Archive for March 2009

/

Tagih Janji, Warga Blokir Akses ke GWK

GWK, kawasan wisata di selatan pulau Bali tengah mengalami gonjang-ganjing. Kawasan dengan ikon monumen Garuda Wisnu Kencana, yakni patung Dewa Wisnu menunggangi burung garuda yang menjulang di atas tebing kapur dan direncanakan akan menjadi monumen tertinggi di dunia itu kini tengah diblokir oleh warga banjar Dharma Giri Ungasan yang berada di dekat kawasan. Warga marah karena kawasan GWK menempati tanah desa dan rurung agung (jalan utama) yang menjadi akses masyarakat menuju kuburan. Keadaan itu menyebabkan masyarakat terpaksa harus menempuh jalan memutar sejauh empat kilometer dan melintasi jalan terjal dengan kemiringan 45 derajat jika hendak mengusung bade (usungan jenazah) ke kuburan.

14 tahun lalu, saat monumen rancangan Nyoman Nuarta itu dibangun, pengelola kawasan wisata itu mendekati warga dan menjanjikan akan memberikan lahan penyanding serta membuatkan jalan baru agar akses warga menuju kuburan menjadi lebih pendek dan lebih baik dari yang sebelumnya. Saat itu, pengelola juga menjanjikan lapangan pekerjaan untuk warga setempat. Maka, begitu pembangunan GWK rampung sebagian, pada tahun 1999 warga mulai menagih janji. Tuntutan tersebut bergulir alot. Pengelola meminta tempo untuk memenuhi janjinya. Tuntuna kemudian mereda setelah terjadi kesepakatan antara pengelola dengan warga yang tertuang dalam MoU yang dibuat pada tanggal 22 April 2002, mengenai jangka pemenuhan janji tersebut.

Namun, setelah hampir 14 tahun berlalu, janji tersebut belum juga diwujudkan. Inilah yang membuat warga berang.
“Kalau mengusung bade kami bisa bisa nggak kuat menahan beban. Medannya miring,” ujar salah satu warga yang mengaku bernama Sampun seperti yang dilaporkan oleh harian Radar Bali Selasa (31/3).

Kekesalan warga itu akhirnya tidak terbendung. Senin (30/1) pukul 01.00 dini hari, sebanyak 90 orang warga melakukan pemblokiran jalan menuju GWK. Mereka dengan menguruk jalan aspal dengan tanah kapur dan membentangkan spanduk bertuliskan “Warga Giri Dharma menuntut janji GWK. 14 tahun warga menunggu kebohongan GWK”

Menurut laporan harian Radar Bali, ruwetnya permasalahan ini lantaran dalam pengelolaan GWK sendiri terdapat dua kewenangan pengelola. Di tambah lagi, pengelolanya selalu berganti-ganti tanpa disertai koordinasi yang rapi. Setiap pengelola baru selalu menganggap masalah rurung agung tersebut masih dalam tahap pengkajian.

Menanggapi masalah ini, pengelola GWK kembali meminta tempo.
”Beri kami waktu satu minggu lagi, karena pimpinan GWK ini masih (berada) di luar daerah,” ujar A.A. Gede Rai Dalem, Project Development GWK, saat menenangkan kegeraman warga.

Kisruh soal jalan yang berujung pemblokiran ini membuat beberapa wisatawan asing yang akan menuju GWK terhalang. Semoga silang-sengkarut masalah antara warga dan pengelola GWK ini segera menemukan langkah pemecahan yang memuaskan semua pihak…


Hide

/

Pasar Majalangu, Pasar Dadakan di Pantai Kuta

"Happy New Year Saka 1931 to all of our visitor. Watch your bag! Watch your bag! Look after your belonging, please! Once again, watch your bag and look after your belonging, please. Thank you," terdengar himbauan Pecalang Desa Adat Kuta via pengeras suara untuk mengingatkan para pengunjung terutama wisatawan asing yang memadati Pasar Majalangu pada hari Jumat, 27 Maret 2009.

Pasar Majalangu adalah "pasar dadakan"
di Pantai Kuta yang digelar setiap tahun, sehari setelah perayaan hari Nyepi. Para pedagang yang berpartisipasi biasanya para Pedagang Kaki Lima yang pada hari-hari biasa dilarang untuk menggelar barang dagangannya di seputar Pantai Kuta. Mulai dari pakaian, sepatu, sandal, tas, jam, kacamata, barang kerajinan, permainan anak-anak hingga makanan/minuman, semua tersedia dan tentu dengan harga yang sedikit lebih murah dari hari biasa (disertai pintar-pintar menawar tentu saja).

Tradisi ini sudah dilaksanakan Desa Adat Kuta sejak bertahun lamanya. Untuk kelancaran Pasar Majalangu, Desa Adat Kuta menghimbau seluruh outlet (toko maupun restoran) di sekitar pantai Kuta untuk tidak buka sebelum pukul 12.00 WITA, yakni pada saat penyelenggaraan Pasar Majalangu.

Pengunjung yang datang bukan saja dari wisatawan lokal, tapi juga wisatawan manca negara yang ingin menikmati Nyepi di Bali. Seperti Edward, seorang wisatawan dari Adelide-Australia, mengungkapkan bahwa ini kali pertama dia dan temannya menikmati Nyepi di Bali. Ini karena keingintahuannya tentang bagaimana sebenarnya penyelenggaraan Nyepi di Bali. Dia dan temannya amat menikmati suasana Nyepi, tanpa suara, tanpa kegiatan dan bebas polusi. Edwardpun berencana akan datang lagi pada Nyepi tahun depan bersama lebih banyak teman dan keluarganya. Dia juga menikmati pawai ogoh-ogoh pada malam Pengerupukan, tanggal 25 Maret, malam sebelum Nyepi, hal yang tidak bisa ditemui pada hari-hari biasa. Tentu saja, Nyepi kan setahun sekali...

Hide

/

Jelang Galungan, Permintaan Sewa Mobil Meningkat

Menjelang hari raya Galungan tanggal 18 Maret 2009 dan upacara Panca Bali Krama di Pura Besakih, 25 Maret – 27 April 2009, permintaan sewa mobil di Bali mengalami peningkatan. Menurut beberapa pengelola rental di kawasan Kuta, Sanur, Legian, dan Denpasar, kecenderungan meningkatnya aktivitas penyewaaan mobil tersebut sudah mulai terlihat sejak beberapa hari lalu.
“Saat ini, dalam sepekan, sedikitnya dua atau tiga mobil tersewa,” tutur Mayo seorang pengelola rental mobil yang bermarkas di bilangan Teuku Umar, Denpasar.

Menurut Mayo, lonjakan permintaan sewa kendaraan tersebut disebabkan karena selain wisatawan, banyak masyarakat Bali yang membutuhkan tambahan kendaraan untuk menjalankan ibadah di saat Galungan serta ngaturah ayah (bekerja bakti) dan bersembahyang di Pura Besakih.

“Untuk masyarakat lokal, yang dibutuhkan hanya mobil saja. Sedangkan untuk wisatawan biasanya meminta layanan sopir dan pemandu,” imbuh Ketut Ardana, pengelola penyewaan kendaraan yang bermarkas di bilangan Legian.

Saat ini biaya penyewaaan mobil plus sopir dan BBM bervariasi tergantung jenis kendaraan. Kendaraan jenis Avansa/Xenia rata-rata dibandrol dengan tarif Rp 400 ribu, APV Rp 450 ribu, Inova/Pregio 500 ribu, Mercy Rp 1,2 juta– Rp 5 juta, Land Cruiser Rp 1,5 juta – Rp 2,25 juta, Toyota Camry Rp 1,5 juta dan Alphard Rp 1,5 juta.

Biaya tersebut untuk waktu sewa selama sepuluh jam. Kelebihan waktu per jam akan dikenakan biaya 10 persen dari harga sewa per hari.

Hide

/

Akan Dilarang, Masuk Kuta dengan Kendaraan Pribadi

Kian padatnya aktivitas wisata di pantai Kuta membuat lalu-lintas semrawut dan tak teratur. Selain jalur yang sempit, deretan kendaraan yang diparkir di tepi jalan membuat ruas-ruas jalan utama di kawasan Kuta kerap macet. Pada waktu-waktu tertentu, kemacetan tersebut bahkan sangat parah. Akibatnya kenyamanan pelancong jadi terganggu. Untuk mengatasi kondisi tersebut, Komisi A DPRD Badung mengusulkan untuk melarang kendaraan pribadi masuk kawasan Kuta. Seluruh pelancong yang hendak masuk kawasan kuta harus menggunakan angkutan khusus yang disediakan oleh Pemerintah.

Lalu, di mana wisatawan yang menyewa/membawa kendaraan sendiri memarkir mobilnya jika mereka hendak masuk kawasan Kuta? Untuk masalah ini, para anggota dewan tersebut merancang tiga lahan parkir baru di wilayah Kuta. Dari areal parkir tersebut, para wisatasan kemudian menggunakan kendaraan khusus memasuki wilaya Kuta. Adapun areal yang diusulkan adalah di bekas Pasar Pagi depan LPD Kuta, di Jalan Arjuna (Jalan Double Six) Seminyak, dan di Pasar Kuta.

"Saya kira ini salah satu cara untuk mengatasi masalah lalu-lintas Kuta yang kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan," papar Gusti Ngurah Sudiarsa, Ketua Komisi A DPRD Badung kepada wartawan beberapa hari lalu.

Pokoknya, tekad Sudiarsa, lahan parkir tersebut diupayakan untuk segera rampung pada bulan Agustus tahun ini. Dan, untuk membuat masyarakat menurut dan mau memarkir kendaraan mereka di tiga area parkir tersebut, Dewan Badung mengajak semua pihak yang berkepentingan dengan nyamannya kawasan Kuta turut terlibat, termasuk Desa Adat dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kuta.

Hide

/

Pondok Rasa, Warung Makan Pilihan di Utara Denpasar

Ini adalah satu dari sekian warung makan di Bali yang menyajikan makanan yang ciamik dengan harga murah dan pelayanan yg memuaskan. Namanya “Warung Makan Pondok Rasa”. Makanan yang tersedia di warung ini adalah untuk semua kalangan, dari anak-anak sampai dewasa. Konsep ini tercetus dari pengamatan Kiki Melanie, sang pemilik warung, yang kerap melihat pertentangan selera orangtua dan anak-anak saat memilih makanan di warung/restoran dan seringkali satu dari mereka tak terpenuhi keinginannya karena tak terdapat pilihan di warung/restoran tersebut.
Masakan di “Warung Makan Pondok Rasa” cukup variatif. Di sana tersedia berbagai olahan hasil laut (ikan, kerang, cumi, udang), ayam, dan sayuran. Harganya Rp 12.500 per porsi. Ada juga hidangan atau penganan yang harganya rata-rata Rp 5 ribu per porsi.

Selain makanan, di warung yang terletak di Jalan Raya Kapal ini tersedia juga berbagai pilihan dessert seperti pisang goreng, es krim, es buah dengan es krim, pancake dengan es krim, dan lain-lain. Untuk minuman, tersedia beberapa macam seperti fresh juice, lassie, iced blended coffee, dan lain-lain.

Warung makan dengan andalan kerang bakar ini bisa menjadi pilihan bagi kamu yang datang ke Bali menggunakan kendaraan sendiri. Dari arah Gilimanuk, sebelum masuk kota Denpasar atau menuju Kuta, kamu dapat dapat mampir dulu untuk menghilangkan penat dan mengganti energi yang terkuras setelah menempuh perjalanan jauh. Dari arah ini, posisi “Warung Makan Pondok Rasa” sekitar satu kilometer setelah Rumah Sakit Umum Daerah Kapal, di sisi sebelah kiri jalan.

Atau, warung makan ini bisa juga menjadi pilihan bagi kamu yang hendak melancong ke Bedugul, Taman Ayun, atau menuju Bali Barat. Dari arah Denpasar atau Kuta, warung ini terletak sekitar tujuh kilometer dari terminal Ubung, di sisi sebalah kanan jalan raya.

Jika bingung memilih kombinasi makanan, kalian dapat memesan paket-paket yang tersedia seperti paket ayam (nasi,ayam bakar/goreng, srombotan/plecing) seharga Rp 15.000; paket biasa (nasi, ikan bakar 300 gr, srombotan/plecing) seharga Rp 27.500;
paket spesial (nasi, ikan 250 gr, kerang, cumi bakar, srombotan/plecing) seharga Rp 30 ribu; paket komplit (nasi, ikan250gr, kerang, cumi, udang bakar, srombotan/plecing)
Rp 40 ribu.

Setelah beberapa tahun berdiri, warung makan Pondok Rasa membuka cabang di kota Denpasar. Lokasinya di dekat Hotel Nikki atau Rumah Sakit Puri Bunda di Jalan Gotot Subroto Denpasar.

Kontak:
Warung Makan Pondok Rasa
Jl. Raya Kapal No. 16 Badung
Telp. 0361 7472643

Hide

/

Segera Hadir Beberapa TV Lokal di Bali

Tak lama lagi masyarakat Bali bakal memiliki banyak alternatif tontonan dari stasiun televisi lokal. Soalnya, Forum Rapat Bersama (FRB) untuk menentukan izin siaran TV lokal di Bali memutuskan untuk menerima hasil Tim Seleksi yang telah me-ranking para pemohon dan mengusulkannya kepada Menkominfo untuk disetujui.

Dalam FRB yang diselenggarakan di Hotel Ibis Kemayoran, Jakarta, Rabu (18/2/2009) itu dibahas soal pengajuan permohonan Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) oleh empat 'pengelola' stasiun televisi swasta lokal yang telah diseleksi oleh Tim Seleksi yang ditetapkan oleh Menkominfo.

Pada kesempatan tersebut, Tim Seleksi melaporkan kepada forum dalam bentuk Berita Acara Hasil Seleksi, di mana isinya antara lain adalah rekapitulasi hasil penilaian yang disusun berdasarkan rangking.

Adapun pemohon Izin Penyelenggaraan Penyiaran tersebut adalah:
1. PT. Bali Music Channel (BMC)
2. PT. Alam Bali Semesta Televisi (ATV)
3. PT. Bali Ranadha Televisi (Bali TV)
4. PT. Mediantara Televisi Bali (Dewata TV)

FRB dipimpin oleh Direktur Usaha Penyiaran, Direktorat Jenderal Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi, Departemen Komunikasi dan Informatika RI, dan dihadiri oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat beserta Sekretariatnya; Direktorat Jenderal Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi, Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi termasuk Balmon Kelas II Denpasar, Departemen Komunikasi dan Informatika; KPID Bali; dan Dinas Perhubungan Komonikasi dan Informatika Provinsi Bali.

Saat ini, TV lokal yang telah beroperasi di Bali hanya berbekal Surat Rekomendasi Kelayakan dari KPID Bali. Stasiun tersebut adalah Bali TV, Dewata TV dan BMC. Sempat juga mengudara Jimbarwana TV namun segera ditutup karena tak memiliki ijin sama sekali (abe).

Sumber: Depkominfo

Hide

/

Perajin Patung Bali Kesulitan Bahan Baku

Beberapa tahun belakangan ini para perajin patung Bali mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku. Sejak adanya pembangunan pabrik kayu olahan di Bali dan pengiriman kayu terutama kayu jenis albesia keluar daerah telah merugikan masyarakat perajin di Bali. Hal itu sempat tercetus pada pertemuan antara masyarakat perajin di desa Mas Gianyar dengan Menteri Pariwisata dan Kebudayaan RI, Jero Wacik, saat Sang Menteri melantik pengurus himpunan seniman "Graha Krya Kencana" di desa setempat, Selasa (10/3) lalu.

Kepada Wacik, Bupati Gianyar Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengatakan bahwa masalah ini sudah mengarah serius dan harus segera ditangani. Memang, menurut beberapa catatan media, sudah bertahun-tahun persoalan ini muncul namun hingga kini belum ada pemecahan yang strategis dan berkesinambungan. Tahun 2008 lalu, misalnya, perajin Bali yang mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku terpakasa bersandar pada kiriman kayu dari Jawa dan daerah lainnya.

Buntut dari kesulitan tersebut menurut Ketut Dharma Siadja, seorang ekportir kerajinan kayu dari Mas - Gianyar, bukan saja membuat perajin sulit berproduksi tetapi juga menyulitkan eksportir dalam pemasaran. Di tengah persaingan yang semakin ketat di pasar internasional, hal tersebut membuat harga produk kerajinan kayu asal Bali menjadi lebih mahal sehingga sulit bersaing dengan produk kerajinan serupa asal negara lain seperti Vietnam dan Thailand.

Menurut laporan koran “Bisnis Bali”, tahun lalu saja harga kayu Suar mencapai Rp 8 Juta per truk. Padahal kayu jenis ini sangat diperlukan sebagai bahan baku pembuatan aneka kerajinan patung terutama jenis patung Buddha dan naga untuk dikirim ke pasar di Amerika Serikat, Eropa, Asia dan Australia.

Selain kayu Suar, kayu jenis Albasia juga sulit didapat. Terbatasnya persediaan kayu albasia, membuat harganya melonjak mencapai Rp3 juta per meter kubik. Harga yang sangat memberatkan perajin kayu.

Diduga, kesulitan bahan baku kayu ini disebabkan oleh didirikannya pabrik kayu lapis di kabupaten Bangli beberapa tahun lalu (abe).


Hide

/

Tujuh Desa Wisata Baru di Badung

Wisata pedesaan rupanya memiliki daya tarik yang cukup besar bagi pelancong. Beberapa desa wisata seperti Ubud, Penglipuran, Tenganan, Kerta Langu telah terbukti punya daya pikat yang kuat untuk menyedot pelancong dari dalam dan luar negeri untuk datang bertandang. Belajar dari pengalaman tersebut, kini Pemerintah Kabupaten Badung tengah menyiapkan tujuh desa untuk dijadikan desa wisata. Ke-tujuh desa tersebut adalah Petang, Munggu, Bongkasa, Mengwi, Sangeh, Kapal dan Baha.

Upaya menjadikan ke-tujuh desa di atas menjadi desa wisata tak akan mengubah struktur dan kondisi desa tersebut. Tata ruang dan lingkungan alam akan dipertahankandan dijaga. Malah, beberapa lingkungan yang rusak akan diperbaiki dan dikembalikan keasriannya.

“Ini adalah sebuah upaya mengembangkan industri pariwisata dengan tetap menjaga kelestarian alam,” ungkap AA RakaYudha, Kepala Bidang Penataan Obyek Pariwisata Dinas Pariwisata Daerah Kabupaten Badung, kepada wartawan.

Di samping itu, menurut RakaYudha, konsep ini akan menjadikan pariwisata sebagai milik masyarakat desa. “Akan semakin banyak masyarakat mendapat cipratan bahkan limpahan rejeki dari obyek pariwisata model ini,” imbuhnya.

Namun rialisasi niat baik tersebut masih sedikit terkendala. Kurangnya sarana akomodasi nerupakan kendala utama menjadikandi desa-desa tersebut sebagai desa wisata. Namun demikian, Raka Yudha tetap optimistik bahwa kendala ini akan segera dapat diatasi. Ia berencana melakukan pendekatan ke pelaku-pelaku wisata untuk mencari jalan keluar untuk hal ini.

Tujuh desa yang disebut di atas memang layak dikembangkan menjadi desa wisata sebab masing-masing desa itu memiliki potensi yang hebat. Desa Petang memiliki potensi ekowisata yang sangat baik, Sangeh memiliki hutan kera yang unik, Bongkasa memiliki Sungai Ayung yang selain menawan juga menyenangkan untuk rafting, desa Kapal memiliki pura Sada yang menarik dan tradisi perang ketupat, desa Munggu memiliki tradisi makotek (perang bambu), desa Baha memiliki pemandangan persawahan yang indah, dan desa Mengwi memiliki pura Taman Ayun yang cantik.

Hide

/

Serba Tiga Nanoe di Pasar Badung

Nanoe Biroe, penyanyi pop Bali yang dijuluki The President of Baduda Republic, Selasa, 3 Maret 2009, dini hari merilis albumnya di Pasar Badung. Karena album ini merupakan album ke-tiga, acara diselenggarakan pada pukul 03.33 Wita, tanggal 3 bulan 3. Album yang dirilis tersebut bertajuk M3tamorforia (baca:metamorforia) yang berisi lagu-lagu ciptaan Nanoe dalam tiga bahasa: Bali, Indonesia, dan Inggris.

Dini hari itu, para fans Nanoe yang berjuluk Baduda dan Badudawati dengan sabar menanti momen peluncuran album sang pujaan. Mereka berbaur akrab dengan ibu-ibu pedagang sayuran dan pedagang bahan kebutuhan sehari-hari yang mengais rejeki di pasar tersebut.

Kata “baduda” adalah kata dari bahasa bali yang berarti kumbang tanah. Jenis kumbang ini paling suka berkutat di tanah menggemburkan kotoran yang telah mengering. Nanoe mengambil nama serangga itu untuk menjuluki dirinya yang memproklamirkan diri sebagai seniman yang dekat dengan masyarakat ‘bawah’.

Tanpa dinyana pilihan Nanoe untuk menjuluki dirinya mendapat simpati yang luas. Ribuan kawula muda Bali serta-merta dengan bangga menjuluki diri mereka sendiri sebagai Baduda (dan Badudawati). Persis seperti para penggemar Slank yang dengan bangga menyebut dirinya sebagai “The Slankers”. Diperkirakan, saat ini ada sekitar 100 ribu Baduda dan Badudawati tersebar di seluruh Bali. Sebuah jumlah yang menjadikan Nanoe sebagai penyanyi paling popoler di Bali saat ini.

Kembali ke soal peluncuran album, dini hari itu, di atas sebuah panggung kecil yang sederhana Nanoe menembangkan beberapa lagu terbarunya sembari memaparkan bahwa konsep kreatif album M3taforia didasari tiga semangat: bermimpi, beraksi dan berbagi.

Keisitimewaan lain album M3taforia ini adalah pada keberhasilan Nanoe mengajak para maestro musik Bali seperti Putu Indrawan, Putu Kabe, Manto dan Dodot untuk mengiringi salah satu lagu ciptaannya. Keempat musisi tersebut adalah pentolan grup band Halrey Angels yang pada tahun 1985 dinobatkan sebagai grup rock terbaik Indonesia. Grup band ini bubar karena beberapa personelnya memilih panggilan hidup menjadi spiritualis dan enggan untuk bermusik lagi.

Musisi kondang lainnya yang turut bermain dalam album M3taforia antara lain si magic fingers Wayan Balawan.

Hide

/

Di Sanur, Bhikkhu Inggris Ungkap Rahasia Hidup Senang Mati Tenang

Venerable Ajahn Brahmavamso Mahathero atau juga dikenal dengan sebutan Ajahn Brahm, kembali mengunjungi Bali. Kali ini, bhikkhu senior kelahiran Inggris yang sudah lama mukim di Australia itu tampil sebagai narasumber tunggal di acara Dhammatalk (bincang-bincang Dhamma) dengan topik “Hidup Senang Mati Tenang” yang digelar di Sanur Paradise Plaza Hotel, Selasa 3 Maret 2009 mulai pk. 18.00 wita. Ini kali ketiga Ajahn Brahm bertandang ke Pulau Dewata, setelah acara Dhammatalk “Getting Better With Metta” (2006), dan “The Secret of Happiness” (2007).

Kehadiran Ajahn Brahm di Bali kali ini merupakan rangkaian terakhir dari roadshow di enam kota di Indonesia, setelah Palembang, Sukabumi, Jakarta, Medan, dan Surabaya. Acara ini sendiri terselenggara berkat kerjasama Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI) Bali bekerjasama dengan Ehipassiko Foundation. “Kehadiran Ajahn Brahm yang begitu dikenal piawai dalam membabarkan Dhamma akan sangat membantu menunjukkan jalan yang berguna agar hidup kita menjadi lebih baik, lebih bermanfaat dan berbahagia. Beliau terkenal karena kesederhanaannya, rasa humornya dan metoda pengajaran Dhamma-nya yang amat mudah dipahami,” demikian Pmd. N. Setiabudi, ketua panitia dhammatalk bersama Ajahn Brahm di Bali.

Pantia sendiri menyiapkan tak kurang dari 1.300 tiket secara cuma-cuma untuk mengikuti acara yang terbilang khusus ini, mengingat sangat sulit bisa bertatap muka langsung dengan Ajahn Brahm di tengah kesibukan dan aktivitas kebhikkuannya. Pemegang tiket juga bisa berdana secara sukarela, yang keseluruhan hasilnya akan disumbangkan untuk pembangunan Vihara Mpu Astapaka di Gilimanuk. Antusias untuk mengikuti acara ini datang dari berbagai kalangan lintas agama juga lintas golongan. Tak heran jika lima hari sebelum acara, tiket sudah habis dipesan. “I come to bring peace, happiness and harmony to all people in Bali,” ujar Ajahn Brahm sesaat sebelum bertolak ke Bali, dari Surabaya.

Tentang Ajahn Brahm
Ajahn Brahmavamso (atau lebih dikenal dengan sebutan Ajahn Brahm) terlahir dari keluarga pekerja di London, Inggris, 7 Agustus 1951 dengan nama Peter Betts. Beliau pernah memenangkan beasiswa untuk kuliah di Cambridge University mempelajari Fisika Teori.

Setelah menamatkan gelar dan mengajar selama setahun, Beliau pergi ke Thailand untuk menjadi Bhikkhu dan akhirnya ditahbiskan di Bangkok pada usia 23 tahun oleh Kepala Vihara Wat Saket kemudian melewatkan sembilan tahun untuk belajar dan berlatih meditasi dalam tradisi hutan di bawah bimbingan Venerable Ajahn Chah Bodhinyana Mahathera (Ajahn Chah). Pada tahun 1983, Beliau diminta membantu pendirian sebuah vihara hutan, Bodhinyana Monastery yang luasnya 100 hektar di dekat Perth, Australia Barat.

Selama 30 tahun sebagai Bhikkhu, lahir dan dididik di Barat, namun terlatih dalam tradisi hutan Thai, Ajahn Brahm telah menghimpun berbagai kisah yang menyentuh, menggelikan dan bermakna mendalam. Dalam kisahnya terdapat banyak cerita mengenai kebenaran hidup yang dapat digunakan meluncur ke tataran kesadaran, kebijaksanaan, cinta kasih dan belas kasih yang lebih mendalam. Pada setiap kisahnya kebenaran tampak nyata.

Ajahn Brahm terkenal karena kesederhanaannya, rasa humornya dan metoda pengajaran Dhamma-nya yang amat mudah dipahami. Saat ini dia menjabat sebagai Kepala Bodhinyana Monastery, Serpentine, Western Australia, Spiritual Director of The Buddhist Society of Western Australia, Spiritual Advisor to the Buddhist Society of Victoria and South Australia, dan Spiritual Patron of the Buddhist Fellowship.

Tahun 2004 Ajahn Brahm menerima penghargaan John Curtin Medal dari Curtin University.


Hide

/

Moving Shop, Setiap Hari Keliling Denpasar

Ada begitu banyak cara pedagang untuk menjaring pembeli. Salah satu cara adalah dengan mendatanginya ke kantong-kantong keramaian. Ini yang dilakukan D-Media dengan moving shop nya. Sebuah bus berukuran sedang mereka ubah menjadi toko berjalan untuk menjajakan barang-barang dagangan mereka. Dagangan yang mereka tawarkan bermacam-macam. Dari tas dan dompet kulit, arloji, kerajinan perak, aksesoris, hingga T-Shirt.

Setiap hari mereka berkeliling mendatangi titik-titik keramaian di kota Denpasar dan sekitarnya antara lain di tempat parkir rumah makan Bumbu Desa Renon, depan Yayasan Pendidikan Santo Yoseph, Lapangan Lumintang, trade center jalan Hayam Wuruk, Lapangan Bajra Sandhi Renon, dan di dekat markas mereka di Sentral Parkir Kuta Galeria.

Untuk meladeni pembeli, dalam moving shop tersebut terdapat seorang manager dan dua sales promotion girls (SPG). Dalam sehari, target penjualan yang mereka tetapkan sebesar Rp 3 juta. Namun kenyataannya, penjualan tiap harinya fluktuatif.

“Kalau sedang beruntung, kami bisa mencapai dua kali lipat dari target. Sedangkan kalau lagi sepi, hanya sepertiga saja yang kami capai,” ujar Komang Kembar, pengemudi moving shop yang sekaligus bertugas meladeni pembeli.


Hide

/

Pentas “Sri Tanjung” Dipadati Ekspatriat dan Mahasiswa

Drama-tari “Sri Tanjung – The Scent of Innocent” garapan sutradara kondang Kadek Suardana yang dipentaskan di Pusat Kesenian (Art Center) “Werdhi Budaya” Denpasar 27-28 Pebruari yang lalu berlangsung sukses. Drama-tari yang menghadirkan berbagai inovasi dalam garapan musik, kidung dan pemeranannya itu memukau ratusan pengunjung yang menyaksikannya.

Paduan antara alunan musik, liuk kidung, dan geliat tari yang begitu kompak membuat penonton terpesona. Padahal, hampir semua dialog yang dilontarkan oleh para pemeran adalah bahasa Jawa Medahan (pertengahan) yang tak dimengerti oleh sebagian besar penonton. Dialog verbal yang terlontar itu luluh menjadi bagian dari musik-kidung yang begitu padu. Dan, hal itu memang disengaja oleh Kadek.

Di antara para penonton yang tampak terpesona tersebut terdapat sekitar 100 orang ekspatriat dan 79 orang pelajar dan mahasiswa dari Universitas Udayana. “Mereka adalah penonton yang memesan secara berkelompok sehingga kami tahu dari komunitas mana mereka berasal,” papar Maria Ekaristi yang mengoordinasikan penjualan tiket.

Menurut Eka, total penonton dan undangan yang hadir menyaksikan pementasan ini tak kurang dari 700 orang. Dan, dalam perbincangan setelah pertunjukan usai, beberapa penonton ekspatriat yang hadir menyatakan puas dan berharap agar pementasan semacam ini bisa lebih sering diselenggarakan.

Berita Terkait: Jelang Pentas, 80 Persen Tiket "Sri Tanjung" Terjual
Blog Resmi klik "Sri Tanjung"

Hide

/

Kuta dan Nusa Dua Steril Kampanye

Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Badung mengeluarkan kebijakan mengenai larangan berkampanye untuk pemilihan umum di dua kawasan wisata Bali yakni Kuta dan Nusa Dua. Segala macam bentuk atribut kampanye tidak diperkenankan dipasang di dua kawasan tersebut. Berbagai kegiatan kampanye berupa pengerahan massa dan semacamnya pun tidak diperkenankan di dua wilayah tersebut.

Kebijakan tersebut ditetapkan setelah beberapa pemuka masyarakat Kuta melakukan pertemuan dengan beberapa calon anggota legislatif (caleg) dan menyatakan keberatan masyarakat terhadap pemasangan berbagai atribut kampanye seperti poster dan baligo yang membuat jalan-jalan tampak kacau dan tak sedap dipandang. Apalagi beberapa baligo caleg yang dipasang secara serampangan rubuh tertiup angin. Hal itu selain merusak estitika kawasan, juga membahayakan pengguna jalan yang sebagian di antaranya adalah wisatawan.

Bersihnya kawasan Kuta dan Nusa Dua dari kampanye politik bukan baru terjadi sekarang. Sejak pemilihan presiden (pilpres) tahun 2004 dan pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung untuk memilih gubernur tahun 2008, dua kampung turis tersebut sepi dari aktivitas kampanye.

Keterangan foto: Atribut kampanye caleg di Desa Pemogan, Denpasar.

Hide

/

Luna Maya Bikin Denpasar Matot

Kehadiran Luna Maya ke kota kelahirannya membuat sebagian ruas jalan utama kota Denpasar matot alias macet total. Maklum, kehadiran Luna kali ini bukan sekadar pulang kampung, melainkan mengantarkan artis-artis ibukota untuk menyapa masyarakat masyarakat Denpasar dengan hiburan-hiburan segarnya.

Minggu sore itu (1/3), Luna Maya bersama Raffi Ahmad dan Olga Syahputra membuka acara dengan sapaan hangat yang membuat penonton yang memadati panggung di depan sebuah pusat perbelanjaan tersebut sontak berteriak penuh histeria. Kemudian mereka menggiring penonton untuk menikmati satu demi satu penampilan dari Nineball, The Titan, Pasto, dan Magneto. Selain pementasan live music, acara dimeriahkan dengan pemutaran video klip grup-grup band terdahsyat versi TV swasta tersebut di layar LCD.

Acara sore itu memang acara pentas hiburan gratis yang digelar oleh sebuah stasiun TV swasta Jakarta. Acara tersebut bertajuk Panggung Dahsyat yang diselenggarakan di berbagai kota dan daerah di Indonesia. Di Bali sediri, acara digelar di beberapa tempat. Sehari sebelumnya, Minggu (28/2) Luna dan kawan-kawan menghibur publik Kuta dengan acara serupa yang di gelar di depan Hard Rock Café.

Tempat gelaran yang sempit tak pelak membuat suasana acara menjadi nyaris kacau. Penonton yang penasaran ingin melihat artis idola mereka dari jarak dekat terus merangsek ke panggung dan melanggar pagar pembatas. Untunglah aparat keamanan bertindak sigap sehingga tak terjadi kericuhan. Beberapa penonton menyesalkan pelaksanaan acara ini di tenpat yang sempit dan di ruas jalan utama. Terlebih masyarakat Bali yang tak terlalu silau dengan kehadiran artis ibukota. Mereka menggerutu karena jalanan macet dan aktivitas mereka menjadi terganggu.

Foto: Nyoman Wija/Radar Bali

Hide