Pelaku hipnotis yang merugikan warga Swiss, Foehr Elmar (69), terendus jajaran Kepolisian Sektor Kuta. Penyelidikan di bawah komando langsung Kepala Kepolisian Sektor Kuta, AKP I Gede Ganefo, SH, MH, berhasil mengidentifikasi pelaku hipnotis tersebut. Dugaan sementara pelaku berjumlah dua orang dan berkewarganegaraan asing. Identitas satu pelaku sudah terungkap, yakni Maria (35) asal Filipina. Sementara pelaku lainnya masih belum diketahui.
Adalah rekaman kamera (Close Circuit Television) CCTV yang terdapat di tempat kejadian yang menjadi petunjuk penting pengungkapan identitas pelaku. Dari hasil rekaman kamera CCTV, terlihat jumlah pelaku, mobil yang digunakan, serta aktivitas kejahatan yang dilakukannya.
Berdasarkan laporan, secara kronologis aksi kejahatan hipnotis yang terjadi pada Selasa (14/9) lalu itu bermula dari ketika Elmar tengah berdiri di depan Hotel Kartika Plaza, Jalan Kartika Plaza, Kuta. Pada saat itu seorang perempuan menghampirinya dan memperkenalkan diri. Dalam waktu singkat keduanya langsung akrab. Kemudian, perempuan yang belakangan diketahui bernama Maria dan berkebangsaan Filipina itu, mengajak Elmar keliling-keliling mengendarai mobil Daihatsu Terios yang dibawa Maria.
Diduga, pada saat itu Elmar sudah terhipnotis oleh Maria. Semua perintah Maria dituruti Elmar. Mula-mula Elmar menuruti ajakan Maria untuk berjudi di sebuah lokasi di Kuta. Ketika Elmar kalah, Maria meminta Elmar untuk mengambil uang di ATM nya. Elmar menurut. Di sebuah ATM di Pepito Kuta, dia mencairkan uang sebesar Rp42,9 juta.
Setelah uang di tangan, Elmar dan Maria bukan kembali ke tempat judi, melainkan ke sebuah toko ponsel, juga di Kawasan Kuta. Di toko tersebut Maria meminta Elmar membelikannya empat buah Blackberry tipe Onyx dan dua buah Blackberry tipe Gemini. Setelah transaksi jual beli usai, keduanya berpisah. Elmar kembali ke hotel tempatnya menginap, sedangkan Maria pergi entah ke mana. Setiba di hotel, barulah Elmar sadar bahwa dirinya telah diperdaya.
Kini, Maria yang oleh pihak kepolisan dimasukkan dalam daftar pencarian orang (DPO) itu telah menghilang dari Bali. Kuat dugaan ia meninggalkan Bali melalui jalur pelabuhan.
Tulisan terkait:
Dua Turis Dihipnotis di Kuta
Menghindari Kejahatan Hipnotis di Tempat Wisata
Puting Beliung Landa Bali, Waspadai Perairan Selatan
0 Comments | Posted by Dewa in Berita, Puting Beliung
Oleh: Agung Bawantara
Foto: Repro Jawa Pos
Selasa (21/9) lalu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, Bali memperingatkan bahwa angin puting beliung kemungkinan besar akan melanda wilayah Bali. Perkiraan tersebut ternyata benar-benar terjadi. Hari Rabu dan Kamis dua serangan puting beliung berturut-turut memorak-morandakan beberapa kawasan di kabupaten Gianyar, Klungkung dan Tabanan. Pada hari pertama, serangan terparah terjadi di di kawasan Ubud. Di Banjar Kutuh Kaja, Desa Petulu, Ubud, empat bangunan rusak berat akibat terjangan angin yang dalam istilah setempat disebut angin linus. Sebuah vila & restoran remuk tertimpa dua pohon besar, tiga rumah lainnya kehilangan atap dan rangka. Menurut laporan, angin kencang datang sekitar pukul 15.30 dan berlangsung selama 15 menit.
Hari berikutnya, terjangan linus terjadi di Desa Blahkiuh, Kecamatan Abian semmal, Kabupaten Badung. Sebuah Sekolah Dasar (SD) di desa itu luluh-lantak setelah tertimpa Pohon Wani (mangga putih). Tak ada korban dalam musibah yang menghancurkan sejumlah perlengkapan sekolah tersebut. sejumlah buku, dokumen, kursi dan seperangkat komputer rusak berat akibat kejadian itu.
Menurut Kepala Sub Bidang Pelayanan Jasa BMKG Wilayah III Denpasar Nyoman Suarsa, terjadinya bencana angin putting disebabkan oleh fenomena alam dan cuaca yang tidak menentu. Hujan yang terus-menerus antara lain akibat terjadinya pertemuan masa udara yang agak lemah dan suhu muka laut yang menyimpang satu derajat di atas normal. Kumpulan awan-awan konvektif dan Cumulonimbus pun terbentuk dan menyebabkan terjadinya pergerakan angin dari timur dan tenggara dengan kecepatan berkisar 0,5 - 35 kilometer per jam.
"Kecepatan angin yang tinggi itulah yang menyebabkan terjadinya hujan yang disertai angin puting beliung," paparnya.
Nyoman Suarsa memperkirakan sampai ke Oktober, kecenderungan kondisi mengarah ke Lamina, yakni hujan datang lebih awal dari musimnya sehingga musim hujan akan terjadi lebih lama.
"Hujan akan merata di seluruh Bali, tapi waktunya tidak menentu,” imbuhnya.
Penting:
Perkiraan cuaca di daerah-daerah wisata Bali
Kejahatan dengan metode hipnotis kini tengah merajalela. Dalam sebulan terakhir, ada puluhan laporan mengenai kejahatan ini di seluruh Nusantara. Yang menarik, pelakunya bukan hanya orang lokal, melainkan juga warga negara asing. Seperti yang terjadi di Kuta Bali, misalnya. Dua turis, Foehr Elmar (69) asal Swiss dan De Vito Jean Roger (42) asal Perancis, kehilangan uang setelah dirinya dihipnotis oleh orang yang tak dikenalnya. Keduanya menjadi korban hipnotis masing-masing pada Jumat (17/9) dan Minggu (19/9) lalu. Elmar kehilangan Rp50 juta dan Jean kehilangan Rp11,5 juta. Menurut laporan Jean, pelakunya berjumlah lima orang, terdiri dari tiga laki laki dan dua perempuan. Kelimanya memiliki ciri bukan Warga Negara Indonesia.
Cerita terhipnotisnya Jean bermula ketika Jean tengah shooping seorang diri di Pertokoan Kuta Square. Sekitar pukul 08 malam ketika itu. Saat asyik melihat-lihat, Jean bertemu dengan turis lain dan mengajaknya berkenalan. Saat itu, kenalan baru Jean itu pun memperkenalkan empat orang kawan lainnya. Obrolan akrab terjadi setelah itu. Dan, percakapan hangat itu berlanjut kepada penawaran kerjasama bisnis. Korban yang diduga telah terkena hipnotis menyerahkan uang sebesar 1000 euro sebagai modal awal dari bisnis yang disepakati.
Tidak saja uang, pada saat itu Jean bahkan menyerahkan kunci mobil yang dibawanya kepada pelaku. Beruntung pelaku tak langsung menemukan mobil itu dan Jean segera sadar dari linglungnya. Begitu mengetahui dirinya baru saja menjadi korban kejahatan, Jean langsung melapor ke Kepolisan Sektor Kuta.
Tentang Hipnotis, perlu anda ketahui bahwa itu bermula dari hipnosis. Hipnosis (hypnosis) adalah cabang ilmu psikologi yang mempelajari pengaruh sugesti terhadap pikiran manusia. Hypnosis berasal kata "hypnos", nama dewa tidur dalam mitologi Yunani Kuno. Orang yang mengalami sugesti melalui metode ini dinamakan hipnotis. Meski namanya diambil dari nama Dewa Tidur, hypnosis tidak sama dengan tidur, melainkan trance di mana pikiran mengalami relaksasi. Kondisi ini biasanya disertai dengan relaksasi tubuh seperti keadaan saat menjelang tidur di malam hari. Ketika seseorang terhipnotiss, dia akan merasakan seluruh tubuhnya rileks, pikirannya menjadi fokus, perasaannya damai, dan tetap bisa mendengar suara-suara di sekitar.
Dalam bahasa sederhana dapat dikatakan bahwa hipnosis adalah suatu keahlian untuk menyampaikan pesan (yang sugestif) kepada seseorang, sehingga yang bersangkutan tergerak untuk melaksanakan pesan tersebut. Yang dimaksud pesan dalam hal ini adalah rangkaian kalimat lisan yang masuk ke telinga penerima dan kemudian terekam oleh bawah sadar (sub conscious) yang bersangkutan, dan selanjutnya bawah sadar itulah memerintahkan orang tersebut melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diucapkan penghipnotisnya. Mulanya praktek ini dilakukan untuk menelusuri alam bawah sadar pasien guna penyembuhan berbagai bentuk gangguan kesehatan. Belakangan, metode ini disalahgunakan oleh penjahat hipnotis untuk memengaruhi korban agar mau menyerahkan uang atau barang berharga lainnya.
Dalam kejahatan hipnotis, hal pokok yang dilakukan pelaku adalah pembingungan calon korban. Dengan gayanya yang sangat persuasif, para penjahat menjejalkan ucapan-ucapan ramah yang membingungkan calon korban sehinggga pikirannya lengah. Pada saat lengah itulah penjahat hipnotis menyampaikan pesan-pesan sugestif ke alam bawah korban, dan korban pun menuruti perintah-perintahnya.
Dari hal itu, satu hal penting yang dapat kita tangkap adalah bahwa kejahatan hipnotis dapat kita hindari jika pikiran kita selalu waspada dan selalu di bawah kontrol akal sehat.
Tulisan terkait:
Menghindari Kejahatan Hipnotis di Tempat Wisata
Jika ingin mengenal lebih jauh tentang hipnosis, serial e-book mengenai Hypnosis, Emotional Freedon Technique (EFT) dan Neuro Linguistic Programming (NLP) yang ditulis oleh AS Laksana adalah salah satu sumber bacaan yang kami rekomendasikan.
Anda bisa mendapatkan seri pertama dari buku-buku tersebut secara gratis dengan mengisi form di bawah ini:
